Ass. Wr. Wb.
   
  selamat siang. 
  kemaren pukul 8:30 saya mendengarkan wawancana anggota DPR Komisi VIII 
(Tampubolon) dengan Kepala BPMIGAS (Dr. Ir. Warnika Kardaya) yg disiarkan oleh 
sebuah stasiun radio swasta Jakarta dengan topik bahasan masalah melubernya 
lumpur di Porong, Sidoarjo. salah satu isi wawancara itu adalah Kepala BPMIGAS 
itu lekas mengundurkan diri dari jabatannya. kata anggota DPR itu, pengunduran 
diri merupakan bentuk tanggung jawab moral dari ketidak becusan BPMIGAS dalam 
melaksanakan kegiatan hulu migas. konsekuensi yg sangat logis, jika Kepala 
BPMIGAS mundur daripada menunggu dipecat.
   
  **************************
  ya smua orang suka termasuk saya dgn kebebasan berbicara,  pernyataan dan 
perbuatan yg benar dan kritis yg bermakna perubahan dan perbaikan. kritik 
membangun, koreksi yg bertanggung jawab. pengawasan untuk meluruskan dan 
mencegah penyimpangan. mendukung dan mengembangkan yg sudah baik dan benar, 
dalam rangka amar ma'ruf dan nahi munkar. 
  amar ma'ruf dinyatakan dalam pemihakan dan partisipasi aktif pada kebenara, 
kejujuran, keadilan, kebaikan dan lain-lain. sedangkan nahi munkar berwujud 
dalam bentuk pengawasan, kritik, koreksi, dan pencegahan terhadap penyelewengan 
segala jenis. amar ma'ruf dan nahi munkar adalah bagaikan dua sisi mata uang yg 
berbeda. berlaku bagi tiap individu, masyarakat dan bangsa di negara manapun.
   
  terasa menggembirakan ketika berbuat baik dan benar lalu ada dukungan dari 
teman ataupun lawan. bila ada teman mengingatkan, menasehati atau mengkoreksi 
kesalahan pembangunan itu disebut vokal. Beramar ma'ruf nahi munkar itulah 
vokal. tetapi banyak diantara manusia yg mengharap pujian dan sanjungan serta 
dukungan tapi benci dan menolak kritikan. pujian terasa manis sementara kritik 
itu pahit. dialog atau diskusi sering gagal ketika bicara kritik ditonjolkan. 
tak tahan pahit, karena mungkin tak terbiasa berpahit-pahit selama hidupnya.
   
  sementara itu, orang kadang tak berhasil ketika mengkomunikasikan dukungan 
atau sesuatu yg manis lainnya. tampaknya memang cara atau metode bagaimana 
berkomunikasi dan berdialog itulah yg akan menentukan! apakah bervokal itu 
dengan cara memprovokasi, mengejek atau mengajak? memprovokasi atau mengejek 
itu jelas-jelas dilarang oleh agama.
   
  beberapa waktu lalu seorang anggota DPR RI menyatakan dengan lantang dalam 
rapat komisi dan fraksi, pemerintah telah melanggar UUD 1945 pasal 23 ketika 
pemerintah memutuskan kenaikan harga BBM. pernyataan itu tersebar dan dimuat 
diberbagai mas media cetak. koran atau majalah yang memuat berita tsb laku 
keras dan anggota DPR tsb diberi julukan sebagai orang vokal. kevokalannya 
makin disenangi rakyat banyak, ketika ia dalam berbagai kesempatan membongkar 
borok-borok pemerintah. ia terkenal vokal karena hampir setiap hari memproduksi 
statement politik kritik dan koreksi secara terbuka. produk semacam inilah kini 
laku keras dibeli, dicintai dan ditanggap oleh masyakarat.
  kebebasan bicara  vokal dengan cara mengajak (dan meninggalkan provokasi) 
itulah sesuai dengan selera penyelenggara negara yg harus diawasi, dikoreksi 
atau dikritik, yaitu vokal yang bagaikan tablet/jamu pahit dicampur gula/madu 
penyembuh konstitusional dan pembangunan. vokal dengan cara mengajak itu bijak, 
lebih disukai para pejabat eksekutif pemerintah, meski mungkin belum tentu laku 
masuk tv, koran/majalah apalagi disukai rakyat.
   
  ***********
  dalam perjalanan perpolitikan nasional pasca runtuhnya rezim ORDE BUTUT,  
kebebasan berbicara berupa koreksi atau kritik dengan berani (tembak langsung) 
sudah mulai sudah terlihat giginya (membudaya) melalui dialog/komunikasi, 
diskusi antara wakil rakyat (DPR) dengan pemerintah. 
   
  ************
  disadari,pahit manisnya penggunaan kebebasan berbicara adalah resultant dari 
ukuran-ukuran konstitusi negara, normatif, tradisi dan ukuran-ukuran yang dapat 
dikuantifikasi. dan itu sesungguhnya relatif.
   
  para vokalis DPR RI diingatkan Allah Swt agar menghindari prasangka dan 
menggunjing, provokasi terhadap orang lain :
  "hai orang-orang yg beriman, jauhilah kebanyakan dari perasangka, 
sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari 
kesalahan orang lain dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebahagian yg 
lain. sukakah salah seorang diantara kamu memakan daging saudaranya yang sudah 
mati? maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. dan bertaqwalah kepada Allah. 
sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang" (al Hujurat 12).
   
  dari sekian banyaknya vokalis-vokalis anggota DPR RI, lalu pertanyaannya, 
adakah rumus, juklak dan juknis tentang etika politik, etika kebebasan bicara 
keriktik dan koreksi yang sesuai dengan budaya bangsa?
  barangkali kita semua rakyat Indonesia yg dapat menunjukkan mana cara 
berbicara koreksi atau kritik yg ramah. dan seperti apa vokalis yg manis, 
manis-manis pahit, pahit-pahit manis atau pahit sama sekali.
   
  *******
  "qulil haq walau kana murron" katakanlah yg benar itu walapun pahit sekalipun.
   
  Wassalam.
   
   
   
   
   
   
   


Saprudin
                
---------------------------------
Apakah Anda Yahoo!?
Kunjungi halaman depan Yahoo! Indonesia yang baru!

[Non-text portions of this message have been removed]



Tetap Semangat Mencintai Banten! 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/wongbanten/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke