Masyarakat Makkah sangat gemar menggubah syair. Mereka biasa membuat syair-syair, memuji para pembesar, dan sanggup mempertontonkannya di tengah umum, bahkan di pasar-pasar. Penghargaan masyarakat terhadap syair ketika itu sangat tinggi. Siapa saja yang membuat syair, semua orang akan membaca dan mendengarkan syair-syairnya. Semakin tinggi kemampuan seseorang menciptakan syair, maka semakin tinggi pula penghargaan masyarakat. Semakin tinggi kualitas syair, maka semakin tinggi pula pamornya.
Dalam Risalatuttauhid Syekh Muhammad Abduh menggambarkan keadaan itu al-Quran diturunkan pada suatu masa yang telah sepakat ahli-ahli riwayat mengatakan, bahwa pada masa itu banyak sekali ahli-ahli sastra dan ahli-ahli pidato. Maka tak heran kalau pada masa itu hampir semua orang tertarik pada syair. Mereka berjibaku menggubah syair, dan interes terhadap retorika. Hampir tak ada orang yang tak ingin menjadi penyair pada saat itu. Lalu muncullah beberapa pujangga yang piawai menciptakan syair-syair berkualitas. Sebutlah misalnya Thulaihah, Habalah bin Kaab, dan Musailamah. Karya-karya mereka laku keras bak kacang goreng. Setiap kali bertemu dengan fans-nya, mereka diminta menggubah syair dan langsung mendeklamasikannya ketika itu juga. Pada saat itulah al-Quran turun. Bahasanya indah, kosa katanya tersusun rapih, dan kalimat-kalimatnya enak didengar. Dan, para penyair itu kebakaran jenggot, siapa gerangan yang menciptakan susunan dan gaya bahasa seindah itu? Betapa fashahah dan balaghahnya mempesona tiada tara. Bagi orang yang membaca al-Quran tanpa mengerti lafaz dan maknanya barangkali tidak akan mengerti dimana letak keindahan dan kemukjizatannya. Tapi bagi orang yang mengerti kosakata, makna, balaghah dan sisi linguistik al-Quran, maka mereka akan dapat menyelami segi-segi ilmiah al-Quran. Luar biasa, orang yang memahami dari terjemahan saja bisa tertarik untuk mempuisikan Quran, apalagi lagi mengerti maknanya. Al-Quran itu mampu menyihir siapa saja yang mendengar dan menghayati maknanya. Rasulullah saw mendapat sorotan tajam dari penyair-penyair itu. Mereka merasa Muhammad si empunya al-Quran adalah pesaing baru yang dapat merontokkan reputasi mereka dalam dunia kepenyairan. Bahkan mereka menuding Muhammad-lah si pencipta kata-kata puitis al-Quran. Tapi mereka berfikir, bagaimana mungkin Muhammad yang terkenal buta huruf itu mampu membuat bacaan seindah itu? Kehebatan puisi Muhammad terdengar ke telinga para pembesar Quraisy. Tokoh-tokoh penting dari suku Quraisy akhirnya berunding bagaimana caranya menundukkan Rasulullah. Mereka mengutus Abul Walid, sasterawan kondang yang tak ada bandingannya di seantero jazirah Arabia. Ia mendatangi dan merayu nabi Muhammad saw agar meninggalkan dawah. Sebagai kompensasinya, Muhammad dijanjikan sebuah pangkat, harta berlimpah, wanita cantik dan hidup mewah! Mendengar tawaran itu, Rasulullah hanya tersenyum. Secara halus beliau menolaknya, sambil membacakan surah Fusshilat dari awal hingga akhir. Mendengarkan ayat itu, Abul Walid amat tertarik dan terpesona sehingga ia termangu-mangu sendiri dan memikirkan keindahan gaya bahasanya. Tanpa berkata-kata ia langsung kembali kepada para pembesar Quraisy itu. Para pembesar rupanya sudah lama menunggu kedatangannya dengan gelisah. Melihat guratan kekecewaan pada diri Abul Walid, mereka bertanya, hai Abul Walid, mengapa engkau bermuram durja seperti itu? Apa hasil yang kamu bawa?. Abul Walid sudah menduga akan mendapatkan pertanyaan seperti itu. Ia menjawab terbata-bata, aku belum pernah mendengarkan kata-kata seindah itu. Itu bukanlah syair, bukan sihir dan bukan pula kata-kata ahli tenung. Sungguh, al-Quran itu ibarat pohon yang daunnya rindang, dan akarnya terhunjam ke dalam tanah. Susunan kata-katanya manis dan enak didengar. Pasti itu bukan kata-kata manusia, sebab kata-katanya bernilai sangat tinggi dan tak ada lagi yang lebih tinggi. Mendengar jawaban Abul Walid, para petinggi Quraisy murka. Mereka menuduh Abul Walid mengkhianati agama nenek moyangnya dan lebih memilih Islam, agama yang dibawa nabi Muhammad itu. Penantang berikutnya maju. Kali ini Musailamah, seorang kampium syair yang konon karya-karyanya sering menjadi best seller. Karena kehebatannya memukau masyarakat, ia mengaku nabi. Ia sesumbar bahwa karya-karyanya adalah wahyu dari tuhan. Di depan para tokoh dan semua masyarakat Quraisy, ia membacakan ayat-ayat yang dianggapnya dapat menandingi sebagian ayat-ayat al-Quran: Ya dhifdau bintu dhifdaaini Naqqii maa tunaqqiina Alaaki fil maa-i Wa asfalaki fit thiini Wahai kodok putri diantara dua kodok Berkuaklah sesuka hatimu Di atasmu engkau di air Dan di bawahmu engkau di tanah Para penonton tertawa terbahak-bahak. Ibu-ibu, para gadis, anak-anak muda bahkan anak-anak kecil yang turut menghadiri pementasan karya Musailamah bukannya memuji dan mengalunginya uang, mereka malah mencibir, mencemooh dan menghina. Musailamah tak kuat mendapat ejekan. Akhirnya ia lari tunggang langgang. Sejak saat itu masyarakat Mekkah menyebutnya sebagai "Al-kadzab", si tukang dusta. Benar apa kata Syekh Muhammad Abduh dalam bukunya yang terkenal Risalatut Tauhid, masa yang teramat panjang berlalu, angkatan demi angkatan datang silih berganti, tantangan al-Quran tetap berlaku, tetapi tak seorangpun yang dapat menjawabnya. Semua kembali dengan tangan hampa karena lemah dan tiada daya. [] http://religiusta.multiply.com/journal/item/98 Kairo, 21 November 2005 # Taufik Munir __________________________________ Yahoo! FareChase: Search multiple travel sites in one click. http://farechase.yahoo.com ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Get fast access to your favorite Yahoo! Groups. Make Yahoo! your home page http://us.click.yahoo.com/dpRU5A/wUILAA/yQLSAA/vbOolB/TM --------------------------------------------------------------------~-> Tetap Semangat Mencintai Banten! Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/wongbanten/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
