Kang GG,
 
Saya agak lupa analogi itu, kira-kira demikianlah. Cuma gunungnya bukan Smeru, tapi Kelud. Atau mungkin Gunung Karang mereuunn... hehehe
 
Kalau bicara Banten memang ndak ada habisnya. Tapi itulah menariknya. Biar jangan ahli dari barat aja yang membahasnya, sekali-kali kita yang membicarakannya sendiri.
 
Saya sendiri merasa belum menyumbang banyak untuk Banten. Tak ada yang bisa saya lakukan.
 
Banten itu bak rimba belantara yang banyak hewan buasnya. Dan saya tak tahu ke mana saya harus pergi di sini. Makanya saya memilih tetap merantau sejak kuliah hingga hari ini. Tapi bukan berarti saya tidak mau balik, tinggal tunggu waktu saja.
 
Pro: Kang GG, jurnalisme sastra itu perlu diperkenalkan kepada khalayak di Banten, terutama kepada para aktivisnya. Andreas itu orangnya baek kok, dia mau aja datang zonder betaalen alias gratis asal waktunya tepat. Bisa juga diundang sohibku, Budi Setiyono. Kalo mau undang dia kasih kursus bisa aku sampaikan.
 
baik, tengkyu.
 
tabik,
 
BT 
 
 
[EMAIL PROTECTED] wrote:
Kang Herry,
Tidak perlu meminta maaf, tidak ada yang keliru dengan tulisan Akang.
Respek saya terhadap dedikasi Akang tidak berkurang sedikitpun, sebab
akang melakukan banyak hal yang tidak mampu saya lakukan untuk Banten.

Benar suatu kali saya sempat berbincang dengan Toto (juga dengan Rys --
semoga almarhum mendapat tempat yang layak di sisi-Nya) pada saat awal
menggagas Rumah Dunia. Mungkin karena pemahaman saya terhadap sastra yang
cetek, ide itu pada awalnya tidak terlalu menarik bagi saya. Tapi itu 5-6
tahun lalu. Kini saya sedang berusaha memindahkan sekitar 2000 buku dari
rak buku saya di Ciputat ke tempat yang sederhana dan sejuk di kampung
saya di Menes.

Saya memang belum bisa memberikan banyak untuk Banten, tapi minimal saya
tidak mengambil apa yang menjadi hak rakyat Banten. Saya membantu TS
karena menurut penilaian subyektif saya, TS adalah kandidat yang relatif
punya komitmen dibandingkan yang lain. Tentu Kang Herry, dan yang lainnya
di milis ini, punya pandangan yang berbeda.

Salam hormat,
ali


Ali Nurdin,
> Kau selama jadi wartawan kami tunggu kontribusimu.
> Kau juga hilang ditelan waktu.
> Saya, toto, rys revolta (almarhum), menunggumu.
> Saat itu kami sedang bersemangat ingin membangun Banten lewat
> jurnalistik dan sastra. Tapi, kau jarang berkomunikasi.
> Saat itu kami butuh begerapa pemuda yang sehat dan kritis berpikir.
> Kami beroganisasi dan steril dari politik.
> Lihat itu KNPI. Kami menolak bantuan dri KNP.
> Bahkan saya menolak award dari KNPI.
> Ung rakyat kok dipake buat bikin pesta award.
>
> Beberapa nama anak muda kami tulis. Ingat Bung Karno, "Bri kami seribu
> orang tua, niscaya  kami bisa memindahkan gunung Semeru. Dan beri kami
> seratus pemuda yagn sehat, berani, jujur, dan pintar, niscaya kami akan
> menggegerkan Dunia." Nah, saat itu kami sangat mendambakan seratus anak
> muda berkumpul; jadi menhir (betul analogi ini, Boni?) dan menggegerkan
> Banten.
>
> Saat itu kami ajukan visi-misi kami. Kamu juga pernah kan dideketin
> Toto.
> Tapi, kebanyakan orang selalu takut miskin dan tidak bisa makan jika
> membangun masyarakat tanpa ada insentifnya. Kebanyakan lebih tertarik
> bikin LSM dan sibuk nyari dana lewat APBD dengan dalih membangun
> masyarakat.
> Tapi, kami tidak pernah mempermasalahkan itu. Bukankah itu pilihan?
> Kami dengan pilihan kami, kawan-kawan denan pilihannya sendiri.
> Hanya, saya lebih menyukai LSM yang menggali dana dari CD-CD perusahan
> ketimbang APBD. Mental pengemis ini betul-betul dipelihara KNPI dan LSM
> plat merah. KNPI mengatasnamakan pmuda dan LSM plat merah
> mengatasnamakan rakyat.
> %0


YAHOO! GROUPS LINKS





Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com

Tetap Semangat Mencintai Banten!



SPONSORED LINKS
Indonesia visa Indonesia phone card Indonesia calling card
Indonesia travel Bali indonesia Indonesia


YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke