Piye mas ? Apa yang bisa digali dari Pancasila, lha wong Pancasila aja menggalinya dari agama.
Agama mengajarkan masalah hukum meliputi :
1). Hukum I'tiqadiyah yang berhubungan dengan masalah Keimanan
2)  Hukum Khulukiyyah yang berhubungan dengan akhlaq, etika, moral
3). Hukum Amaliyah berhubungan dengan prilaku, tingkah laku atau perbuatan, toleransi dalam pergaulan (berkaitan dengan kehidupan berbangsa dan bernegara)

Konteksnya dengan Pancasila apa yang harus digali ? Pancasila adalah hasil galian dari sumber segala sumber hukum (agama) yang diaplikasikan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Yang perlu digali bukan pancasilanya, tapi manusia-manusianya sudah sejauhmana mengaplikasikan butir-butir Pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Kalau sekedar gali-mengali sih emang kepinteran orang Indonesia. Tapi implementasinya kadang acak adut yang akhirnya tidak teraplikasi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara malahan amburadul. (maaf dalam hal amburadul ini mungkin anda bisa melihat dalam keseharian baik di jajaran birokrasi (eksekutif, yudikatif, legislatif dll) serta masyarakat umum. 
Gitu aja akh...
 
Hapunten
 

antonhartomo <[EMAIL PROTECTED]> menulis:
---


Menggali Pancasila Kembali

Goenawan Mohamad

"Bukan saja bangsa Indonesia bertuhan, tetapi masing-masing
orang Indonesia hendaknya bertuhan Tuhannya sendiri"
-- Bung Karno, Lahirnya Pancasila, 1 Juni 1945.

KITA hidup dalam sebuah zaman yang makin menyadari
ketidaksempurnaan nasib. Gagasan "sosialisme ilmiah" yang
ditawarkan oleh Marx dan Engels pernah meramalkan tercapainya
"surga di bumi", sebuah masyarakat tempat kapitalisme hilang dan
kontradiksi tak ditemukan lagi. Tapi cita-cita itu terbentur
dengan kenyataan yang keras pada akhir dasawarsa ke-8 abad
ke-20: Uni Soviet dan RRC mengubah haluan, dengan menerima "jalan
kapitalis" yang semula dikecam. Sosialisme pun terpuruk: ternyata
"ilmiah" bukan berarti "tanpa salah", ternyata Marxisme sebuah
gagasan yang akhirnya harus mengakui bahwa dunia tak akan pernah
bebas dari kontradiksi.

Dewasa ini cita-cita menegakkan "Negara Islam" mungkin
satu-satunya yang masih percaya bahwa kesempurnaan bisa
diwujudkan. Jika hukum Tuhan adalah hukum yang hendak
diterapkan, mau tak mau hasil yang diharapkan adalah sebuah
kehidupan sosial yang tanpa cacat.

Dengan kata lain, para penganjur "Negara Islam" adalah penggagas
yang tak membaca sejarah yang terbentang dalam jangka waktu
lebih dari 21 abad--sebuah sejarah harapan dan kekecewaan yang
silih berganti, sebuah sejarah ide dan rencana cemerlang yang
kemudian terbentur, sebuah riwayat pemimpin dan khalifah yang
tak selamanya tahu bagaimana menjauh dari sabu-sabu kekuasaan.

Para penganjur ide "Negara Islam" lupa bahwa agama selamanya
menjanjikan kehidupan alternatif: di samping yang "duniawi" yang
kita jalani kini, ada kelak yang "ukhrowi" yang lebih baik. Maka
sebuah "Negara Islam" yang tak mengakui ketidaksempurnaannya
sendiri akan salah secara akidah. Tapi sebuah "Negara Islam" yang
mengakui ketidaksempurnaannya sendiri akan menimbulkan
persoalan: bukankah ajektif "Islam" mengandaikan sesuatu yang
sempurna?

Dilema itu berasal dari pengalaman kita: bumi adalah bumi; ia
bukan surga. Ketidaksempurnaan, bahkan cacat, berlangsung terus,
berselang-seling dengan saat-saat yang mengagumkan. Agaknya akan
demikian seterusnya.

Pada 1992 Francis Fukuyama mengatakan kita berada di "akhir
sejarah". Tapi ia tak mengatakan bahwa hidup tak akan lagi
dirundung cela. Memang ia merayakan kemenangan ekonomi kapitalis
dan demokrasi liberal yang kini tampak di banyak sudut. Ia ingin
menunjukkan bahwa pandangan alternatif yang yakin untuk
menggantikan kapitalisme dan demokrasi liberal telah kehilangan
daya pikat; ideologi telah berakhir, seperti telah dikatakan
Raymond Aron pada 1955 dan Daniel Bell pada 1960. Orang
terdorong untuk jadi pragmatis. Tapi ada yang harus dibayar.

"Akhir sejarah akan merupakan sebuah peristiwa yang amat sedih,"
tulis Fukuyama. "Perjuangan untuk diakui, kehendak untuk
mengambil risiko mati bagi sebuah cita-cita yang sepenuhnya
abstrak, pergulatan ideologis sedunia yang menggugah tualang,
keberanian, imajinasi, dan idealisme, akan digantikan oleh
perhitungan ekonomis, keprihatinan soal lingkungan dan pemuasan
permintaan konsumen yang kian canggih."

Fukuyama tak sepenuhnya betul. Kini masih ada orang-orang yang
terbakar oleh "kehendak untuk mengambil risiko mati bagi sebuah
cita-cita"; kita mengetahuinya tiap kali ada seseorang yang
meledakkan tubuhnya sebagai alat pembunuh musuh.

Bahkan dalam sebuah proses politik yang "normal", tak semua hal
digantikan oleh "perhitungan ekonomis" dan "pemuasan permintaan
konsumen". Tapi apa yang betul dan tak betul dalam kesimpulan
Fukuyama tetap menunjukkan kesadaran zaman ini: nasib manusia
adalah ketidaksempurnaan.

***
SAYA teringat akan Pancasila. Ketika Bung Karno menjelaskan,
seraya membujuk, perlunya Indonesia mempunyai sebuah
Weltanchauung, sebuah pandangan tentang dunia dan kehidupan, ia
sebenarnya sedang meniti buih untuk selamat sampai ke seberang.

Sebab itu, jika ditelaah benar, pidato Lahirnya Pancasila yang
terkenal pada 1 Juni 1945 itu mengandung beberapa
kontradiksi--yang bagi saya menunjukkan bahwa Bung Karno sedang
mencoba mengatasi pelbagai hal yang bertentangan yang dihadapi
Indonesia.

Kontradiksi yang paling menonjol justru pada masalah
Weltanchauung itu. Sebuah pandangan tentang dunia dan kehidupan,
atau sebuah "dasar filsafat" (Bung Karno menyebutnya
philosophische grondslag) yang melandasi persatuan bangsa adalah
sebuah fondasi, perekat dan sekaligus payung. Di sini tersirat
kecenderungan untuk memandangnya sebagai sesuatu yang harus
kukuh dan sempurna"sebuah kecenderungan yang makin keras pada
masa "Orde Baru", yang menganggap Pancasila itu "sakti".

Jika demikian halnya, ia tak bisa diubah. Tapi timbul persoalan:
bagaimana pandangan ini memungkinkan sebuah kehidupan politik
yang, seperti dikatakan Bung Karno sendiri, niscaya mengandung
"perjuangan faham"? Kata Bung Karno, tak ada sebuah negara yang
hidup yang tak mengandung "kawah Candradimuka" yang "mendidih",
tempat pelbagai "faham" beradu di dalam badan perwakilannya. Tak
ada sebuah negara yang dinamis "kalau tidak ada perjuangan faham
di dalamnya".

Ketika Bung Karno menyebut kalimat ini, ketika ia mengakui bahwa
sebuah negara mau tak mau mengandung "perjuangan sehebat-hebatnya"
di dalam persoalan "faham", ia menatap ke sebuah arah: ia ingin
membuat tenteram kalangan politik Islam. Ia menganjurkan agar
"pihak Islam" menerima berdirinya sebuah negara yang "satu buat
semua, semua buat satu". Ia menolak "egoisme-agama".

Tapi ia juga membuka diri kepada kemungkinan ini: bisa saja
suatu saat nanti hukum yang ditegakkan di Indonesia adalah hukum
Islamjika "utusan-utusan Islam" menduduki "sebagian yang terbesar
daripada kursi-kursi badan perwakilan rakyat".

Di sini tampak, perjuangan ke arah hegemoni diakui sebagai
sesuatu yang wajar dan sah. Tapi dengan demikian, Weltanchauung
yang dirumuskan sebenarnya bukan fondasi yang kedap, pejal,
sudah final dan kekal, hingga meniadakan kemungkinan satu "faham"
menerobosnya dan mengambil alih posisi "filsafat dasar" itu.
Dengan kata lain, Pancasila bukan sesuatu yang "sakti".

***
PANCASILA justru berarti, karena ia tidak "sakti".
Ada tiga kesalahan besar "Orde Baru" dalam memandang kelima
"prinsip" itu. Yang pertama adalah membuat Pancasila
hampir-hampir keramat. Yang kedua, membuat Pancasila bagian dari
bahasa, bahkan simbol eksklusif, si berkuasa. Yang ketiga,
mendukung Pancasila dengan ancaman kekerasan.

"Orde Baru" telah memperlakukan Pancasila ibarat Rahwana mengambil
alih Sita selama bertahun-tahun. Analogi dari epos Ramayana ini
tak sepenuhnya tepat, tapi seperti Sita setelah kembali
dibebaskan oleh Rama, Pancasila di mata orang banyak, terutama
bagi mereka yang tertekan, setelah "Orde Baru" runtuh, seakan-akan
bernoda: ia tetap dikenang sebagai bagian dari lambang kekuasaan
sang Rahwana.

Tapi kita tahu, kesan itu tak benar dan tak adil--sama tak benar
dan tak adilnya ketika Rama meletakkan Sita dalam api pembakaran
untuk membuktikan kesuciannya.

Kini kita membutuhkan Pancasila kembali, tapi tak seperti Rama
menerima Sita pulang: kita tak perlu mempersoalkan "kesucian",
apalagi "kesaktian"nya. Kini kita membutuhkan Pancasila kembali
justru karena ia merupakan rumusan yang ringkas dari ikhtiar
bangsa kita yang sedang bergulat melintasi lumpur untuk dengan
selamat mencapai persatuan dalam perbedaan. Pidato Bung Karno
dengan ekspresif mencerminkan ikhtiar itu; nadanya mengharukan:
penuh semangat tapi juga tak bebas dari rasa cemas.

Dengan kata lain, kita membutuhkan Pancasila kembali untuk
mengukuhkan bahwa kita mau tak mau perlu hidup dengan sebuah
pandangan dan sikap yang manusiawiyang mengakui peliknya hidup
bermasyarakat.

Para pembela ide "Negara Islam" gemar mengatakan, mereka lebih
baik memilih dasar Islam karena Islam datang dari Allah,
sedangkan Pancasila itu bikinan manusia. Tapi justru karena
Pancasila adalah bagian dari ikhtiar manusia, ia tak mengklaim
dirinya suci dan sakti. Dengan demikian ia adalah cerminan dan
juga cahaya dari dalam sebuah kehidupan bersama yang mengakui
dirinya mengandung "kurang", karena senantiasa bergulat antara "eka"
dan "bhineka".

Sebab itu tepat sekali ketika Bung Karno menggunakan kiasan
"menggali" dalam merumuskan Pancasila. "Menggali" melibatkan bumi
dan tubuh. Pancasila lahir dari jerih payah sejarah, danseperti
halnya hasil bumimenawarkan sesuatu yang tetap bisa diolah lebih
lanjut. Ia tak "ready-for-use". Ia tak menampik tafsir yang
kreatif. Ia membuka kemungkinan untuk tak jadi doktrin, karena
tiap doktrin akan digugat perkembangan sejarahdan sebab itu Bung
Karno mengakui: tak ada teori revolusi yang "ready-for-use".

Yang juga tampak dalam keterbukaan untuk kreativitas itu adalah
sifatnya yang tak bisa mutlak. Tiap "sila" mau tak mau harus
diimbangi oleh "sila" yang lain: bangsa ini tak akan bisa hanya
menjalankan "sila" keberagamaan ("Ketuhanan Yang Maha Esa") tanpa
juga diimbangi "sila" kesatuan bangsa ("kebangsaan Indonesia"), dan
sebaliknya. Kita juga tak akan patut dan tak akan bisa bila kita
ingin menerapkan "sila" nasionalisme tanpa diimbangi
perikemanusiaan, dan begitulah seterusnya.

Memutlakkan satu "sila" saja akan melahirkan kesewenang-wenangan.
Juga tak akan berhasil. Hidup begitu pelik. Masyarakat selalu
merupakan bangunan dalam proses, hingga politik, dengan segala
cacatnya, merupakan hal yang tak bisa dielakkanbahkan tak bisa
dihabisi oleh 100 tahun kekerasan.

Kita membutuhkan Pancasila kembali karena kita seakan-akan telah
kehilangan bahasa untuk menangkis 100 tahun kekerasan yang
tersirat dalam sikap sewenang-wenang yang juga pongah: sikap
mereka yang merasa mewakili suara Tuhan dan suara Islam,
meskipun tak jelas dari mana dan bagaimana "mandat" itu datang ke
tangan mereka; sikap mereka yang terbakar oleh "egoisme-agama" dan
menafikan cita-cita Indonesia yang penting, agar tiap manusia
Indonesia "bertuhan Tuhannya sendiri"hingga agama tak dipaksakan,
dan para penganut tak bersembunyi dalam kemunafikan.

Kita membutuhkan Pancasila kembali karena kita perlu bicara
yakin kepada mereka yang mendadak merasa lebih tinggi ketimbang
sebuah Republik yang didirikan dengan darah dan keringat
berbagai penghuninyaIslam, Kristen, Hindu, Buddha, Konghucu,
ataupun ateisperjuangan yang lebih lama ketimbang 60 tahun.

Kita membutuhkan Pancasila kembali karena ia merupakan proses
negosiasi terus-menerus dari sebuah bangsa yang tak pernah
tunggal, tak sepenuhnya bisa "eka". Kita membutuhkan Pancasila
kembali karena tak akan ada yang bisa sepenuhnya meyakinkan
bahwa dirinya, kaumnya, mewakili sesuatu yang Maha-Benar dan
Maha-Besar dan bisa menafikan ketidaksempurnaan nasib manusia.

Jakarta, 11 September 2005

TEMPO Edisi 18 September 2005 Hal. 128 Rubrik Kolom








Tetap Semangat Mencintai Banten!



YAHOO! GROUPS LINKS







Saprudin

__________________________________________________
Apakah Anda Yahoo!?
Lelah menerima spam? Surat Yahoo! memiliki perlindungan terbaik terhadap spam
http://id.mail.yahoo.com

Tetap Semangat Mencintai Banten!



SPONSORED LINKS
Indonesia visa Indonesia phone card Indonesia calling card
Indonesia travel Bali indonesia Indonesia


YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke