Salam Kang Anton...
  Dari analisa sampeyan..
  Memang betul..
  Negara dan Bangsa kita memang di ciptakan mengarah "kekebuntuan"
  Hal ini tentu saja di ciptakan Oleh Para elit....
  Coba kita teliti......
  Siapa elit kita yang mau berkorban untuk Rakyat, angsa dan Negara..
  Kalaupun ada..........ibarat setitik air di padang pasir...
  Pro kontra memang biasa dan hal yang lumrah..
  Toh  perbedaan tersebut merupakan rahmat Tuhan..
  Akan tetapi bagaimana kita menyikapi perbedaan itu dengan hati yang lapang 
dan bersih..Sehingga tercipta suatu pemikiran yang di tata sedemikian rupa 
untuk kemaslahatan umat atau rakyat....
  Baru2 ini saja tersiar kabar santer..
  Bahwa anggota ada DPR kita menjadi calo proposal bencana alam di beberapa 
daerah..
  Memang tujuannya mulia...untuk memperjuangkan hak daerah..
  Akan tetapi kalo "fiktif" bagaimana...........Ibarat mau jadi "dewa" tapi 
malah jadi "Penipu"..He he he...
  Kita memang tidak usah pesimis...
  Selama di dada kita masih ada setitik rasa nasionalisme dan mampu berfikir 
jernih kedepan..
  Untuk kemaslahatan rakyat..
  Hidup INDONESIA.........
  MERDEKA!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
   
  
antonhartomo <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
          <rehat>

--- <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
NASIONALKalau ditarik garis lurus ke depan, rasa-rasanya Indonesia 
ini
mau masuk jurang dan bubar. Sedemikian pesimis kah? Rasa-rasanya
iya. Saya mengamati proses yang terjadi sejak awal 90'an sampai
sekarang, kok rasanya belum ketemu suatu jalan keluar - dan terus
terpuruk dalam anomali yang berkepanjangan. Beberapa analisa yang
bisa saya kemukakan, sbb.:

1. Sejak 1993 waktu dimulainya proses negosiasi globalisasi
(Putaran Marakesh), dunia intelektual barat sudah memberikan
warning, bahwa globalisasi merupakan suatu proses
re-institusionalisasi. Negara yang tidak mampu melakukan
perubahan, adalah negara yang akan merugi . Seandainya-pun
globalisasi tidak disetujui, pola persaingan antar negara juga
akan rumit dan terbawa ke arus blok-blok yang sangat protektif.
Skenario, akhirnya memihak ke persetujuan globalisasi. Bersamaan
muncullah gelombang globalisme yang menyapu dunia dengan ide-ide
HAM, kesetaraan gender, perlindungan buruh, demokratisasi dan
sebagainya. Perubahan institusional, praktis tidak dilakukan oleh
Indonesia (cq. Suharto cs), dan gelombang globalisme melanda yang
mengakibatkan berbagai tekanan. Akhirnya, hanya dengan mainan
US$1 b saja, ekonomi Indonesia jatuh dan runtuh pula sendi-sendi
ekonomi Indonesia.

2. Reformasi dilaksanakan, tetapi modal intelektual yang memimpin
tidak cukup. Metode pendekatan yang strukturalistik tidak
membawa visi tentang re-institusionalisasi secara baik. Reformasi
sekedar perubahan kekuasaan. Pemerintahan tetap dijalankan dengan
visi lama yang condong ke arah strukturalisme. Gejala yang
mengikutinya, terjadinya adalah seperti saat ini. Pada akhirnya
radikalisme berkembang dan salah satunya adalah radikalisme
agama. Kenapa terjadi? Karena intelektualisme sekular ternyata
tidak mampu memberikan solusi atau visi baru terhadap
re-institusionalisi yang bagaimana yang seharusnya terjadi.

3. Suatu kontrak sosial baru (ini pikiran sekuler) merupakan
suatu prasyarat terjadinya re-institusionalisasi tersebut. Suatu
perekayasaan terhadap tata-nilai baru, merupakan salah satu
bagian pokok dari kontrak sosial baru itu. Penataan organisasi,
tidak cukup dengan perubahan Pemilu, DPR dan Kabinet. Tapi
menuntut jangkauan ke level infrastruktur politik, seperti
organisasi-organisasi berkeanggotaan (membership based
organization) dan pendewasaan kelompok-kelompok kepentingan
lainnya. Ini tidak cukup hanya dengan LSM saja. Perubahan sistem
hukum, tidak bisa hanya mempergunakan pendekatan 'perkara',
tetapi pengakuan terhadap standar, kebiasaan, kepatutan, etika
dan iktikat baik - merupakan salah satu sendi yang harus
di-introduksikan. Suatu, gagasan tentang kontrak sosial baru,
praktis masih langka dan ternyata tidak juga muncul
bibit-bibitnya di kalangan elite pemerintahan.

4. Suatu perubahan, atau transisi, akan selalu menuntut adanya
kepemimpinan yang kuat. Pemimpin yang kuat hanya akan terbentuk
kalau visi ke depan bisa dimatangkan di level intelektual, dan
sang Pemimpin mampu mengartikulasi kepentingan bersama dengan
trade off yang jelas. Misalnya, rakyat diminta sabar karena dalam
jangka waktu tertentu (3-5 tahun) akan dicapai suatu kondisi
tertentu yang dapat dipercaya.

Dari analisis tersebut, saya menyimpulkan bahwa bangsa Indonesia
(melalui elite-nya) memang tidak siap untuk melakukan perubahan.
Tekanan eksternal dan internal makin kuat dan snowballing. Kemana
lagi kalau proyeksinya tidak ke arah kebuntuan???

Salam/W.K.

--- End 



         

                
---------------------------------
Yahoo! Messenger with Voice. Make PC-to-Phone Calls to the US (and 30+ 
countries) for 2ยข/min or less.

[Non-text portions of this message have been removed]



Tetap Semangat Mencintai Banten! 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/wongbanten/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke