Maaf bg yg tdk berkenan.
Tak Peduli Halal-Haram
By Danarto
Minggu, 07 September 2008 pukul 12:03:00 
 
Bakal datang kepada manusia suatu masa, di mana orang tiada peduli akan apa 
yang diambilnya; apakah dari yang halal ataukah dari yang haram. Nabi Muhammad 
SAW

Maraknya perilaku yang menghalalkan segala cara untuk memperoleh kekuasaan dan 
kekayaan dewasa ini apakah merupakan pertanda bahwa zaman yang diisyaratkan 
Nabi SAW itu sudah datang? Para ustad, guru, dan cendekiawan sudah mensinyalir 
hadirnya zaman itu dalam khotbah-khotbahnya. Di masjid, di pengajian, di 
kantor, di sekolah, di ruang diskusi, semua orang membicarakan tentang 
penghalalan segala cara dalam mencapai cita-cita. Jika memang benar, alangkah 
berbahayanya zaman ini. Suatu zaman yang tak menentu, yang selalu goyah seperti 
sedang ditimpa gempa. Kita yang hidup di zaman seperti ini menjadi penuh tanda 
tanya. Apakah sepak-terjang kita dalam mencari nafkah sehari-harinya sudah 
terimbas oleh zaman itu pula?

Hadis riwayat Bukhari di atas memperingatkan kita betapa tata nilai telah 
bergeser sangat cepat yang mengakibatkan kita merespon zaman dengan persepsi 
yang sangat berbeda. Ketika tangan kita melindungi harta kita sendiri, bisa 
jadi tangan kita itu tiba-tiba ditepiskan tangan orang lain yang ingin merebut 
kekayaan kita itu. Rupanya batas-batas kekayaan kita dengan kekayaan orang lain 
sudah dianggap kabur. Jika kita tak mampu membedakan lagi barang halal dengan 
barang haram, sesungguhnya dunia kita sudah ''kiamat''. Lalu kepada siapa 
masyarakat mengadu untuk menuntut keadilan, kemakmuran, kebenaran? Mampukah 
masyarakat menolong dirinya sendiri untuk melindungi kekayaannya?

Agaknya perjuangan para ustad, guru, dan cendekiawan dewasa ini sudah bergeser 
ke arah penegakan akhlak. Tegaknya akhlak yang baik mampu menerbitkan keadilan, 
kemakmuran, dan kebenaran. Ketiga martabat kearifan yang diperjuangkan manusia 
berabad-abad lamanya atas sesamanya itu sungguh selaras dengan kehendak Tuhan.

Sebuah kisah diceritakan dalam buku Kasyful Mahjub karya Ali ibn Utsman 
Al-Hujwiri tentang Abu Halim Habib bin Salim Al-Ra'i, seorang sufi sahabat 
Salman Al-Farisi. Ia bisa menjinakkan segerombolan serigala yang sebenarnya 
meneteskan air liur ketika melihat biri-birinya yang ia gembalakan di tepi 
Sungai Eufrat. Ia juga mampu memancurkan air susu dan air madu dari sebongkah 
batu yang ia suguhkan bagi tamunya. Menurut sang sufi, hal itu mampu 
dikerjakannya karena hasratnya selaras dengan kehendak Allah dan taat kepada 
Rasulullah Muhammad SAW. Ketika seorang sheikh memintanya memberi wejangan, 
Al-Ra'i berkata: ''Jangan jadikan hatimu keranjang keinginan hawa nafsu dan 
perutmu periuk barang-barang haram.'' (ah)

Kirim email ke