Temu Sastra(wan) se-kampung Nusantara:
MENU GURIH
ODE KAMPUNG DI RUMAH DUNIA
Oleh Gola Gong*)
Pemerintahan SBY belum genap dua tahun, koruptor banyak terbongkar tapi uang tidak bisa kembali. Tumbalnya lagi-lagi rakyat. BBM, listrik, dan telepon dinaikkan. Begitu juga di Banten. Enam tahun berjalan, penguasa dan pengusaha masih sibuk memoles-moles bibirnya. Lihatlah anggota DPRD Banten cuci tangan perihal kasus-kasus korupsi, tapi masih saja sempat membuat RAPBD makan-minum sebesar Rp. 80-an milyar Rupiah! Di Pemkab Serang, Rp. 5 Milyar lebih untuk merancang Serang kota, tapi kampung Ciloang sejak dulu jalannya masih saja rusak! Begitu juga jalan-jalan di kampung Kasemen, Kramatwatu, dan masih banyak lagi!
HAJATAN SENI
Ya, kampung-kampung di Banten menangis pilu, memanggili anak-anaknya untuk pulang. Di kampung masih banyak orang lapar; tidak makan nasi di lumbung mereka sendiri! Masih banyak orang kurang pendidikan; sekolah-sekolah roboh dan buku pelajaran dimakan tikus-tikus sialan! Dan jalan-jalannya seperti kubangan kerbau!
Apa yang bisa dilakukan para pelaku seni melihat kehidupan yang carut-marut ini? Para sastrawan pasti menuangkannya dalam bentuk prosa atau puisi. Seperti juga saya,
Toto ST Radik, dan almarhum Rys Revolta (wartawan Radar Banten) lakukan. Kami merasa prihatin dengan situasi dan kondisi Banten pada era 80-an. Sebagai penulis, kami menumpahkan kegundahan lewat kata-kata. Maka jadilah 30 sajak kepedihan hati kami tentang Banten dalam buku kumpulan puisi Ode Kampung (Azeta, 1988). Sajak-sajak yang menceritakan perubahan kampung agraris ke industri; sungai-sungai dikencingi limbah pabrik, kerbau berganti kuda besi, suara mengaji digantikan kaset, sarung berubah blue jeans, dan lumbung padi digerogoti tikus berdasi!
Semangat buku Ode Kampung kami hidupkan lagi di Rumah Dunia, komunitas nirlaba di Komplek Hegar Alam 40, kampung Ciloang Serang. Kami menghidangkan hajatan seni dengan melibatkan orang-orang kampung.
Semua orang boleh ambil bagian, yang bukan seniman juga, silahkan bergabung. Kami mencoba menganyam kembali kebersamaan seniman dan masyarakat, yang jadi sumber inspirasi bagi karya-karyanya.
Hajatan seni ini kami namai Ode Kampung: Temu Sastra(wan) se-Kampung Nusantara, akan digelar 3, 4, dan 5 Februari 2006, mengangkat tema besar Sastra(wan) di Tengah Persoalan kampungnya. Menu-menu gurih pun kami racik.
DISKUSI
Hidangan menu pembuka dimulai Jumat, 3 Februari, pukul 14.00 WIB. Kurnia Hidayat, ketua RT Komplek Hegar Alam, Ciloang, mempersilahkan para tamu mencicipi hidangan. Ada peluncuran kumpulan puisi dan essay Ode Kampung yang diterbitkan Suhud Media Promo, pentas teater anak-anak Rumah Dunia; Cita-cita Petani Kecil, juga pembacaan puisi dari seniman Baduy. Sorenya, pukul 15.00 hingga 17.00, Gus tf (Payakumbuh), akan memberikan resep jitunya di Bengkel Puisi. Bagi pelajar, mahasiswa, dan penyair Banten, jika ingin meningkatkan kualitas kekaryaan, ikuti menu gurih bengkel puisi ini. Gratis lagi.
Keesokan harinya, Sabtu (4/2), pukul 09.00 WIB, menu gurih Komunitas Sastra atau sastra Komunitas
meramu Isbedy Stiawan ZS (Lampung) dan Toto ST Radik (Serang). Isbedy menulis di resepnya, Saya kurang meyakini bahwa komunitas sastra yang ada benar-benar untuk sebuah perbaikan bagi mutu karya para anggotanya. Sedangkan Toto menulis, Sastrawan juga manusia. Dia mahluk individu sekaligus mahluk sosial. Nah, bagaimana menurut kita? Cicipi saja menu ini ramai-ramai.
Masih Sabtu (4/2), pukul 13.00 WIB, menu gurih lainnya berupa Pembelajaran Sastra di Sekolah dan Pesantren. Bagi para pelajar, santri, guru serta dosen Bahasa dan Sastra Indonesia jangan melewatkan hidangan ini. Juru masaknya penyair Acep Zamzam Noor (Tasikmalaya) dan Wan Anwar, Ketua Jurusan Dikstrasia Untirta Serang dan Redaktur majalah Sastra Horison. Acep meracik, Saya kurang setuju
dengan pelabelan sastra pesantren atau sastra santri ini... Racikan Wan Anwar, Kurikulum berubah, berbagai pelatihan guru dilangsungkan, seminar dan diskusi bergulir, kualitas buku ajar diperbaiki, jumlah buku perpustakaan ditambah, tetapi kita masih menghadapi persoalan sama: pembelajaran sastra di sekolah tidak menunjukkan hasil memuaskan!
Menu gurih lainnya di hari Sabtu (4/2), pukul 16.00 WIB, Bengkel Cerpen. Montirnya jempolan; Ahmadun Yosi Herfanda, pengarang, penyair, dan Redaktur Sastra-Budaya koran Republika. Ada waktu dua jam untuk menggali resep-resep Ahmadun. Sangat rugi jika kita tidak menimba ilmu dari dia. Siapa tahu resep menembus cerpen di rubrik sastra Republika Minggu dibocorkan.
Bergulir ke Minggu, 5 Februari. Sejak pagi, pukul 08.30, WIB, menu gurihnya Mencari Sastra Kampung yang Mendunia. Giliran Chavcay Saefullah, wartawan media Indonesia dan sastrawan Rangkasbitung dengan Ahmadun sebagai koki masakan. Chavcay mengingatkan, Bila sastra hadir tanpa pluralisme, maka karya sastra yang mencerahkan umat manusia pun tak kunjung hadir... Ahmadun menyikapinya, Jika Nusantara ini adalah kampung, maka sastra Indonesia adalah sastra kampung...
Bergeser ke pukul 10.30.WIB, masih Minggu (5/2) ada menu spesial, yaitu bedah buku Dongeng Sebelum Tidur (Gramedia Pustaka Utama, 2005), kumpulan cerpenis Rumah Dunia. Pembicaranya Prof. Yoyo Mulyono, Rektor Untirta dan Bambang Q-Aness, pengarang yang
juga dosen filsafat IAIN SGD Bandung. Mereka akan menguliti sepuluh cerpen karya Firman Venayaksa, Fahri Asiza, Toto ST Radik, Gola Gong, dan Tias Tatanka. Kita lihat bersama, apakah karya-karya mereka ada peningkatan kualitas atau tidak.
Menu penutup Minggu di siang hari, pukul 13.00. WIB dengan rasa tinggi dan Kontekstualisme Sastra Masih Perlukah? Ini akan meninggalkan rasa di hati, karena para pembicaranya masih muda dan menggelora, yaitu Binhad Nurrohmat (Jakarta), yang beken dengan kumpulan puisi porno, Saut Situmorang (Yogyakarta) yang gerah dengan hegemoni Jakarta, dan Irfan Hidayatullah (Bandung) dengan gerbong FLP dan sastra islaminya.
Selain menu-menu guruh berupa diskusi sastra dan bedah buku, kami akan menghidangkan cuci mulutnya; yaitu pembacaan dan musikalisasi puisi, pemutaran film pendek Rumah Dunia, dan pementasan teater. Semua orang dipersilahkan ambil bagian. Orang kampung yang tinggal di kota atau orang kampung yang tinggal di kampung. Bahkan yang bukan penyair juga silahkan berekspresi. Tapi, jangan lupa, selain menu-menu gurih sastra dan teater, ada juga menu-menu gurih lainnya di jajanan kampung Rumah Dunia; seperti nasi rabeg, bandrek, uduk, dan pecel. Rugi juga kalau tidak mencicipi. Harganya merakyat!
Maka mari kita serbu menu-menu gurih Ode Kampung di Rumah Dunia! Dan percayalah: Berguna jauh lebih penting dari sekedar jadi orang penting. Jangan tunda-tunda lagi!
***
*) Penulis Ketua Umum Rumah Dunia dan Pemred situs www.rumahdunia.net
Yahoo! Photos
Ring in the New Year with Photo Calendars. Add photos, events, holidays, whatever.
Tetap Semangat Mencintai Banten!
YAHOO! GROUPS LINKS
- Visit your group "wongbanten" on the web.
- To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
- Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.
