Kang boni..kalo anda di jurnas... kirim salam saya sama mas Daddy H Gunawan, 
mas Hasto, kang dodi, ato jan prince permata ya...nanti saya cek ya..

"Daday Rahmat Hidayat S, SE" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:          
Terima kasih n hatur nuhun Kang Bonnie atas klarifikasinya. Begitulah cara 
seorang sejarahwan menjelaskannnya. Semoga saja bermanfaat.
Sesuai usul saya, bagaimana kalau bikin fiksi sejarah, yang settingnya tatar 
Banten dan sekitarnya. Kalau di Jawa tengah ada "apai di Bukit Menoreh" , 
mungkin kalau di Banten judulnya, "Mendung di Gunung Karang". Isinya bisa 
saja kenyataan zaman sekarang dengan setting zaman dulu kala. Saya juga 
teringat sorang penulis, yang karangannya sering dimuat di Majalah "STOP" 
dan "SENANG" namanya Hino Minggo. Kalau bikin cerita settingnya kota Serang 
dan sekitarnya.
Terima kasih
Wassalam.
DRH
----- Original Message ----- 
From: "Boni Triyana" <[EMAIL PROTECTED]>
!

>
> Kawan,
> Maaf baru saya balas.
>
> Pro: Kang Daday, saya tidak pernah menyebut diri saya ahli sejarah. Kalau 
> dulu saya kuliah sejarah, iya. Kalo setelah lulus kuliah saya jadi 
> sejarawan, itu benar. Tapi kalo jadi ahli sejarah, saya tak pernah 
> mengklaim itu.
>
> Bung Firman, saya mengenal Anda sebagai penulis berbakat. Saya membaca 
> karya Anda, "Sayap-sayap Ababil." Bagus, amat bagus karya Anda. Teruskan!
> Saya tahu Anda adik kelas saya, tapi kita tak terlalu saling mengenal.
>
> Yang paling membuat saya kaget: Anda mengatakan saya pernah bekerja 
> sebagai asisten pengajar di FIB-UI??? Dan pernyataan itu dikemukakan oleh 
> Anda seolah saya yang mengatakan itu: JADI ASISTEN PENGAJAR DI UI. Mungkin 
> Anda terlambat masuk milis, dan lebih percaya "ceunah" daripada 
> membuktikan sendiri.
>
> Tidak pernah sekalipun saya mengaku2 sebagai ASISTEN PENGAJAR DI UI. 
> Harap diketahui, saya alumnus Undip, mana mungkin bisa jadi asisten 
> pengajar di UI. Itu ngaco! Jelas saja Endang, kawan Anda itu, tak kenal 
> saya. Karena toh memang saya tak pernah ngajar di sana.
>
> Kalau saya pernah bekerja sebagai asisten peneliti (untuk Asvi Warman 
> Adam) di LIPI itu benar. Silahkan saja Anda tanya ke LIPI, Lantai 11, 
> Pusat Penelitian Politik, Jl. Gatot Subroto Kav. 11 -12. Kalo dari 
> tanabang, Anda pake metromini 604. Turun di depan Planet Holywood atau 
> Hotel Kartika Chandra. Nyebrang, lantas jalan ke kiri. Nah ada gedung 
> bundar di sana. Masuk saja, naik lift ke lt. 11. Tanya saja kepada 
> Dhurorudin Mashad (Kordinator pnelitian, Kabid Tata Operasional), apakah 
> yang namanya Bonnie Triyana yang orang Rangkasbitung itu pernah kerja di 
> LIPI sebagai asisten peneliti? Jangan tanya sama Endang, kalaupun ada nama 
> Endang, itu Endang Turmudi. Dia di Lantai enam, peneliti PMB-LIPI. Pasti 
> dia juga tak kenal aku, dan kalau jawabannya negatif, bisa runyam 
> urusannya. Kini kontrak saya sudah habis, setelah bekerja selama 1 tahun 
> di sana.
>
> Nah, supaya gak simpang siur lagi tentang di mana saya beraktivitas, saya 
> akan tambah lagi: sekarang saya bekerja di Harian Jurnal Nasional 
> (Jurnas) sebagai asisten redaktur (reporter senior). Kalau masih gak 
> percaya silahkan tanya saja, jangan ke Endang lagi! Endang mah pasti gak 
> tahu, kasihan dia kalau disuruh mencari tahu saya terus.Apalagi sampai 
> bikin "Oning Watch," hihihihihi.... Nanti akan timbul fitnah lagi. Koran 
> ini Pemrednya Ramadhan Pohan, dulu koresponden Jawa Pos di Washington. 
> Juga ada Taufik Rahzen di sini. Kalau masih simpang siur, main saja ke 
> kantor Jurnas. Dari Tanabang, naik bus ke Rawamangun. Alamatnya jl. Pemuda 
> No. 34, sebelah kiri kalo dari Pramuka, sebelah kanan kalo dari Pulo 
> Gadung. Paling 100 meter dari perempatan Arion Mal.
>
> Kalau Anda mau nulis, silahkan kirimkan saja cerpennya ke sini, siapa 
> tahu saya bisa bantu, juga untuk yang lain (bageur pan aing!).. kirim saja 
> ke [EMAIL PROTECTED] atau [EMAIL PROTECTED] Lumayan honornya, 
> beneran neh..
>
> Kemudian, Asal Bung Firman tahu, saya tidak pernah menyatakan keluar dari 
> Tim Penulisan sejarah Rangkas!!! Masuk saja tidak, bagaimana mau disebut 
> keluar???? Kalo sebagai konseptor ya! Sebagai peneliti yang masuk Tim, 
> wah.. gak tuh. Mungkin lebih lengkap tanyakan Pak Amir (Asda 2), dia 
> mungkin lebih tahu. Apalagi karena urusan gak kebagian jatah??? 
> Wah..wah...wah... Anda kemakan omongan gak bener neh... Lagipula ada 
> hikmahnya pekerjaan itu tak saya pegang: pertama, akan mengganggu 
> pekerjaan saya di Jakarta, kedua, banyak omongan gak bener yang akan 
> melayang kepada saya. Seratus-dua ratus juta mah kecil, bung.. (saya 
> bicara dari sudut pandang Soeharto).
>
> Tanya saja Bung Tebe tentang hal ini. Dia juga tahu asal-usulnya. Dan 
> keterangannya dijamin bukan ceunah!!!
>
> Anda harus menyesuaikan dengan iklim diskusi di milis ini. Tanya Bung 
> Saprudin atau Bung Sony bin UGM atau malah Kang GG sendiri (anu sok 
> pundungan..hihiihi soryy coy..), sehebat apa debat dan pertentangan kita 
> di milis ini, toh tak sampai menghujam domain private orang. Bung, Anda 
> masih muda, demikian saya. Orang Belanda bilang: "Met het warm hart, en 
> een koel hofdt," hati boleh panas, kepala harus tetap dingin. Kalo sekedar 
> celetak-celetuk humor iseng mah jangan sampai membuat Anda jadi reaksioner 
> begitu... biasa ajaaaa lageeeeeeeee....
>
> Beginilah yang membuat saya kapok "berbakti" di kampung sendiri. Belum 
> lagi layar terkembang, gelombang hinaan datang mengguncang.... hihihiih 
> asoy geboy ah...
>
> Tabik,
>
> Bonnie,
> Orang Lembur Rangkas di Batavia, bukan asisten pengajar UI, bukan anak 
> Tryana Syam'un, gak pernah nerima uang 280 jutaaaaa...(masih ada lagi yang 
> perlu diklarfikasi??), gak begitu mendalami filsafat (dua rius ieu mah..)
>
> "Daday Rahmat Hidayat S, SE" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Saya setuju dengan ungkapan Kang Saprudin, tapi saya juga agak penasaran,
> maka untuk menghindari ghibah, tidak ada salahnya Kang Boni diberi
> kesempatan hak jawab, sebagai klarifikasi. Tapi ulah panas kitu, ieu mah
> sakadar, ngabuktikan siapa gerangan Kang Boni anu piawai dalam hal 
> sajarah.
> ....sok Kang Boni silakan mungkin bisa memuaskan rekan Firman yang sesama
> alumni dan sealmamater... .
> OOT, , saya memimpikan ada -pengarang atau siapapun dari Banten yang bisa
> membuat cerita Fiksi yang berdasarkan sejarah... sepertinya perlu 
> kolaborasi
> antara sejarahwan yang ngerti babad Banten, terus dirangkaikan cerita yang
> settingnya Banten, pada zaman dulu, tapi atmospherenya zaman kiwari...
> semoga saja ada ya.
> Terima kasih
> wassalam.
> DRH
> Masih ingin berdamai, tapi hanya perlu kejelasan.
>
> ----- Original Message ----- 
> From: "SP Saprudin" <[EMAIL PROTECTED]>
>
> Maaf kawan, lain kali kalau nanya urusan person, harap jangan di replay ke
> semua members, anda harusnya bisa menjaga personality orang lain. Memang
> tujuannya baik, tapi rada-rada menjatuhkan itu mah.
>
> Cukup kirim ke e-mail yg bersangkutan. Pan urang sarua urang lembur, ngan
> beda tempat, ente Rangkas urang di Bayah. Kitu lah dak !!
>
> firman venayaksa <[EMAIL PROTECTED]> menulis:
> Bon, kalau ente bener urang lembur, harusnya ente juga ada di
> lembur, kalau nggak jadi sejarawan, minimal nyieun mie ayam uun atawa baso
> ismo. masak, uang 280 juta malah diambil sama Nina lubis buat membukukan
> sejarah lebak. Ente kamana bae ongkoh urang lembur? malah kaluar ti tim,
> hanya gara2 pembagian jatah duit hehehe....jadi inget "Sajak Seonggok
> Jagung" Rendra.
> kok urang lembur kayak gitu dak. terus denger2 dari salah satu member 
> milis
> ini, katanya ente jadi dosen/asisten di jurusan sejarah FIB-UI. tapi kok
> sudah tiga tahun aku disana gak pernah ketemu ente ya. bahkan aku tanya ke
> mahasiswa sejarah dari banten, si endang, ga kenal sama ente. nah lho.
> Btw, salam kenal aja deh.aku adik kelasmu di smu 1 rangkasbitung. ok 
> lupakan
> barthes, dan segala macamnya. mungkin aku salah milis untuk diskusi 
> ginian.
> aku cabut aja deh. sori ya bro.
>
> Salam,
>
> FV
>
> Tb Munawar Aziz <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Hueheuheuhe dasar Oning !
>
> Pan kita kabeh lagi belajar lain ? ari kamu emang
> darimana karah ??
> nggak tau kitu ari Barthes jeung Jaro dainah itu masih
> saudara?
>
> SOk lah.. ngke urang ngobrol hubungan jaro dainah,
> pierce, saussure, Hjemslev, Foucoult, Barthes, Haji
> Bai, Haji Chasan, Bu atut, Triyana, ternyata
> bersaudara, lain kitu karah ?
>
> Punten ari urang rangkas lagi diskusi selalu keluar
> "kearifan lokal" nya, lain kitu karah ??
>
> Mangga ..
> nb. Ning ... inget (Udin Petot) supaya nggak lieur
> diskusi Filsafat..
>
> --- Boni Triyana <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
>> Capek aing mah ngomong "intelek" mending urang
>> ngalor ngidul bae dak didieu mah.. ulah mamawa si
>> Pierce, komo si Barthes mah (kiper Perancis lain??)
>>
>> Mun ceuk Jaro Dainah, filsuf ti Cikeusik, ikon tea
>> hartina delan diwadahan kada se'eng. Ari ceuk Haji
>> Chasan mah, semiotika tea hartina proyek pembangunan
>> gedung di propinsi Banten.
>>
>> Tah, beda deui ceuk Haji Bai mah. Ceuk manehna mah
>> simbol tea adalah jalan Kota Rangkas anu
>> dilebarkan... kitu tah..
>>
>> Maklum bae nyah, kami mah budak lembur. Teu wasa
>> ngomong filsafat ala intelek... rada mabok yeuh....
>>
>> punten ah...
>>
>> Oning tea budak lembur...
>>
>> firman venayaksa <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>> sebelum bicara ngalor ngidul, tempatkan
>> dulu "kata"
>> pada tempat yang benar. bedakan antara ikon, simbol
>> dan indeks. tiga istilah ini diambil dari semiologi
>> Pierce (versi Amerika) atau semiotika (versi
>> Barthes)yang pada akhirnya mengakar pada pemikiran
>> yang sama yang dilontarkan aoleh ferdinand de
>> saussure, bapak linguistik. Nah lho pusingnya
>> hehehe...baru ngomong, RD itu simbol, ikon, apa
>> indeks? ayo ngegoogle semuanya....buka lagi kamus.
>> jangan malu buka buku!
>>
>> salam kenal,
>>
>> Firman venayaksa
>> (Presiden Rumah Dunia)
>> http://venayaksa.multiply.com
>> www.rumahdunia.net
>> --- yusuf marwoto <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>>
>> > Kenapa musthi berdebat sih? Ketika perbuatan baik
>> > yang kita lakukan diketahui oleh orang lain, saya
>> > kira tak ada salahnya. Kita tak perlu malu. Namun,
>> > yang salah adalah saat kita berbuat tidak baik dan
>>
>> > diketahui oleh orang lain, kita tidak merasa malu.
>>
>> >
>> > saya tidak tahu secara dekat dengan RD, tapi saya
>> > sering mengunjungi web.nya, dan milis-milis
>> > tetangga. Secara naluri saya merasa RD sudah
>> > berbuat baik. Jadi, apa salahnya ketika ada yang
>> > memberinya label sebagai icon perubahan? gak usah
>> > alergi dengan label. Hidup dimana pasar berkuasa,
>> > label adalah hal yang penting. Tak hanya modal
>> > kapital yang membutuhkan label, tapi modal sosial
>> > juga membutuhkannya.
>> >
>> > Yusuf
>> >
>> > Tb Munawar Aziz <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>> >
>> >
>> > sok aya nu bisa nerjemahkeun teu ?
>> >
>> > he ..ehehe he he.. dont be so ridiculous, all wong
>> > Banten able to understand our beloved local
>> > language,
>> > and how about you ?
>> >
>> > Ikon ? ah saya mah jadi inget charles sanders
>> > pierce... eta tah orang Bojong Soang tea, ceunah
>> > ceuk
>> > manehna Ikon mah acuan nu boga kemiripan rupa,
>> > siga
>> > gambar meong nyaeta ikon tina binatangna
>> > meong.tapi RD
>> > lain meong kan ?
>> >
>> > Heuheuh ... sugan bae nya bener eta RD bisa jadi
>> > ikon
>> > perubahan, ja ikon perubahan banten acan aya nya ?
>> > naon tah ? ayeuna mah pan RD can disepakati jadi
>> > naon-naon ? sugan pas ngumpul bisa ngahasilkeun,
>> > semacam Protokol Ciloang, atau Memorandum, atau
>> > Referendum, atau Proklamasi RD... hehehehe ...
>> > terserah!
>> >
>> > what ever lah .. tapi emang katilast na mah aya di
>> > RD/
>> >
>> > Mangga urang sauyunan kita kumpul, ngopi, ngarokok
>> > (sori kaum anti tembakau), jeung "ngabako" nu
>> > serius,
>> > cegeur jeung hade pikiran pikeun Banten ...
>> >
>> > nb. pokok na mah kami hayang ilu ! (punten teu
>> > tiasa
>> > nymbang Khong Guan jeng sajabina, maklum PKB
>> > (Pengangguran Kelas Berat)
>> >
>> > mangga !
>> >
>> > --- ucu jauhar <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>> >
>> > > Wakakakak...
>> > > Masalah berubah aja ko jadi pada sewot.
>> > > Mo ikon atawa ga, saya rasa RD tetap RD,
>> > > menyebarkan bibit baca.
>> > > Kalo cuma ikon, rasanya sayang. Ikon itu kan
>> > cuma
>> > > simbol, seperti patung yang lebih sering digusur
>> > di
>> > > Banten ini. :-))
>> > > RD itu Ikon perubahan, apa memang motornya
>> > > perubahan?
>> > >
>> > > Kang, dmana tempatnya dan kapan tanggalnya,
>> > lebih
>> > > baik
>> > > diserahkan ke wong banten diluar sana. Soalnya,
>> > > mereka
>> > > memerlukan persiapan waktu yang matang.
>> > Sementara
>> > > kita
>> > > yang ada di Banten atawa yang deket-deket
>> > lokasi,
>> > > bisalah nyempetin diri (kalo kmarin lupa euy).
>> > >
>> > > Masalah babawaan, berhubung dah da yang bawa
>> > khong
>> > > guan, dah da yang bawa kursi, makanan hingga air
>> > > mineral. Bahkan dah da yang bawa konsep, ari
>> > kitu
>> > > saya
>> > > cuma kabagian mawa do'a jeung beuteung bae. :-))
>> > >
>> > > Oe Tjoe - Semangat Pelawan
>> > >
>> > > --- "Jaya, Komarudin"
>> > <[EMAIL PROTECTED]>
>> > > wrote:
>> > >
>> > > > huehahaha
>> > > > bajuri asli
>> > > >
>> > > > -----Original Message-----
>> > > > From: rt.shova kharisma
>> > > > [mailto:[EMAIL PROTECTED]
>> > > > Sent: Sunday, July 30, 2006 9:23 AM
>> > > > To: [email protected]
>> > > > Subject: Re: [WongBanten] Banten Merdeka (RD
>> > IKON
>> > > > PERUBAHAN BANTEN!!!!)
>> > > >
>> > > >
>> > > > let's TRANSLATE it for me, pleaseeee
>> > > > within indonesia language...mr.aziz..
>> > > >
>> > > > --- Tb Munawar Aziz <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>> > > >
>> > > > > meunang teu kami ilu ? ja kami mah aktivis
>> > lain,
>> > > > > pinter henteu, tapi pokok na mah kami mah
>> > hayang
>> > > > ilu
>> > > > > !
>> > > > >
>> > > > >
>> > > > > sok sararieun kami mah lamun aya jalema
>> > pinter
>> > > > > ngumpul, kade aya intel, bisi ditewak..
>> > > > >
>> > > > >
>> > > > >
>> > > > > --- Boni Triyana <[EMAIL PROTECTED]>
>> > wrote:
>> > > > >
>> > > > > >
>> > > > > > KAWAN-KAWAN SEMUANYA,
>> > > > > >
>> > > > > > INI SAYA TULIS PAKE HURUF KAPITAL (TANPA
>> > > ISME)
>> > > > > > SEMUA, BIAR TEGAS BIAR JELAS. RD ITU SALAH
>> > > SATU
>> > > > > IKON
>> > > > > > PERUBAHAN DI BANTEN, ITU BENAR. YANG
>> > > MERAGUKAN,
>> > > > > > MINIMALNYA GAK PERNAH MAEN DAN BERKENALAN
>> > > DENGAN
>> > > > > > CENTENG-CENTENG RUMAH DUNIA.
>> > > > > >
>> > > > > > KALO AKU SETUJU DENGAN PERNYATAAN KANG
>> > GG,
>> > > > LEPAS
>> > > > > > BAHWA KANG GG PENGELOLA UTAMA RD, BAHWA RD
>> > > > ADALAH
>> > > > > > IKON PERUBAHAN DI BANTEN.
>> > > > > >
>> > > > > > DUS, DENGAN MENYATAKAN DIRI SEBAGAI IKON

Disclaimer: Although this message has been checked for all known viruses
using Trend Micro InterScan Messaging Security Suite, Bukopin 
accept no liability for any loss or damage arising
from the use of this E-Mail or attachments.


         

                
---------------------------------
Do you Yahoo!?
 Get on board. You're invited to try the new Yahoo! Mail Beta.

[Non-text portions of this message have been removed]



Tetap Semangat Mencintai Banten! 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/wongbanten/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke