Luar biasa.....Saluuut Teman teman warga Banten khusunya alumni SMAN Serang bisa mendunia. Saya bersyukur masih ada teman dan rekan wong Banten dan yang bisa mendunia. Semoga saja semakin banyak yang bisa berprestasi, khususnya dengan cara menulis, terutama buat Kang Heri alias Gola Gong, Mbak Yati dan wabilkhusus buat kang Mukhlis Yusuf, yang menulis buku marketing (saya baca resensinya di Bisnis Indonesia). Semoga saja masih banyak lainnya yang juga bisa menulis atau menyampaikan pikiran/opini bukan hanya lisan tapi dalam bentuk tulisan. Mungkin akan muncul dari generasi yg merasakan pembelajaran dari Rumah Dunia.Akan muncul buku-buku yg ditulis oleh penulis Banten, seperti pada masa lalu zaman keemasan, Syeh Nawawi Albantani, yg bukunya (dalam bhs arab) jadi rujukan para ulama dunia. Memang kemampuan menulis harus dipupuk dari sejak kecil, karena apapun profesi, entah Kiayi, Jawara, Dokter, Tentara, Pemusik, Pengusaha, Guru atau apapun profesinya bahkan PRT pun,alangkah indahnya bisa mewariskan dan menceritakan gagasan, pengalamannya, sehingga bisa dibaca oleh banyak orang. Saya bangga dengan teman dan rekan yg memiliki ketrampilan menulis, karena saya sendiri kurang memiliki skill tersebut. Maklum saja zaman saya sekolah, kurang mendapat kesempatan belajar menulis. Selamat ya. Teruskan perjuangan... dimanapun anda berada di belahan bumi ini, Mesir, Otawa, Mekah, Medinah, Yogya, Bandung....dst Buktikan anda bisa berjuang dengan cara menulis... menulis.... menulis... bukan hanya ngomong doang... Anda ingin agar lingkungan anda menjadi lebih baik, silakan menulis... anda tidak setuju dengan keadaan yg sekarang dirasakan... silakan menulis.... tuliiiiiiiissss terus.... Bravo. Wasalaam. DRH ----- Original Message ----- From: "Ahmad Mukhlis Yusuf" <[EMAIL PROTECTED]>
> > Teman2, > > Ada alumni SMUNSA yg ruarr biasa, Heri Hendrayana (Gola Gong) yang baru saja melaunching karyanya: Menggengam Dunia. Karya Gola Gong sebelumnya juga menjadi cerbung di Majalah Hai dan dibukukan, Balada Si Roy. > > Penulis ulasan berikut, Yati Nurhayati, alumni SMUNSA, juga ruarr biasa. Sebagian dari perjuangan ybs saya saksikan sbg adik kelas saat di SMUNSA dan IPB. > > Selamat menyimak.. > > Mukhlis Yusuf > SMUNSA, Alumni 1985 > >> > MEMBACA HIDUPKU DI MENGGENGGAM DUNIA > Oleh Yati Nurhayati > > Hari Sabtu, 4 Maret kemarin, aku berkunjung ke Rumah Dunia, yang sedang berulangtahun keempat. Aku mewakili perusahaanku. Sabtu itu Rumah Dunia sungguh ramai. Di meja tamu, aku melihat buku terbaru karya Gola Gong, yang aku kenal sebagai kakak kelasku di SMAN 1 Serang. Aku 1 tahun di bawah dia. Aku mengenal Gola Gong sebagai Heri Hendrayana Harris. Aku membeli buku itu; Menggenggam Dunia, terbitan Dar! Mizan, Bandung. Aku tertarik membeli buku itu, karena 25% royalti pengarang disumbangkan ke kas Rumah Dunia. > Malamnya aku baca buku "Menggenggam Dunia". Sampai aku tidur sekitar jam 1 dini hari, keasikan baca. Hiks.. mudah-mudahan besoknya aku tidak ngantuk di kantor. > Saat membaca buku itu, tiba-tiba kenangan sekian tahun yang lalu melintas kembali dalam ingatanku. Suatu hari waktu aku kelas 1 di SMAN I Serang (1980 - 1983), aku tiba-tiba merasa sangat sedih dan ingin menangis.. Penyebabnya sebenarnya sepele.. Pada saat pembagian lokasi tempat duduk, aku kebagian di kursi paling kanan dan paling depan... Posisi itu adalah posisi paling tidak nyaman untuk aku, dan bikin aku pusing karena senantiasa harus melihat / melirik ke sebelah kiri dalam jangka waktu yang lama... dan itu semua karena aku sebetulnya hanya menggunakan mata kananku untuk melihat, sedangkan mata kiriku tidak bisa digunakan untuk membaca (+12), sejak tertusuk lidi pada waktu umurku sekitar 9 tahun. Saat itu tiba-tiba aku menyadari bahwa aku cacat, aku berbeda dengan yang lain.... Dan aku menjadi sangat sedih dan ingin menangis, sampai aku memberanikan diri untuk curhat dengan salah seorang guru di ruang BP. > Dan kejadian itulah mungkin salah satu yang merubah pola pikirku untuk selanjutnya. Dengan lembut, sang guru menghiburku bahwa aku seharusnya bersyukur masih dikaruniai 1 mata untuk melihat dengan normal... Berapa banyak orang yang terpaksa harus kehilangan penglihatan total, atau mengalami cacat-cacat yang lain... tapi mereka bisa tetap berprestasi. Dan waktu itu guruku mengatakan: "Pasti kamu tahu juga ada kakak kelasmu yang kehilangan satu tangannya... tapi dia baik-baik saja, bisa belajar dan berinteraksi dengan baik!" Ya!! Aku ingat kakak kelasku itu, dan perkataan guruku saat itu sungguh menghiburku, dan aku bertekad, walaupun aku cacat, aku mau jadi yang terbaik!! > Sang kakak kelas bertangan satu itu adalah Heri Hendrayana Hrris yang sekarang dikenal sebagai Gola Gong. Dan alhamdulillah aku pun bisa lulus SMA dengan nilai terbaik dan dikirim ke Bandung untuk mewakili Serang menerima ijazah kelulusan secara simbolis dari Gubernur Jawa Barat. > Alhamdulillah, Allah banyak memberikan kemudahan dalam perjalanan hidupku selanjutnya, yang bagaikan berpindah dari satu jalan tol ke jalan tol berikutnya. Aku masuk IPB tanpa tes, lulus IPB "Sangat Memuaskan", masuk sekolah manajemen IPPM selama 1 tahun dengan beasiswa penuh, dan sebelum lulus IPPM, diterima bekerja di Bank Exim (sekarang Mandiri). Dengan ijin Bank Exim, aku selesaikan kliah dulu, dan selanjutnya setelah 5 tahun di BankExim, aku diajak salah satu bos konglomerat milik pribumi untuk gabung dengan mereka, sampai sekarang... > Sama dengan Gola Gong alias Heri, aku pun bercita-cita untuk bisa keliling dunia... Dan dengan pekerjaan yang aku dapatkan, hal itu cukup memungkinkan. Belasan negara di 4 benua (Asia, Eropa, Amerika, Australia) telah aku jelajahi (sebagian besar sebelum terjadi krisis moneter yang bikin Rupiah terdepresiasi gila-gilaan). Benua Afrika yang belum sempat tersentuh. Aku tidak tahu dan tidak pernah tanya ke ibuku, apa yang terjadi dengan kisah ari-ariku (seperti ari-ari Gola Gong yang dibuku itu dibuang ayahnya ke sungai), dikubur, dibuang ke sungai, atau kemana....he..he.. > Dari seluruh perjalananku itu, hampir seluruhnya aku jalani seorang diri, kecuali satu kali keliling Eropa bersama teman-temanku (4 orang), dan aku ternyata lebih menikmati perjalanan seorang diri, karena kesenanganku dan kesenangan mereka berbeda. Misalnya di Paris, pada saat aku sangat ingin melihat istana Versailles, teman-temanku lebih berminat berbelanja tas di butik Louis Vuitton dan Cartier, pada saat aku ingin sekali lihat salju di Mount Titlise di Swiss, teman-temanku lebih senang hunting jam tangan Bulgary... Untunglah sebelumnya aku pernah melewati rute yang sama seorang diri, sehingga tidak terlalu kecewa... > Banyak kisah seru, cerita haru dan pengalaman-pengalaman unik yang sungguh sangat memperkaya wawasan aku dapatkan dari perjalanan-perjalanan itu. Walaupun aku berangkat seorang diri, sebetulnya sepanjang perjalanan aku selalu ditemani oleh teman-teman seperjalanan yang sungguh menarik.. Ada Nancy, nenek dari New Zealand yang sungguh lincah dan ceria, yang mengajariku untuk melalui hidup ini dengan ekspresif dan penuh gairah, ada ibu-ibu (namanya susah diinget!) dari Polandia yang terkagum-kagum denger aku punya rumah sendiri yang ada halamannya, karena dia hanya mampu tinggal di apartemen (padahal kalo di Jakarta tinggal di apartemen lebih "gaya" ya?), ada pendeta dari Filipina yang sungguh menggoda (dan hampir saja membuatku tergoda..he..he..), dsb. > Yang pasti, kisah-kisahku tidak seseru perjalanan Gola Gong di "Menggenggam Dunia" yang "nekad" berbekal "kantong kempes", tapi heboh itu.... Aku selalu pergi dengan perbekalan cukup, dengan akomodasi hotel bintang tiga ke atas. Bukannya kebanyakan uang, tapi sebagai wanita aku merasa lebih aman kalo tinggal di hotel yang cukup bagus... Pernah sih waktu kantorku kirim aku kursus di Geneve (Swiss) selama 2 minggu, dalam rangka menghemat biaya hotel, dalam dua kali weekend yang aku lewati, aku titipkan koperku di locker di stasiun kereta api Geneve, dan aku naik kerera api malam ke Venice (Italy), sampai di sana subuh, dan besok malamnya balik lagi naik kereta malam kembali ke Geneve. Weekend berikutnya naik kereta malam juga, dari Geneve aku naik kereta malam ke Florence (Italy), lihat Menara Pisa dll, minggu malam balik lagi ke Geneve. > Setelah baca kisah Gola Gong di "Menggenggam Dunia: Catatan Seorang Avontuir", aku sungguh menyesal, kenapa selama perlajanan itu aku tidak menulis catatan perjalanan, padahal aku yakin dari apa yang aku alami, banyak pelajaran, hikmah, dan pengetahuan yang akan bermanfaat juga untuk orang lain. Selama ini aku hanya terbiasa membuat tulisan formal (surat dinas/proopsal, dsb) dan belum pernah mencoba untuk menuoiskan sesuatu yang lain, walaupun keinginan itu telah ada sejak lama. Mungkin ini terkait dengan bakat, ya. Ah, aku akan mulai belajar menulis, agar kisah-kisah perjalananku yang seru (versiku, lho...) tidak terbuang percuma. Bukankah orang-orang pernah bilang, bahwa bakat itu hanya 1 persen dan sisanya adalah kerja keras? Aku akan mencobanya. > Setelah krismon, sangat sulit bagiku untuk bertualang seperti dulu lagi. Walaupun begitu, selama beberapa tahun aku puaskan diriku bertualang di "dunia" yang berbeda, dunia seni rupa dan arsitektur. Saat ini, "dunia" yang sedang aku jelajahi adalah dunia kuliner.. Dan pertengahan tahun nanti, petualangan besar menantiku... memasuki "dunia seorang ibu", karena tahun ini anak angkatku Monic (keponakanku, 6 tahun), akan sepenuhnya berada dalam asuhanku, tinggal di Jakarta... > Dari "Menggenggam Dunia" banyak inspirasi yang aku dapatkan, sebagai persiapan memasuki dunia petualanganku yang baru, Dunia Ibu... Aku jadi dapat gambaran apa yang nanti akan aku ajarkan terhadap anakku itu... Aku akan mengajarinya sebagaimana Gola Gong mengajari keempat anaknya, untuk senantiasa mencintai buku, mencintai sesama, dan yang paling penting, mencintai Allah dan seluruh ciptaanNya..... > Terima kasih Gola Gong, karena engkau dan bukumu "Menggenggam Dunia", telah berulang kali menjadi inspirasi dalam kehidupanku... > Satu hal yang sejak dulu aku inginkan, tapi sampai saat ini belum bisa aku laksanakan... Memiliki taman bacaan yang juga berupa learning center yang bermanfaat bukan hanya untuk lingkungan keluargaku, tapi juga untuk masyarakat sekitarku. > Dan semua itu telah Gola Gong miliki dengan "Rumah Dunia"... > Itulah sebabnya... Membaca "Menggenggam Dunia", seperti membaca hidupku, > dan cita-citaku sendiri.. > > Jakarta, 6 Maret 2006 > Wassalam, > Yati Nurhayati > > > > > [Non-text portions of this message have been removed] > > > > Yang belum mengisi biodata silahkan klik http://www.smunsaserang.org sebagai informasi dan link bagi teman-teman pelajar dan alumni smansa lainnya. > Yahoo! Groups Links > > > > > > > > > email protected and scanned by AdvascanTM - keeping email useful - www.advascan.com > > > > > > > > > > > Disclaimer: Although this message has been checked for all known viruses > using Trend Micro InterScan Messaging Security Suite, Bukopin > accept no liability for any loss or damage arising > from the use of this E-Mail or attachments. Disclaimer: Although this message has been checked for all known viruses using Trend Micro InterScan Messaging Security Suite, Bukopin accept no liability for any loss or damage arising from the use of this E-Mail or attachments. Tetap Semangat Mencintai Banten! Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/wongbanten/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
