Assalamu'alaikum warahmatullah...
   
  Beberapa waktu lalu teman saya yang wong banten asli mencak-mencak ketika 
saya buzz untuk membaca Sebelum Mereka Meninggal ... tulisan Zaim Uchrowi dalam 
kolom resonansi, RepublikaOnLine. Karena apa yang dituliskan Pa Zaim dinilainya 
terlalu berlebihan mengekspose kemiskinan di seputaran masjid Banten Lama.
  Hari ini saya baca lagi sambungan tulisan di atas, Niat Baik Berjamaah, 
isinya tentang orang-orang yang prihatin dengan apa yang dituliskan pa Zaim. 
  Saya sih berharap para tuan calon gubernur itu mau baca tulisan ini, trus mau 
menjadi orang-orang yang telah dengan ikhlas membantu sodara²nya tanpa perlu 
sibuk memikirkan harapan bahwasanya sodara²nya yang dibantu memilih mereka 
sewaktu nanti diadakan pilkadal.
   
  wassalam,
ahmadFurqon
   
  --------------------------------------
  ROL - Jumat, 17 Februari 2006
Niat Baik Berjamaah 
  Oleh : Zaim Uchrowi 
   
  Dua bulan lalu Ibu Siti, begitu ia menyebut dirinya, menelepon. Ibu Siti 
menanyakan nomor rekening saya di bank. "Saya mau kirim uang," katanya.
  "Buat apa?" tanya saya.
"Saya titip untuk disampaikan pada fakir miskin di Banten."
Ibu Siti merespons tulisan saya tentang kemiskinan di Banten. Itu bukan respons 
pertama terhadap tulisan resonansi. Saya sering menerima respons pembaca. Ada 
yang tak setuju (bahkan marah), namun umumnya menyepakati cara pandang saya. 
Tapi, baru kali ini, respons itu berupa titipan uang buat yang memerlukannya.
  Tak perlu makan waktu lama, hubungan dengan Banten tersambung. Iin Mansur, 
pemerhati masalah sosial di sana, mengajak saya melihat langsung kemiskinan 
setempat. Kontak dengan Pak Embay Mulya, kawan lama di ICMI, menjadi intensif. 
Beberapa hari kemudian, Pak Embay memberi tahu tentang tragedi sebuah keluarga 
di Tangerang -- wilayah Banten yang paling kontras dalam soal kaya-miskin.
  Keluarga itu keluarga janda. Anaknya empat. Mereka tinggal di sepetak rumah 
bilik yang bolong. Mereka bahkan harus berbagi tempat dengan bebek. Untuk 
penghidupannya, si ibu menjadi buruh tani. Tapi, tak setiap hari ia mendapat 
pekerjaan. Selain itu, salah seorang anak perempuan keluarga ini tampak 
mengalami kelainan. Katanya, anak itu berumur lima tahun. Namun tubuhnya 
seperti anak dua tahun.
  Percakapan tetangga tentang anak itu terus berkembang. Katanya, kotoran anak 
itu sering bercampur tanah. Secara diam-diam anak itu disebut 'suka makan 
tanah'. Mungkin karena ia memang lapar. Sedangkan keluarganya tak mampu 
memenuhi kebutuhannya. Wallahu a'lam bisshawab. Tapi, karena kondisi anak 
itulah keluarga tersebut diperbincangkan. Seorang aktivis gerakan masyarakat, 
Subadri, mendengar kabar itu dan mengangkatnya untuk menjadi perhatian semua. 
Si anak itu kini telah ditangani RSUD Tangerang. Lewat Subadri, uang titipan 
Ibu Siti pun disampaikan pada janda itu agar dapat membangun kehidupan yang 
lebih baik ke depan.
  Tragedi itu hanya sebuah kisah. Kisah lainnya adalah perjalanan uang titipan 
hingga sampai keluarga itu. Kisah pertama akan selalu menyayat nurani kita. 
Kisah kedua mengoptimiskan kita mengenai masa depan bangsa ini. Kisah ini 
mengingatkan kita bahwa di balik tumpukan kisah muram setiap hari, selalu 
terdapat kilauan mutiara. Dalam hal ini, butiran mutiara yang berkilau itu 
adalah niat baik.
  Saya menangkap niat baik yang luar biasa pada sikap dan langkah Ibu Siti, 
Iin, Pak Embay, hingga Subadri. Saya percaya, tentu ada ribuan bahkan jutaan 
orang lagi di negeri ini yang memiliki niat baik seperti itu. Dengan 
kemampuannya masing-masing yang pasti juga terbatas, mereka semua memberi 
perhatian pada sesama yang tidak mampu. Mereka berkontribusi dengan cara 
masing-masing buat meringankan beban sesama.
  Tetapi, kilauan niat baik seperti itu dengan cepat selalu akan terkubur oleh 
gulungan masalah kemiskinan yang terus membesar bagai gelindingan bola salju. 
Itulah masalah yang dihadapi Subadri dan Tim Relawan untuk Banten Sehat (Tebas).
  'Sukses' membantu satu keluarga, mereka antusias menghubungi kawan-kawannya. 
"Ini banyak lagi yang perlu dibantu." Kawan-kawannya menjawab serempak. "Ya, 
pasti banyak. Sangat banyak, sampai pemerintah pun tidak sanggup mengatasinya."
  Realita itu menunjukkan bahwa niat baik perlu dikelola secara tepat dan 
bersama. Pak Embay mencoba mengelola niat baik itu di lingkungannya. Bersama 
para tetangganya, mereka memastikan bahwa tak ada warga lingkungannya yang tak 
sekolah, tak bisa berobat, apalagi sampai tidak makan. Pengelolaan niat baik di 
lingkungan masing-masing ini semestinya menjadi gerakan kita semua, secara 
nasional.
  Saya dan Ratih Sanggarwati mencoba mengelola niat baik itu secara sederhana. 
Bersama sejumlah ibu di enam kabupaten/kota wilayah Madiun, kami 
menggelindingkan gerakan berlabel Gerakan Masyarakat Sentosa (GMS). Lewat 
jaringan para ibu rumah tangga, masalah kemiskinan di lingkungan masing-masing 
akan lebih terpantau. Lebih dari itu, jaringan ini juga menyebar 'resep' bagi 
seluruh masyarakat agar cerdas, sehat, dan makmur bersendikan takwa. Jika 
'resep' sederhana itu dijalankan, bukan mustahil keluarga yang paling miskin 
pun dapat menjadi keluarga sentosa. 
  Alhamdulillah, secara bertahap gerakan ini mulai bergerak menuju sekitar 
1.200 desa di sana. Juga bergerak ke daerah lain seperti Yogya. Bangsa ini 
memiliki jutaan niat baik seperti yang ada pada Ibu Siti. Mengapa kita semua 
tidak mencoba mengelolanya sehingga menjadi niat baik yang berjamaah.

                
---------------------------------
Brings words and photos together (easily) with
 PhotoMail  - it's free and works with Yahoo! Mail.

[Non-text portions of this message have been removed]



Tetap Semangat Mencintai Banten! 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/wongbanten/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke