Jadikan Pembantu Bagian dari Keluarga Ya, ya, Pariyem saya Maria Magdalena Pariyem lengkapnya Iyem, panggilan sehari-harinya di Wonosari Gunung Kidul Sebagai babu Ndoro Ayu Cahya Wulaningsih di Ndalem Suryomentaram Ngayogyakarta Tata lahirnya, saya hanya babu tapi batinnya, saya putri mantu...
enggalan dari novel Pengakuan Pariyem karya Linus Suryadi Ag itu menjadi pembuka bincang-bincang santai dan hangat. Dalam acara kongkow-kongkow di arena Waroeng Semawis, Pusat Jajanan Semarangan, yang terletak di sepanjang Jalan Gang Warung, kawasan Pecinan Semarang. Acara yang digagas Komunitas Pecinan Semarang untuk Pariwisata atau yang lebih populer sebagai Kopi Semawis itu, menghadirkan tiga pembicara, yakni Dirut PT Sido Muncul Irwan Hidayat, Rieke Diah Pitaloka, artis sekaligus aktivis perempuan, serta Romo Aloys Budi Purnomo Pr, rohaniwan. Waroeng Semawis adalah pasar malam di daerah pecinan Kota Semarang. Pasar ini awalnya merupakan gagasan dari perkumpulan Kopi Semawis. Pasar malam ini dimulai tahun 2004 dengan nama Pasar Imlek Semawis, menyusul diresmikannya Tahun Baru Imlek sebagai hari libur nasional di Indonesia. Buka setiap Jumat, Sabtu, dan Minggu malam di sepanjang jalan Gang Warung, Pecinan, Semarang, pasar malam ini menyajikan beraneka ragam hidangan yang bisa Anda pilih bersama keluarga, mulai dari pisang plenet khas Semarang, nasi ayam, es puter, kue serabi, aneka sate, bubur kacang hingga menu makanan yang menarik untuk dicicipi. Pusat jajanan terpanjang di Semarang ini buka mulai jam enam sore hingga tengah malam. Kendati berlabel ndeso, karena mengambil tema soal pembantu rumah tangga (PRT), namun antusiasme ratusan pengunjung pasar malam Pecinan itu luar biasa. Mereka bertahan hingga hampir tengah malam, larut dalam diskusi tersebut. Boleh jadi, Rieke 'Oneng' yang malam itu tampil cantik dan tidak o'on, menjadi pesona tersendiri. Belum lagi, dihibur permainan saksofon Romo Budi yang dengan suara tenornya merdu. Nasib PRT, kata Rieke, tidak pernah enak. Jangankan di luar negeri, kasus-kasus kekerasan terhadap pembantu di dalam negeri pun sangat sering terjadi. Banyak majikan dan keluarga melakukan kekerasan atau tindakan kurang manusiawi terhadap pembantu karena menyepelekan posisi pembantu yang strata sosial ekonominya lebih rendah dari mereka. "Banyak juga tindakan orangtua di rumah yang semena-mena terhadap pembantu, ditiru oleh anak-anaknya. Kekerasan yang dilakukan dipandang sebuah kewajaran, karena pembantu sudah digaji, sehingga dapat diperlakukan seenaknya," ujarnya. Ada yang Salah Irwan Hidayat berpendapat, kasus-kasus kekerasan terhadap pembantu di luar negeri maupun di dalam negeri, terjadi karena ada yang salah dalam masyarakat. Para pelaku kekerasan itu merupakan orang-orang yang sakit. "Kalau tidak sakit, mana bisa mereka dengan mudah melakukan kekerasan?" ujarnya. Para pelakunya boleh jadi dulunya pernah menjadi korban kekerasan atau depresi, akibat berbagai tekanan hidup dan problematika sosial rumah tangga. Menurut Irwan, perilaku yang seharusnya mereka terima sebagai pembantu adalah dengan memperlakukan mereka secara manusiawi dan menyadari bahwa semua orang sederajat di mata Tuhan. "Bila kita bisa melakukan hal seperti itu, mereka tentu akan bekerja dengan kesungguhan hati dan akan terus bekerja di rumah kita," ujar Irwan, yang tengah meluncurkan iklan baru Kuku Bima Energy bertajuk pembantu rumah tangga. Dengan iklan baru itu, Irwan ingin melakukan introspeksi kepada diri dan keluarganya agar memperlakukan pembantu secara manusiawi. Pesan moral yang ingin diambil dari pariwara itu adalah mengajak masyarakat menghentikan kekerasan terhadap pembantu. Sementara itu, Romo Budi mengetuk hati siapa pun yang hadir, maupun setiap majikan di negeri ini, untuk segera menghentikan berbagai tindakan kekerasan terhadap para pembantu dan menggantinya dengan sikap kelemahlembutan. Pembantu juga manusia, diciptakan segambar dan serupa dengan Allah, sehingga menyakiti pembantu sama artinya menyakiti Allah. Kendati diakui ada juga ulah pembantu yang kerap menjengkelkan, namun dalam pandangan Rieke, bukan alasan bagi majikan untuk melakukan kekerasan. "Sering saya jengkel sama pembantu saya, disuruhnya ini, malah melakukan yang itu. Atau sering juga pakaian saya gosong, karena diseterika, tapi itu semua bukan jadi alasan untuk bertindak kasar pada pembantu," ujarnya. Menurut Irwan, pembantu sebaiknya dijadikan sebagai bagian dari keluarga. Sebab, di rumah, tak jarang mereka ikut-ikutan nonton bareng kita, bahkan tak jarang menjadi tempat curhat bagi istri atau anak-anak kita. "Pembantu itu melakukan banyak pekerjaan di rumah kita, sekaligus menjadi tulang punggung keluarga mereka. Jadi, cara memperlakukan mereka secara manusiawi, adalah menjadikan mereka bagian dari keluarga kita," ajaknya. [SP/Stefy Thenu] - Suara Pembaruan.
