Menggugat Literasi Kampus di Banten
  Oleh Aji Setiakarya
  
  
              “Yakinlah, tanpa membaca mereka akan miskin,” kata Gola Gong pada suatu malam ketika saya bercerita tentang kemiskinan dan keterbelakangan masyarakat Desa Ampel,  Kecamatan Ampel, Kabupaten Serang. Pernyataan Gola Gong sebetulnya bukan hal baru bagi saya. Berkali-kali saya membaca, di koran, di buku, dan jurnal ilmiah, kalau membaca adalah bagian yang terpenting dari kemajuan sebuah bangsa. Membaca dapat mengakibatkan pendewasaan sebuah masyarakat. Bangsa yang maju dilatarbelakangi dengan mendidik anak-anaknya untuk membaca. Karena dengan membaca kita dapat menggali cakrawala dan pengetahuan yang tersembunyi. Memperoleh informasi sebagai kunci ilmu pengetahuan.
  
  Membaca Mengubah Bangsa
  
  Kemampuan membaca adalah salah satu perangkat sebuah keberhasilan pendidikan. Pendidikan sebagai  proses pengajaran untuk membawa dan mengarahkan manusia menjadi utuh, berwawasan dan berkepribadian tidak bisa lepas dari aktivitas membaca. Gedung sekolah atau univeritas yang megah dan kokoh tidak akan berhasil menciptakan manusia yang utuh, sebagai tujuan pendidikan, tanpa dilengkapi dengan buku sebagai bahan bacaan. Dengan buku itulah orang akan mengetahui misteri-misteri ilmu pengetahuan. Kemudian mampu melahirkan kembali cakrawala keilmuan yang masih tersembunyi.
     Sampai saat ini saya yakin, membaca buku dapat mengubah pola pikir, visi hidup dan mindset setiap individu. Sampai saat ini pula, saya merasa berdialog dengan seorang yang suka membaca buku lebih jauh bermakna dan berisi ketimbang orang yang tidak pernah membaca. Kebiasaan membaca yang baik dapat mendatangkan keuntungan. Yaitu menjadi akar untuk menumbuhkan budaya tulis. Yang pada gilirannya  mewujudkan masyarakat literat. Yaitu masyarakat yang memiliki kemampuan membaca, menulis dan mampu mengejawantahkannya dalam kehidupannya sehari-hari. Komponen intelektual akan terbangun di sana sehingga tercipta sebuah  knowledge society. Kreativitas dan inovasi akan tumbuh berserakan. Selain itu, membaca juga dapat memupuk pikiran-pikiran yang mandiri. Sedangkan  kemandirian berfikir dapat menjadi inspirasi,  menciptakan ide-ide baru (inovasi) dan berbagai macam hal yang sebelumnya tidak terbayangkan oleh kita. Secara lebih rinci, membaca dapat mengubah orang menjadi cerdas dan
pintar sehingga memunculkan kreasi.
  Sejak tahun 1990, United National Development Programme (UNDP) mengukur Human Development Index dengan indikasi melek huruf.  Pada tahun 2005 lalu, saat Hari Pemberantasan Buta Huruf, Kofi Anan, Sekjen PBB mengatakan, kemampuan baca-tulis dapat memberantas kemiskinan, perluasan kesempatan kerja, peningkatan kesetaraan lelaki dan perempuan, peningkatan kesehatan keluarga, perlindungan lingkungan hidup, serta dapat meningkatkan partisipasi masyarakat dalam proses demokratisasi. Pernyataan Kofi Anan juga bukan hal yang baru. Itu sudah diterapkan sejak lama oleh Singapura dan Malaysia, dan  terbukti berhasil dalam meningkatkan pengetahuan bangsanya. Maka, sudahlah tentu, kebutuhan perpustakaan tidak bisa dielakkan lagi sebagai penopang untuk meningkatkan minat baca-tulis, masyarakat yang berliterasi. Di berbagai daerah  Indonesia sekarang ini sedang menggeliat, berlomba-lomba meningkatkan sarana dan fasilitas dalam rangka memenuhi kebutuhan masyarakat dalam meningkatkan minat
membaca. Bagaimana dengan Banten?
  Sungguh membuat hati saya pilu saat saya membaca tulisan berturut-turut dari Abdull Malik “Gedung Perpusda Mengapa Ditunda?” dalam Info Perpusda (Radar Banten, Kamis 27/4/2006), Toto St Radik “Perpustakaan Itu Tidak Penting Bung!” ( Radar Banten, Kamis 5 Mei 2006) dan terakhir Perpustakaan Itu Penting Bung! (Radar Banten, Jum’at 12 Mei 2006) yang ditulis oleh Ibnu Adam Aviciena. Ketiganya mengabarkan pembatalan pembangunan perpustakaan daerah yang sekiranya dibangun tahun 2006 dengan menggunakan APBD Rp 20 M. Padahal rencana pembangunan gedung perpustakaan ini  sudah lama, berbagai diskusi dan seminar diadakan untuk mensukseskan rencanan itu. Bahkan Ibnu dan Mas To bercerita kalau Kepala Kantor Perpustakaan Daerah, Hj. Sudiyati, M.Si, selalu meyakinkan tentang pembangunan perpustakaan di Banten ini. Tapi mengapa yang terjadi pembatalan? Kemana uang Rp 20 M yang sudah disediakan untuk pembangunan perpustakaan itu?. Dialihkan? Ya. Dialihkan untuk jalan-jalan Plt Gubernur ke
luar negri. Untuk membeli mobil baru pejabat karena saya melihat banyak mobil merah  berseliweran di jalan dengan merek terkini. Dan yang paling menonjol, saya menduga uang itu untuk membayar iklan dalam rangka membangun citra pemprov.  Ini memang penghianatan Mas Toto. Bukan hanya pada Rencana Strategi Daerah (Renstrada) seperti yang dijelaskan itu. Tetapi lebih dari itu. Mereka sudah keluar dari tujuan awal pendirian Provinsi Banten ini. Yaitu memakmurkan dan  mensejahterakan rakyat Banten.     
  
  Menggugat Literasi Kampus
  
              Huh! Payah memang Banten ini. Pejabatnya senang jalan-jalan dan beli mobil baru ketimbang peduli para literasi.
  Sepintas saya punya harapan semoga  dunia kampus mampu membudidayakan dunia literasi di Banten ini. Kampus sebagai  kubang pemikiran dan lahirnya para intelektual dan para calon generasi bangsa harus memiliki kepekaan terhadap dunia literasi. Saya berharap kampus marah dan menuntut pemerintah yang membatalkan pembangunan perpustakaan itu. Tapi harapan itu sirna.  Kepiluan saya semakin memuncak karena ternyata melihat kenyataan dunia kampus di Banten seperti yang ditulis Mas To dan Ibnu, mahasiswa dan dosen di Banten ini diam membisu. Dunia kampus yang sedang saya jalani ini tidak bereaksi atas pembatalan pembanngunan perpustakaan oleh Pemprov Banten. Mahasiswa yang biasanya gagah berdemo tak terdengar suaranya. Para dosen juga setali tiga uang. Mereka diam tak merespon.
  Saya menyaksikan hanya segelintir mahasiswa saja yang mau sadar  tentang pentingnya budaya literasi ini. Terhitung mahasiswa yang mau menenteng buku, mendiskusikan dan menuliskannya dalam sebuah karya tulis. Bagaimana dengan dosennya?
  Seorang dosen pernah berkisah lewat tulisan pada saya kalau dirinya heran melihat para dosen di kampusnya, di Banten. Yang dikejar oleh kebanyakan dosen di sini hanyalah jabatan struktural yang ada uangnya. Seperti juga halnya cerita Ibnu tentang mahasiswa S3, mereka tidak punya buku. Teman mengajarnya di kampus diyakini tidak memiliki budaya membaca, berdikusi apalagi menumpahkan gagasannya dalam sebuah karya tulis, artikel atau esei misalnya. Beda sekali dengan teman mengajarnya di luar Banten yang giat berdiskusi dan menulis.
   Apakah budaya literasi dosen dan mahasiswa di Banten ini tidak ada? Jangan-jangan para dosen dan mahasiswa juga tidak beda dengan “jawara” yang bermain otot ketimbang otaknya. Untuk itu, kita patut menggugat literasi kampus di Banten ini. 
  
  Aji Setiakarya, Mahasiswa Komunikasi Untirta,
  Redpel www.rumahdunia.net, Bendahara Rumah Dunia,
  Alumni Sanggar Sastra Serang

                 
---------------------------------
Sneak preview the  all-new Yahoo.com. It's not radically different. Just radically better.

[Non-text portions of this message have been removed]



Tetap Semangat Mencintai Banten!



SPONSORED LINKS
Indonesia visa Indonesia phone card Indonesia calling card
Indonesia travel Bali indonesia Indonesia


YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke