"Di era posmodernisme, manusia mampu memiliki baju keyakinan berlapis-lapis. Hal tersebut disebabkan cara memandang manusia sekarang terhadap agama mengalami pergeseran...", ceuk Jaya Komarudin
bung, kalo anda tau ttg posmodernisme, tentu tau dong apa itu materialisme...;) --- "a.suryana sudrajat" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > Subhanallah...Alhamdulillah....Allahu Akbar....... > > "Jaya, Komarudin" <[EMAIL PROTECTED]> > wrote: Saya senang dengan berbagai > tanggapan. Berbeda pendapat itu biasa. Di milis > ini kita belajar terbuka mengemukakan pendapat. > Sekalipun dengan sumpah > serapah. Dengan tulisan manusia akan lebih bisa > berekspresi mengemukakan > pendapat, dimana hal tersebut akan sulit dilakukan > ketika kita saling > berhadapan untuk berbicara. Saya pernah bertemu > dengan orang yang 'ceriwis' > sekali ketika berkorespondensi lewat email dan > ternyata ia seorang yang > pendiam banget dan agak malu-malu (mungkin ketika ia > tahu kalau saya mirip > shah rukh khan). Tambah minder deh doski. > Semestinya saya menulis mimpi api materialisme. > Tidak cuma iklan rokok yang > menjadi point pembicaraan tapi ada sesuatu dibalik > semua itu. Tentu dong > semua yang ada memang tidak terlepas dari materi. > Bullshit kalo kita bilang > kita tidak butuh materi karena memang manusia > diciptakan dengan pelengkap > hawa nafsu yang menjadi bagian pendorong kehidupan. > Namun manakala materi diberi isme, maka jadilah ia > sesuatu paham, ideolgi, > keyakinan, yang menjadi gerak dasar semua aktivitas. > Sama halnya dengan > kapitalisme, komunisme, dll. > Sejatinya kita yang menguasai materi untuk > dimanfaatkan bagi kemaslahatan > bukan kita yang dikuasai materi untuk merusak > kemaslahatan. > Mimpi Api materialisme > Di era posmodernisme, manusia mampu memiliki baju > keyakinan berlapis-lapis. > Hal tersebut disebabkan cara memandang manusia > sekarang terhadap agama > mengalami pergeseran yang significant. Agama bukan > lagi sebagai jalan hidup. > Ia hanya sebuah ritual, entitas dalam masyarakat > atau juga status. Dimana > semua itu diperlukan untuk mempertahankan jati > dirinya. Bagi sebagian orang > memandang inilah gaya hidup yang penuh dengan > kemunafikan. Dan lucunya lagi, > kata munafik pun mengalami perubahan makna. Jika > sekarang orang berkata > jujur dengan mengatakan "saya tidak suka ke diskotik > dan main perempuan", > maka ia dituding sebagai munafik. "munafik lo! hari > gene gak suka main > cewe", begitu mungkin sebagian mencibir. Ya, saat > ini kita lebih baik > berkata "woii, gue suka main cewek, kumpul kebo, dan > jojing ke diskotik". > Pengakuan itu terdengar begitu menyejukkan dan kita > diakui sebagai orang > yang "jujur". Sama halnya saat sebagian kita menolak > RUU Anti Pornografi, > Pembatasan iklan rokok dan jual belinya, dll. kita > akan dicibir, "munafik > lo!, cukainya aja diisep giliran iklan dan rokoknya > dibatasi!". > Yah begitulah manusia. Mungkin kebo akan bilang ke > sesama kebo "hei, manusia > memang makhluk paling 'weird', aneh dimuka bumi. > Gimana gak aneh, udah tau > itu racun diembat juga. Kalo kita bangsa kebo, mana > mau dikasih rumput racun > kecuali karena kita kebo yang gak makan bangku > sekolah alias gak tahu, jadi > diembat juga". Semua hal yang ada sepertinya harus > mengikuti kehendak > materi. dan ujung-ujungnya adalah duit. pokoknya > kalo sudah menghasilkan > duit apa saja bisa 'halal'. Dengan atas nama duit, > alias pemasukan kas atau > kantong maka segala upaya mesti diiya kan. Sehingga > tidak aneh, manusia yang > sudah kerasukan isme materi pasti lebih mementingkan > segala sesuatu dengan 2 > pertimbangan. Satu duit, kedua duit. > Materialisme & Banten Membaca > Mungkin sebagian berpendapat tidak perlu > perpustakaan di Banten atau belum > waktunya perpustakaan di bangun. Toh yang datang > juga sedikit. Pelajar lebih > senang main PS dengan mulut ngebul penuh asap rokok > dibanding ke > perpustakaan untuk baca buku. Mereka berpendapat > seperti itu karena api > materialisme sudah membakar relung-relung jiwa > mereka. Harusnya dengan > slogan "Iman & Takwa", Banten semestinya > mencanangkan program "Banten > membaca" di awal-awal provinsi ini berdiri. karena > dengan 'membaca' lah > dunia dan akherat akan mudah diraih. saya tidak > perlu mengupas ayat yang > pertama kali turun kepada Nabi Muhammad karena wong > Banten insya Allah lebih > paham. Materialisme begitu menyusup ke berbagai lini > kehidupan. mulai dari > iklan, dan iklan rokok salah satunya. Belum lagi > pendidikan, pekerjaan, dan > bahkan ritual keagamaan itu sendiri. Kita boleh > mencari pendapatan kas > daerah untuk membangun tapi jangan lupa, kita > sebagai manusia yang mengaku > beradab juga mesti memikirkan apa yang patut dan > tidak. semakin tinggi nilai > serta derajat manusia maka semakin tinggi pula > standar serta aturan. > Bukankah kita tidak ingin yang disamakan dengan > bebek yang mencari makan > disembarang tempat, apa aja yang penting masuk. Kita > manusia dengan > kesempurnaan serta kekuatan akal yang diberikan > Allah SWT. > > -----Original Message----- > From: Jaya, Komarudin > [mailto:[EMAIL PROTECTED] > Sent: Saturday, September 09, 2006 7:01 AM > To: '[email protected]' > Subject: [WongBanten] Mimpi Api Iklan Rokok > > Mimpi Api Iklan Rokok > Oleh : Lawang Bagja > > Apa kabar hari ini ? kemarin ada seorang asing > tersesat jalan dan menanyakan > kepada saya, "apakah ada tempat di Indonesia dimana > saya bisa terbebas dari > iklan rokok?". Dengan tersenyum saya menjawab, "oh > ada mister!, mister > tinggal jalan lurus, trus belok kanan. Nanti akan > ditemui banyak papan nisan > alias kuburan". Yah, hanya kuburan satu-satunya > tempat yang terbebas dari > baliho, papan nama, glas box, digital print, > spanduk, iklan rokok. pernahkah > mata kita terasa perih melihat setiap tempat > dipenuhi dan dijejali iklan > rokok? Bukan karena saya seorang yang tidak merokok > lantas bersifat agresif > untuk menyerang para perokok. Merokok juga sama > dijamin oleh undang-undang > hak asasi manusia sepanjang merokok tidak juga > mengganggu hak asasi manusia. > Begitu juga dengan iklan rokok, sama dijamin oleh > undang-undang dan > merupakan sumber penghasilan pemda untuk mengisi > kocek kas daerahnya namun > tidakkah para pemimpin yang mengizinkan iklan rokok > bertaburan bersifat > paradoks. Misalkan, Bagaimana seorang Taufik Nuriman > menjaga anaknya untuk > menjauhi rokok jika ia sendiri membebaskan para > produsen rokok untuk bebas > merayu anaknya disetiap 'jengkal' tempat di Serang > dan setiap saat anak > lelaki semata wayangnya itu terus digoda dengan > simbol 'kejantanan'. Saya > sebagai ayah dari 2 anak lelaki pun harus bekerja > keras untuk menjauhi > 'rokok minded' pada mereka. Betapa tidak, di > sela-sela acara televisi yang > ia sukai, terselip iklan rokok. > > Tentang iklan rokok yang bertaburan. Saya teringat > dengan puisi Kang Toto > yang berjudul "Mimpi Api". Bagi saya, puisi itu > multitafsir. Memang dibuat > pada tahun 1998, saat Indonesia beralih rezim dari > 'zaman kegelapan orde > baru' menuju 'zaman gelap gulita Reformasi'. Kedua > zaman memang sama gelap > gulitanya bahkan era reformasi lebih terasa > mencekam. Jika Orde baru punya > musuh cuma satu. Sekarang kanan, kiri, depan, dan > belakang semua bisa > menjadi musuh. Kembali ke puisi Toto, "Sudah puluhan > kali aku bermimpi, > Kampungku dikepung api, dikepung api..." Saat ini > mimpi itu memang menjadi > nyata. Rokok atau iklan rokok adalah api. yang akan > membakar 'pesak', saku, > dompet kita. Uang yang capek-capek kita cari dengan > keringat yang keluar > dari ketiak bau asem, akhirnya habis dibakar oleh > puntung tak berperasaan. > Asap dengan berjuta kandungan kimia berbahaya > dihisap dalam-dalam, masuk ke > rongga paru-paru. Sebagian senyawa kimia berbahaya > tersebut melekat > didinding tenggorokan sampai ke paru-paru kita. > Kemudian === message truncated === __________________________________________________ Do You Yahoo!? Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around http://mail.yahoo.com Tetap Semangat Mencintai Banten! Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/wongbanten/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/wongbanten/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: mailto:[EMAIL PROTECTED] mailto:[EMAIL PROTECTED] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
