[ Selasa, 17 Februari 2009 ] Napisah, Menjaga Kesehatan di Usia Seabad Lebih Menjadi tua itu sudah pasti. Tidak perlu dipikirkan betul soal itu. Yang perlu dicari adalah cara bagaimana melewati masa tersebut agar menjadi momen yang tetap bermanfaat baik untuk diri sendiri atau orang lain. Salah satu hal termudah, adalah menjaga kesehatan. Dan itu bisa dimulai sejak dini. Tidak banyak orang dikaruniai umur panjang hingga melewati satu abad. Anugerah itu dirasakan oleh Napisah. Perempuan kelahiran Tulangan, Sidoarjo, tersebut bahkan masih memiliki tubuh bugar, pendengaran tajam, hingga penglihatan awas di usia yang pada 16 Maret mendatang memasuki angka 103 tahun. Ditanya apa resep sehatnya? Anak keempat di antara sembilan bersaudara itu menyatakan tidak ada yang khusus. Hanya, sejak kecil dia mengaku terbiasa hidup sederhana. Untuk urusan makan, ibu tiga anak tersebut lebih memilih sayur dan buah daripada daging. "Cuma itu yang saya lakukan. Nggak ada yang aneh-aneh," tutur perempuan yang sehari-hari menggunakan bahasa Jawa untuk berkomunikasi itu. "Tapi, ada beberapa sayur yang saya nggak suka juga. Terong, kubis, dan timun," ungkapnya. Menu favorit buyut 36 cicit itu adalah tahu. Biasanya, dia makan tahu yang dikukus. Sebab, dia menghindari makanan yang dibuat dengan cara digoreng. Tahu tersebut dia makan dengan kecap atau bumbu pecel. Pencuci mulutnya pisang atau pepaya. Perempuan yang akrab disapa Mbah Sah itu tak ketinggalan mengonsumsi susu berkadar kalsium tinggi. Susu tersebut mulai diminum setelah dia menjalani operasi batu ginjal pada 2001. "Saya minum sehari sekali untuk jaga kesehatan saja," ucapnya. Sebagian besar yang dimakan, papar Mbah Sah, adalah masakan sendiri. Dia nyaris tak pernah membeli makanan di warung. "Kalau nggak bikin sendiri, ya anak-anak atau cucu. Pokoknya, saya lebih suka makanan rumah," imbuh dia. Saat ini Mbah Sah tinggal bersama cucu dari anak ketiganya, Siti Kumairotin, 46. Delapan saudaranya sudah meninggal. Begitu juga sang suami, Saiman, yang meninggal 20 tahun silam. Bersama Siti, Napisah punya kebiasaan bangun pukul 04.00. Mereka lantas membagi pekerjaan rumah tangga. Siti menyiapkan makanan serta mencuci pakaian dan piring. "Mbah Sah kebagian nyapu lantai dan teras rumah. Sukanya kerja. Beliau memang tidak bisa diam," ujar Siti. Selepas itu, Mbah Sah nonton TV. Tidak ada acara favorit. Semua tayangan layar kaca bisa dia nikmati. "Sing penting rame, wonten suarane (yang penting ramai, ada suara, Red)," paparnya. Walau tidak mengerti acara yang sedang disajikan di TV tersebut, Mbah Sah tetap saja menonton. Sebab, saat Siti yang berprofesi sebagai guru itu berangkat mengajar ke SDN Kenongo II, Tulangan, hanya peralatan elektronik tersebut satu-satunya yang menemani Mbah Sah. "Kalau capek ya istirahat," ucapnya. Mbah Sah memang masih bisa lancar menceritakan masa mudanya. Termasuk juga kehidupannya di masa penjajahan Belanda dan Jepang. Tapi, usia memang tak bisa diakali. Memasuki umur seratus tahun, dia mulai kehilangan sebagian ingatan, terutama soal jalan. Pernah sekali Mbah Sah mengantar salah satu cucunya ke sekolah, lalu tak bisa pulang. "Saya tanya ke tetangga jalan pulang karena lupa belok ke mana?" ujarnya lantas tertawa. Untuk itu, dia tidak berani keluar jauh dari rumah. Paling banter, Mbah Sah main ke tetangga sebelah untuk menjalin komunikasi. "Kalau ada tetangga lewat, saya juga suka menyapa mereka," terangnya. (nuq/ayi)
<<evergreen_logo_banner.jpg>>
<<52626large.jpg>>
