--- Pada Jum, 5/12/08, asep hikmat <[EMAIL PROTECTED]> menulis:

Dari: asep hikmat <[EMAIL PROTECTED]>
Topik: Zalimnya Pemerintahan Ini
Kepada: "ex FEUP79" <[EMAIL PROTECTED]>
Tanggal: Jumat, 5 Desember, 2008, 9:41 AM







Zalimnya Pemerintahan Ini
Pengalaman Seorang Hamba.


Sepulang dari pengajian rutin beberapa hari lalu, saya berdiri di tepi trotoar 
daerah Klender. Angkot yang ditunggu belum jua lewat, sedang matahari kian 
memancar terik. Entah mengapa, kedua mata saya tertarik untuk memperhatikan 
seorang bapak tua yang tengah termanggu di tepi jalan dengan sebuah gerobak 
kecil yang kosong. Bapak itu duduk di trotoar. Matanya memandang kosong ke arah 
jalan.

Saya mendekatinya. Kami pun terlibat obrolan ringan. Pak Jumari, demikian 
namanya, adalah seorang penjual minyak tanah keliling yang biasa menjajakan 
barang dagangannya di daerah Pondok Kopi, Jakarta Timur. 
"Tapi kok gerobaknya kosong Pak, mana kaleng-kaleng minyaknya?" tanya saya.

Pak Jumari tersenyum kecut. Sambil menghembuskan nafas panjang-panjang seakan 
hendak melepas semua beban yang ada di dadanya, lelaki berusia limapuluh dua 
tahun ini menggeleng. "Gak ada minyaknya."

Bapak empat anak ini bercerita jika dia tengah bingung. Mei depan, katanya, 
pemerintah akan mencabut subsidi harga minyak tanah. 
"Saya bingung. saya pasti gak bisa lagi jualan minyak. Saya gak tahu lagi harus 
jualan apa. modal gak ada.keterampilan gak punya.." Pak Jumari bercerita. Kedua 
matanya menatap kosong memandang jalanan. Tiba-tiba kedua matanya basah. Dua 
bulir air segera turun melewati pipinya yang cekung.

"Maaf dik saya menangis, saya benar-benar bingung. mau makan apa kami kelak.., 
" ujarnya lagi. Kedua bahunya terguncang menahan tangis. Saya tidak mampu untuk 
menolongnya dan hanya bisa menghibur dengan kata-kata. Tangan saya mengusap 
punggungnya. Saya tahu ini tidak mampu mengurangi beban hidupnya.

Pak Jumari bercerita jika anaknya yang paling besar kabur entah ke mana.
"Dia kabur dari rumah ketika saya sudah tidak kuat lagi bayar sekolahnya di 
SMP. Dia mungkin malu. Sampai sekarang saya tidak pernah lagi melihat dia.. 
Adiknya juga putus sekolah dan sekarang ngamen di jalan. Sedangkan dua adiknya 
lagi ikut ibunya ngamen di kereta. Entah sampai kapan kami begini ."

Mendengar penuturannya, kedua mata saya ikut basah.

Pak Jumari mengusap kedua matanya dengan handuk kecil lusuh yang melingkar di 
leher. 
"Dik, katanya adik wartawan.. tolong bilang kepada pemerintah kita, kepada 
bapak-bapak yang duduk di atas sana , keadaan saya dan banyak orang seperti 
saya ini sungguh-sungguh berat sekarang ini. Saya dan orang-orang seperti saya 
ini cuma mau hidup sederhana, punya rumah kecil, bisa nyekolahin anak, bisa 
makan tiap hari, itu saja." Kedua mata Pak Jumari menatap saya dengan 
sungguh-sungguh.

"Dik, mungkin orang-orang seperti kami ini lebih baik mati... mungkin kehidupan 
di sana lebih baik daripada di sini yah..." Pak Jumari menerawang.


Saya tercekat. Tak mampu berkata apa-apa. Saya tidak sampai hati menceritakan 
keadaan sesungguhnya yang dilakukan oleh para pejabat kita, oleh mereka-mereka 
yang duduk di atas singgasananya. Saya yakin Pak Jumari juga sudah tahu dan 
saya hanya mengangguk.

Mereka, orang-orang seperti Pak Jumari itu telah bekerja siang malam membanting 
tulang memeras keringat, bahkan mungkin jika perlu memeras darah pun mereka 
mau. Namun kemiskinan tetap melilit kehidupannya. Mereka sangat rajin bekerja, 
tetapi mereka tetap melarat.

Kontras sekali dengan para pejabat kita yang seenaknya numpang hidup mewah dari 
hasil merampok uang rakyat. Uang rakyat yang disebut 'anggaran negara' 
digunakan untuk membeli mobil dinas yang mewah, fasilitas alat komunikasi yang 
canggih, rumah dinas yang megah, gaji dan
honor yang gede-gedean, uang rapat, uang transport, uang makan, akomodasi hotel 
berbintang nan gemerlap, dan segala macam fasilitas gila lainnya. Mumpung ada 
anggaran negara maka sikat sajalah! 

Inilah para perampok berdasi dan bersedan mewah, yang seharusnya bekerja untuk 
mensejahterakan rakyatnya namun malah berkhianat mensejahterakan diri, 
keluarga, dan kelompoknya sendiri. Inilah para lintah darat yang menghisap 
dengan serakah keringat, darah, tulang hingga sum-sum rakyatnya sendiri. Mereka 
sama sekali tidak perduli betapa rakyatnya kian hari kian susah bernafas. 
Mereka tidak pernah perduli. Betapa zalimnya pemerintahan kita ini!

Subsidi untuk rakyat kecil mereka hilangkan. Tapi subsidi agar para pejabat 
bisa hidup mewah terus saja berlangsung. Ketika rakyat antri minyak 
berhari-hari, para pejabat kita enak-enakan keliling dalam mobil mewah yang 
dibeli dari uang rakyat, menginap berhari-hari di kasur empuk hotel berbintang 
yang dibiayai dari uang rakyat, dan melancong ke luar negeri berkedok studi 
banding, juga dari uang rakyat.

Sepanjang jalan, di dalam angkot, hati saya menangis. Bocah-bocah kecil berbaju 
lusuh bergantian turun naik angkot mengamen. Di perempatan lampu merah, 
beberapa bocah perempuan berkerudung menengadahkan tangan. Di tepi jalan, 
poster-poster pilkada ditempel dengan norak. Perut saya mual dibuatnya.

Setibanya di rumah, saya peluk dan cium anak saya satu-satunya. 
"Nak, ini nasi bungkus yang engkau minta." Dia makan dengan lahap. Saya tatap 
dirinya dengan penuh kebahagiaan. Alhamdulillah, saya masih mampu menghidupi 
keluarga dengan uang halal hasil keringat sendiri, bukan numpang hidup dari 
fasilitas negara, mengutak-atik anggaran negara yang sesungguhnya uang rakyat, 
atau bagai lintah yang mengisap kekayaan negara.

Saat malam tiba, wajah Pak Jumari kembali membayang. Saya tidak tahu apakah 
malam ini dia tidur dengan perut kenyang atau tidak. Saya berdoa agar Allah 
senantiasa menjaga dan menolong orang-orang seperti Pak Jumari, dan memberi 
hidayah kepada para pejabat kita yang korup.
Mudah-mudahan mereka bisa kembali ke jalan yang benar. Mudah-mudahan mereka 
bisa kembali paham bahwa jabatan adalah amanah yang harus dipertanggungjawabkan 
di mahkamah akhir kelak. Mudah-mudahan mereka masih punya nurani dan mau 
melihat ke bawah.

Mudah-mudahan mereka bisa lebih sering naik angkot untuk bisa mencium keringat 
anak-anak negeri ini yang harus bekerja hingga malam demi sesuap nasi, bukan 
berkeliling kota naik sedan mewah... 
Mudah-mudahan mereka lebih sering menemui para dhuafa, bukan menemui 
konglomerat dan pejabat... Mudah-mudahan mereka lebih sering berkeliling ke 
wilayah-wilayah kumuh, bukan ke mal...
Amien Ya 
Allah.                                                                                                                                 
 
Untuk kita renungkan... 
  
Apakah empati sudah tiada lagi ? 
Atau mungkin bangsa ini sudah kehilangan nurani... 
  
Selamat jalan dik Teguh, engkau sudah tidak sakit lagi... 
  
  
Wassalaam, 
Budi-pc 
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
 
LAPAR, ANAK SD GANTUNG DIRI

Wednesday, 20 February 2008

Magetan-Surya, Heran melihat Teguh Miswadi(11), tidak masuk sekolah sejak Senin 
(18/2), Sujarwo menjenguk salah-satu murid pintarnya itu kemarin. Pak guru 
Sujarwo(45) khawatir sakit maag Teguh kambuh, dan dia ingin  membawanya ke 
Puskesmas.

Namun, tiba di rumah Teguh yang tinggal bersama neneknya di Desa Pupus,  
Kecamatan Lembeyan, Kab. Magetan, Sujarwo terkejut bukan kepalang. Di  sebuah 
kamar yang tak terkunci di rumah setengah kayu dan setengah bambu  itu, Sujarwo 
melihat siswa kesayangannya tergantung kaku. Teguh sudah tak bernyawa. Teguh 
bunuh diri.

"Seutas tali tampar biru menjerat lehernya," kata Sujarwo saat ditemui  Selasa 
(19/2). Tali itu diikatkan pada blandar atau kayu penopang atap.

Menurut Sujarwo, Teguh gelap mata, sangat mungkin karena tidak tahan akan  rasa 
sakit yang menyerang perut. Maag itu sering membuatnya mengerang.  Penyakit ini 
seharusnya dilawan dengan makan teratur dan bergizi. Tapi, justru itulah yang 
tak mungkin didapatkan.

Beberapa tetangga membenarkan Teguh hanya makan satu kali sehari. Kondisi  
Teguh yang tinggal hanya berdua dengan neneknya yang renta, memang sangat 
memprihatinkan. Siswa kelas 5 SDN Pupus 02, Kecamatan Lembeyan, Kabupaten 
Magetan ini sering mengeluh sakit perut.

"Teguh menderita sakit maag akut  cukup lama dan tak ada yang memperhatikan 
secara penuh sakitnya, termasuk kebutuhan makannya," tutur  Sujarwo dengan nada 
prihatin.

Dengan kondisi keluarga Teguh yang miskin, makan sebagai kebutuhan paling dasar 
tampaknya memang tak sanggup dipenuhi keluarganya. Teguh tinggal bersama Mbah 
Ginah, 76, neneknya yang buta di RT 2 RW 7 No 672 Desa Pupus,  Kecamatan 
Lembeyan, Kabupaten Magetan. 

"Sebetulnya tidak ada yang aneh. Anak itu mudah bergaul dengan teman sebayanya 
dan tergolong cerdas. Hanya, dia sering tiba-tiba terdiam," kata Sukarni (35) 
tetangga Mbah Ginah.

Baru ketika bocah ini nekat gantung diri, orang-orang dewasa di sekitarnya 
melek. Betapa tersiksanya Teguh yang hanya bisa mengisi perut sekali sehari. 
Bahkan sebelum meregang nyawa, dia diduga sangat kesakitan. Ini terlihat dari 
tas sekolah, buku-buku, sepatu, serta seragam sekolah yang ada di bawahnya 
berantakan.

Sangat mungkin Teguh yang mengenakan kaus hijau dan celana jins biru ini 
berkelojotan menahan sakit.

Menurut Sukarni, Mbah Ginah menjadi satu-satunya orang yang dianggap paling 
bisa memberi perhatian pada Teguh. Tetapi, karena sudah tak bisa melihat, Mbah 
Ginah memiliki keterbatasan. Selain itu, kemiskinan selalu saja menjadi 
sandungan.

Bahkan ketika bocah malang ini tinggal bersama ayahnya, Suwarno, 41, dia juga 
tidak mendapat perhatian apalagi dirawat layaknya seorang anak. Lagi-lagi 
kemiskinan yang membuat keluarga kecil ini berantakan.

Kata sejumlah tetangganya, Suwarno harus berangkat ke sawah sebagai buruh tani 
usai subuh dan kembali ke rumah menjelang senja. Ibu Teguh, Supartinah (38), 
telah pergi merantau ke Sumatera sejak Teguh masih kecil. Hingga kini 
Supartinah tidak pernah kembali, sehingga tak ada yang sekadar 
menyapa apakah bocah ini sudah makan atau belum, apakah di rumah ada yang bisa 
dimakan atau tidak. 

"Teguh kemudian memilih tinggal bersama Mbah Ginah yang tinggalnya masih sedesa 
dengan ayahnya. Meski sama-sama miskin, mbah yang buta ini lebih telaten," kata 
Sukarni.

Teguh memilih mengakhiri rasa sakit dan kemiskinan itu dengan caranya sendiri. 
Bayu, 11, teman sebangku Teguh di kelas, menangis mendengar teman belajar dan 
teman bermainnya meninggal.

Menurut Bayu, nilai pelajaran Teguh yang duduk di bangku terdepan ini 
bagus-bagus. "Selalu 7 dan 8. Dia juga mampu menirukan semua bentuk lukisan 
maupun gambar di atas kertas," kata Bayu.

Bayu ingat, ketika bermain bersama, Teguh sudah berpesan mulai Senin (18/2) 
tidak masuk sekolah lagi. "Sabtu lalu dia bilang sakit maagnya kambuh," 
tuturnya.

Setelah memastikan sebab kematian, Kapolsek Lembeyan, AKP Subagyo langsung  
menyerahkan jasad Teguh kepada keluarga untuk dimakamkan atas 
permintaan keluarga.

Ayahnya, Suwarno, tak bisa dimintai keterangan karena pingsan setelah melihat 
Teguh meninggal.                        



      Apa dia selingkuh? Temukan jawabannya di Yahoo! Answers. 
http://id.answers.yahoo.com

Kirim email ke