Maaf bila sdh pernah baca...
baik u blm pernah naik haji...
ngingatkan untuk yg pernah haji...
wassalam.

Berhaji Bersama Nabi 

Khudzuu 'anny manasikakum! Berhajilah kalian dengan tuntunan haji yang telah 
aku ajarkan! Demikianlah anjuran Rasulullah dalam salah satu haditsnya.

Hanya ada dua orang sahabat yang dibonceng menunggangi unta oleh Rasulullah 
saat beliau melakukan rangkaian ibadah haji. Keduanya adalah Usamah bin Zaid 
dan Fadhl bin Abbas. Nabi kerap membonceng mereka secara bergantian. Dengan 
cara ini Nabi hendak mengajari para sahabat yang lain tata cara melakukan 
ritual haji (manasik) melalui Usamah dan Fadhl. Kedua orang ini kemudian 
menjadi rujukan para sahabat yang ikut dalam rombongan haji Nabi. Hal ini bisa 
dimaklumi, karena kafilah haji Nabi kala itu diikuti oleh massa yang sangat 
banyak, sekitar 120.000 orang. Dengan demikian, dapat dimengerti jika harus ada 
''asisten'' yang bisa membantu Nabi memberikan penjelasan kepada umat.

Perjalanan haji yang dilakukan Nabi beserta rombongan adalah sebuah ekspedisi 
yang cukup berat dan melelahkan. Yakni perjalanan darat dari Madinah menuju 
Makkah yang berjarak tak kurang dari 497 kilometer. Padahal hanya menunggang 
unta dan sebagian berjalan kaki. Mereka harus melewati padang gurun serta 
berbukitan yang tandus dan gersang. Wajar jika rombongan Nabi beberapa kali 
berhenti untuk bermalam dan berisitirahat di sejumlah tempat yang dilalui 
sebelum tiba di Makkah.

Beberapa daerah yang menjadi tempat persinggahan Nabi di antaranya Dzul 
Hulaifah, Suqya, Abwa', Juhfah, Sarif, serta Ghadir Khumm. Nama terakhir itu 
adalah tempat di mana Rasulullah mengumpulkan para sahabat sepulang dari 
menunaikan haji untuk membeberkan keistimewaan yang dimiliki Sayyidina Ali, 
sahabat dekat sekaligus menantu Nabi. Bagi kaum Syiah, peristiwa Ghadir Khumm 
ini kemudian dicatat sebagai monumen pembaiatan Ali. Yang menarik, rute yang 
dilalui rombongan Nabi waktu berangkat haji tidak berbeda dengan jalur yang 
dilewati ketika pulang ke Madinah.

Buku karya O. Hashem ini sangat detail dan lengkap merekam perjalanan haji 
Rasulullah. Dicetak dengan ukuran yang unik, yakni berbentuk persegi empat 
dengan sampul hard cover, penulis melengkapi sajian tulisannya dengan hiasan 
aneka foto dan sketsa pendukung yang membuat buku ini menarik dan tidak 
melelahkan saat dibaca.

Secara garis besar, kronologi perjalanan haji Nabi bisa disimpulkan dalam 
beberapa bagian penting. Pada 24 Dzulqa'dah tahun 10 Hijriyah bertepatan 21 
Februari 622 M, nabi memimpin keberangkatan rombongan besar dari Madinah menuju 
Makkah. Pada 4 Dzulhijjah Nabi dan kafilah tiba di Makkah. Artinya, perjalanan 
itu ditempuh dalam waktu 10 hari. 

Setibanya di Makkah mereka langsung melakukan thawaf qudum sebagai pertanda 
kedatangan. Beragam praktik ibadah sunnah (termasuk umrah) dilakukan Nabi 
sebelum memasuki masa puncak haji, yakni 8 sampai 13 Dzulhijjah.

Rangkaian prosesi haji pun selesai pada 13 Dzulhijjah. Nabi dan rombongan lalu 
berpamitan dengan cara melakukan thawaf perpisahan sebelum kembali ke Madinah. 
Tidak lama setelah itu, 124 hari dari keberangkatan haji awal itu atau tepat 12 
Rabiul Awal 11 H, Nabi meninggal dunia. Wafatnya utusan Allah paling mulia ini 
memberikan dampak sosiologis yang cukup besar dan berpengaruh pada kehidupan 
masyarakat muslim, lebih-lebih yang berada di Madinah. Namun, Abu Bakar 
kemudian dapat menyadarkan umat Islam bahwa Muhammad juga manusia yang pada 
akhirnya harus menghadap Zat yang menciptakannya. Beruntung, sebelum wafat Nabi 
masih sempat mengajarkan manasik haji kepada para sahabat. Muhammad meninggal 
dunia ketika ajaran-ajarannya telah disampaikan dengan sempurna.

Di samping mengulas tentang sejarah manasik haji, buku ini secara utuh juga 
menggambarkan sosok Nabi Muhammad, tokoh panutan dan makhluk istimewa di mata 
Allah. Muhammad adalah pribadi yang sangat bersahaja. Pola hidupnya tak jauh 
dari keseharian masyarakat Arab yang rata-rata miskin. Beliau menisik bajunya 
sendiri, mendandani sandal, menimba air, mencuci pakaian, memerah susu kambing, 
serta menggembala ternak dengan mengambil upah pada saudagar Arab. Makanan 
kesehariannya hanyalah gandum, kurma, dan bahkan seringkali berpuasa karena 
memang tidak ada makanan yang hari itu bisa disediakan keluarganya.

Oleh karena itu, dalam karyanya Histoire de la Turque, peneliti asal Prancis, 
Lamartine, pernah mengungkapkan, ''Kalau kebenaran tujuan, kecilnya alat yang 
dipakai, serta besarnya hasil yang dicapai, merupakan ukuran kebesaran seorang 
manusia, maka adakah orang yang lebih besar dari Muhammad?'' Kesimpulan 
Lamartine ini sekaligus menepis tudingan sinis dari para orientalis Barat yang 
kerap mengejek Muhammad dan memandangnya secara negatif.

Ada beberapa catatan penting yang kita petik setelah membaca sejarah yang 
terjadi empat belas abad silam itu. Pertama, literatur yang komprehensif 
mengupas seputar haji ala Rasulullah, ternyata cukup langka ditemukan. Hampir 
tidak ada referensi haji yang bercerita secara kronologis, rinci, dan lengkap 
mengenai kisah perjalanan haji Nabi Muhammad. Kedua, ritual tahunan ini hanya 
wajib dilaksanakan bagi mereka yang mampu dari segi biaya (finansial, mental, 
dan sosial). Ketiga, Nabi hanya memerintahkan umat mengikuti caranya berhaji. 
Keempat, ternyata Nabi hanya berhaji sekali seumur hidupnya.

Buku ini dengan jernih menjelaskan bagaimana Rasul menunaikan sekaligus 
mengajarkan tata cara ibadah haji dengan jalan menapaktilasi rute haji yang 
telah dilalui para Nabi sebelumnya (thariqul anbiya'). Mulai dari persiapan 
yang dilakukan, cara manasik, apa yg dilaksanakan Rasul di sela-sela melakukan 
haji, bagaimana beliau melakukan wisata religi, di mana saja tempat-tempat yang 
memiliki warisan nilai sejarah, bagaimana mengakhiri prosesi haji, apa saja 
peristiwa yang terjadi setelah pulang dari haji, sampai pada detik-detik 
terakhir menjelang wafatnya junjungan agung kaum muslimin itu. Mungkin akan 
lebih seru dan menarik jika buku ini juga dicetak versi gambar grafisnya atau 
dalam bentuk komik. (*)

---

Judul Buku : Berhaji Mengikuti Jalur para Nabi 

Penulis : O. Hashem 

Kirim email ke