Kang Samsul yang budiman, Terima kasih atas perhatian Kang Samsul atas masalah yang aku hadapi sekarang. Sama seperti perasaan Kang Samsul ketika dijiplak tulisannya, aku benar2 geram pada si penjiplak. Aku yakin, tulisan itu semacam finger print, mau dijungkar-jungkir gimanapun, kalo jiplak pasti ketahuan (hal ini aku tanyakan pula pada Budi Setiyono, temanku dari Pantau). Memang, kejadian ini amat menggelikan bagiku. Sejak sabtu kemarin aku memposting email tentang masalah ini ke milis-milis (diantaranya wahana-news, ppiindia, temu_eropa, pantau, tapi sory aku lupa mencantumkan wongbanten), termasuk di antaranya korespondensiku dengan Endang Suryadinata. Pada hari minggu kemarin dia menulis surat kepadaku secara pribadi. Dia menyangkal semua tuduhanku. Aku sendiri gak kehilangan akal untuk menjebak dia. Akhirnya aku berikan kepadanya 5 pertanyaan tentang beberapa hal menyangkut sumber-sumber tulisannya. Semisal, dalam paragrap ketiga dia menulis: Tidak heran jika usia tua bagi Sartono bukan berarti kemewahan dan kemanjaan atau sekadar menyongsong kematian. Terbukti belum lama ini, dia masih aktif menghasilkan buah, seperti ikut berpartisipasi menulis dalam buku persembahan 70 tahun sejarawan Taufik Abdullah (LIPI Press, 2006). Sejak Indische sampai Indonesia yang berisi tulisan- tulisannya di Kompas juga baru dibukukan (Penerbit Kompas, 2005). Ia juga masih menulis kata pengantar untuk buku Michael C Williams Arit dan Bulan Sabit: Pemberontakan Komunis 1926 di Banten (Syarikat, 2003). Sepanjang karier akademisnya, sekurang-kurangnya telah dihasilkan 10 buku dan ratusan makalah atau artikel. Saya yakin kalimatnya yang memuat info tentang karya-karya terbaru Prof. SK itu didapat dari saya. Yang konyolnya, mungkin dia tidak tahu kalau buku persembahan 70 tahun Prof. Taufik Abdullah di mana Prof SK turut menyumbang tulisan, tidak dijual bebas. Buku itu diperoleh secara exlusive dalam perayaan HUT Prof. Taufik 12 Januari 2006 lalu di LIPI, Jakarta. Sebagai sejarawan muda, saya turut datang dalam perayaan itu. Dan buku tersebut saya dapatkan dari pak Taufik langsung, ditandatanganinya pula. Bisa jadi dia sudah membaca buku tersebut di perpustakaan KITLV di Leiden. Tapi ketika saya tanya dia tentang tema apa yang SK tulis, berapa tebal halaman buku dan siapa saja editor buku itu, ia tak mau menjawab dengan alasan ayahnya lagi kena stroke dan dia tak punya waktu untuk menjawab pertanyaan saya (lebih lengkapnya baca posting email saya dengan judul "debat saya dengan Endang Suryadinata). Ini kan bener2 konyol. Kalau saya jadi dia, dengan mudah saya akan menjawab semua pertanyaan yang diajukan. Toh dia nulis baru seminggu, masa jawab kayak gitu aje pake kagak punya waktu. Paling tidak kalao dia udah baca, atau dia punya bukunya, kan masih tersimpan di dalam rak bukunya. Lalu, ada pertanyaan lain yang saya ajukan kepadanya, perihal jumlah karya Prof. SK. Dalam artikel saya saya sebutkan 10 buku. Begitu pula dengannya. Dari mana dia dapatkan angka 10 buku dan tolong sebutkan satu per satu judulnya? Ketika saya tanya begitu, dia pun tak menjawabnya. Asal tahu saja ya Kang Samsul, 10 itu angka asal sebut saja. Saya pun salah menghitungnya, karena buku yang telah ditulis Prof. SK, termasuk yang baru, ternyata ada sekitar 15 buku. Gue aja salah ngitung, eh dijiplak juga ama dia. Nah kekonyolan yang lain adalah: Dia menyebutkan istilah perancis "Les Peupes sans Histoire." Istilah ini saya kutip dari tulisan Prof. SK di majalah Prisma. Kemudian tulisannya di Prisma itu dimuat dalam buku "Pemahaman Sejarah Indonesia setelah dan sebelum Revolusi" terbitan LP3ES, 2005, editornya Bill Frederick dan Soeri Soeroto. Dalam teks aslinya tak ada terjemahannya. Oleh karena itu saya terjemahkan sendiri sekenanya: "Masyarakat yang tanpa sejarah" ini pula dia jiplak. Dikasih tanda kurung pula. Kalau dia rada cerdas, hilangkan saja kata "yang", jadi: "Masyarakat tanpa Sejarah" kalimat ini lebih efektif dan tentu lebih mencerminkan terjemahan yang bener. Lalu tentang Goubert, sejarawan Perancis yang juga dia sebut-sebut. Dalam artikelnya Endang menulis: Keberpihakannya kepada kaum underdog boleh jadi terpengaruh Goubert, sejarawan Perancis, yang tak mau berkonsentrasi pada kiprah Louis XIV, tetapi pada para petani yang hidup di bawah pemerintahannya. Kalau dibaca dengan seksama, seolah-olah Endang menganalisis sendiri kedekatan pemikiran antara SK dengan Goubert. Aku yakin ini pun dia curi dari artikelku. Aku menulis: Ia mencontohkan sejarawan Perancis, Goubert yang tidak lagi memokuskan perhatiannya pada tokoh Louis XIV, tetapi pada petani-petani yang hidup di bawah pemerintahannya. Saya tidak mengklaim narasi ini sebagai analisis pribadi saya. Oleh karena itu saya gunakan kata: "Ia mencontohkan." Hal ini saya dapatkan juga dari tulisan SK di dalam "Prisma." Sedangkan Endang, ketika saya tanya dari mana kira-kira dia dapatkan hal itu, dia pun tak menjawabnya. Dua hari yang lalu, saya sudah memforward semua postingan email perihal ini ke Kompas. Garda Sembiring, sohib dekatku, juga mengirim surat protes ke Kompas via Riri (Litbang Kompas). Hingga hari ini aku belum mendapat surat dari desk Opini Kompas. Itu mungkin terjadi karena aku tidak mengirim surat protes resmi, hanya memforward posting email2ku ke milis. Tapi, pagi ini, ketika tulisan Endang tentang 85 tahun Prof. SK aku cari di Google, Yahoo dan Kompas, sudah tidak muncul lagi. Apakah mungkin Kompas telah menarik tulisannya dari peredaran??? Juga -gara-gara masalah ini- sempat muncul diskusi antara aku, Garda Sembiring, Pak Koesalah Soebagyo Toer (penulis, penerjemah, adiknya Pak Pram), juga dengan Pak Harsutejo, yang membicarakan tentang tabiat Kompas yang aneh (sorri lho Kang Samsul). Kompas tidak mementingkan apa yang ditulis, tapi siapa yang menulis. Terus terang, dalam rangka HUT ke 85 Prof. SK, aku menulis 4 buah artikel dengan tema sama namun isi dan bahasan yang berbeda ke 4 media massa. Di antaranya Fajar Banten, Jawa Pos, Kompas dan Koran Tempo. Ke Kompas aku kirim tanggal 16 Februari 2006. Tapi mengapa malah tulisan Endang Suryadinata yang jelas-jelas menjiplak malah dimuat? Mungkin editornya gak tahu. Atau malah hanya gara2 embel2nya yang lulus Erasmus Universiteit tulisannya dimuat. Sedangkan aku hanya menyebut diriku sebagai salah seorang wakil direktur LSM gurem, Masyarakat Indonesia Sadar Sejarah. Apakah embel2 luar negeri amat penting bagi Kompas??? Maka ijinkan saya untuk menjadi sombong di sini: Jelek2 begini, dan walaupun orang kampung Rangkasbitung, Banten, aku pun pernah menjadi Fellow Participant di Universidade Federal da Bahia, Salvador, Brasil. Aku juga pernah melakukan research di International Institute for Social History (Amsterdam) dan di Koninklijk Instituut voor Taal,- Land,- Volkenkunde (KITLV, Leiden), Belanda. Terakhir pernah ngubek2 negeri Hittler, Jerman, untuk mewawancarai eksil politik Indonesia yang bermukim di sana. Lalu kenapa aku tak mau cantumkan itu, karena tidak ada yang perlu dipamerkan, apalagi melalui Kompas. Toh sebagai pengalaman, semua orang pun pasti pernah mengalami hal yang aku alami. Kang GG aja pernah keliling Asia, toh apa perlu dia gembar-gemborkan untuk bisa dimuat di Kompas. Yang menggelikan lagi, kudapatkan cerita ini dari temanku: ada seorang penulis dosen Univ. Paramadina, dia mengirim tulisannya tentang terorisme ke Kompas. Kompas menolak tulisannya, kendati tulisan itu amat baik. Namun dia tidak kehilangan akal, dia minta Yudi Latief (Rektor Paramadina) untuk "nempel" namanya di dalam artikelnya, yang terjadi kemudian tulisannya dimuat Kompas, di rubrik Bentara pula. Silahkan saja cek sendiri. Nah, melalui kasus yang sedang kuhadapi ini, aku merasa Kompas telah melakukan diskriminasi terhadap penulis. Masih ingat sebuah penerbit di Yogya menerbitkan sebuah buku "Kumpulan Cerpen bukan Pilihan Kompas"??? Kang Samsul, maaf jika aku berapi-api dan terlalu ngocoblak membahas masalah ini. Maklum bae, budak Rangkas mun katenggor sok mamarahan. Ya sudahlah. Aku paling malas berkonfrontasi dengan orang lain, apalagi dengan Endang Suryadinata yang katanya ayahnya sedang sakit stroke itu. Kang Samsul, maafkan saya kalau terlalu berbusa-busa dalam menjawab email Kang Samsul. Saya hanya berusaha menunjukan "kepahitan-kepahitan" yang selama ini saya - dan juga banyak orang lainnya - pendam. Saya tidak bermaksud menyerang siapapun kecuali penjiplak tulisan saya, selebihnya hanya kritik yang sifatnya membangun. Demikian saja, Kang. Sukses untuk Anda. tabik, Bonnie Triyana Kompas - Muhammad Samsul Hadi <[EMAIL PROTECTED]> wrote: Maaf, kalau saya menulis di luar tema pokok yang sedang dibicarakan: soal gerakan komunis di Indonesia. Bukannya saya tidak tertarik pada tema itu, tetapi saya sudah sangat menikmati perbincangan hangat seputar PKI, G 30 S, dan polemik apakah mereka pejuang atau pengkhianat.
Di sini, saya tertarik pada ungkapan Kang Boni yang merasa artikelnya diplagiat oleh Endang Suryadinata melalui tulisannya "85 Tahun Sartono Mengabdi" di Harian Kompas edisi Sabtu, 18 Februari 2006 hal. 6. Kebetulan saya membaca artikel di rubrik Opini itu, sebagaimana saya selalu berusaha menyimak setiap publikasi tentang Banten. Saya mendukung jika Kang Boni menulis ke Kompas, apa pun bentuknya, soal tuduhan plagiat itu. Jika tuduhan itu benar, ini bukan kali pertama Kompas memuat tulisan yang ternyata berupa hasil plagiat dari penulis lain. Sudah berkali-kali hal itu terjadi dan, sesuai tradisi, jika tuduhan plagiat terbukti, biasanya penulis yang memlagiat itu langsung di- "black list". Dengan kata lain, tulisan yang dikirim berikutnya oleh penulis yang sama tidak akan dimuat lagi. Saya memahami, tidak mudah bagi editor yang bersangkutan untuk mendeteksi sebuah tulisan itu, apakah plagiat atau bukan. Apalagi, mereka harus menyeleksi tulisan artikel yang dalam sehari di Kompas bisa mencapai 100 buah sebelum memilih tiga di antaranya yang akan dimuat. Pengaduan Kang Boni akan membantu mereka dalam mendeteksi para penulis dari sisi moralitasnya. Well, selain membaca artikel Endang di Kompas, saya juga membaca artikel Kang Boni tentang Sartono di Fajar Banten yang di-posting dalam milis ini. Saya cermati, meski ada beberapa bagian dalam tulisan Endang yang tidak terdapat dalam tulisan Kang Boni (begitu juga sebaliknya), memang ada beberapa tema yang sama, misalnya soal moto "tanaman pisang" Sartono, catatan karya akademisnya, metode sejarah seperti dilakukan Goubert hingga istilah "les peuples sans histoire", konteks global dari relevansi pemikiran sejarah Sartono, dan lain-lain. Saya bisa memahami, betapa tidak nyamannya tulisan diplagiat orang lain. Saat bertugas di Banten, saya juga pernah mengalami dua berita saya dijiplak wartawan lain. Setelah dijiplak dan dibalik struktur tulisannya, berita hasil jiplakan itu dimuat di halaman depan koran nasional tempat rekan wartawan tadi bekerja. Tentu saja, pemuatan berita jiplakan itu dimuat beberapa hari setelah dimuat di Kompas. Itu pun lolos dari pantauan editor yang bersangkutan. Bagaimana saya tahu itu berita jiplakan? Ya, selain dari peristiwanya sama (padahal, saya liputan eksklusif), kalimat hingga kutipan yang muncul persis sama dengan berita yang saya tulis. Hampir semua wartawan sepakat, andaikata toh liputan dilakukan bersama-sama, sangat kecil kemungkinan dua berita yang ditulis dua wartawan berbeda sama persis kutipannya. Saya ungkap masalah itu dalam sebuah milis, dan penulisnya mengakui hal itu. Lebih jauh bukan pengakuan yang saya inginkan, tetapi bagaimana saat itu menciptakan kondisi atmosfir jurnalistik di Banten yang lebih sehat. Mungkin sama seperti yang Kang Boni harapkan. Oleh karena itu, pengaduan Kang Boni mungkin sangat ditunggu teman di Desk Opini Kompas. Salam, SAM -----Original Message----- From: Boni Triyana <[EMAIL PROTECTED]> To: [email protected] Date: Mon, 20 Feb 2006 23:29:33 +0000 (GMT) Subject: Re: Balasan: Re: [WongBanten] Tentang peristiwa 1965 > Hmmmmm baiklah, > > Sorry baru nyemplung ikut diskusi. Saya lagi bete karena artikel saya > diplagiat di Kompas hari sabtu kemarin oleh Endang Suryadinata. Jadi > saya bener-bener bete dan baru beres mengirim surat protes baik kepada > saudari Endang maupun ke Kompas sendiri. > > But anyway, soal gestapu 65 di Banten. Saya menghargai dan > mengapresiasi usaha kawan Hafiz Azhari dari KP2SI yang mengumpulkan > cerita2 lisan ini. Sebagai upaya untuk mengklarifikasikan sejarah yang > pada masa Orba dimanipulasi lewat monoversinya, upaya yang dilakukan > Hafiz and the genk menjadi bagian mempruralistikan sejarah Indonesia. > > Pertanyaan dari SP Saprudin akan saya jawab: > > Sobsi memang onderbouw PKI. Dan itu wajar, sebagaimana Pemuda > Pancasila yang mendukung Golkar atau Banser yang berafiliasi dengan NU. > Tampaknya Anda belum memahami betul apa yang terjadi pada tahun 1965. > Dan itu wajar, karena selama ini, selama Orba khususnya, kita selalu > membaca dan menerima pelajaran bahwa pada Kamis malam, tanggal 30 > September (dan kemudian masuk tanggal 1 Oktober) 1965, telah terjadi > penculikan yang berakhir pada pembunuhan enam jenderal dan satu perwira > pertama AD. Pada versi Orba dikatakan bahwa dalang semua itu adalah PKI > yang bermaksud melakukan kudeta. Dan sejarah stop sampai di sana. Tidak > ada yang lain. Nah, itulah yang selama ini kita terima. > > Dalam sejarah versi Orba yang terlanjur dipercayai banyak orang, tak > tertulis sedikitpun, saya ulangi, tak sedikitpun ditulis kisah tentang > pembunuhan massal anggota dan simpatisan PKI di berbagai daerah di > Indonesia pada kurun tahun 1965-1966 (saya menemukan ini terjadi hingga > tahun 1969). Padahal angka korban pembunuhan cukup fantanstis: menurut > Sarwo Edhie Wibowo, mertua SBY yang juga memimpin langsung operasi, ada > 3 juta yang terbunuh, lalu menurut Kopkamtib ada 1 juta, Soedomo bilang > ada 450 ribu, dll lagi (baca saja dalam bukunya si Kikiek, Palu Arit di > Ladang Tebu, KPG, 2000). > > Nah, fakta seperti inilah yang selama ini kita tidak pernah ketahui. > Kalaupun diketahui belakangan, komentar yang muncul adalah: biarin aje > modar, toh mereka itu kan PEKAI, nggak percaya Tuhan. Sikap > mewajarkan pembunuhan massal ini merupakan hasil dari stigmatisasi PKI > yang telah berlangsung selama 30 tahun lebih. Ini amatlah salah. Salah > besar! > > Dan jika sekarang ada penelitian yang mengungkapkan perihal > pembunuhan massal maka itu perlu didukung. Karena bagaimanapun > peristiwa pada 1965 itu tidak hanya berhenti pada pembunuhan jenderal2 > saja. Lagipula peristiwa yang terjadi pada malam 30 September 1965 itu > masih jadi perdebatan panjang: apakah itu kudeta ataukah hanya aksi > sebagian kelompok di dalam AD yang tidak puas terhadap atasannya. Untuk > masalah ini saya tidak mau ngocoblak panjang-panjang, silahkan saja > baca buku-buku tentang peristiwa 65 yang sekarang sudah banyak beredar. > Yang paling standar baca saja Harold Crouch, The Army and Politic in > Indonesia, atau John Hughes, Indonesian Upheavel kalau gak salah > buku ini diterbitkan dengan judul The End of Soekarno: a coup that > misfired. > > Pada saat peristiwa 65 meletus, banyak anggota dan simpatisan PKI > ditangkap atas dasar yang tidak jelas, kabur, absurd. Pada mulanya > mereka dituduh terlibat PKI yang akan melakukan makar atau berkhianat. > Tapi kemudian ada juga yang ditangkap atas tuduhan yang bermotifkan > pribadi, asal tuduh dan macem-macem lagi. > > Nah, kasus Risman yang ditanyakan oleh Bung Saprudin mengenai apakah > dia seorang pejuang atau penghianat bangsa jelas membuat saya > kebingungan. Menurut saya dia adalah pejuang. Titel penghianat yang > Anda tempatkan sebagai pilihan bukan merupakan pilihan. Karena dalam > peristiwa 65 siapa yang dikhianati?siapa yang akan dikudeta? Soekarno? > Toh Soekarno tidak diganti oleh Aidit, tapi malah oleh Soeharto. Kalau > semisal peristiwa itu adalah makar, coup detat, toh yang dibunuh > bukan Soekarno. Kalaupun ada kudeta, itu tidak terjadi pada tanggal 1 > Oktober 1965, tapi terjadi pada hari-hari setelahnya. Lebih tepatnya > lagi pada tanggal 11 Maret 1966, yang dikenal dengan peristiwa > Supersemar. Siapa yang mengudeta? Anda tahu sendirilah siapa itu > mertua Mayangsari hehehe...... > > > Kini berkenaan pertanyaannya Bung Ucu Jauhar, apakah PKI berperan > dalam perjalanan bangsa ini. Jawabannya YA. Tapi tidak satu-satunya > yang berperan, masih banyak lagi elemen lain bangsa ini yang juga punya > peran. PKI salah satunya. Bagaimanapun kita harus akui bahwa PKI-lah > organisasi politik kebangsaan pertama yang berontak melawan itu kumpeni > Belanda pada tahun 1926 di Banten dan di Minangkabau. Terlepas dari > kegagalannya, harus diakui pula bahwa dari kejadian itu ruang-ruang > kesadaran nasionalisme kita yang pada saat itu kosong mulai terisi. > > Cuma susahnya, jaman Pak Harto dulu, pemberontakan PKI tahun 1926 itu > direken sebagai pengkhianatan busuk yang terus berulang hingga tahun > 1965. Jelas ini pemahaman yang gebleg bin bloon bin idiot. Konteks > pemberontakan tahun 1926 itu kepada siapa? Toh kan kepada Belanda yang > jelas2 menjajah kita. > > Ya sudahlah. Sekian saja dari saya. Ayo kita diskusi lagi. Jangan > takut-takut untuk mengungkapkan kebenaran. > > Tabik, > > Bonnie Triyana > > > Pedje <[EMAIL PROTECTED]> wrote: Hehehe..., saya bukan sungkan, tapi > memang ingatan > saya terbatas dan merasa tidak punya otoritas untuk > membicarakan sejarah. Saya punya beberapa buku dan > artikel-artikel yang membahas masalah itu, tapi ada di > Banten nun di sana, jadi tak bisa saya kutip di sini. > > Namun, saya kurang setuju, kalau dikatakan "yg > mencerdaskan dunia politik hingga Indonesia tercinta > ini bisa merdeka adalah berkat mereka yang tergabung > dalam orsospol berlandaskan proletar". Karena, yang > berjuang untuk memerdekakan negeri ini bukan hanya > kaum komunis (kaum proletar), ada juga kaum rohaniwan > seperti para ulama. Kita juga tentu tak bisa menafikan > peranan Sarekat Dagang Islam (ini malah kaum borjuis), > NU, Muhammadiyah, Jamiatul Kheir (?), Al Irsyad, dsb. > Belum lagi organisasi yang bisa dikatakan berlandaskan > nasionalisme, seperti Boedi Oetomo dan Taman Siswa. > > Kaum komunis terlihat lebih menonjol dalam bidang > pemikiran karena mereka memang punya jejaring > internasional--sesuai dengan salah satu prinsip yang > mereka anut, internasionalisme. Selain itu, di samping > aktif dalam gerakan massa dalam masa perjuangan dulu, > mereka juga rajin mengasah kemampuan intelektual > komunitasnya lewat kelompok-kelompok diskusi. Salah > satu kelompok diskusi mereka yang cukup populer adalah > apa yang oleh media massa tahun 1990-an disebut > sebagai kelompok diskusi Pathuk, Yogya. Nama kelompok > ini populer karena Soeharto yang mantan presiden itu > katanya sempat aktif di sana. > > Tapi, sekali lagi, mungkin saya salah dan penjelasan > saya itu malah menyesatkan. > > Salam, > > Pedje > > > --- ucu jauhar <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > > Hulla, hidup palu dan arit. Begitu mengerikan > > lambang > > tersebut. Yang tidak bersentuhan pun sering di cap, > > seperti risman dkk. > > > > But, mungkin Pedje masih sungkan. Kalau ente tanya > > sama bung Bonny (sejarawan kita), dan mo jujur tanpa > > tunggangan politik. Pasti ente dpt jawaban; Yg > > mencerdaskan dunia politik hingga Indonesia tercinta > > ini bisa merdeka, adalah berkat mereka yang > > tergabung > > dalam orsospol berlandaskan proletar!!! So, jgn > > sungkan, tanpa orsospol proletar mungkin qt msh > > dibawah naungan yang mulia Negeri Belanda. > > Itulah bangsa qt. Entah lupa, atau memang sengaja > > dilupakan. Jasa-jasa proletar di negeri ini. Ampe > > sekarang kan? Upah kaum buruh selalu mlarat. > > > > Tapi, mas Pedje, alangkah baiknya kalo mas bs > > menceritakan peristiwa kudeta yg terjadi pd tgl 11 > > Maret 19xx, itu. Mungkin akan jelas disitu jasa kaum > > proletar. > > > > Bukan cuma cerita sedih orang-orang yang dicap palu > > dan arit. > > > > --- Pedje <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > > > > Maaf, saya sekadar mem-forward artikel itu dari > > > milis > > > tetangga. Tapi, soal hubungan Risman dengan G30S, > > > kalau saya tangkap lewat teks itu, ya, tak tak > > > terlalu > > > begitu berhubungan. Ia (dan juga masih banyak yang > > > lain) dituduh terlibat G30S--yang katanya > > dilakukan > > > oleh PKI--karena menjadi anggota SOBSI, salah satu > > > onderbouw PKI (bukan begitu, Kang Bonny?). > > > > > > Terus, soal pertanyaan kenapa pejuang malah > > > ditangkap > > > dan dijadikan tahanan politik, ya, ini mah sudah > > > banyak dijelaskan banyak ahli sejarah dan ahli > > ilmu > > > politik. Soeharto dan Orde Baru-nya menerapkan > > > politik > > > tumpas kelor untuk orang-orang yang dianggap punya > > > hubungan dengan PKI. Masih ingat kan kebijakan > > > litsus > > > pada akhir 1980-an dan awal 1990-an? > > > > > > Yang pasti, republik ini berdiri antara lain juga > > > berkat perjuangan orang-orang komunis, termasuk > > yang > > > tergabung dalam PKI beserta organisasi > > turunannnya. > > > Tan Malaka, Aidit, Nyoto, Pramoedya, dan Haji > > > Misbach > > > bisa kita sebut sebagai sekadar contoh dari kaum > > > komunis yang kontribusinya kepada republik ini tak > > > bisa kita pandang sebelah mata. Bukankah Tan > > Malaka > > > disinyalir menjadi otak intelektual dari > > > pemberontakan > > > petani Banten yang sangat terkenal itu? > > > > > > Namun, karena saya bukan ahli sejarah, mungkin > > saja > > > penjelasan saya itu salah. Kang Bonny sebagai ahli > > > sejarah mungkin bisa meluruskan dan menjelaskan > > > lebih > > > detail. > > > > > > > > > Salam, > > > > > > Pedje > > > > > > > > > > > > --- SP Saprudin <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > > > > > > > > > Apa hubungan Risman dengan G 30 S PKI ? > > Bukankah > > > > RIsman sosok pejuang ? Lantas kenapa Risman > > > > ditangkap dan dijadikan Tahanan Politik ? > > Bukankah > > > > dia seorang pejuang yang mempunyai jasa sangat > > > besar > > > > ? Apakah SOBSI itu kaki tangan PKI ? > > > > Mohon isi cerita ini dilengkapi, biar saya > > bisa > > > > mengetahui sosok "Risman" ini, apakah sebagai > > > > pejuang atau penghianat bangsa. > > > > > > > > T.k. > > > > > > > > > > > > > > > > abduh imanulhaq <[EMAIL PROTECTED]> menulis: > > > > REVOLUSI YANG MEMBUNUH ANAK-ANAKNYA SENDIRI > > > > > > > > Pedje <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > > > www.geocities.com/k2psi/lsm > > > > > > > > Istri dan anak-anaknya > > > > diungsikan ke Pulau Buru > > > > > > > > > > > > > __________________________________________________ > > > Do You Yahoo!? > > > Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam > > > protection around > > > http://mail.yahoo.com > > > > > > > > > > __________________________________________________ > Do You Yahoo!? > Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around > http://mail.yahoo.com > > > Tetap Semangat Mencintai Banten! > > > > SPONSORED LINKS > Indonesia phone card Indonesia calling card Indonesia > travel Bali indonesia Indonesia Indonesia hotel > > --------------------------------- > YAHOO! GROUPS LINKS > > > Visit your group "wongbanten" on the web. > > To unsubscribe from this group, send an email to: > [EMAIL PROTECTED] > > Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of > Service. > > > --------------------------------- > > > > > Send instant messages to your online friends > http://uk.messenger.yahoo.com > > [Non-text portions of this message have been removed] > > > > Tetap Semangat Mencintai Banten! > Yahoo! Groups Links > > > > Tetap Semangat Mencintai Banten! SPONSORED LINKS Indonesia phone card Indonesia calling card Indonesia travel Bali indonesia Indonesia Indonesia hotel --------------------------------- YAHOO! GROUPS LINKS Visit your group "wongbanten" on the web. To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service. --------------------------------- Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com [Non-text portions of this message have been removed] Tetap Semangat Mencintai Banten! Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/wongbanten/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
