JEJAK 3
Tak ada senyum angin. Matahari retak. Butir-butir debu berlari sempoyongan
hinggap pada wajah-wajah getir. Bagi bayi-bayi yang lahir di sini, tak nampak
lagi kelucuan, karena kota telah mengajarkan kepada mereka untuk selalu
waspada setiap saat. Para wanita yang keluar dari rumahnya seperti akan
menghadapi perang Badar. Mereka bersiap dengan senjata yang mereka bikin
sendiri, guna mampertahankan kehormatan dari musuh-musuh yang tak nampak namun
siap menyergap kapan saja. Para pria harus lebih kejam dari Hitler, harus siap
membunuh!
Jakarta, kota bengis yang tak pernah memberi tempat buatku. Aku menjadi
makhluk linglung dan bodoh. Di tempat ini semua makhluk punya peran
masing-masing. Ada yang menjadi kerbau, kucing, tikus got, harimau, atau
menjadi semut sepertiku. Setiap hari aku memasang inderaku, berharap ada butir
gula yang bisa melanggengkan hidupku. Kadang aku menunggu bocah ingusan
melemparkan permen dari mulutnya lalu aku pagut sebagai berlian yang sangat
menakjubkan. Tapi lama-lama aku terbentur juga pada tembok kesia-siaan, karena
menunggu hanya untuk orang-orang yang tak ingin berjuang. Pada akhirnya dengan
terpaksa aku harus merayapi tas mereka. Biasanya terselip sebatang coklat yang
leleh, atau apa saja yang bisa aku nikmati. Tentu saja aku hanyalah semut. Ada
banyak semut sepertiku, dan pikiranku dengan mereka tak jauh beda. Rencana kami
mirip, tinggal siapa yang lebih cekatan maka dialah yang bisa menggondol
kemanisan yang melenakan mulut. Ya, rasa manis sangat disukai oleh setiap
semut dan aku adalah salah satu semut yang piawai menemukan rumah gula.
Seharusnya semut seperti kami bergotong royong, mencari makan bersama, memakan
hasil jerih payah bersama pula. Sayangnya para semut seperti kami sudah
meninggalkan tradisi. Kini kami tak lagi seperti dulu. Setiap ada makanan, kami
malah saling baku hantam, saling gigit. Tak ada lagi kebersamaan, tak ada lagi
saling tolong menolong. Walaupun fisik kami semut, namun jiwa kami adalah
harimau. Tak ada rasa belas kasih, tak ada teman, yang ada adalah nafas curiga.
Ya, karena guru kami sama: JAKARTA!
Aku keluar dari rumah kecilku sehabis adzan subuh berkumandang dan
kadang-kadang lembur dan tidur di kantor kadang pulang sehabis adzan isya.
Tentunya aku tak punya waktu untuk beribadah. Aku orang yang belajar sibuk
seperti orang kantoran pada umumnya. Hanya pekerjaan dan tempat saja yang
membedakan. Kalau mereka datang ke kantor megah, full AC, bermain-main dengan
komputer, mencekik lehernya dengan dasi, maka kantorku adalah semua tempat di
Jakarta; mulai dari gerbong kereta, bis-bis, pasar, supermarket yang menawarkan
berbagai aksesoris, pokoknya semua tempat keramaian. Pakaianku cukup kaos
oblong dan jins belel.
Pencuri? Jangan pernah berpikir demikian. Aku hanya mengambil hakku. Bukankah
sebagian dari kekayaan orang-orang adalah milik dhuafa? Nah, aku adalah orang
semacam itu. Suatu kewajaran kalau aku mengambil sebagian dari harta mereka.
Jika mereka sadar dengan agama yang diyakininya, semoga saja mereka ikhlas.
Orang seperti mereka tak ada waktu untuk datang ke tempat asuhan, mencari fakir
untuk membagikan hartanya. Makanya aku proaktif, supaya mereka kian menyadari
bahwa harta yang berlimpah itu akan membuat jiwa mereka sakit. Aku hanya ingin
menolong. Ya, inilah pekerjaanku, menolong orang lain.
Setiap kali aku mengambil hakku, banyak wajah bengis yang lahir dari mereka.
Itulah orang-orang yang tak terlalu meyakini agamanya, tak memahami arti takdir
sesungguhnya, tak kunjung mengerti arti sabar. Tapi untuk orang-orang yang
telah sempurna keimanannya, ketika aku mengambil hakku dari mereka, mereka
malah tersenyum penuh nikmat, dan itulah keimanan yang maha purna.
Aku tak merasa bahwa yang aku kerjakan adalah sebuah dosa, justru dengan
begini banyak orang yang belajar memahami arti hidup. Aku akan merasa berdosa
kalau barang yang aku ambil bukanlah uang atau benda-benda berharga.
Suatu kali, ada seorang perempuan berambut panjang dan cantik yang menggondol
sebuah ransel yang lumayan besar di sebuah kereta jurusan
Jakarta-Rangkasbitung. Tentu saja pikirku mengembara dan menimang-nimang apakah
perempuan itu layak untuk aku ambil tasnya. Setelah aku perhatikan, ia termasuk
orang yang cukup sembrono, menyimpan tas tersebut di atas, tempat penyimpanan
barang. Lama aku perhatikan. Rupanya ia agak kecapean, lalu tidur begitu pulas
di kursi kereta. Dengan cekatan dan kewaspadaan yang tinggi, aku langsung
mengambil tas tersebut. Aku menjadi bajing, loncat menuju gerbong demi gerbong.
Pada stasiun pemberhentian di daerah Tanah Abang, aku segera keluar dan
tersenyum. Tugasku lagi-lagi terlaksana dengan sempurna. Di sela-sela jendela
kereta, aku melihat perempuan itu masih tertidur lelap sekali.
Seperti biasa, sehabis mengambil barang, aku istirahat di sebuah kedai dekat
stasiun. Rokok mulai mengepul, secangkir kopi aku reguk.
Bismillahirohmanirohim. Aku mulai membuka tas, semoga banyak barang berharga.
Setelah aku buka, tak nampak barang berharga yang aku inginkan. Hanya tumpukan
buku-buku tebal dan beberapa lembar beha dan celana dalam warna warni.
firman venayaksa <[EMAIL PROTECTED]> wrote: JEJAK 2
Nama saya Iroh. Saya dilahirkan di kabupaten Lebak-Banten. Di tempat ini saya
hidup dan dibesarkan. Anda tak usah mempertanyakan dengan parameter akademis
untuk mengetahui benak pikiran saya. Anda tak harus memulai pertanyaan apakah
saya sekolah, apakah saya menyandang titel sarjana, atau apakah saya sama
sekali tak mengenyam lingkungan akademis sama sekali. Anda bisa menebaknya
dengan gaya tutur saya. Lagi pula saya tak punya konsep apapun untuk menulis
ini. Bisa jadi nanti akan saya beberkan semua, bisa pula saya hanya menuliskan
secuil hakikat. Saya hanya ingin berbagi dengan Anda, mengenai kehidupan saya,
mengenai lingkungan saya. Saya tak peduli jika tak ada yang berhasrat untuk
membaca tulisan yang menurut Anda tak berharga. Mungkin tulisan ini hanya
luapan kekesalan sebagai seorang manusia yang telah digariskan takdirnya. Atau
mungkin pula tulisan ini memberikan inspirasi untuk menikmati hidup dengan
damai dan tentram. Silahkan memaknai sebebas mentari. Sekarang
saya akan memulainya, menceritakan apapun yang mengalir dalam sungai hati saya.
Bagi orang yang sudah membaca Max Havelaar yang ditulis oleh Multatuli dua abad
silam, nama Lebak pasti tak asing lagi dalam benak Anda. Sebuah tempat yang
sehari-harinya diselingi dengan penindasan, kesewenang-wenangan, pemerasan,
lendir-lendir ketakutan yang hadir melekat akut pada setiap mata penduduk,
keterbelakangan yang paling sublim dan berbagai borok lainnya yang selalu
menyelinap dalam hati, mengiris-iris peradaban. Setidaknya gambaran nyinyir dan
nanar seperti itulah yang diungkapkan Multatuli dalam bukunya.
Sebagai penduduk Lebak, tentu saja saya sangat berterimakasih kepada Multatuli,
karena dengan tulisannya, nama Lebak menjadi banyak dikenal, termasuk di luar
negeri. Bahkan menurut kabar, tulisannya menjadi bahan bacaan wajib para
pelajar di Belanda. Sayangnya keterkenalan Lebak dikarenakan rasa pahit itu,
bukan butiran gula yang nikmat untuk dikecap. Lebak menjadi objek pelengkap
penderita, menjadi bangkai busuk yang menakutkan setiap dengusan hidung. Setiap
saya membaca tulisan Multatuli, saya ingin bertemu dengannya, lalu saya bisikan
kepadanya, Lebak masih sesuai dengan namanya, selalu di bawah, karena Lebak
sudah ditakdirkan Sang Cahaya. Tak ada yang bisa dilakukan oleh Anda, pun saya.
Bisik saya lirih saja, karena teriakan tak akan mampu menyelesaikan apapun.
Ingin pula saya mengatakan kepadanya, sekarang Indonesia telah merdeka. Para
pemberontak dalam istilahmu itu, kini sudah menjadi pahlawan di mata saya dan
penduduk. Tuhan segala balatentara yang ikut berperang dibawah panji-panji
Belanda menurut bahasa indahmu itu, tetaplah penjajah di mata saya dan
penduduk, termasuk dirimu wahai Multatuli! Sehebat apapun engkau bersimpati
terhadap penduduk Lebak, tapi jiwamu tetaplah jiwa juragan penjajah yang punya
hasrat untuk menguras segala apa yang kami punya. Pikiranmu telah
terkontaminasi dengan gold, gospel dan glory. Jika kamu benar-benar tidak ingin
menjajah, lantas mengapa kamu datang kemari? Tapi sudahlah, setidaknya kamu
sudah menebus kesalahanmu sebagai penjajah dengan mengungkapkan apa yang sempat
dirasakan oleh penduduk Lebak. Lagi pula hanya darimu saya mengenal
Saijah-Adinda. Terimakasih.
***
Rasa cinta saya terhadap Lebak mungkin keterlaluan, tapi semua orang akan
mengalami hal yang sama jika berbicara tentang kampung halamannya. Jika saya
diberi gelar oleh Anda sebagai seorang puritan, maka gelar itu memang layak
saya terima. Saya justru menyukai gelar ini. Apa lagi jika saya disebut sebagai
manusia dengan pikiran klasik. Ah, betapa bangganya mendengar berita itu. Saya
merasa tentram ketika melihat para petani mengais rizki setiap pagi. Bersiap
dengan cangkul dan berbagai keperluannya, menikmati hamparan padi. Otot-otot
mereka yang kuat dan legam terus mengimani pekerjaannya, istri-istri mereka
dengan suka cita ikut berbaur menuju petak sawah, sambil menyiapkan makanan
jika sang suami letih karena bermandi bulu-bulu cahaya sang surya. Tak ada
keluh kesah, karena bagi mereka bekerja adalah ibadah, sama religiusnya dengan
bersetubuh dan sholat lima waktu.
Siang hari sepulang sekolah, jika Anda kemari, Anda akan melihat siswa-siswa
yang berseliweran di jalan raya. Remaja yang sedang belajar mencari identitas
diri ini mempunyai keunikan tersendiri. Saya suka tersenyum melihat mereka.
Saya ingat bagaimana saya menghabiskan waktu remaja di tempat ini. Biasanya
saya dan teman-teman pergi ke tempat makan sambil ngerumpi segala macam hal,
terutama jika bicara tentang lelaki.
Di Lebak tak ada makanan cepat saji seperti Kentucky Fried Chicken atau Mc
Donalds. Kami terbiasa berkumpul di mi ayam Uun, sebuah tempat kecil, namun
banyak pengunjungnya. Ada pula bakso Ismo, bakso paling lezat di Rangkasbitung.
Jika haus, saya masuk ke daerah pasar, tempat kedai Mang Muin yang dengan
senyum bersahajanya membuat jiwa tentram dan tentunya es campurnya yang
sensasional, lekas menghilangkan dahaga.
Lalu Anda akan melihat anak-anak yang berlarian di tepi sungai Ciujung jika
sore menjelang, kemudian mereka berenang, saling melempar senyum kudus mereka,
berbagi harap. Ah, betapa mesranya Lebak. Namun ada yang saya takutkan. Saya
takut drama melankolik ini tersapu oleh orang-orang tak bersahabat yang dengan
pemikiran iblis kapitalisnya menyebarkan virus-virus akut. Saya takut penyakit
modernitas mampir kemari dan membuat sensasi yang menegangkan bulu kuduk
seperti di daerah Cilegon dan Tangerang. Tentunya ketakutan saya beralasan. Dan
celakanya, ketakutan itu mulai menjadi nganga yang tiba dengan pasti.
Mengungkapkan hal ini bukan berarti saya penganut anti modernitas karena hal
demikian memang tak bisa dibendung. Yang saya soalkan adalah ekses sosial dari
kehidupan modernitas.
Saya tidak tahu apakah Multatuli akan berang dengan semua ini. Namun lahirnya
supermarket yang sebentar lagi tegak di pusat kota Rangkasbitung membuat hati
saya tak karuan. Sebagian orang bisa jadi bangga karena Rangkasbitung sudah
mempunyai sarana perbelanjaan, tidak perlu lagi pergi belanja ke Serang atau
Cilegon untuk beli pakaian berkualitas buat lebaran atau sekedar jalan-jalan
saja. Namun di pihak lain, saya merasakan ada skenario yang tidak layak untuk
diperagakan. Dengan hadirnya supermarket, tidak berapa lama lagi generasi Lebak
yang tadinya puritan seperti saya akan menjadi korban modernitas. Ah, ketakutan
yang sulit dihindari.
Semakin lekat saya menatap bangunan itu, semakin tercabik pula hati saya. Dan
apa yang terjadi sekarang? Bangunan supermarket yang baru jadi 50% itu kini
malah di buka. Padahal masih banyak yang harus diperbaiki. Dan Anda tahu apa
yang terjadi di sana? Mereka tak hanya membuka toko pakaian, mereka menyiapkan
juga fasilitas mainan untuk anak-anak. Game station mereka bilang. Anda bisa
menebak siapa yang datang ke tepat itu. Anak-anak yang polos itu, yang biasa
berenang di Ciujung datang berbondong-bondong. Menghabiskan uangnya demi
permainan yang tak jelas untuk apa. Hadir pula para remaja yang biasanya
sepulang sekolah mereka nongkrong di mi ayam Uun, bakso Ismo dan kedai es Mang
Muin, kini ikut berjejalan di supermarket setengah jadi itu. Mereka--sendiri
maupun bergerombol --datang ke sana, melihat-lihat etalase pertokoan.
Celakanya, istri para petani yang seharusnya menunggu sang suami di tempat
peristirahatan, di samping petak-petak sawah, kini ikut nimbrung, melihat
pakaian-pakaian impor dan sisa ekspor atau sekedar belajar naik eskalator, buat
head line gosip ketika waktu senggang yang tak kunjung selesai itu. Apa saya
layak untuk menghentikan semua ini? Tentu saja tidak. Saya bukan siapa-siapa,
pekerjaan saya bukan apa-apa.
firman venayaksa <[EMAIL PROTECTED]> wrote: Salam. Khusus untuk Wong Banten,
mohon izin untuk memposting novel saya secara bersambung...hingga novel ini
benar-benar usai. Entah 1 minggu, sebulan, setahun, atau mungkin hingga tak
sampai selesai. (lebih khusus lagi, novel ini dipersembahkan kepada orang-orang
arogan yang pandai membadut dan orang-orang baik yang khidmat memuji).
Salam,
Firman Venayaksa
===================================
JEJAK 1
Asing. Sebuah kata yang nampaknya nikmat untuk didiskusikan, namun sama sekali
tak layak untuk dilaksanakan dalam dunia yang carut marut. Mengapa harus ada
keterasingan ketika hiruk pikuk manusia sibuk menerbangkan angan-angannya
masing-masing? Celakanya aku terus dibayang-bayangi oleh keterasingan itu,
menguntitku, seolah-olah ia malaikat bersayap yang asyik nongkrong di bahuku
menulis kebaikan dan keburukan. Aku tak ingin menjadi orang asing. Demi Tuhan,
aku tak sudi.
Sebetulnya sudah lama aku melupakan pertanyaan ini. Siapa aku? Pertanyaan
klasik dan tak mencerdaskan. Seharusnya orang sepertiku tak lagi bicara
mengenai diri sendiri. Seharusnya aku mengatakan apa yang bisa aku lakukan
untuk umat manusia. Namun tak juga kata-kata itu hadir dalam benak pemikiranku.
Aku lebih menyukai pertanyaan klasik itu, karena klasik berarti eksotik, dan
eksotik seharusnya menumbuhkan alienasi sakral. Tapi tidak buatku. Nampaknya
aku harus bunuh diri karena tak sanggup memahami diri sendiri. Pertanyaan lain
menyelinap sehabis pernyataan itu. Sehabis bunuh diri apakah aku mampu
menemukan jati diriku yang sebenarnya? Lalu apakah dunia sehabis di tempat ini
indah ataukah justru sebaliknya? Lebih membosankan dan tak arif untuk dijalani?
Ya, itulah yang tak bisa aku pecahkan dan pada akhirnya asing kembali menjadi
temanku. Asing kembali menjadi iblis yang meraung-raung dalam palung jiwa,
bernostalgia diselingi alunan musik remah-remah ketakutan.
Asing dan takut seperti gambar yang saling bertautan dalam koin logam. Mereka
punya sisi yang sama kuat. Lima puluh persen untuk asing, lima puluh persen
lainnya untuk takut. Koin itu adalah jiwaku. Jiwa bodoh yang tak pernah
memahami dirinya. Jiwa yang tersedak kotoran-kotoran.
Apakah aku layak pula dikatakan sebagai kotoran? Jawabannya tergantung cuaca.
Jika cuaca sedang baik, aku bisa berlayar, menjadi nelayan yang cekatan,
menjaring ikan-ikan di samudra. Namun jika cuaca tak berpihak kepadaku, apapun
yang tak kotor akan mendadak kotor di mata siapapun. Jadi jelas, pada akhirnya
aku serahkan pada cuaca.
Bosan.
Tiap saat aku selalu meracau seperti ini.
Jika aku menjadi seorang filsuf atau sufi, mungkin perkataanku banyak dicatat
orang-orang, dijadikan referensi yang agung dan menakjubkan. Tapi inilah yang
aku sebut dengan cuaca, aku tak layak menjadi panas atau hujan, angin atau
badai, samudera atau sekedar rintik gerimis. Cuaca tak pernah berpihak kepadaku
dalam hal ini. Orang-orang menganggapku sebagai bocah ingusan yang ingin
membeli mainan atau merengek karena mainannya rusak. Menangis karena
robot-robotannya sudah ketinggalan zaman. Setiap perkataanku dianggap bualan
semata. Padahal setiap perkataan yang terlahir dari pemikiran adalah mutiara
yang sulit dicari tandingannya, dari dasar lautan sekalipun.
Jadi beginilah aku kiranya.
Menjadi kutu busuk, menjadi laron-laron yang belingsatan tak karuan, menjadi
rumputan tandus. Kata orang aku sama sekali tak punya identitas. Kata apa lagi
ini? Identitas! Mereka bilang aku tak punya alamat tinggal yang jelas. Mereka
bilang aku pengembara yang tak saleh karena tak ada tempat yang dituju,
sedangkan pengembara saleh itu sudah jelas tempat yang akan dijadikan sebagai
gubuk terakhirnya. Tentu saja aku berang mendengar pernyataan ini. Apa yang ada
dalam benak mereka? Begitu mudahnya menghakimi seseorang. Ataukah semua orang
ingin menjadi hakim? Lantas hanya aku sendiri yang menjadi terdakwa? Sendirian?
Tak ada teman? Tak ada pengacara? Manusia yang ada di sekelilingku sudah
merangkak murtad rupanya. Mereka sama denganku, tak memahami hakikat hidup.
Setiap orang adalah pengembara. Masalah tujuan itu diserahkan pada jalan yang
ditempuh oleh masing-masing. Jika jalanku berbeda dengan jalan orang lain,
mengapa harus dikatakan bahwa aku salah memilih jalan?
Bukankah jalan yang mereka yakini belum tentu jalan menuju keselamatan? Inilah
sebentuk kesombongan yang selama ini menjadi perhiasan yang diagung-agungkan.
Sungguh masygul dan mencengangkan!
Jika saja manusia tak diberi akal, sepertinya akan menjadi kehidupan menarik,
setidaknya menurutku. Manusia tak ubahnya binatang, dan dalam frame binatang,
segala sesuatu menjadi nikmat adanya. Bisa jadi manusia tak lagi mengenal dosa.
Ini yang paling penting. Setiap pekerjaan yang dilakukan oleh manusia tidak
terbebani dengan sebuah dosa. Manusia bisa melakukan apa saja sesuai dengan
nalurinya. Wah gila. Jika manusia tak berakal, lalu apakah aku masih mempunyai
keinginan yang selama ini sering terlahir dari mimpi-mimpi sialan itu? Apakah
binatang bermimpi? Jika ya, lalu bagaimana mereka mewujudkan mimpinya itu? Jika
tidak punya mimpi mengapa binatang harus tetap hidup?
Kalau dipikir-pikir, betul juga kata orang-orang. Aku memang seperti anak-anak.
Selalu mempertanyakan sesuatu yang sudah jelas. Menggugat sesuatu yang sudah
hakiki keberadaannya. Mengapa begini? Mengapa begitu? Puih, aku terlalu banyak
ini-itu!
Mutilasi.
itu masalah keberanian.
Jika keberanian bersemayam dalam dadaku, aku ingin memutilasi seluruh bagian
tubuhku menjadi bagian-bagian yang terpisah. Jika aku berpikir tentang hidup,
aku ingin otakku yang terkontaminasi segala tetek bengek teori ini disimpan
untuk sementara waktu dalam rak berdebu. Agar pikiranku lebih orisinil. Jika
aku bertindak, aku ingin tanganku disimpan untuk sementara waktu. Tanganku
terlalu kotor untuk menerima keadaan yang cukup mengernyitkan dahi. Jika
berjalan, aku ingin kaki dicopot barang beberapa hari, agar aku bisa lebih
cerdas dalam menapaki bebatuan dan jalanan yang terjal. Aku ingin mataku
dicungkil, lalu aku simpan di lemari es jika aku melihat kejadian. Aku takut
mataku tak kuasa mengimani episode hidup yang getir dan sama sekali tak
bersahaja. Sesekali aku ingin pula membuka dada, lalu aku cerabut hatiku yang
terlalu protektif itu. Aku simpan baik-baik, agar aku bisa merasakan kegalauan
dengan sempurna. Sayangnya aku tak punya keberanian semacam itu. Keberanian
itu hanya lahir dari mimpi. Setelah aku terbangun, keberanian itu lunglai.
***
Lalu aku menjadi seorang kembara, menuju sebuah hutan lebat yang teduh namun
menakutkan. Pakaianku tak jelas warnanya, kadang putih, tiba-tiba berubah
menjadi legam. Sebuah kain bercorak ketakmengertian mencekik kepalaku. Mataku
penuh waspada menyapu ke sebuah bukit, agak samar aku lihat. Sesekali aku
menoleh ke belakang. Rasa-rasanya ada yang menguntitku. Setiap aku menoleh
sekelabat bayang lari ke semak belukar. Ketika mataku kembali ke depan, aku
merasakan bayang itu datang seperti mau memelukku dengan erat. Kejadian itu
terus berlanjut sampai aku menuju sebuah muara sungai yang begitu indah. Aliran
sungai bening membentang dan bergemericik. Kicau suara burung aneh terus
menghantui telingaku, pun dengan binatang hutan lainnya. Aku merasakan
kedamaian hinggap dalam aortaku, melesat melewati urat nadi, menuju degup
jantung yang dialirkan ke seluruh pekat darahku. Aku masih terpesona dengan
sungai itu. Berusahalah tanganku menggapainya, berencana mengambil air barang
setangkup. Tiba-tiba sebuah bayangan hitam dengan gontai telah berada di
sampingku. Ia hanya melihat saja. Tak ada yang ia ucap, tak ada yang ia laku.
Matanya nyalang, nyalang matanya. Menyambar wajahku, wajahku disambarnya. Aku
terkesiap, terkesiaplah aku. Ubun-ubunku musnah, musnah ubun-ubunku. wajahku
tak karuan bentuknya, tak karuan bentuknya wajahku. Aku takut, takut aku. Tapi
demi Tuhan, ia tak berkehendak menakutiku. Aku tahu dari sungai wajahnya. Aku
tahu dari laut wajahnya. Aku tahu dari samudera wajahnya.
Hanya..mata..itu..mata itu menyerabut sukmaku. Ia memisahkan sukma dan jasadku.
Jasadku lemah kemudian terpuruk di tanah basah. Sukmaku! Mata itu mencuri
sukmaku. Aku...aaaaa...aaaaa....
Aku terbangun dari mimpi sialan itu. Entah keberapa kalinya aku bermimpi hal
yang sama. Mimpi kurang ajar yang membuatku benci tidur. Sayangnya aku tak bisa
melawan sebuah rasa bernama kantuk yang kian menyilet mata. Terpaksa aku hilang
sadar, dan ketika hilang sadar itulah mimpi itu tersenyum dramatis, menyelinap
masuk, membuat layar tancap dengan film murahan yang diakhiri dengan teriakan
ketakutan seperti barusan.
Seperti biasa pula seorang wanita setengah baya yang aku sebut ibu datang
membawa secangkir air putih dan selalu berkata seperti ini,
Mimpi buruk lagi? Sudah, jangan terlalu risau. Mimpi itu rasa cinta karuhun
kepadamu. Risau bukanlah obat mujarab untuk menenangkan hidup kita ucapnya
seraya memeluk tubuhku yang penuh peluh. Ia mengusap rambutku kemudian berujar,
Minum dulu supaya lekas tenang. Tenagamu terkuras habis.
Suatu kali pernah aku memakai minyak angin dan bawang bombay, aku racik lalu
aku gosok-gosokan di selangkangan mataku supaya aku terjaga saban hari.
Celakanya aku harus ke dokter mata karena mataku perih dan bengkak. Mataku
malah diperban dua-duanya. Di kegelapan itulah, kendati aku tak tidur, layar
tancap dengan film murahan datang kembali, dan aku tak punya daya untuk menolak
kehadirannya.
---------------------------------
Groups are talking. We´re listening. Check out the handy changes to
Yahoo! Groups.
[Non-text portions of this message have been removed]
---------------------------------
Yahoo! Messenger with Voice. Make PC-to-Phone Calls to the US (and 30+
countries) for 2¢/min or less.
[Non-text portions of this message have been removed]
---------------------------------
Stay in the know. Pulse on the new Yahoo.com. Check it out.
[Non-text portions of this message have been removed]
Tetap Semangat Mencintai Banten!
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/wongbanten/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/