MARHABAN YAA RAMADHAN...................
MARHABAN YAA RAMADHAN............
MARHABAN YAA RAMADHAN.............
Mentari <[EMAIL PROTECTED]> menulis:
Minggu, 10 September 2006
http://www.republika.co.id/koran_detail.asp?id=263947&kat_id=49
Jangan-jangan Ini Ramadhan Terakhir!
Bimasyi-atilLaah, dalam setengah bulan ke depan, kita sudah akan memasuki
gerbang bulan paling suci di antara dua belas bulan; Bulan Ramadhan. Tidak ada
seorang pun yang mampu menghalangi, bila Ramadhan mau menyapa kita.
Bahkan, maut sekali pun tak akan berdaya menghadang hadirnya bulan seribu bulan
ini di tengah-tengah kita. Ramadhan tidak akan membatalkan kehadirannya meski
satu di antara kita meninggal dunia. Ramadhan akan tetap hadir, menemani
kebersamaan kita, menghibur kesendirian kita, menyelimuti kita di tengah hujan
yang membuat anggota tubuh membeku atau menyejukkan hati kita dalam balutan
kesuciannya dari panas matahari yang membakar kulit.
Walhasil, hanya kiamat yang mampu menyudahi tugas-tugas Ramadhan. Maka, setelah
sekian bulan kita mengembara entah ke mana, kini segalanya menjadi amat gelap.
Jalan-jalan kebenaran yang dulu pernah tertanam kuat dalam diri, kini menjelma
sketsa patah-patah yang teramat sulit untuk ditafsirkan, apalagi
dipahami.Perjalanan yang melelahkan sekaligus merugikan. Perjalanan yang jelas
tujuannya tetapi kita tak pernah paham arahnya.
Kini, bahkan tuntunan agama direkayasa sehingga menjadi kabur, ajaran adat
berubah menjadi kepingan kaca yang susah disatukan kembali. Untuk pulang;
kembali ke rumah Bunda Pertiwi, tampaknya akan sungguh sulit dilakukan. Untuk
kembali ke Hadirat Allah SWT, sungguh akan jauh lebih rumit lagi. Hanya kasih
sayang dan hidayat Allah yang dapat mengembalikan ini semua. Dan kasih
sayang-Nya, akan segera turun ke bentangan alam semesta ini melalui kehadiran
Ramadhan. Lantas, kurang apa sebenarnya kita ini?
Sebelas bulan lamanya kita meninggalkan Allah, sebelas bulan kita
mengkhianati-Nya, sebelas bulan lamanya kita tidak pernah mengindahkan
kehadiran-Nya, sebelas bulan lamanya kita seperti terlahir dari rahim bebatuan.
Seakan-akan kita merupakan anak-pinak bebatuan yang tak punya rasa, yang tak
punya hati. Bahkan bebatuan sekalipun, jauh lebih mulia dari anak manusia.
Karena dalam diam, bebatuan tak pernah sedetik pun melupakan Allah. Makhluk
Allah yang satu ini, selalu malantunkan puja-puji, mengagungkan serta
membesarkan Asma Allah.
Kini, mari kita berhitung. Dalam dua puluh empat (24) jam sehari semalam, atau
dalam seribu empat ratus empat puluh (1.440) menit sehari semalam, atau dalam
delapan puluh enam ribu empat ratus (86.400) detik sehari semalam, atau enam
ratus empat ribu delapan ratus (604.800) detik dalam seminggu, atau dua juta
lima ratus sembilan puluh dua ribu (2.592.000) detik dalam sebulan, atau tiga
puluh satu juta seratus empat ribu (31.104.000) detik dalam setahun, maka
seberapa persenkah yang kita gunakan untuk mengingat Allah? Lalu berapakah
kira-kira jatah umur kita?
Lantas berapa pulakah usia kita yang tersisa? Kalau jatah umur kita 50 tahun,
maka sudah satu miliar lima ratus lima puluh lima juta dua ratus ribu
(1.555.200.000) detik kita habiskan untuk hidup di dunia fana ini. Kalau kurang
dari 50 tahun, ayo kita hitung sendiri, begitu pula kalau lebih dari 50 tahun
umur kita, mari kita bermuhasabah sendiri. Nah, kalau 11 bulan kita
meninggalkan Allah, maka sudah tujuh ribu sembilan ratus dua puluh (7.920) jam
atau setara dengan empat ratus tujuh puluh lima ribu dua ratus (475.200) menit
kita membuat Allah menunggu kita menghadap kepada-Nya. Duh! Alangkah lamanya
kita mengabaikan kehadiran-Nya dan alangkah beraninya kita melakukan ini semua!
Sepanjang detik yang kita lewati, sejak bangun di pagi hari hingga tidur di
malam hari, hampir seluruh waktu yang ada kita gunakan hanya untuk diri kita
sendiri. Seakan-akan Allah tak pernah hadir dalam penggalan kehidupan kita.
Alangkah sabar-Nya Dia sebagai Maharaja, alangkah nistanya kita sebagai hamba.
Alangkah besar dan luas kasih sayang-Nya, sampai-sampai kita masih mungkin
dipertemukan dengan Ramadhan kembali. Bulan di mana ampunan-Nya malampaui
besaran alam semesta ini, kasih sayang-Nya seluas yang kita angan-angankan, dan
pahala yang Dia sediakan lebih dari cukup, agar kita bisa terhindar dari
sergapan api pembalasan di akhirat kelak.
Sungguh! Setelah berjalan amat jauh, jauh dari nilai-nilai kebenaran, kini
saatnya kita sebagai sebuah kumpulan budak-budak-Nya, harus berusaha sekuat
daya yang tersisa, mengumpulkan serpihan-serpihan kesadaran ilahiyah secara
bersama untuk mudik ke kampung halaman. Tak ada jalan paling elegan untuk
ditempuh kecuali dengan taubat, apalagi kita dikenal sebagai bangsa yang
religius dan amat menjunjung tinggi nilai-nilai religiusitas.
Sejatinya, kita termasuk bangsa yang paling aneh tetapi malah amat dicinta
Allah SWT. Dalam serangkaian prahara yang bukan saja nyaris meluluhlantakkan
eksistensi republik, Allah selalu turun tangan memberikan ma'unah-Nya agar
republik tetap utuh. Sejarah bangsa ini juga sudah panjang lebar memberikan
penjelasan secara tertulis. Tetapi, jarang sekali di antara kita sebagai bagian
dari bangsa ini yang berkenan menyempatkan diri untuk bertafakkur, kenapa Allah
tak pernah meninggalkan kita? Mengambil kesempatan barang sebentar dari banyak
kesempatan yang dijatah Allah kepada kita, untuk bertafakkur dan bertadabbur
atas kondisi ini, menjadi penting karena itu akan membuka kesadaran terbawah
kita tentang makna kehadiran Ramadhan.
Tanpa itu, kita tak akan pernah mampu membalas jasa atas banyak ma'unah Allah.
Alih-alih bisa membalas jasa, menyadari bahwa Allah wujud dalam kehidupan kita,
sebuah pencapaian luar biasa. Pada saat-saat musibah datang beruntun, ketika
sandang tidak mencukupi, di saat pangan jauh dari memadai dan begitu papan
sudah habis dihempas bencana alam, maka betapa tak kuasanya kita, dan betapa
butuhnya kita akan pertolongan Allah melalui kehadiran Ramadhan.
Betapa banyak saudara kita yang sebelas bulan lalu masih sempat menemani kita
nyadran ke kuburan-kuburan leluhur, kini tak lagi bersama kita. Inilah
kesempatan emas bagi kita untuk mensyukuri nikmat Ramadhan. Karena terlalu jauh
kita meninggalkan garis Allah, maka kita mulai menyadari betapa sulitnya
mencari jalan pulang. Ketika Nabi Ibrahim AS ditanya Allah, "Fa Aina Tadzhabun
(hendak ke mana kalian pergi?)], maka ia lantas menjawab, Inni Dzaahibun Ilaa
Robbii Sayahdiini (Sungguh hamba pergi menuju Tuhanku, maka Ia akan memberi
hamba hidayat)".
Ketika itulah terasa betapa pentingnya arti Ramadhan bagi kita semua.
Saudara-saudaraku! Ramadhan akan segera menemui kita hanya dalam hitungan hari.
Mari kita sambut bulan penuh berkah ini dengan suka cita seperti pernah kita
harapkan ketika kita shalat Idul Fitri tahun lalu. Bukan tidak mungkin tahun
depan kita tidak akan bertemu Ramadhan lagi. Jangan-jangan ini adalah Ramadhan
terakhir.
Ibarat kolam tempat membersihkan segala kotoran di tubuh kita, maka Ramadhan
menyediakan sarana untuk pembersiahan diri. Kalau sepanjang sebelas bulan
sebelumnya kita melupakan Allah, mengabaikan faqir miskin, alpa terhadap anak
yatim dan merampas hak-hak mereka, tidak mengindahkan keluarga, kini saatnya
kita berasyik masyuk dengan mereka. Semoga Allah menyayangi kita semua.
Wallaahu A'lamu Bish Showaab.
(KH A Hasyim Muzadi )
http://www.republika.co.id/koran_detail.asp?id=263947&kat_id=49
[Non-text portions of this message have been removed]
---------------------------------
Apakah Anda Yahoo!?
Kunjungi halaman depan Yahoo! Indonesia yang baru!
[Non-text portions of this message have been removed]
Tetap Semangat Mencintai Banten!
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/wongbanten/
<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional
<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/wongbanten/join
(Yahoo! ID required)
<*> To change settings via email:
mailto:[EMAIL PROTECTED]
mailto:[EMAIL PROTECTED]
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/