saya menghargai balasan imel ini, jika ini memang argumentasi anda. sayangnya saya juga menemukan pendapat serupa di http://72.14.203.104/search?q=cache:ZmGE3EaG4DIJ:www.irib.ir/worldservice/melayuRADIO/POLITIK/masyarakat_isbar.htm+%22Ayatullah+Subhani+%22&hl=id.
tuan SP SAPRUDIN, saya tidak bermaksud mendiskreditkan anda dengan ulah copy paste, hargailah karya orang lain dengan mencantumkan nama penulisnya. cukup mudah dan fair kan? kita sedang sama-sama belajar, bukan? masukan dian saya pikir bagus, memakai contoh kasus melaksanaan sistem2 politik yang eksis dimuka bumi ini. kalo ada rekan2 yang meneliti ttg aceh pasca syariat dijalankan,mungkin akan menambah wawasan kita. gimana,ada yang berani memulai? --- SP Saprudin <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > Assalamualaikum wr. wb. > > Sony Harsono Wrote : "kalo syariat dalam pandangan > demokrat piye yo?" > > Tuan Harsono, saya tidak ingin bicara lebih jauh > kesubstansi yang telah saya sampaikan terdahulu. > Saya hanya bicara bagaimana sih syariat Islam dalam > menyikapi demokrasi itu ? Ending pointnya adalah > mencari perbandingan. Maaf saya bukan politis > ataupun ilmuwan ataupun penggagas terhadap iklim > perubahan system demokratisasi di negeri ini. > > Kalau ngaguar kepada masalah penggagas, pengikut > ideologi, para pemimpin dan teoretikus berbagai > sistem politik, khususnya pada zaman ini semuanya > mengklaim diri sebagai pihak yang memperjuangkan > kebaikan dan kebahagiaan bagi masyakarat. Oleh sebab > itu, untuk mengetahui hakikat sebenarnya dari > masalah ini, kita perlu meneliti kedudukan dan peran > masyarakat dalam sebuah pemerintahan. Saat ini, > selepas keruntuhan ideologi komunisme, kita dapat > melihat dua sistem politik yang berbeda di dunia > yang mengaku menjunjung tinggi peran masyarakat, > yaitu sistem politik Islam dan Barat. Dengan > meneliti secara cermat, kita akan dapat menyimpulkan > sistem politik dan ajaran mana yang jujur dalam > klaim mereka yang memang benar-benar mencita-citakan > kebahagiaan dan kesejahteraan manusia. > Dalam kedua sistem pemerintahan Islam dan Barat, > disinggung mengenai kekuasaan masyakarat untuk > menentukan nasib mereka. Secara realitanya rakyat > mempunyai hak untuk menentukan pemerintahan mereka > atau jika terjadi penyimpangan, rakyat berhak untuk > meminta penguasa mundur. Tetapi dalam Islam selain > dasar kekuasaan rakyat, dasar penting lain ialah > masalah kebahagiaan dan kebaikan umat manusia. > Dengan kekuasaannya untuk menentukan nasib sendiri, > umat manusia tidak akan mencapai kebahagiaan. Sebab, > bisa saja mereka melakukan kesalahan ketika > menentukan jalan kebaikannya atau mungkin orang lain > menyeret mereka ke jalan penyimpangan. Karenanya, > dalam pemikiran Islam setiap pemerintahan hanya bisa > diterima jika membuka jalan bagi peningkatan dan > perbaikan masyarakat demi mencapai kebahagiaan yang > sebenarnya. > Ayatullah Jaâfar Subhani, penulis, peneliti dan > ustad besar di Hauzah Ilmiah Qum, dalam hal ini > mengatakan: Poin yang memisahkan teori kedaulatan > rakyat di Barat dengan kedaulatan rakyat di Islam, > ialah bahwa Barat menyerahkan kekuasaan pemerintahan > kepada rakyat tanpa syarat apapun yang mengikat > mereka. Sementara itu, menurut Islam, pemerintahan > ada di tangan Tuhan. Tetapi manusia bisa menentukan > nasib mereka dalam kerangka undang-undang seperti > yang telah ditetapkan oleh Allah Swt.. > Oleh karena itu, tujuan sistem pemerintahan Islam > ialah kebahagiaan dunia dan akhirat. Karena itu > dalam ajarannya, Islam menunjukkan jalan benar untuk > mencapai kebahagiaan. Dengan kata lain, berbeda > dengan Barat, meskipun menjunjung tinggi slogan > demokrasi dan kedaulatan rakyat, Islam tidak > melepaskan masyarakat begitu saja, tetapi tetap > menekankan supaya mereka menjalani kehidupan yang > baik. Sementara itu, demokrasi ala Barat yang > menyingkirkan agama dari kehidupan masyarakat, telah > membuka jalan bagi meningkatnya kebobrokan moral, > diskriminasi politik, ekonomi dan sosial. Karena > dalam sistem ini, yang mendasari sebuah pemerintahan > adalah keinginan mayoritas manusia, meskipun mereka > mengambil keputusan yang bertentangan dengan > kepentingan dan kemaslahatan umat manusia sendiri. > Kesimpulan umum yang dapat kita ambil adalah bahwa > pemerintahan Islam merupakan perpaduan pemerintahan > yang bersumber dari Tuhan dan kedaulatan rakyat > untuk mewujudkan kebaikan dan kemaslahatan manusia. > Berbeda dengan sistem politik Barat, pemerintahan > Islam berlandaskan kepada aturan yang telah > ditetapkan dan dalam kerangka undang-undang yang > Islami. Sistem pemerintahan Islam disebut Ilahi > sebab mengajak masyarakat untuk bergerak dalam > kerangka hukum-hukum Tuhan. Dan di sisi lain, sistem > pemerintahan ini demokratis sebab memperhatikan > tuntutan dan kepentingan rakyat. Dengan cara ini, > dalam sistem Islam tidak ada pertentangan antara > agama dan kedaulatan rakyat, malah bisa dikata > saling melengkapi. Ayatullah Subhani dalam > menjelaskan perkara ini menyinggung bahwa Tuhan > telah menciptakan segala sesuatu termasuk manusia. > Karena itu, Dialah yang berhak dan berkuasa atas > ciptaan-Nya. Namun, Tuhan menyerahkan hak menentukan > nasib kepada manusia dalam kerangka yang telah Dia > tetapkan. > Poin lain ialah pemerintah Islam tidak memaksakan > islamisasi ke atas rakyat, tetapi dengan kebebasan > untuk membuat pilihan seperti yang telah > dikaruniakan Allah Swt, mereka menentukan sistem > pemerintahan dalam kerangka hukum Illahi. Demikian > juga jika di sebuah negara di mana rakyat tidak > menginginkan pemerintahan Islam, maka pemerintahan > tersebut tidak akan terbentuk. > Rakyat tidak saja memainkan peran dalam memilih > sistem pemerintahan Islam, tetapi juga dalam > menentukan penguasa dan pemimpin. Ketika > pemerintahan, undang-undang dan ajaran Islam > berkuasa, maka pemimpin harus mengenal masalah > politik dan sosial, selain juga menguasai > hukum-hukum Islam. Selain dari itu pemimpin Islam > haruslah seorang yang bertakwa dan adil. Alasannya > adalah karena dia harus memimpin pemerintahan menuju > kebahagiaan dan kesejahteraan. Syahid Ayatullah > Murtadha Muttahari, pemikir besar Islam, mengenai > hubungan rakyat dan pemerintah Islam dengan > menyinggung kata-kata Imam Ali AS dalam Nahjul > Balaghah, berkesimpulan sbb: > âPemimpin dan penguasa adalah pemegang amanat > yang bertanggungjawab kepada rakyat. Jika kita > hendak menyebutkan siapakah yang bertugas melayani, > harus kita katakan bahwa pemerintahlah yang harus > melayani masyarakat. Masyarakat tidak berada di > bawah kekuasaan dan bukan pelayan pemerintah.â > Pemilihan sistem pemerintahan dan penanggung jawab > dalam pemerintahan Islam, dilakukan oleh rakyat. > Tetapi pemilihan ini berbeda dengan pemilihan yang > dilakukan dalam sistem Barat. Di barat calon-calon > pemimpin bisa menggunakan segala macam cara termasuk > yang tidak legal untuk mencapai kekuasaan. Dalam > sistem ini, kekuasaan berada dalam tangan para > pemegang modal, tanpa menaruh banyak perhatian > kepada keadilan dan kemaslahatan masyarakat. Fakta > yang ada saat ini menunjukkan bahwa meski > mendapatkan penentangan opini umum dunia dan > kebanyakan negara, Washington yang berambisi > menguasai sumber-sumber energi Irak dan berupaya > melindungi kepentingan kartel-kartel minyak Amerika, > tetap bersikeras untuk melancarkan perang terhadap > Irak. > Tetapi dalam sistem Islam, penanggung jawab sejak > dari awal dipastikan akan melaksanakan tanggungjawab > syarâi dan Ilahinya. Selain dari itu, selepas > dilantik, pemerintah bertanggungjawab di hadapan > Tuhan dan rakyat, sehingga dia akan melaksanakan > tanggungjawabnya sebaik mungkin. Karena pemerintahan > adalah amanat yang dititipkan oleh rakyat kepada > mereka. Imam Ali as berkata kepada para gubernurnya: > âBerperilaku baiklah kepada rakyat dan berusahalah > untuk memenuhi keperluan dan tuntutan mereka. > Sebenarnya kalian yang memimpin adalah pemegang > amanah rakyat dan wakil dari umat Islam.â > Dalam kriteria semacam ini, tanggungjawab dan > tugas pemimpin dalam sistem pemerintahan Islam > adalah lebih berat jika dibandingkan dengan sistem > yang ada di Barat. Ayatullah Khamenei, rahbar atau > pemimpin besar revolusi Islam, menentang keras > pemimpin yang memperoleh suara rakyat namun tidak > bekerja untuk mereka. Beliau mengatakan: âSelepas > pemilihan, tibalah giliran kedua yaitu > pertanggung-jawaban.â Dalam pandangan Islam, para > penguasa bertanggungjawab di hadapan semua rakyat > dan seluruh anggota masyarakat diberi hak > mempertanyakan atau bahkan mengkritik mereka. Hal > itulah yang telah terjadi di zaman pemerintahan Nabi > Muhammad SAW dan Ali AS. Pada dasarnya, menurut > sistem pemerintahan Islam, kritik membangun terhadap > pemerintahan ini adalah salah satu hak rakyat. > Karena kritikan yang benar terhadap pemimpin > menyebabkan kejelasan kekurangan yang dengan > memperbaikinya akan dapat meningkatkan taraf > kesejahteraan masyarakat. > Dengan demikian, rakyat dalam ajaran Islam, > memiliki kedudukan yang tinggi. Mereka adalah > pemilih sistem pemerintahan dan para pemimpinnya. > Masyarakat bisa secara langsung atau melalui wakil > mereka, dapat memecat para pemimpin yang tidak > layak. Kesimpulannya, peran rakyat dalam sistem > Islam lebih kuat, lebih banyak dan lebih memastikan > dari peran yang disuguhkan oleh teori demokrasi ala > Barat. Selain dari itu, kebahagiaan dan > kesejahteraan dunia dan akhirat masyakarat menempati > peringkat awal dalam tujuan sistem pemerintahan > Islam. Dalam hal ini, undang-undang dan ajaran Islam > merupakan bimbingan berharga yang tidak akan keliru > dalam menuntun umat manusia ke arah kebaikan dan > kesejahteraan. > > Wassalamualaikum wr. wb. > (Maaf saya bukan ahli debat) > sony harseno <[EMAIL PROTECTED]> menulis: > tema yang menarik. mudah2an orang yang mengaku > demokrat atau setidaknya tahu apa itu demokrasi bisa > urun suara, membela yang menjadi pahamnya. > > mengutip tuan saprudin, demokrasi hanya komoditas. > jika di artikan dalam pandangan saya, berarti > demokrasi bisa menjadi barang dagangan yang bernilai > lebih. lebih jauh lagi, demokrasi bukanlah sebuah > tujuan, tapi alat semata (kalo berniat radikal, > secara > terang2an seharusnya islam tidak menggunakan cara2 > ini > bukan?). terlalu simplistikkah? saya mengajak > saudara > === message truncated === __________________________________________________ Do You Yahoo!? Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around http://mail.yahoo.com __________________________________________________ Do You Yahoo!? Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around http://mail.yahoo.com ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Fair play? Video games influencing politics. Click and talk back! http://us.click.yahoo.com/u8TY5A/tzNLAA/yQLSAA/vbOolB/TM --------------------------------------------------------------------~-> Tetap Semangat Mencintai Banten! Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/wongbanten/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
