Kawan-kawan.. Inilah fungsi Milist, untuk bersilaturahmi walau tanpa wajah, cukup menulis dan semuanya bisa berbicara. saya merasa harus menguatkan pernyataan Boni, karena menyebut-nyebut selentingan agak "pedes" dari Bung Firmnan.
Bung!! Saya, Boni, dan teman-teman pernah menggagas penulisan sejarah lebak dalam buku lewat Lembaga kami INSTAL (Institut Studi Transformasi Sosial), berbekal keyakinan penguasaan dibidang ini dan ikhlas sedikitpun tidak mengejar Proyek !!! sekedar memberi masukan kepada Pemda, urusan siapa yang melakukan TIDAK SOAL !! bagi kita. Usulan ini sampai pada Bupati dan beliau merespon dengan positif. singkat cerita... pengerjaan ini di serahkan kepada NINA LUBIS, tanpa konfirmasi dengan kita dan akhirnya BERSYUKUR tidak dilibatkan dalam pengerjaan penelitian ini, karena sering menimbulkan fitnah, dan hingga saat ini saya pribadi kadung diCAP komprador oleh kawan-kawan di BAnten!! (Huhh .. miris dan sedih!!) padahal sedikitpun kita tidak terlibat dalam kegiatan tersebut, dan kita tidak Mati gara-gara tidak diajak, sehingga wajar Boni menyatakan uang seratus-dua ratus mah gampang!! dalam konteks bahwa kita tidak mengejar materi dan tetap bisa berkreasi. Perasaan saya sependapat dengan Boni, terkadang sering pesimis untuk terlibat turun ka LEMBUR, hasil diskusi kami pernah berkesimpulan "dulur-dulur urang mah puguh teu nyaho masalahna tapi sok tahu!" Oleh sebab itu untuk meluruskan informasi ini saya memberi penguatan atas pernyataan boni... Bung Firman, sebagai aktifis literal, konsep checking mutlak di butuhkan untuk menjaga keseimbangan informasi, dan kita sebenarnya memiliki beberapa kesamaan visi yaitu ikut membangun banten dalam kapasitas kita masing-masing. Seperti Boni menyatakan bahwa kita satu almamater, saya yakin anda mengenal saya di Sekolah dulu, dan ini mungkin bisa mempererat ukhuwah kita kedapan untuk lebih baik berdiskusi. Untuk rekan miliser yang lain informasi ini juga mditujukan untuk menetralisir informasi bahwa INSTAL sebagai penggagas penelitian ini,tidak terlibat sedikitpun dan tidak bertanggung jawab atas isi materi penulisan sejarah kabuapten lebak, kita mendoakan semoga penulisan ini bermanfaat bagi masyarakat luas. Ulah Pundungan ! Nuhun ... --- Boni Triyana <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > Kawan, > Maaf baru saya balas. > > Pro: Kang Daday, saya tidak pernah menyebut diri > saya ahli sejarah. Kalau dulu saya kuliah sejarah, > iya. Kalo setelah lulus kuliah saya jadi sejarawan, > itu benar. Tapi kalo jadi ahli sejarah, saya tak > pernah mengklaim itu. > > Bung Firman, saya mengenal Anda sebagai penulis > berbakat. Saya membaca karya Anda, "Sayap-sayap > Ababil." Bagus, amat bagus karya Anda. Teruskan! > Saya tahu Anda adik kelas saya, tapi kita tak > terlalu saling mengenal. > > Yang paling membuat saya kaget: Anda mengatakan > saya pernah bekerja sebagai asisten pengajar di > FIB-UI??? Dan pernyataan itu dikemukakan oleh Anda > seolah saya yang mengatakan itu: JADI ASISTEN > PENGAJAR DI UI. Mungkin Anda terlambat masuk milis, > dan lebih percaya "ceunah" daripada membuktikan > sendiri. > > Tidak pernah sekalipun saya mengaku2 sebagai > ASISTEN PENGAJAR DI UI. Harap diketahui, saya > alumnus Undip, mana mungkin bisa jadi asisten > pengajar di UI. Itu ngaco! Jelas saja Endang, kawan > Anda itu, tak kenal saya. Karena toh memang saya tak > pernah ngajar di sana. > > Kalau saya pernah bekerja sebagai asisten peneliti > (untuk Asvi Warman Adam) di LIPI itu benar. Silahkan > saja Anda tanya ke LIPI, Lantai 11, Pusat Penelitian > Politik, Jl. Gatot Subroto Kav. 11 -12. Kalo dari > tanabang, Anda pake metromini 604. Turun di depan > Planet Holywood atau Hotel Kartika Chandra. > Nyebrang, lantas jalan ke kiri. Nah ada gedung > bundar di sana. Masuk saja, naik lift ke lt. 11. > Tanya saja kepada Dhurorudin Mashad (Kordinator > pnelitian, Kabid Tata Operasional), apakah yang > namanya Bonnie Triyana yang orang Rangkasbitung itu > pernah kerja di LIPI sebagai asisten peneliti? > Jangan tanya sama Endang, kalaupun ada nama Endang, > itu Endang Turmudi. Dia di Lantai enam, peneliti > PMB-LIPI. Pasti dia juga tak kenal aku, dan kalau > jawabannya negatif, bisa runyam urusannya. Kini > kontrak saya sudah habis, setelah bekerja selama 1 > tahun di sana. > > Nah, supaya gak simpang siur lagi tentang di mana > saya beraktivitas, saya akan tambah lagi: sekarang > saya bekerja di Harian Jurnal Nasional (Jurnas) > sebagai asisten redaktur (reporter senior). Kalau > masih gak percaya silahkan tanya saja, jangan ke > Endang lagi! Endang mah pasti gak tahu, kasihan dia > kalau disuruh mencari tahu saya terus.Apalagi sampai > bikin "Oning Watch," hihihihihi.... Nanti akan > timbul fitnah lagi. Koran ini Pemrednya Ramadhan > Pohan, dulu koresponden Jawa Pos di Washington. Juga > ada Taufik Rahzen di sini. Kalau masih simpang siur, > main saja ke kantor Jurnas. Dari Tanabang, naik bus > ke Rawamangun. Alamatnya jl. Pemuda No. 34, sebelah > kiri kalo dari Pramuka, sebelah kanan kalo dari Pulo > Gadung. Paling 100 meter dari perempatan Arion Mal. > > Kalau Anda mau nulis, silahkan kirimkan saja > cerpennya ke sini, siapa tahu saya bisa bantu, juga > untuk yang lain (bageur pan aing!).. kirim saja ke > [EMAIL PROTECTED] atau [EMAIL PROTECTED] > Lumayan honornya, beneran neh.. > > Kemudian, Asal Bung Firman tahu, saya tidak pernah > menyatakan keluar dari Tim Penulisan sejarah > Rangkas!!! Masuk saja tidak, bagaimana mau disebut > keluar???? Kalo sebagai konseptor ya! Sebagai > peneliti yang masuk Tim, wah.. gak tuh. Mungkin > lebih lengkap tanyakan Pak Amir (Asda 2), dia > mungkin lebih tahu. Apalagi karena urusan gak > kebagian jatah??? Wah..wah...wah... Anda kemakan > omongan gak bener neh... Lagipula ada hikmahnya > pekerjaan itu tak saya pegang: pertama, akan > mengganggu pekerjaan saya di Jakarta, kedua, banyak > omongan gak bener yang akan melayang kepada saya. > Seratus-dua ratus juta mah kecil, bung.. (saya > bicara dari sudut pandang Soeharto). > > Tanya saja Bung Tebe tentang hal ini. Dia juga > tahu asal-usulnya. Dan keterangannya dijamin bukan > ceunah!!! > > Anda harus menyesuaikan dengan iklim diskusi di > milis ini. Tanya Bung Saprudin atau Bung Sony bin > UGM atau malah Kang GG sendiri (anu sok > pundungan..hihiihi soryy coy..), sehebat apa debat > dan pertentangan kita di milis ini, toh tak sampai > menghujam domain private orang. Bung, Anda masih > muda, demikian saya. Orang Belanda bilang: "Met het > warm hart, en een koel hofdt," hati boleh panas, > kepala harus tetap dingin. Kalo sekedar > celetak-celetuk humor iseng mah jangan sampai > membuat Anda jadi reaksioner begitu... biasa ajaaaa > lageeeeeeeee.... > > Beginilah yang membuat saya kapok "berbakti" di > kampung sendiri. Belum lagi layar terkembang, > gelombang hinaan datang mengguncang.... hihihiih > asoy geboy ah... > > Tabik, > > Bonnie, > Orang Lembur Rangkas di Batavia, bukan asisten > pengajar UI, bukan anak Tryana Syam'un, gak pernah > nerima uang 280 jutaaaaa...(masih ada lagi yang > perlu diklarfikasi??), gak begitu mendalami filsafat > (dua rius ieu mah..) > > "Daday Rahmat Hidayat S, SE" <[EMAIL PROTECTED]> > wrote: > > Saya setuju dengan ungkapan Kang Saprudin, tapi saya > juga agak penasaran, > maka untuk menghindari ghibah, tidak ada salahnya > Kang Boni diberi > kesempatan hak jawab, sebagai klarifikasi. Tapi ulah > panas kitu, ieu mah > sakadar, ngabuktikan siapa gerangan Kang Boni anu > piawai dalam hal sajarah. > ....sok Kang Boni silakan mungkin bisa memuaskan > rekan Firman yang sesama > alumni dan sealmamater... . > OOT, , saya memimpikan ada -pengarang atau siapapun > dari Banten yang bisa > membuat cerita Fiksi yang berdasarkan sejarah... > sepertinya perlu kolaborasi > antara sejarahwan yang ngerti babad Banten, terus > dirangkaikan cerita yang > settingnya Banten, pada zaman dulu, tapi > atmospherenya zaman kiwari... > semoga saja ada ya. > Terima kasih > wassalam. > DRH > Masih ingin berdamai, tapi hanya perlu kejelasan. > > ----- Original Message ----- > From: "SP Saprudin" <[EMAIL PROTECTED]> > > Maaf kawan, lain kali kalau nanya urusan person, > harap jangan di replay ke > semua members, anda harusnya bisa menjaga > personality orang lain. Memang > tujuannya baik, tapi rada-rada menjatuhkan itu mah. > > Cukup kirim ke e-mail yg bersangkutan. Pan urang > sarua urang lembur, ngan > beda tempat, ente Rangkas urang di Bayah. Kitu lah > dak !! > > firman venayaksa <[EMAIL PROTECTED]> menulis: > Bon, kalau ente bener urang lembur, harusnya ente > juga ada di > lembur, kalau nggak jadi sejarawan, minimal nyieun > mie ayam uun atawa baso > ismo. masak, uang 280 juta malah diambil sama Nina > lubis buat membukukan > sejarah lebak. Ente kamana bae ongkoh urang lembur? > malah kaluar ti tim, > hanya gara2 pembagian jatah duit hehehe....jadi > inget "Sajak Seonggok > Jagung" Rendra. > kok urang lembur kayak gitu dak. terus denger2 dari > salah satu member milis > ini, katanya ente jadi dosen/asisten di jurusan > sejarah FIB-UI. tapi kok > sudah tiga tahun aku disana gak pernah ketemu ente > ya. bahkan aku tanya ke > mahasiswa sejarah dari banten, si endang, ga kenal > sama ente. nah lho. > Btw, salam kenal aja deh.aku adik kelasmu di smu 1 > rangkasbitung. ok lupakan > barthes, dan segala macamnya. mungkin aku salah > milis untuk diskusi ginian. > aku cabut aja deh. sori ya bro. > > Salam, > > FV > > Tb Munawar Aziz <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Hueheuheuhe dasar Oning ! > > Pan kita kabeh lagi belajar lain ? ari kamu emang > darimana karah ?? > nggak tau kitu ari Barthes jeung Jaro dainah itu > masih > saudara? > > SOk lah.. ngke urang ngobrol hubungan jaro dainah, > pierce, saussure, Hjemslev, Foucoult, Barthes, Haji > === message truncated === Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com Tetap Semangat Mencintai Banten! Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/wongbanten/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
