Assalamu'alaikum wr. wb

Dari milis tetangga, ada balasan emailnya dari Staf Redaksi Majalah
HIDAYAH.
BTW, terus terang saya juga sekedar memforwardkan email di bawah ini.

Wassalamu'alaikum wr. wb

-----------------------------------------------------------------------------------------


HIDAYAH BUKAN SAUDARA TABLOID POP

Assalamu'alaikum wr. wb
Semula saya agak kaget melihat email serta milis yang isinya sangat
menyudutkan
majalah Hidayah, dimana saya kerja di media tersebut. Bagaimana tidak,
Hidayah
yang selama ini lekat dengan pembaca sebagai majalah yang sejuk, membimbing
orang untuk belajar agama, dicap sebagai majalah yang mengusung jargon
Islam
Belatung, majalah yang menyajikan cerita-cerita horor yang patut
dipertanyakan
kebenarannya, majalah yang mengejar profit besar dengan menghalalkan segala
cara
yakni menjual nama agama meski dengan cerita-ceritra sampah sampai majalah
yang
bersaudara dengan Tabloid Pop (Tabloid Porno).
Namun setelah saya cermati, informasi miring tersebut tampaknya sekedar
sensasi
belaka, bualan semata yang menjurus pada fitnah. Entah didasari apa
sehingga
pelempar bola panas tersebut berani mengatakan sesuatu yang sebenarnya
sangat
tidak diketahuinya, tidak sesuai dengan fakta yang sesungguhnya serta
pemahaman
yang serampangan. Apakah ada motif ingin menjatuhkan citra Hidayah di depan
khalayak melalui black campaign (kampanye hitam) dengan seolah-olah
mengatakan
bahwa apa yang ditulisnya benar-benar merupakan investigasi yang dapat
dipertanggungjawabkan kepada publik ataukah ada motif-motif lainnya.
Maklumlah, menurut hasil riset NMR (Nielsen Media
Research) kuartal pertama 2006, di sembilan kota besar tercatat majalah
Hidayah
adalah majalah yang paling banyak dibaca (menempati rangking pertama) di
antara
10 majalah lain, baru disusul majalah GADIS, BOBO, ANEKA YESS!, KARTINI,
ETNIX,
SABILI, TEMPO, MISTERI dan INTISARI. Dari sekitar 40 juta pembaca yang
disurvei
NMR (usia 10 tahun ke atas), sekitar 4,9% di antaranya memilih Hidayah
sebagai
bacaan mereka.
Pembaca Hidayah jauh melampaui pembaca majalah-majalah lain, sementara
peringkat
kedua yaitu GADIS hanya meraup 1,81%, dan majalah Intisari yang berada di
peringkat sepuluh meraup 0,64% (lihat Majalah Cakram Fokus edisi 6/2006).
Melihat perjalanan Hidayah yang baru berumur 5 tahun namun hasilnya cukup
fenomenal, maka tak mengherankan hantaman melalui isu-isu murahan dan tidak
dapat dipertanggungjawabkan, pun coba dihembuskan oleh oknum-oknum yang
sentimen
terhadap Hidayah. Kata orang, semakin di atas semakin kencang angin
bergoyang,
mungkin ada benarnya. Kondisi itulah yang kini dihadapi Hidayah.
Saya melihat, banyak hal yang sengaja dilencengkan dan diplintar-plintir
oleh
pembawa informasi miring tersebut dari fakta yang sesungguhnya.
Pertama, penulis (penebar informasi tak jelas
tersebut) kurang memahami isi majalah Hidayah. Sebab bila ia paham betul,
ia
tidak akan menyimpulkan bahwa Hidayah mengusung Islam Belatung. Ia ingin
memberi
label itu karena melihat cover Hidayah yang seram-seram dan ada keterkaitan
dengan azab yang diterima seseorang menjelang/sesudah meninggal dunia
karena
amal perbuatan buruknya sewaktu di dunia, ditambah lagi dengan tayangan
televisi yang marak dengan sinetron dengan tema yang hampir serupa dengan
Hidayah.
Padahal sejatinya, cerita yang dimaksudkan itu bagian kecil dari seluruh
isi
majalah Hidayah. Porsi untuk cerita-cerita yang baik (husnul khatimah) yang
sama-sama bisa diambil iktibarnya juga cukup banyak.
Belum lagi rubrik-rubrik lain yang sangat disenangi pembaca. Seperti: Kisah
Kitab (rujukannya pada kitab-kitab klasik yang memuat kisah-kisah yang
patut
direnungi), Kisah Qur'an (kisah yang tidak asing lagi yang diinukilkan dari
ayat-ayat al-Qur'an dan kitab-kitab tafsir), profil dai (menampilkan
dai-dai
yang sudah malang melintang di tanah air), tokoh-tokoh Islam, Syiar
(lembaga
Islam yang lebih mengedepankan pengembangan keislaman), serta
artikel-artikel
keagamaan yang diminati banyak orang.
Dan sejak sinetron-sinetron yang hampir sama dengan Hidayah menjamur di
berbagai
tayangan televisi yang keluar pakem dari Hidayah, dengan penyajian dan
penggarapan yang justru bisa membuat citra kurang baik, Hidayah Indonesia
sudah
sejak lama menarik diri dari peredaran di televisi.
Dengan mengacu hal di atas, maka penilaian Hidayah yang dipersepsikan Islam
Belatung adalah penilaian yang sangat cetek. Dan tampaknya sang penebar
informasi miring tersebut menyimpulkan berdasar kekurangpahamannya terhadap
Hidayah, ia hanya mengetahui kulit luarnya saja tanpa memahami isi-isinya.
Kedua, rujukan yang digunakan sang penebar isu tersebut layak dipertanyakan
kebenarannya. Darimana informasi didapat, benarkah dari salah seorang
reporter
GATRA, ataukah hanya alasan yang digunakan untuk menjustifikasi dugaannya.
Saya
menangkap bahwa apa yang dituduhkan ini hanya berdasarkan "katanya"
bukan dari investigasi yang benar-benar. Nah, jika rujukan tersebut
bersifat
"katanya" karena bukan berasal dari rujukan primer, bagaimana mungkin orang
bisa
mempercayai kebenaran tulisan tersebut. Dalam ilmu mushtalahul hadits,
sanadnya
(penyampai berita) mungkin tidak tsiqah (kurang bisa dipercaya) hingga
orang
yang meriwayatkan pun (rawi) akhirnya asal-asalan. Maka berita itu pun
dianggap
dhaif (lemah), dan karena kedhaifannya, maka berita tersebut tidak bisa
dijadikan rujukan.
Oleh karena itu, orang patut curiga maksud si penulis berita. Benarkah,
mengada-ada atau ada maksud kurang baik. Dalam etika jurnalistik, hal
semacam
ini tidak bisa dipertanggungjawabkan secara akademik.
Ketiga, ia benar-benar tidak tahu atau hanya mengarang. Sebab Perusahaan
yang
menerbitkan majalah Hidayah bukanlah PT VARIA POP NUSANTARA melainkan yang
benar
adalah PT VARIAPOP GROUP. Sangat berbeda sekali.
Dan media-media yang berada di bawah naungan bendera PT VARIAPOP GROUP
adalah
MAJALAH HIDAYAH (Sebuah Intisari Islam), PARAS (Wanita Islam), MUSLIMAH
(Trend
Remaja Islam), ANGGUN (Pengantin Islam), VARIASARI, DIDIK (Anak Islam),
CHEF
(masakan) serta BERITA INDONESIA yang khusus diedarkan di Malaysia. Jadi,
TABLOID POP tidak ada di dalamnya. Dengan kata lain, jika seseorang
menyandingkan atau bahkan menganggap bahwa majalah HIDAYAH saudara
sekandung
dengan TABLOID POP yang konon katanya media porno alias esek-esek, maka
penilaian tersebut SALAH BESAR dan sangat tidak berdasar.
Keempat, Pak Kyai Ali Yafie tentu bisa menilai tentang isi dan misi majalah
HIDAYAH sebelum menjatuhkan sepakat untuk menjadi penanggung jawab rubrik
Konsultasi Fiqh. Saya yakin, beliau tidak akan mau mengasuh rubrik ini jika
kenyataannya HIDAYAH punya saudara media yang hanya mengumbar syahwat,
TABLOID
POP. Kalau pun tahu belakangan, beliau akan segera menyetop rubrik
asuhannya.
Tapi kenyataannya tidak demikian kan. Beliau tetap mengawal majalah Hidayah
sebagai pengasuh rubrik konsultasi fiqh sudah lebih dari 33 edisi (hampir 3
tahun). Dan alhamdulillah hingga kini beliau masih setia menerima
kedatangan
saya tiap sebulan sekali, saat hendak mewawancarainya (dengan mengajukan
pertanyaan-pertanyaan dari pembaca) yang akan dimuat di rubrik konsultasi
fiqh.
Demikianlah beberapa hal yang perlu diluruskan atas berita yang tidak
mengenakkan ini. Jika penasaran, silahkan konfirmasi kebenarannya secara
langsung ke redaksi Hidayah. Kepada penebar berita miring ini, kalau Anda
punya
nyali, silahkan datang ke kantor Redaksi HIDAYAH atau Perusahaan yang
menerbitkan HIDAYAH. Kita bicara blak-blakan sejauhmana tuduhan Anda benar.
Wassalamu'alaikum wr. wb
Herry M (staf redaksi HIDAYAH)


_________________________________________________________________
The information transmitted is intended only for the person or entity to
which it is addressed and may contain confidential and/or privileged
material.  Any review, retransmission, dissemination or other use of, or
taking of any action in reliance upon, this information by persons or
entities other than the intended recipient is prohibited.   If you received
this in error, please contact the sender and delete the material from any
computer.



Tetap Semangat Mencintai Banten! 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/wongbanten/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/wongbanten/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke