Figur Pemimpin; Berkaca pada Sejarah
  (Refleksi Pilkada Banten 2006)
 
  
  Kesultanan Banten
  Kemegahan yang dijadikan mimpi, dijadikan cita-cita kebangkitan
  Namun hingga kini tetap tidur lelap.
  
  Untuk kali kedua, Banten yang resmi menjadi Provinsi pada tahun 2000 dengan gubernur pertamanya yang dipilih dan diangkat pada tahun 2002 kembali akan menggelar hajatan besar berupa Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) 2006. Sebuah hajatan yang akan menentukan performa Banten ke depan. Dan saat ini, beberapa nama kandidat pun telah mulai mengemuka mewarnai kesemarakan hajat kedaerahan tersebut.
 
  Munculnya para kandidat gubernur pada Pilkada 2006 dengan pelbagai background-nya tersebut, tentunya sangat positif bagi pembelajaran politik dan kesadaran berdemokrasi masyarakat Banten. Dengan semakin terdidiknya masyarakat dalam hal politik dan demokrasi, maka diharapkan masyarakat akan semakin dewasa dan arif dalam memilih sekaligus me-nentukan calon pemimpin daerahnya, sehingga dengan kedewasaan dan kearifan ini, pilihan yang akan dijatuhkan masyarakat kepada para calon pemimpinnya pun tidak asal-asalan, bukan sekadar pilihan yang berdasarkan pertimbangan emosional, kesukuan, maupun garis keturunan tertentu, melainkan berangkat dari sudut pandang yang lebih obyektif, rasional, serta dengan melihat track record dan kafabelitas dari para kandidat tersebut. Karena perlu kita sadari, bahwa pemimpin merupakan cerminan dari kondisi masyarakat, sebagaimana eksplikasi sebuah hadits, "Bagaimana kondisi dan keadaan kamu sekalian, maka kalian akan dipimpin oleh orang-orang yang
sesuai dengan kondisi kamu". Bilamana masyarakat senang dengan perilaku dzalim, suka korup dan ketidakjujuran, maka akan muncul seorang pemimpin yang dzalim, tukang korup dan tidak jujur. Sebaliknya, bilamana masyarakat senang dan menghendaki adanya perubahan ke arah yang lebih baik, maka akan tampil pula pemimpin yang memiliki visi reformasi yang sesuai dengan harapan masyarakat tersebut. Karena itu, dalam memilih seorang pemimpin yang akan menakhodai laju sebuah masyarakat, ada baiknya bila kita menengok pada sejarah masa silam sebagai bahan pertimbangan kita dalam menentukan model pemimpin seperti apakah yang layak untuk dipilih. Dan dari pelbagai sejarah yang mengindikasikan proses pemilihan yang ideal, penulis mencoba mengambil sample dari proses pemilihannya Khalifah pertama Islam pasca wafatnya Nabi saw. yang memang sarat dengan muatan nilai berharga, baik proses maupun figur pemimpinnya sendiri, yaitu dengan terpilihnya Khalifah Abu Bakar Shidiq.
 
  Meskipun proses pemilihan ketika itu awalnya sempat diwarnai oleh gesekan dan ketegangan emosi di antara para Sahabat, namun hal tersebut akhirnya dapat diminimalisir serta diredam. Dan secara alami, dalam setiap pemilihan kepemimpinan, gesekan dan ke-tegangan emosi tentunya memang merupakan suatu hal yang lumrah terjadi. Demikian halnya ketika proses pemilihan Khalifah pertama Islam tersebut berlangsung. Ketika itu, masing-masing golongan dari para Sahabat berupaya mengajukan serta menjagokan kandidatnya untuk menduduki jabatan Khalifah dengan pelbagai manuver seta argumen yang pada intinya menginginkan Sang Khalifah yang akan menjadi pimpinan umat saat itu berasal dari golongannya sendiri. Para Sahabat dari golongan Anshar menginginkan pemimpin dari pihak mereka, begitu pula dengan para Sahabat Muhajirin, mereka bersikeras menghendaki Sang Pemimpin yang berasal dari golongannya.
 
  Namun, berkat didikan dan gemblengan Nabi yang secara kuat melekat pada pribadi-pribadi unggul dari generasi pertama Islam ini, para Sahabat kemudian menyadari, bahwa sebenarnya pemilihan yang hanya berdasarkan emosional dan fanatisme kesukuan belaka tidak akan menghasilkan apapun selain kehancuran umat. Karenanya, dengan semangat kebersamaan dan dengan dilandasi motivasi yang kuat untuk memprioritaskan kepentingan serta kemaslahatan bersama di atas kepentingan pribadi dan golongan (suku), maka akhirnya para sahabat secara aklamasi menjatuh-kan pilihannya kepada Abu Bakar Shidiq yang mereka anggap layak sekaligus tepat untuk menjabat sebagai pemimpin umat. Sebuah pilihan yang berdasarkan obyektifitas dan rasionalitas sehingga membuahkan kemaslahatan bagi seluruh umat Islam ketika itu.
 
  Selain pertimbangan secara obyektif dan rasional, terpilihnya Abu Bakar sebagai pemimpin, juga bukanlah semata karena status sosial beliau sebagai seorang Sahabat senior sekaligus mertua Nabi, bukan pula karena posisi beliau sebagai pemuka Muhajirin maupun karena garis keturunan dan kesukuan beliau yang berasal dari suku Quraisy, akan tetapi lebih dari itu adalah karena perilaku dan kepribadian serta kwalitas beliau yang layak dijadikan teladan bagi umat. Dengan kata lain, bahwa sosok kandidat yang layak dipilih serta diangkat menjadi seorang pemimpin haruslah merupakan sosok yang memiliki track record yang baik, figur yang bisa dipertanggungjawabkan serta diakui kafabelitasnya oleh masyarakat luas, yaitu pribadi-pribadi yang bersih dan berani secara rohani juga jasmani (tidak cacat moral dan tegas) serta selalu komitmen dengan keadilan dan kebenaran (amanah), sehingga bisa menjadi teladan bagi masyarakatnya. Karenanya, seorang kandidat yang perilaku dan kepribadiannya
tidak mencerminkan sikap keteladanan serta track record-nya dalam hal kepemimpinan di bawah standar apalagi yang kinerjanya dikenal buruk dan tidak amanah, semestinya tidaklah dipilih, karena hanya akan menyeret laju masyarakat ke arah jurang kehancuran dan keterpurukan.
 
  Pertimbangan lainnya yang patut dijadikan barometer dalam memilih seorang pemimpin sebagaimana yang tercermin dari figur Khalifah pertama Islam tersebut adalah sikap rendah hati dan kebesaran jiwa seorang pemimpin. Sikap Abu Bakar tentunya layak untuk dijadikan contoh oleh para kandidat gubernur Banten saat ini; bagaimana Abu Bakar yang meskipun terpilih secara aklamasi, namun tetap rendah hati, tidak sombong maupun arogan sebagaimana pidato perdananya pasca terpilihnya beliau sebagai Khalifah pertama Islam yang tidak hanya mencerminkan sikap yang tegas dan lugas, melainkan juga mencerminkan kerendahan hatinya. Rendah hati bukanlah berarti bersikap lemah lembut terhadap ke-dzaliman, bukan dengan menolelir praktek-praktek KKN, dan berlaku murah hati pada pelbagai dekadensi moral serta ragam bentuk kejahatan. Akan tetapi, rendah hati adalah sikap menghargai wong cilik dan menghormati pendapat serta saran-saran konstruktif dari pelbagai pihak, selalu meresfon aspirasi
masyarakat dari kelas dan status apapun, juga senantiasa terbuka dan berlapang dada dengan ragam kritikan serta teguran atas suatu kebijakan yang sekiranya dianggap tidak selaras dengan kemaslahatan umum. Dengan sikap rendah hati ini, insya Allah seorang pemimpin akan senantiasa dicintai dan didukung oleh rakyatnya.
 
  Saat ini, bila kita menengok kondisi tanah air terutama Banten secara khususnya, sangat jelas dan terasa sekali bahwa Banten kini sedang mengalami krisis kepemimpinan, terserang krisis kepercayaan akibat 'kuman' keserakahan, egoisme dari ambisi sepihak, dan 'virus' KKN yang juga menjangkiti bahkan mewabah di lingkungan para pejabatnya. Karena itu, dengan meneladani semangat pemilihan pada masa Sahabat sebagaimana di atas berupa pilihan yang berdasarkan obyektifitas dan rasionalitas serta atas pertimbangan kwalitas track record sekaligus moralitas para calon pemimpin, maka diharapkan Pilkada Banten 2006 ini akan menghasilkan seorang pemimpin ideal, pemimpin yang jelas keberpihakan dan ke-peduliannya pada segala problematika masyarakat secara keseluruhan; seorang pemimpin yang perilaku serta kepribadiannya bisa menjadi teladan bagi segenap masyarakatnya, sehingga dengan sosok pemimpin semacam itu akan terciptalah pemerintahan Banten yang bersih dan kuat sekaligus akan
terwujud pula bangunan masyarakat yang adil dan sejahtera. Semoga..!!
  
  Jangha
  "Menebar Sapa Lewat Carita"

           
---------------------------------
Love cheap thrills? Enjoy PC-to-Phone  calls to 30+ countries for just 2ยข/min with Yahoo! Messenger with Voice.

[Non-text portions of this message have been removed]



Tetap Semangat Mencintai Banten!



SPONSORED LINKS
Indonesia visa Indonesia phone card Indonesia calling card
Indonesia travel Bali indonesia Indonesia


YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke