<http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2006/_img/pr-head.gif> 

        
        

24 MARET 1966
24 MARET 2006

        
  <http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2006/_img/logo_5windupr.gif> 

        
  <http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2006/_img/770g01.gif>    

        Rabu, 06 September 2006         
Edisi Cetak

        
  <http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2006/_img/770g02.gif>    
        

        

        
> RUBRIK        
Utama <http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2006/092006/06/01-utama.htm>

Bandung  <http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2006/092006/06/02-bandung.htm>
Raya    
Jawa  <http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2006/092006/06/03-jabar.htm>
Barat   
Dalam
<http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2006/092006/06/04-dalamnegeri.htm>
Negeri  
Ekonomi  <http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2006/092006/06/06-ekonomi.htm>
& Keuangan      
Pendidikan
<http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2006/092006/06/07-pendidikan.htm>  
Olah  <http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2006/092006/06/08-olahraga.htm>
Raga    
Opini <http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2006/092006/06/09-opini.htm>

Hiburan <http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2006/092006/06/10-hiburan.htm>


        
> SUB RUBRIK    
Tajuk  <http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2006/092006/06/99tajuk.htm>
Rencana 
Kolom <http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2006/092006/06/99kolom.htm>  
Info  <http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2006/092006/06/99infokita.htm>
Kita    
Berita
<http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2006/092006/06/99beritakeluarga.htm>
Keluarga        
Forum  <http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2006/092006/06/99forumguru.htm>
Guru    
Bintang <http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2006/092006/06/99bintang.htm>

Agenda  <http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2006/092006/06/99agenda.htm>
Hiburan 
Apa  <http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2006/092006/06/99apasiapa.htm> &
Siapa   
Surat
<http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2006/092006/06/99suratpembaca.htm>
Pembaca 
Sekilas
<http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2006/092006/06/99sekilasbandung.htm>
Bandung 
Sekilas
<http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2006/092006/06/99sekilasdaerah.htm>
Daerah  
Sekilas
<http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2006/092006/06/99sekilasdalamnegeri.htm
> Dalam Negeri  
Sekilas
<http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2006/092006/06/99sekilasekonomi.htm>
Ekonomi 
Sekilas
<http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2006/092006/06/99sekilaspendidikan.htm>
Pendidikan      
Sekilas
<http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2006/092006/06/99sekilasolahraga.htm>
Olah Raga       

        
> WEBMAIL       
pikiran-rakyat.com
<http://www.pikiran-rakyat.com/squirrelmail/src/login.php>      
pikiran-rakyat.co.id <http://www.pikiran-rakyat.co.id/webmail>  

        
> ARSIP 
Pikiran  <http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2006/2006-pr.htm> Rakyat  
Teropong <http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2006/2006-teropong.htm>   
Selisik <http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2006/2006-selisik.htm>     
Belia <http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2006/2006-belia.htm>         
Gelora <http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2006/2006-gelora.htm>       
Kampus <http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2006/2006-kampus.htm>       
Cakrawala <http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2006/2006-cakrawala.htm>

Otokir <http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2006/2006-otokir.htm>       
Khazanah <http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2006/2006-khazanah.htm>   
Hikmah <http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2006/2006-hikmah.htm>       
Pe  <http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2006/2006-percil.htm> eR Kecil 
        
        
        
> OPINI 
Buang Lumpur Lapindo ke Laut!
Oleh Prof. Dr. R. KOESOEMADINATA 


TIDAK ada bencana yang sangat menarik perhatian dengan munculnya semburan
lumpur panas di Sidoardjo. Boleh jadi semburan itu dipicu oleh kegagalan
pengeboran eksplorasi sumur Banjar Panji-1 oleh PT Lapindo Brantas dalam
usaha pencarian minyak dan gas bumi di daerah. 



Terlepas apakah penyebab semburan ini adalah keteledoran para ahli
pengeboran Lapindo Brantas atau apakah pengeboran yang gagal ini sekadar
pemicu akan terjadinya gejala ini (mungkin nantinya pengadilan yang bisa
memutuskan), yang menarik perhatian adalah gejala semburan lumpur ini yang
boleh dikatakan unik di dunia. Yang jadi masalah adalah jumlah cairan yang
konon terdiri dari 70% air dan 30 zat padat yang membanjiri daerah Sidoardjo
dan mengancam permukiman serta melumpuhkan perekonomian, khususnya industri
dan transportasi di daerah sekitarnya. Jika tidak ada pencemaran lingkungan,
penyelesaiannya sederhana saja. Alirkan lumpur panas yang toh akhirnya akan
mendingin juga ke laut, ke Selat Madura, dari mana lumpur itu berasal.

Dalam media massa dikhawatirkan bahwa lumpur itu mengandung zat berbahaya
dan beracun, antara lain kadar Hg (air raksa) yang tinggi. Sebagai seorang
ahli geologi saya heran, bagaimana lumpur yang berasal dari perut bumi bisa
mengandung zat-zat tersebut? Rekan saya dari Tim Independent Ikatan Ahli
Geologi Indonesia (IAGI) telah mengambil contoh lumpur langsung dari lokasi
semburan. Mereka mengatakan, analisis kimia serta lainnya tidak menunjukkan
kehadiran Hg atau logam berat lainnya (paling tidak semuanya jauh di bawah
0,10 mg liter). Hasil mikropaleontologi menunjukkan bahwa lumpur itu
mengandung fosil foraminfera (cangkang zat renik bersel satu) yang dahulu
hidup di lingkungan laut yang sama dengan di Selat Madura.

Sejak dahulu para ahli geologi Belanda seperti Van Bemmelen (1949)
menyatakan bahwa beberapa ratus ribu bahkan lebih 1 juta tahun (zaman
Pleistocene) Selat Madura itu menjorok jauh ke barat hampir sampai Kota
Semarang. Sungai-sungai seperti Bengawan Solo dan lain-lain bermuara di
Selat Madura purba ini mengendapkan sedimen seperti pasir dan lumpur sebagai
delta pada pantainya yang berangsur-angsur terjadi pendangkalan. Daratan pun
bertambah ke arah pantai Selat Madura dekat Sidoardjo. Jadi pendangkalan
serta penambahan daratan ke arah Selat Madura memang sudah terjadi secara
alami. Bahkan konon Bengawan Solo juga dulunya mengalir ke Selat Madura yang
sekarang disebut Kali Brantas, dan oleh Belanda dialihkan ke arah utara yang
sekarang disebut Ujung Pangkah. Pada ujung ini terjadi suatu delta yang
praktis dilatakan sebagai delta yang dipicu ulah manusia.

Jadi sebetulnya dengan megalirkan lumpur ke arah Selat Madura saya yakin
akan terjadi proses alami dan tidak mencemari lingkungan, karena lumpur
Lapindo itu material yang berasal dari endapan Selat Madura kuno, dan
sekarang dikembalikan ke Selat Madura modern. Yang akan terjadi mungkin
adalah percepatan dalam pendangkalan serta majunya pantai barat Selat
Madura, yang toh secara alami sedang berlangsung.

Dalam hal ini tentu yang jadi masalah adalah apakah yang disebut pencemaran
lingkungan? Kalau limbah kimia atau limbah industri ataupun dari aktivitas
manusia yang bersifat asing, saya sangat setuju untuk dinyatakan sebagai
pencemaran lingkungan yang harus dicegah sekuat tenaga. Contoh-contoh
seperti Chernobyl. Peledakan pabrik kimia di India, tumpahnya minyak dari
tanker Exxon Valdez dst., itu betul-betul dapat dinyatakan sebagai
pencemaran lingkungan yang berat. 

Tetapi dalam hal lumpur Lapindo, kita ini menghadapi zat atau bahan bumi
(earth material) yang akan dimasukkan ke dalam lingkungan yang kebetulan
sama juga dengan lingkungan di mana lumpur itu terbentuk. Kekhawatiran akan
rusaknya biota dsb. adalah sangat berlebihan dan boleh dikatakan merupakan
paranoid yang sedang melanda kita semua, khususnya para ahli lingkungan.
Dari prinsip dasar ilmu geologi saja kita tahu bahwa lingkungan kita itu
tidak pernah tetap, gejala-gejala alam yang lambat maupun yang bersifat
mendadak, seperti erupsi gunung api dapat "mencemari" lingkungan, merusak
biota bahkan menyebabkan kepunahan spesies bahkan sampai kategori kelas pun
(Ingat punahnya dinosaurus?). 

Dalam hal ini apakah suatu letusan gunung api di pantai yang menyemburkan
abu serta lava pijar kelaut serta memusnahkan biota di tempat itu dapat
dikatakan pencemaran lingkungan? Ini sering terjadi di Hawaii dan gunung api
lainnya di Pasifik. Apakah letusan G. Merapi yang menghamburkan awan panas,
abu dan gas yang beracun (saya yakin banyak gas H2S) serta mematikan
kehidupan di daerah sekitarnya dianggap pencemaran lingkungan? Gunung-gunung
api yang tidur pun seperti G. Tangkubanparahu di utara Bandung dan banyak
lagi di seluruh Indonesia, bahkan di dunia setiap harinya menghamburkan
belerang murni dalam bentuk gas maupun gas H2S entah berapa ribu ton ke
atmosfer. Tetapi tidak ada ahli lingkungan yang peduli serta
mempermasalahkan acid rain, hujan asap ditimbulkan. Pada waktu G. Krakatau
meletus dengan dahsyatnya pada tahun 1883 seluruh biota di lereng gunung itu
hancur dan memusnahkan kehidupan. Namun hanya dalam beberapa puluh tahun
saja kehidupan sudah pulih kembali, karena kekenyalan (resilience) dari alam
itu sendiri untuk mengembalikan keseimbangan lingkungan.

Dalam hal semburan lumpur Lapindo ini memang merupakan gejala unik. Boleh
jadi saja semburan liar ini disebabka atau dipicu oleh kelalaian pengeboran
pada Banjar Panji-1, namun gejalanya sendiri lebih merupakan gejala alam
yang menyangkut bahan alami bukan bahan asing untuk lingkungan bumi. Banyak
para ahli geologi yang menganalogikan semburan lumpur ini dengan gejala alam
yang disebut mudvolcano yang banyak tersebar di Indonesia (khususnya di
Indonesia Timur dikenal dengan istilah poton), bahkan di Jawa Timur Utara
pun banyak diketemukan, seperti Bleduk Kuwu dekat Purwodadi, G. Anyar dekat
Surabaya bahkan di selatan Porong, yang di masa lalu menyemburkan lumpur
tetapi sekarang sudah mati. Tentu pada waktu itu lumpur itu mengalir dengan
sendirinya dan berakhir di laut dan ini merupakan gejala alamiah saja.
Mungkin pada waktu itu belum ada KLH atau LSM-LSM lingkungan, bahkan manusia
pun pada waktu itu belum ada untuk memproses pencemaran lingkungan.

Dalam hal semburan lumpur di Sidoarjo, seandainya tidak ada bangunan seperti
jalan, perumahan, pabrik dsb. secara alamiah lumpur itu akhirnya akan
mengalir ke laut (Selat Madura) juga. Saya yakin dalam kadaan sekarang
lumpur panas ini dapat dialirkan dengan aman dalam saluran terbuka ke Selat
Madura, tidak perlu dalam pipa (yang berpotensi untuk tersumbat), bahkan
dialirkan lewat Porong, yang konon adalah lebih tercecer oleh limbah
industri dari pada lumpur dari semburan yang masih murni.

Water treatment yang diusulkan sebelum dialirkan ke laut adalah tidak masuk
akal. Kalau memang harus dilakukan treatment, ya hasilnya tidak dibuang ke
laut, dijual saja ke PDAM atau perusahaan air kemasan. Jadi sebetulnya
mengapa masalah sederhana malah dijadikan sulit? Mungkin terpengaruh iklan
rokok tertentu. Tentu banyak orang berprasangka adanya oknum-oknum tertentu
yang mencari keuntungan dalam kesempitan.

Sebagai penutup saya usulkan KLH mengkaji ulang pengertian mengenai apa yang
disebut pencemaran lingkungan. Sebaiknya para ilmuwan yang betul-betul
mengerti mengenai proses alam seperti para ahli geologi juga dilibatkan,
tetapi juga bukan para ahli geologi yang ikut hanyut dalam paranoid
pencemaran lingkungan yang dewasa ini melanda masyarakat kita.*** 

Penulis, mantan Guru Besar Ilmu Geologi Institut Teknologi Bandung.



[Non-text portions of this message have been removed]



Tetap Semangat Mencintai Banten! 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/wongbanten/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke