batu nisan
dan kendi berisi air
itulah peristirahtan abadiku, ya Rabbi...
***
Saat membaca SMS dari Dadang Sodikin tentang wafatnya Rizon,
saya tercenung. Saya forward ke Toto ST Radik. Tak lama, Toto membalas, bahwa breita itu betul.
Toto mengbarkan, saat iut juga ke rumah duka. Sedangkan saya begitu banyak hal yang mesti diurus (saya menyesal tidak datang ke rumah duka). Dari SMS Dadang, saya dikabari bahwa jasad akan dikebumikan Selasa, pukul 13.00. Saa berencana akan ke rumah duka besok siang. Ya, Allah, saya jadi teringat almarhum Rahmat Yanto Suharja. Kematian Rizon dalah peringatan bagi saya. Giliran itu akan datang juga pada saya. Jujur saja, saya takut.
Saya terakhir bertmu Rizon Februari, bersamaa teman-teman SMAN 1 Serang angkatan 82 - 82. Kami merencanakan reuni akbar. Saya melihat Rizon saat itu tidalk segar lagi. Wajahnya capek dan butek. Pasti itu masalah politik yang membebaninya. Saya sendiri pengecut, tidak berani terjun ke dunia politik.
Saya mengnal Rizon sejak kecil. Keluarga Rizon menguasai tenis meja, saya dan kakak-kakak saya di dunia bulu tangkis. Kami dua keluarga yang bangga dengan prestasi olahraga kami. Rizon dan saya, Fuqon dan adik saya (Goozal, jara badminton juga). Lewat dunia olahragalah kami saling mengenal.
Saat selulus SMA, saya mendengar Rizon begitu aktif di organisasi. Bakatnya memang di situ. Saya punya rencana dengan Rizon, tapi saya kesulitan mengontak dia. Ketika dia terjun ke partai dan jadi anggota DPR, saya tidak terlalu berharap banyak bisa melakukan sesuatu dengan Rizon. Pernah setelah Rizon terpilih jadi Keyua PAN, malam-malam, datang berkunjung ke Rumah Dunia. Saya, Toto, dan almarhum Rys ngobrol di bawah taburan bintang, tentang masa depan Banten. Dia mengabarkn banyak hal tentang dunia politik yang busuk di Banten dan memutuskna untuk memperaikinya di dalam.
Selasa siang, setelah segala urusan selesai, saya menadpat kabar dari Toot, bahwajasad Rizon suda dikuburkan jam 09.00. Sudah pukul 11.00 saat itu. Saya bergegas ke rumah duka.
Satu-satu orang baik pergi.
Saat saya turun di mobil dan berdiri di ujung gang menuju rumhnya, tanpa sadar, saya menengok ke sisi kanan jalan. Rumah kecil, dimana saya pernah tinggal di situ. saa terkenang masa kecil dulu. Saya melihar Rizon kecil berseragam SD, berseragam merah SMPN 2 Serang. Begitu banyak karangan bunga ucapat belasungkawa buat Rizon. Dalam hati saya berkata pada Allah, "Beri saya wakut, Allah, beri saya waktu. masih banyak yang ingin saya lakukan di dunia ini."
Pada akhirnya, hanya tanah merah, batu nisan, dan kendi berisi air. Itulah peristirahatan abadiku, ya Rabbi."
Semoga Allah memudahkan jalan kita.
Gola Gong
lulusan SMAN 1 Serang tahun 1982
________________________________
From: [email protected] on behalf of Iman Rosyadi
Sent: Mon 5/15/2006 10:51 PM
To: [email protected]
Subject: Re: [WongBanten] SELAMAT JALAN KANG RIZON
Saya hampir tak percaya ketika Kang Suhada, Direktur
Eksekutif ALIPP memberitahu bahwa Rizon
Sofhani meninggal dunia, mohon dicek apakah ada di RS
Kecana atau dulu dikenal DKT. Rasa tak
percaya itu bukan apa-apa, karena saya dan Rizon
sering saling telepon dan berjanji akan
bertemu dalam waktu dekat ini untuk membicarakan
banyak hal. Bahkan kedatangannya ke Serang
pun dalam rangka ziarah ke makam ibundanya memang
diketahui beberapa orang, termasuk saya.
Di Ruang Gawat Darurat RS Kencana, Senin, sekitar
pukul 16.00 WIB, tubuh Rizon terbujur kaku
dengan dibungkus sebuah kain putih. Terus terang, saya
gemetar, tak mampu untuk
menyingkapkan kain putih itu untuk sekadar melihat
wajahnya. Tak ada kekuatan, hanya
memandang dan tak mau juga saya mengeluarkan air mata
di hadapan jenazahnya.Tak ada juga
suara keluar dari mulut untuk mengucapkan sesuatu,
kecuali kalimat doa yang hanya terucap
dalam hati.
Di dekat masuk Ruang UGD, saya melihat Delfion,
wartawan Radar Banten yang tampak berurai
mata. Akhir-akhir ini Delfion memang intensif
berkomunikasi dengan Rizon. Menurut Delfion,
terakhir dalam pertemuannya dengan Delfion, Rizon
banyak bercerita tentang kawan-kawannya.
Dia menyebutkan nama Golagong, Toto Radik, (maaf nama
saya juga disebutkan) dan banyak nama
lainnya. Namun yang mengagetkan, kata Delfion,
almarhum juga membicarakan almarhum RAhmat
Yanto Suharja yang dikenal dengan nama Pak Uban. Pak
Uban adalah kawan seangkatan di SMAN I
Serang yang meninggal secara tragis dan ditemukan di
pantai Pasauran, Serang.
Inilah cerita Amsar, anggota DPRD Banten dari PAN yang
menemani Rizon di akhir-akhir
hayatnya. Seusai ziarah ke makam ibundanya, Rizon
menelpon Amsar, Burhan dan satu lagi dari
DPW PAN untuk menemani makan di Rumah Makan Sop Ikan
di Taktakan, Kota Serang. Seusai makan,
Rizon bermaksud pulang ke Jakarta, namu mampir ke DPRD
Banten untuk ikut solat. Rizon sempat
masuk ke ruangan Fraksi yang orang-orang PAN kongkow,
terlihat cerita dan tidak terlihat
tanda-tanda yang mencurigakan, meskipun dia dalam
keadaan sakit.
Kemudian Rizon hendak menunaikan solat, sekitar pukul
15.00. Tempat solat dan wudhu memang
berada di sebelah barat gedung DPRD Banten. Ketika
Rizon di kamar mandi, terdengar suara
mengaduh. Amsar berlari dan menemukan Rizon dalam
keadaan berdiri di atas dua lututnya,
seraya tangannya memegang dadanya. Menurut Amsar,
Rizon pingsan, segera dibawa ke RS
Kencana. Namun dalam perjalanan, Rizon menghembuskan
nafas terakhirnya, sekitar pukul 15.30
WIB tiba di RS Kencana sudah menjadi jenazah.
Cukup lama jenazah Rizon berada di Ruang UGD RS
Kencana. Pihak rumah sakit tampak kesulitan
menyediakan mobil jenazah. Sekitar pukul 17.00 WIB,
datang Hari Zaini, Direktur Eksekutif Forum Peduli
Banten (FPB) membawa mobil ambulance milik Paguyuban
Warga Banten (Puwanten). Dia mengendarai sendiri mobil
itu, kemudian membawa jenazah Rizon ke rumahnya di
Kaloran, Kota Serang. Diriingi mobil-mobil pejabat.
Jalan Raya dari Kaujon ke Kaloran hingga Masjid penuh
mobil dan kesulitan untuk mendapatkan parkir.
Saya numpang mobil Dadang Sodikin, kawan seangkatan di
SMAN I Serang. Saya dan Dadang memang sibuk menelpon
ke rekan-rekan seangkatan untuk memberitahukan
kematian almarhum. Di rumah ibunda Rizon,sudah banyak
orang, termasuk rekan-rekan di SMA-nya.
Setelah saya masuk ke dalam rumah, terus saya keluar
lagi. SAya katakan ke Dadang, saya tak kuat. Saya
teringat saat Rahmat Yanto suharja (Pak Uban), juga
teman seangkatan yang meninggal ditemukan di pantai
Pasauran. Dari pemandian, baca Al-Quran hingga paginya
saya masih kuat untuk tidak mengeluarkan setets air
mata pun. Namun saat jenazah disolatkan, saya ambruk,
tak kuat menahan emosi yang terpendam. Dan, saya
katakan kepada teman-teman yang sudah berkumpul, mohon
maaf saya khawatir ambruk lagi. Sekitar pukul 18.30
WIB, saya kembali ke kantor di Ciceri, Serang.
Hingga tulisan ini dibuat, jenazah Rizon masih di
rumah duka di Kaloran. Begitu banyak pelayat yang
datang, begitu banyak orang yang menyatakan duka atas
kepergiannya. Rencananya, alamarhum akan dimakamkan di
TPU Kaloran, yang lokasinya tak jauh dari rumahnya.
SELAMAT JALAN KAWANKU; RIZON
--- machsus thamrin <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Bagi kami, adik kelasnya di SMA 1 Serang, sosok
> Tubagus Rizon
> Sofhani, adalah profil manusia yang memiki segalanya
> yang jadi impian
> seoarang siswa lelaki. Dia pintar, gagah, banyak
> dikagumi kakak-kakak
> kelas wanita, seorang orator ulung dan organisatoris
> yang luar biasa.
>
> Sebagai olahragawan, dia adalah pemain tenis meja
> yang tangguh
> (kebetulan keluarga mereka (Rizon, Luay, Forkon)
> adalah pemain tenis
> meja yang banyak mewakili Serang dalam
> kejuaraan-kejuaraan di Jawa
> Barat, waktu itu
>
> Kekaguman ini yang menjadikan saya banyak belajar
> darinya. Sambil
> makan sumsum di Kabaharan,saya banyak belajar
> tentang berebagai hal.
> Sambil main tenis meja, Rizon mengajari banyak hal
> tentang organisasi
> dan bagaimana membuat sebuah proposal yang baik.
>
> Rizonlah yang kemudian mendorong saya maju dan
> mendampingi Achmat
> Susetya, memimpin OSIS SMA 1 Serang. Dari Rizon
> pulalah saya
> mempunyai keberanian menggantikannya memimpin IKOSIS
> Kabupaten
> Serang. Setelah saya lengser, adik Rizon Tubagus
> Furkon yang kemudian
> menjadi Koordinator Ikosis ketiga.
>
> Adalah waktu yang memisahkan kami. Rizon mauk IPB
> dan saya dengar
> memimpin rekan senangkatannya sebagai Ketua Angkatan
> 20 IPB, lalu
> menjadi Ketua Senat Perikanan IPB. Jejak ini
> kemudian diikuti oleh
> sahabat saya, Achmad Muchlis.
>
> Lama tidak bertemu, pergumulan pemikirannya,
> mewarnai Forum Dialog
> Indonesia, yang kemudian banyak melahirkan
> politisi-politisi muda.
> Selain Rizon, dari forum ini lahir Teguh Juwarno
> yang kini menjadi
> plisitisi dan Wakil Sekjen PAN. Arif Bumimanta yang
> kini memimpin
> Departemen Luar Negeri DPP PDIP, dan tentu saja
> Yuddy Chrisnandi,
> politisi cemerlang dari Golkar.
>
> Langkah yang mendundang kekaguman lainnya, ketikaia
> tiba-tiba muncul
> dan memimpin DPW PAN Banten. Belakangan dia cerita,
> ia hanya
> memiliki waktu dua pekan untuk memikirkan dan
> kemudian berkonsolidasi
> sebelum akahirnya bertarung di Musda PAN. Itulah
> Rizon, dalam segala
> keterbatasan waktu yang dipunyainya, dia bisa
> meyakinkan banyak orang
> dari merebut posisi Ketua PAN Banten. Kemampuan ini
> mengingatkan
> saya, saat menyankan utusan OSIS SE Kabupaten Serang
> menjadi
> Koordinator Ikosis 1982, dua dekade silam.
>
> Dalam perjalananya sebagaianggota DPR, beberapa kali
> saya
> menyampaikan kritisi kepadanya. DibandIngkan dengan
> rekan-rekan
> lainnya, Yuddy, Ali Muchtar, Rizon memang tidak
> terlalu "bunyi".
> Padahal "bunyi" adalah kunci penting bagi seoarang
> politisi merebut
> panggung politik di pentas nasional.
>
> Melalui Muchlis, Rizon menyadari kritik kepadanya.
> Ia berjanji akan
> lebih tampil ke publik mulai tahun ini. Namun Allah
> Sang Khalik
> berkeinginan lain. Sebesar apapun harapan kita
> kepadanya. Namun Allah
> Yang Maha Pengasih lebih mencintainya. IA lebih suka
> Rizon berada
> disisiNYA.
>
> Kini Rizon telah pergi, Masih hangat dalam ingatan
> saya, ketika dua
> puluh tiga tahun lalu, dia berpidato di depan kami,
> adik-adik
> kelasnya yang baru saja masuk SMA 1," Ini adalah
> sebuah momentum
> besar, bagi adik-adik. Ini adalah sebuah turning
> point yang penting
> bagi kehidupan anda dalam menyiapkan masa depan,
> anda, masa depan
> kita dan masa depan bangsa kita," katanya dengan
> gagah. Ah Kang
> Rizon, tugas anda kini telah paripurna. Selamat
> jalan Akang, tidak
> semua kenangan pergi bersama akang.
>
>
> MACHSUS THAMRIN
>
>
>
>
>
>
__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around
http://mail.yahoo.com
Tetap Semangat Mencintai Banten!
Yahoo! Groups Links
[Non-text portions of this message have been removed]
Tetap Semangat Mencintai Banten!
YAHOO! GROUPS LINKS
- Visit your group "wongbanten" on the web.
- To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
- Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.
