Pedje <[EMAIL PROTECTED]> menulis: bagaimana menilai obyektivitas sejarah? Apa saja parameternya? menurut saya, mudah-mudahan ini tidak jadi plintat plintut, para sejarawan dalam merekonstruksi sejarah yang ditulisnya dan kebenarannya sangat relatif. sejarah adalah merupakan pengetahuan masa lampau ummat manusia dalam berbagai peristiwa dan keadaan yang disusun dalam bentuk cerita berdasarkan fakta yang dapat menghubungkan masa lampau dengan kehidupan masa kini. sistem pengungkapan sejarah secara kronologis, jadi menilai obyektivitas sejarah itu tergantung pada kepentingan pribadi atau golongan atau kelompok. Ok bung Bony, geber tah pertanyaan ti Pedje. Kang Boni, banyak juga orang yang sengaja menceburkan diri ke masa lalu karena hari ini begitu pabeliuet, sementara masa depan begitu susah diteropong. Jadi, satu-satunya yang jelas dan pasti cuma masa silam. Barangkali, itulah sebabnya lagu-lagu nostalgia, model vintage dalam dunia fashion, dan fenomena retro akan selalu punya penggemar dari zaman-zaman.
Ada juga yang mungkin punya masa silam tak menggembirakan, kemudian terperangkap dalam sekumpulan masalah di hari ini, lalu mencoba mencari "pembebasan" dengan membuat jalan pintas ke masa depan lewat bantuan dukun atau dengan cara mengambil hak orang lain (bahkan hak generasi yang belum dilahirkan, semacam udara bersih, air bersih, dan hutan nan hijau). Orang-orang semacam inilah yang senantiasa menyuburkan fenomena perdukunan di masyarakat dan juga mewarnai dunia kriminal. Selain itu, ada banyak juga yang justru takut menghadapi masa lalu, masa kini, dan masa depan lalu kemudian menciptakan dimensi waktu sendiri lewat narkoba dsb. Tapi, itu mah cuma dedugaan saya saja, jangan dianggap serius. Hehehe.... Yang serius mah pertanyaan ini, khususnya untuk Kang Boni. Begini. Meski sejarah adalah post-factum, bukankah ketika sejarah itu diangkat dan kemudian dianalisis (karena data yang ditemukan sejarawan kemungkinan besar selalu berupa mosaik, yang kadang sulit dicari benang merahnya satu sama lain) ada tafsir milik sejarawan yang ikut masuk? Kalau memang benar begitu, penelaahan dan rekonstruksi sejarah yang kita terima sekarang ini tentunya tak sama dengan data/peristiwa sejarah itu sendiri, kan? Dan, apakah tafsir yang masuk itu ada yang benar-benar bebas nilai dan bebas kepentingan, berhubung sejarawan bukanlah makhluk yang ujug-ujug datang dari langit? Lalu, bagaimana menilai obyektivitas sejarah? Apa saja parameternya? Semoga Kang Boni dan mungkin juga yang lain dapat membantu saya dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan itu. Terima kasih sebelumnya. Salam, Pedje --- Boni Triyana <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Bangsa ini akan selalu terbelit dalam permasalahan > masa lalu jika tidak mau berdamai dengan masa lalu. > Bagaimana mau jalan ke depan jika ribuan kontainer > permasalahan di masa lalu mengantri untuk > diselesaikan. __________________________________________________ Do You Yahoo!? Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around http://mail.yahoo.com Tetap Semangat Mencintai Banten! SPONSORED LINKS Indonesia phone card Indonesia calling card Indonesia travel Bali indonesia Indonesia Indonesia hotel --------------------------------- YAHOO! GROUPS LINKS Visit your group "wongbanten" on the web. To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service. --------------------------------- Saprudin --------------------------------- Apakah Anda Yahoo!? Kunjungi halaman depan Yahoo! Indonesia yang baru! [Non-text portions of this message have been removed] Tetap Semangat Mencintai Banten! Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/wongbanten/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
