--- Pada Sel, 30/12/08, asep hikmat <[email protected]> menulis:

Dari: asep hikmat <[email protected]>
Topik: Membongkar Kegagalan CIA
Kepada: "ex FEUP79" <[email protected]>
Tanggal: Selasa, 30 Desember, 2008, 4:33 PM








Membongkar Kegagalan CIA - Adam Malik Agen CIA
Sumber: http://www.bangakbar.com/index.html
  
 
  
  

“…. Tim Weiner benar dengan mengatakan bahwa CIA saat ini tak lebih dari 
puing-puing keruntuhan yang sebentar lagi mungkin berubah menjadi debu.” 
Budiarto Shambazy, wartawan Kompas, kolumnis “Politika”

Mengapa negara adidaya, lembaga spionasenya seperti tak punya daya? Mengapa 
“polisi dunia”, sekaliber AS, agen-agen dinas rahasianya beroperasi 
serampangan? Inilah keprihatinan mendasar Tim Weiner dalam buku yang memenangi 
berbagai penghargaan ini sampai pada kesimpulan bahwa sejarah operasi intelijen 
CIA yang telah berusia 60 tahun justru memangsa bangsa Amerika Serikat sendiri.

Menggunakan langgam reportase jurnalistik yang memikat, Tim Weiner, wartawan 
peraih Hadiah Pulitzer, menunjukkan bukti-bukti meyakinkan perihal kelemahan 
CIA yang memalukan. Di antaranya, agen-agen CIA mengetahui Tembok Berlin runtuh 
pada 1989 dari siaran televisi bukan dari pasokan analisis mata-mata yang 
bekerja di bawah tanah; ambruknya WTC, yang membelasah pada 11 September 2001, 
dengan telanjang memeragakan kepada dunia bahwa agen-agen CIA lumpuh dalam 
mengantisipasi serbuan teroris alumnus CIA sendiri. 

Sebagai sebuah dinas intelijen terbesar di dunia, CIA melakukan blunder paling 
vital dalam sejarah panjang spionase: berbohong tentang eksistensi senjata 
nuklir Irak. Blunder itulah yang menjadi basis pengambilan keputusan politik 
yang paling keliru dalam sejarah kepresidenan AS, yakni menyerbu Irak sekaligus 
menumbangkan Presiden Saddam Hussein.

Buku ini diramu Tim Weiner dengan mempelajari 50.000 arsip CIA, wawancara 
mendalam dengan ratusan veteran CIA, dan pengakuan sepuluh direkturnya. 
Disajikan dengan gaya bertutur mengalir. Tim Weiner, bagaikan penulis thriller, 
menempatkan diri sebagai seorang tukang cerita kelas wahid.

Latar Belakang

Buku dengan tebal 858 halaman dalam edisi Bahasa Indonesia seharga Rp 120.000 
ini menjadi buku kontroversial di Indonesia karena sekitar 5 halaman buku ini 
berisi pengakuan seorang pejabat tinggi CIA, Clyde McAvo yang menyatakan bahwa 
mantan Wakil Presiden, Adam Malik, sebagai agen rahasia CIA di Indonesia. Clyde 
McAvoy yang diwawancarai Tim Weiner pada 2005, mengaku telah merekrut dan 
mengontrol Adam Malik. McAvoy bertemu Adam Malik tahun 1964. Dalam buku itu 
dijelaskan bahwa CIA memberikan US$ 10 ribu untuk mendukung peran serta Adam 
Malik memberantas Gestapu. Karena berisi pernyataan tersebut, maka buku ini 
banyak mendapat kritik di Indonesia .

Terlepas dari benar atau tidaknya Adam Malik menjadi agen CIA, kita sebagai 
orang yang tidak terlibat (mengalami dan melihat) langsung kejadian Gestapu 
1965, tentu harus bersikap netral. Kita tidak bisa percaya begitu saja 
pernyataan Mc Avoy, namun kita tidak harus juga menolak langsung tulisan Tim 
Weiner. Sebagai bangsa yang ingin maju, kita perlu bersikap kritis. Kritis 
menanggapi hal ini dengan rasionalitas dan berdasarkan fakta. Kita tidak boleh 
menvonis Adam Malik adalah agen CIA selama tidak ada fakta valid yang ditemui. 

CIA dan 30 September 1965

Meskipun kita menyanggah keterlibatan Adam Malik dalam agen CIA, namun kita 
perlu meninjau ulang sejarah serta isi buku yang ditulis Tim Weiner. Buku ini 
bukanlah mendiskritkan bangsa Indonesia . Buku ini lebih memojokkan CIA sebagai 
dalang penghancur negara-negara yang bersebarangan dengan kepentingan Amerika 
Serikat. Dan buku tersebut memaparkan kegagalan-kegagalan yang dialami oleh 
CIA, agen rahasia yang paling bergengsi di dunia. Saya pikir, penulis tidak 
bermaksud memojokkan Indonesia ataupun Adam Malik, hanya saja Tim Weiner hanya 
ingin menunjukkan fakta kejahatan CIA. Pengakuan John Perkins dalam buku 
Confession of EHM dan John Pilger dalam film dokumenternya tentang Indonesia 
yang berjudul “The New Rulers of the World” mempertegas bahwa Amerika Serikat 
sangat berkepentingan menghancurkan pemerintahan Soekarno yang anti 
Imperaliasme Modern melalui korporasi dan kebijakan ekonomi dan politik 
kapitalis. Untuk menghancurkan kekuasaan Soekarno,
 sudah pasti harus menghancurkan penyokong Soekarno, yakni partai yang anti 
imperalias kapitalis pada saat itu yakni PNI yang dipimpin Bung Karno dan PKI. 
Dengan menjatuhkan Bung Karno, PNI akan lenyap. Dan untuk itu, PKI juga harus 
dihancurkan. 

Setelah Bung Karno jatuh, kekuatan modal asing langsung masuk ke bumi pertiwi 
untuk mengeksploitasi sumber kekayaan alam. Dalam film dokumenternya, John 
Pilger (wartawan Australia ) : “Dalam dunia ini, yang tidak dilihat oleh bagian 
terbesar dari kami yang hidup di belahan utara dunia, cara perampokan yang 
canggih telah memaksa lebih dari sembilan puluh negara masuk ke dalam program 
penyesuaian struktural sejak tahun delapan puluhan, yang membuat kesenjangan 
antara kaya dan miskin semakin menjadi lebar. Ini terkenal dengan istilah 
“nation building” dan “good governance” oleh “empat serangkai” yang mendominasi 
World Trade Organization (Amerika Serikat, Eropa, Canada dan Jepang), dan 
triumvirat Washington (Bank Dunia, IMF dan Departemen Keuangan AS) yang 
mengendalikan setiap aspek detail dari kebijakan pemerintah di negara-negara 
berkembang. Kekuasaan mereka diperoleh dari utang yang belum terbayar, yang 
memaksa negara-negara termiskin
 membayar $ 100 juta per hari kepada para kreditur barat. Akibatnya adalah 
sebuah dunia, di mana elit yang kurang dari satu milyar orang menguasai 80% 
dari kekayaan seluruh umat manusia.” 

Dalam buku hasil dokumentasi John Pilgers, The New Ruler of the World : “Dalam 
bulan November 1967, menyusul tertangkapnya ‘hadiah terbesar’, hasil 
tangkapannya dibagi. The Time-Life Corporation mensponsori konferensi istimewa 
di Jenewa yang dalam waktu tiga hari merancang pengambilalihan Indonesia . Para 
pesertanya meliputi para kapitalis yang paling berkuasa di dunia, orang-orang 
seperti David Rockefeller. Semua raksasa korporasi Barat diwakili : 
perusahaan-perusahaan minyak dan bank, General Motors, Imperial Chemical 
Industries, British Leyland, British American Tobacco, American Express, 
Siemens, Goodyear, The International Paper Corporation, US Steel. Di seberang 
meja adalah orang-orangnya Soeharto yang oleh Rockefeller disebut 
“ekonom-ekonom Indonesia yang top”. 

“Di Jenewa, Tim Sultan terkenal dengan sebutan ‘the Berkeley Mafia’, karena 
beberapa di antaranya pernah menikmati beasiswa dari pemerintah Amerika Serikat 
untuk belajar di Universitas California di Berkeley. Mereka datang sebagai 
peminta-minta yang menyuarakan hal-hal yang diinginkan oleh para majikan yang 
hadir. Menyodorkan butir-butir yang dijual dari negara dan bangsanya, Sultan 
menawarkan : …… buruh murah yang melimpah….cadangan besar dari sumber daya alam 
….. pasar yang besar.” 

Di halaman 39 ditulis : “Pada hari kedua, ekonomi Indonesia telah dibagi, 
sektor demi sektor. ‘Ini dilakukan dengan cara yang spektakuler’ kata Jeffrey 
Winters, guru besar pada Northwestern University, Chicago, yang dengan 
mahasiwanya yang sedang bekerja untuk gelar doktornya, Brad Simpson telah 
mempelajari dokumen-dokumen konferensi. ‘Mereka membaginya ke dalam lima seksi 
: pertambangan di satu kamar, jasa-jasa di kamar lain, industri ringan di kamar 
lain, perbankan dan keuangan di kamar lain lagi; yang dilakukan oleh Chase 
Manhattan duduk dengan sebuah delegasi yang mendiktekan kebijakan-kebijakan 
yang dapat diterima oleh mereka dan para investor lainnya. Kita saksikan para 
pemimpin korporasi besar ini berkeliling dari satu meja ke meja yang lain, 
mengatakan : “ini yang kami inginkan : ini, ini dan ini”, dan mereka pada 
dasarnya merancang infrastruktur hukum untuk berinvestasi di Indonesia .  

Nyata dan secara rahasia, kendali dari ekonomi Indonesia pergi ke Inter 
Governmental Group on Indonesia (IGGI), yang anggota-anggota intinya adalah 
Amerika Serikat, Canada, Eropa, Australia dan, yang terpenting, Dana Moneter 
Internasional dan Bank Dunia. 

Hal ini juga diperkuat oleh pernyataan oleh John Perkins, seorang EHM yang 
telah bekerja menghancurkan Indonesia, Panama, Paraguay dan pengakuan 
teman-teman John Perkins dalam buku “A Game As Old As Empire”.

Agen CIA di Indonesia era 60-an

Keberhasilan agen CIA dalam memenjarakan ekonomi Indonesia di rezim Soeharto 
dengan utang dan eksploitasi emas (Papua), migas dan sumber daya alam lainnya, 
tentu membutuhkan kaki tangan orang Indonesia sendiri. Sudah pasti ada 
orang-orang Indonesia yang menjadi penghianat yang menjual kehormatan dan 
kekayaan bangsa demi kepentingan pribadi maupun golongan. 

Jadi kalau kita percaya John Pilger dan John Perkins, sejak tahun 1967 
Indonesia sudah mulai dihabisi (plundered) dengan tuntunan oleh para elit 
bangsa Indonesia sendiri yang ketika itu berkuasa. Ditambah dengan tulisan Tim 
Weiner, sudah pasti ada agen CIA yang berasal dari elit bangsa. Siapakah itu?

Terlalu sulit untuk mengungkapkan siapakah saja orang-orang yang menjadi agen 
CIA. Kita hanya bisa berharap para peneliti dan sejarawan mengungkap misteri 
ini. Sejarah perlu ditelusuri untuk dipelajari. Agar generasi mendatang dapat 
belajar dari kesalahan dan terus melangkah sejarah yang membawa kebesaran 
bangsa ini. 

Akhir kata, bukan hal yang tidak mungkin jika ada mantan pejabat Negara 
Indonesia di era orde baru yang menjadi pengabdi kepentingan Amerika Serikat. 
Tidak tertutup kemungkinan, para mantan pejabat tinggi Negara era Orba berusaha 
bekerja sama dengan Amerika Serikat dan agen CIA demi mendapat dukungan untuk 
membasmi golongan yang berseberangan (Bung Karno dan pendukungnya). 

Kasus yang sama dengan Osama Bin Laden. Awalnya Osama dibantu CIA dan militer 
Amerika untuk memerangi Uni Soviet di Afganistan. Setelah berhasil mengusir Uni 
Soviet, dengan kematangan yang mantap, akhirnya Osama berbalik menyerang 
Amerika. Begitu juga, tidak tertutup kemungkinan ada oknum yang mendapat 
bantuan CIA dalam menggulingkan Bung Karno dan PKI, dengan berpikir bahwa 
setelah berhasil, maka mereka (oknum) dapat lepas dari pengaruh Amerika. Tapi, 
faktanya lebih dari 40 tahun, kita masih dipengaruhi oleh Amerika. Gerakan 
“Osama” yang gagal di Indonesia.

(Endrawan, Ch) 

 
 
 
Sumber: http://www.bangakbar.com/index.html



      Ada Naruto, Sandra Dewi dan MU di Yahoo! Indonesia Top Searches 2008. 
http://id.promo.yahoo.com/topsearches2008

Kirim email ke