Oh tulisan yang saya forward dari tulisan Ketua MUI Kota Bandung itu ?
  Kalau saya boleh komentar mengenai ucapan Bung Ucu itu.
  Ya memang Abu Bakar bukan seorang nabi, karena tidak mungkin ada nabi 
sepeninggal Nabi Muhammad Saw. Posisi sebagai pemimpin keagamaan (setingkat 
nabi) tidak mungkin ada yang meneruskan tetapi sebagai pemimpin politik 
(setingkat kepala negara) dapat saja diganti dan diteruskan oleh sahabat Nabi 
Muhammad Saw.
  Kalau boleh saya berkomentar bahwa perbedaan pemimpin keagamaan dengan 
pemimpin politik dalam konteks Islam, bukan berarti pemimpin politik tidak 
konsern terhadap persoalan keagamaan, dan pemimpin keagamaan tidak peduli 
dengan masalah politik. Perbedaan ini hanya untuk menunjukkan field kerja yang 
berbeda. Nabi Muhammad Saw. adalah Nabi dan sekaligus Kepala Negara. Suksesi 
sepeninggalnya hanya pada field kepala negara, tapi tidak berarti pemimpin 
sepeninggal Nabi Saw sama sekali tidak memiliki otoritas keagamaan walau tidak 
sebesar otoritas yang dipunya Nabi Saw.
  Proses terjadinya pengangkatan Abu Bakar Ra. dilatarbelakangi oleh berbagai 
perdebatan yang sangat alot di Safiqah. Kalau saya tuliskan proses pengangkatan 
ABu Bakar Ra. sangat panjang, saya forward kronologis secara singkat terjadi 
pengangkatan Abu Bakar sebagai berikut :
  Wafatnya Rasul membuat Madinah bising dengan tangisan. Umat pun 
bertanya-tanya siapa yang akan memimpin mereka. Sebagian sahabat terkemuka 
rupanya sudah memikirkan hal itu dan berkumpul di "balairung" safiqah di 
perkampungan Bani Sa'idah . Yang mula-mula berkumpul disana adalah golongan 
Anshar, yang terbagi pada suku Kharaj dan 'Aus.
  Umar rupanya mendengar pertemuan tersebut. Ia mencari Abu Bakar dan 
menerangkan gawatnya persoalan . Umar berkata,"Saya telah mengetahui kaum 
Anshar sedang berkumpul di Safiqah, mereka merencanakan untuk mengangkat Sa'ad 
bin Ubadah untuk menjadi pemimpin (ia dari suku Khazraj). Bahkan diantara 
mereka ada yang mengatakan dari kita seorang pemimpin dan dari Quraisy seorang 
pemimpin ( minna amir wa minkum amir). Ini dapat membawa pada dualisme 
kepemimpinan yang tak pelak lagi akan menggoyang "bayi" umat Islam.
  Setelah mengerti betapa gawatnya pesoalan, Abu Bakar mengikuti Umar ke 
Safaqah. Di tengah perjalanan keduanya bertemu Abu Ubaidah bin Al Jarrah dan ia 
diajak ikut serta. Ketika mereka tiba telah hadir terle bih dulu beberapa kaum 
muhajirin yang tengah terlibat perdebatan sengit dengan kaum Anshar. Umar yang 
menyaksikan di depan matanay bahwa Muhajirin dan Anshar akan mencabik-cabik 
ukhuwah Islamiyah...hampir-hampir tak kuasa menahan amarah dirinya. Sat ia 
hendak berbicara, Abu Bakar menahannya.
  Setelah mendengar perdebatan yang terjadi, Abu Bakar mulai berbicara dengan 
tenang dan ia mengingatkan bahwa bukankah Nabi pernah bersabda: al-aimmah min 
Quraisy (kepemimpinan itu berada di tangan suku Quraisy ) . "Kami pemimpin 
(umara) dan kalian "menteri/pembantu (Wizara). Telah bersabda Rasul bahwa 
dahulukan Quraisy dan jangan kalian mendahuluinya."
  Abu Bakar tak lupa mengingatkan pada kaum Anshar akan sejarah pertentangan 
kaum Khazraj dan aus yang bila meletup kembali (dengan masing-masing mengangkat 
pemimpin) akan membawa mereka semua ke alam jahiliyah lagi. Kemudian Abu Bakar 
menawarkan dua tokoh Quraisy, Umar dan Abu Ubaidah. Keraifan Abu Bakar dalam 
berbicara ditengan suasana penuh emosional rupanya mengesankan mereka yang 
hadir. Umar menyadari hal ini dan ia mengatakan pada mereka yang hadir bahwa 
bukankah Abu Bakar yang diminta oleh nabi untuk menggantikan beliau sebagai 
imaam shalat bilamana nabi sakit ?
  Umar dan Abu Ubaidah segera membai'at Abu Bakar tapi mereka didahului oleh 
Basyir bin Sa'ad, seorang tokoh Khazraj, yang membaiat Abu Bakar. Kemudian yang 
hadir di safiqah, semuanya memberi baiat Abu Bakar.
  Keesokan harinya Abu Bakar naik ke mimbar dan semua penduduk Madinah 
membai'atnya. Abu Bakar resmi menjadi khalifah ar-Rasul . Kemudian ia 
berpidato, sebuah pidato yang menurut ahli sejarah dianggap sebagai suatu 
statement politik yang amat maju, dan yang pertama sejenisnya dengan semangat 
"modern" (patisipatif-egaliter).
  Semuanya? ternyata tidak , dari yang hadir di safiqah, Sa'ad bin Ubaidah 
tidak membai'at Abu Bakar dan tidak pula ikut shalat jama'ah bersamanya. 
Diantara penduduk madinah yang tidak hasir di safiqah dan tidak membai'at Abu 
Bakar adalah Fatimah Az-Zahra. Ali bin Abi Tahlib dan bani Hasyim serta 
pengikutnya tidak berbai'at selama enam bulan kemudian setelah wafatnya Fatimah 
Az Zahra.
  Ketika diberitahukan kepada Imam Ali r.a. tentang peristiwa yang telah 
terjadi di safiqah bani Sa'idah segera setelah rasul wafat, ia bertanya:
  "Apa yang dikatakan kaum Anshar?"
  "Kami angkat seorang dari kami sebagai pemimpin, dan kalian (kaum muhajirin) 
mengangkat seorang dari kalian sebagai pemimpin !"
  "Mengapa kamu tidak berhujjah atas mereka bahwa Rasulullah SAW telah berpesan 
agar berbuat baik kepada orang-orang Anshar yang berbuat baik dan memaafkan 
siapa diantara mereka yang berbuat slaah " tanya Imam Ali lagi.
  "Hujjah apa yang terkandung dalam ucapan seperti itu ?"
  "Sekiranya mereka berhak atas kepemimpinan umat ini, niscaya Rasulullah SAW 
tidak perlu berpesan seperti itu tentang mereka."
  Kemudian Imam Ali bertanya:
  "Lalu apa yang dikatakan orang Quraisy?"
  "Mereka berhujjah bahwa Quraisy adalah 'pohon' Rasulullah SAW."
  "Kalau begitu mereka telah berhujjah dengan 'pohonnya' dan menelantarkan 
buahnya!"
   
  Ok. bung Ucu, apa yang bung Ucu utarakan memang proses pengangkatan Abu Bakar 
Ra. berjalan secara tidak demokratis. Nah bagi saya yang awam terhadap system 
demokratisasi, bukankah demokrasi arti harfiahnya adalah berjalan diatas 
musyawarah dan mufakat dengan suara terbanyak ?
   
   
   
   
     
   
   
   
  
ucu jauhar <[EMAIL PROTECTED]> menulis:

  Kang, dari tulisan yang dikirim akang, ada bagian yang
sama dengan tulisan dimyati (bupati coverboy). 

Pas dibagian pemilihan Abu Bakar. Akang bilang
demokrasi, punten dijelaskan demokrasi seperti apa.
Sedangkan, tubuh nabi besar saja belum dikebumikan.

Sementara bupati coverboy menulis diharian Radar
Banten, perpindahan pemimpin (saya cenderung
menyebutnya pemimpin politik) berjalan dengan penuh
kedamaian. (tepatnya saya lupa. Tapi tidak
menggambarkan adanya proses demokrasi), Seolah wasiat
dari pemimpin agama. 

Tulisan bupati coverboy itu saya tuduh untuk
menggiring opini masyarakat, fatwa ulama tentang
pencalonan dia nantinya bersifat saklek!!!

Maka saya minta penggambaran proses demokrasi dari
Nabi sebagai pemimpin politik (pemimpin agama itu
jelas) ke Abu Bakar (Abu Bakar saya anggap bukan
pemimpin agama alias bukan nabi). 

Supaya jelas proses demokrasi pemilihan pemimpin
politik yang pertama di dunia Islam.

..!.. Semangat Pelawan


Tetap Semangat Mencintai Banten! 


    
---------------------------------
  YAHOO! GROUPS LINKS 

    
    Visit your group "wongbanten" on the web.
    
    To unsubscribe from this group, send an email to:
 [EMAIL PROTECTED]
    
    Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service. 

    
---------------------------------
  




Saprudin
                
---------------------------------
Apakah Anda Yahoo!?
Kunjungi halaman depan Yahoo! Indonesia yang baru!

[Non-text portions of this message have been removed]



Tetap Semangat Mencintai Banten! 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/wongbanten/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


  • Balasan: Re: Balasan: Re: [WongBanten] Mereka Lapar, kang sapr... SP Saprudin

Kirim email ke