ANTARA SERANG DAN DENPASAR (1)
  Catatan Perjalanan Oleh Gola Gong
   
  Di Bali: pantai, gunung, tempat tidur, dan pura telah dicemarkan. 
  (Putu Setia, Menggugat Bali, PT Pustaka Grafitipers, 1986)
   
  ***
  TURIS JEPANG
  Pesawat  Garuda GA 410 berguncang-guncang ketika hendak turun dan landing. 
Aku memejamkan mata. Di sebelah kananku, seorang gadis India menutup wajahnya 
dengan kedua tangannya. Akhir-akhir ini memang banyak sekali kecelakaan pesawat 
terbang di negeri ini. Ada yang tergelincir, jatuh, bahkan tersesat. Aku 
merasakan getaran dan guncangan kecil. Burung besi ini menggeram dan semua 
bernapas lega. Pukul 15.40 WITA, pesawat mendarat.
  Aku melongok lewat kaca bulat pesawat. Indah sekali pemandangannya. Bandara 
Ngurah Rai persis menempel di pantai. Tapi terlalu kecil untuk ukuran bandara 
Internasional. Aku pernah tiga kali ke Bali, tapi semua lewat darat. Pertama 
ketika masih remaja, 1981. Aku ber-liften dari Serang, sebulan kemudian sampai 
di Denpasar. Aku tidur di sebuah mesjid di kampung Jawa. Kedua, 1987. Selama 3 
bulan aku kelilingi bumi Denpasar yang indah ini. Aku terkenang Lovina Beach. 
Ketiga pada 1990, ketika aku jadi wartawan di Gramedia Group, sebelum aku 
berangkat keliling Asia.
  Aku turun dari pesawat, menuju bus bandara. Tidak ada belalai. Turis Jepang 
itu masih saja memilih berdiri, tas koper dengan roda dikepit di kedua kakinya, 
tangan kanan memegangi besi dan tangan kiri menggenggam buku. Sejak dari bandra 
Soekarno Hatta, dia tetap asik membaca buku. Itulah kelebihan orang Jepang; 
waktu sesedikit apapun selalu dimanfaatkan untuk membca buku. Reading habitnya 
sudah mengakar kuat, sama kuatnya di sisi lain pada orang Indonesia, yang doyan 
nge-rumpi di waktu sesempit apapun. 
  Di bandara pemeriksaan tidak ketat. Di pelataran lobi, aku mencari-cari 
penjemput. Sepi sekali bandara ini. Tidak tampak turis mancanegara bersliweran. 
Dari obrolan orang-orang, ini gara-gara bom Bali II. Setelah bom Bali I 
berlalu, pariwisatra Bali mulai menggeliat lagi, tapi terbentur dengan bom 
kedua. Apa hendak dikata; pariwisata tidak akan pernah bisa melepaskan diri 
dari unsur politik, ekonomi, dan agama. Negeri ini, bagaimanapun, sangat kuat 
dengan budaya Timur. Bali tidak boleh memaksakan dirinya, agar diberi kebebasan 
dengan cara pandang(sosial-budaya)nya sendiri. Semua saling terkait. Di Bali, 
bagaimanapun, ada suku Jawa, Madura, Padang, dan lain sebagainya. Ini memang 
pekerjaan rumah kita bersama. Janganlah lantas pariwisata menghalalkan segala 
cara.  
  Telepon genggam kunoku berbuyi. Dari Ali, penjemputku. Ali, mahasiswa Unud 
asalo Kediri, menunggu di pintu kedatangan. Ternyata kalau pesawat garuda, 
pintu keluarnya di pintu internasional. Aku tidak mengerti soal ini, karena 
belum pernah ke bali naik pesawat. Aku jabat erat Ali, panitia ”Diklat 
Penulisan Jurnalistik dan fiksi Forum Lingkar Pena Bali”,  4 – 5 Maret 2006 
lalu. Aku dibawa ke mesjid Nurul Huda, dekat dengan bandara untuk sholat Ashar. 
Aku sudah mengqashar sholat di bandara Soekarno Hatta. Aku memilih jajan mie 
ayam bersama Ahmad, pengemudi yang akan mengantar-jemput aku selama di Denpasar 
dengan mobil Suzuki APV abu-abu milik Perguuran Islam Tawaqal. Mie ayamnya 
enak. Ternyata pedagangnya orang Bandung. Jadilah kami ngobrol ngalor-ngidul, 
diselingi bahasa Sunda. Dari mulut para pedagang ini, di beberapa tempat, jika 
ada orang Bali membeli bakso/mie ayam dari orang Jawa (muslim lagi) akan 
dikenai denda oleh adat. Menurut mereka juga, banyak teman mereka seprofesi
 gulung tikar. Aku tidak bisa memberi saran apa-apa. Aku pikir, ini pekerjaan 
rumah kita bersama.
   
  CANDI BENTAR
  Aku diajak melintasi Kuta, sebuah kawasan yang mendunia. Gapura berupa candi 
bentar bertebaran di mana-mana. Candi bentar, gapura yang terbelah dua itu, 
langsing meninggi dan ukiran-ukiran yang rumit. Warnanya merah bata. Aku ingat 
saat menyebrng dari  Bnyuwangi ke bali di Gilianuk, begiu kapal ferry hendak 
merapat, candi bentar menjulang tinggi menyambutku. Cndi bentar disimbolkan 
sebagai ungkapan ramah pendudk Bali kepada para  tamunya yang hendak berwisata: 
Selamat Datang di Pulau Dewata!
  Putu Setia, putra Bali asli, adalah pengamat permanen atas segala preubahan 
yang terjadi di pulau dewata itu. Dalam bukunya: Bali Menggugat (PT Pustaka 
Grafitipres, 1986), Putu mempertanyakan perubahan sosial budaya di Bal, yang 
terjadi akibat program pembangunan yang diterapkan secara gegabah. Tentang 
candi bentar, Putu mengutip makalah Drs. I Gusti Agung Gde Putra (Kakanwil 
Departemen Agama Bali 1985) menulis, bahwa “kemajuan” di Bali salah kaprah. 
Mebahnya candi bentar cetakan sebagai pajangan barang seni di setiap sudut Bali 
membuat “roh” bangunan itu sudah tidak ada lagi. Dalam bahasa bali dikenal 
ostilah campah – hambar, tak punya nilai magis. Banyak orang Bali tidak 
mengerti lagi falsafah candi bentar. Mereka tak lagi ingin tahu kenapa bangunan 
itu dulu diirikan para leluhurnya dan bagaimana asal-usulnya.
  Candi bentar adalah bangunan suci, bagian tidak terpisahkan dari pura, tempat 
sembahyang umat Hindu, dimana Batra Ciwa bersemayam. Itu direfleksikan dengan 3 
bangunan; candi bentar, kori agung, dan meru. Ketiganya adalah simbol Gunung 
Mahameru. Candi bentar sebagai pangkal gunung, kori agung tubuh (badan tengah) 
gunung, meru sebagai puncak. Candi bentar nilai sakralnya memang paling 
“rendah”. Tetapi pembangunan candi bentar di halama rumah, perkantoran, tempat 
wisata, apalagi kuburan, dianggap para orang tua bali sebagai bentuk 
penghinaan. Berarti kori agung dan meru nilai kesakralannya sama dengan 
perkantoran, pantai, rumah, atau kuburan.
   
  KUTA
  Mobil menyusuri wilayah yang sangat hedonis sekali. Dulu tidak seperti ini. 
Sangat pesat kemajuannya. Setiap pembangunan sudah pasti mengakibatkan 
pergeseran nilai. Bangunan-bangunan baru bermunculan; mall dn hotel. Hanya 
kelebihan Bali, arsitekur lokal menjadi persaratan utama, sehingga tetap terasa 
di Bali. Karakter arsitektur bangunannya sudah khas. Tapi memang sepi dari 
turis bule. 
  Mobil menyusuri boulevard Kuta beach. Pantai di sisi kiriku, begitu lapang 
dan asri oleh pohon-pohon kelapa, di kananku kawasan perhotelan. Begitu indah. 
Jalanan yang lebar dan mulus. Aku jadi teringat Alexandria di Mesir. Pantai 
dibiarkan terbuka, tidak boleh ada bangunan. Beginilah semestinya pantai. 
Setiap orang punya hak untuk menikmatinya, tanpa harus membayar. Bukankah 
pantai dan pohon kelapa sudah ada sejak kita belum ada di bumi ini? Tetapi 
tidak di pantai di sepanjang selat Sunda. Pantai-pantai di kampungku iut 
dipagari tembok pembatas. Pohon-pohon kelapany berebut tempat dengan 
hotel-hotel berbintang. Pantainya dipatoki: Ini Milik Pribadi! Dilarang masuk. 
Jika kita ingin menikmati pasir, para kapitalis sialan itu memberi gang sempit 
seukuran dua atau 1 meter unutk dilewati. Jika kita membawa mobil, harus 
membayar. Bahkan untuk mandi sekalipun! Iutlah warisan Jawa Barat, yang 
memperlakukan pantai di sepanjang Selat Sunda sebagai komoditas untuk 
sekelompok golongan saja.
 Para nelayan dan warga diangap sebagai orang asing. Di novel ”Laskar Pelangi 
(Bentang, 2005), Andrea Hirata menuliskan tokoh ayah Lintang yang nekayan 
miskin dengan kalimat yang sangat indah, ”Ia hanya semacam petani penggarap, 
bukan karena ia tak punya laut, tapi karena ia tak punya perahu.” 
  Aku menganalogikan nelayan Belitong, ayah tokoh Lintang di novel ”Laskar 
Pelangi” itu dengan situasi dan kondisi nelayan di pantai Selat Sunda, yang 
untuk masuk ke pantai saja harus memutar. Bahkan kadang sulit. Mereka tak punya 
kuasa atas kepemilikan pantai yang didominasi atau diklaim oleh para kapitalis 
brengsek dari Jakarta dan Bandung, serta para elit politik di Banten sendiri, 
yang diidentikan dengan jawara. Aku mencoba menggambarkannya,bahwa nelayan 
Banten justru bukan tak punya perahu, tapi tak punya pantai serta lautnya! 
Sangat menyedihkan memang kondisi Banten. Itulah sebabnya kenapa pariwisata di 
Banten mandeg, karena pantai Selat Sunda yang eksotis dengan pemandangan gunung 
Krakataunya, hanya bisa dijangkau oleh kalangan orang berduit. Para penguasa 
dan pengusaha di Jawa Barat (Bandung) dan Banten telah memanipulasi garis 
sepadan pantai sejauh 200 meter, yang peruntukkannya untuk wilayah umum..
  Aku diantar ke rumah milik keluarga Erningsih Broto Amidarmo di Perum Gaha 
Kencana No. 6, Imam Binjol, Denpasar. Aku diinapkan di sini selama 2 malam. 
Pembicara lainnya; Izzatul Jannah (IJ), novelis dari Solo, akan tiba pukul 
22.00 malam nanti. Pikirku, komplet sudah 2 penulis yang bersal dari kota 
”sarang teroris” datang ke Bali. Aku dari Banten yang identik dengan Imam 
Samudra dan IJ dari Solo identik dengan Ustad Abu Bakar Baasyir dari Ponpes 
Ngruki. Lamunanku buyar, ketika  Heru Prasetyo dan istrinya, Elka Ferari 
menyambutku.(Bersambung ke bagian kedua).
   
  ***
   
  *) Penulis adalah Pendiri Rumah Dunia, komunitas belajar di Serang, Banten, 
dan novelis.

                
---------------------------------
 Yahoo! Mail
 Use Photomail to share photos without annoying attachments.

[Non-text portions of this message have been removed]



Tetap Semangat Mencintai Banten! 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/wongbanten/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke