Mang Jaya, eh Pak Jaya entah Bung Jaya entah panggil apa saya sama anda itu. 
Untuk menaruh hormat saya kepada anda, saya panggil anda Pak saja ya, walaupun 
usia anda dengan saya lebih senior saya, itu mungkin Pak.......bisa lebih tua 
anda.
Lupakan masalah umur, dengan umur banyak orang memanipulasi bukti. Agar 
kelihatan fresh graduate dan bisa menggandeng gadis-gadis imut-imut, tak jarang 
bahkan banyak orang yang udah tua bangkotan berumur 55 tahun 60 tahun mengaku 
umur 35 atau paling tua 40 tahun.

Terus terang Pak Jaya, saya ini masyarkat pinggiran, tidak mendukung salah satu 
CAGUB BANTEN apalagi Atut. 
Saya hanya terkesan saja dengan kampanye terselubung (propaganda aji mumpung) 
yang dilakukan oleh Atut. "Mumpung Plt. Banten, kapan lagi saya bisa 
mengiklankan diri kalau tidak dari sekarang" itu mungkin pikiran Atut.
Ini pengalaman saya sewaktu saya keliling Banten selama 3 bulan khususnya  
wilayah Pandeglang dan Lebak (Banten Selatan) sekitar bulan Maret - Mei 2006.  
Maksud saya keliling bukan untuk bagi-bagi sembako kepada masyarakat, tapi ya  
narsis aja, ternyata Banten itu menyimpan pesona wista alam yang cukup lumayan.
Dari kukurilingan di lembur sorangan, saya menemukan ditiap peloksok desa 
terpampang gambar Atut. Di rumah-rumah penduduk, di warung-warung pinggir jalan 
dan di kantor-kantor desa terpampang gambar "Atut".

Gitu aja, saya jadi ngeri dengan statemen Pak Jaya itu lho. Kelak di alam 
maksyar ditanya......kenapa saya dukung si anu, udah tahu gak bener.

Hampura euy.






----- Original Message ----
From: Jaya Komarudin <[EMAIL PROTECTED]>
To: [email protected]
Sent: Friday, October 13, 2006 6:40:25 PM
Subject: [WongBanten] Artikel Lili Romli di Harian Jurnal Nasional-tanggapan

Pak Lili sama Pak Sony,
Saya mau Tanya. Kalau dikita berapa lama lagi kira2 Parpol yang ada
menjadi Parpol yang ideal sebagai pengangkat martabat dan kesejahteraan
konstituennya? Atau masyarakat secara keseluruhan.

Saya sendiri lama2 alergi dgn model yang ada sekarang, seperti sebuah
lingkaran yang digerakkan oleh uang dan kekuasaan. Sementara idealisme
hanya bumbu penyedap serta retorika belaka.
Atau saya yang blo'on kali yah bermimpi terlalu muluk2.

Saya sendiri suka geli dgn realitas yang ada. Misalnya saja :
Di Koran radar Banten kemarin di rilis, biaya calgub itu antara 25
Milyar samapai 50 Milyar.
Try-ben-50 M
Atut-mas 25 M
Irsyad-daniri 40M
Zul-Icha ? (bilangnya lagi diitung)

Anggap saja itu modal! 
Skarang coba dihitung, berapa gaji gubernur? Kita mark up aja 100 juta
perbulan, kita tambah lagi 50 jt untuk biaya hidup. Total 150 jt.
Itu untuk gubernur!
Untuk wagub, yah beda2 dikit lah, 125 jt totalnya!
Diakumulasikan jadi 350 jt untuk berdua perbulan! Dalam setahun dikali
13 yah, berarti : 4.5 M. dikali 5 tahun = 22.75 Milyard

Itu gajinya sudah saya mark up masih tekor antara biaya kampanye sama
gaji!
Orang GILA macam mana yang mau rugi plus menderita, duitnya tekor,
ditambah beban ngurusin rakyat plus ditanya diakherat atas pertanggung
jawabannya!

ARTINYA sudah ada yang gak beres dari awalnya?

Nah sakarang saya mau Tanya ke para pendukung TRY-BEN (Mang Ochon, Kang
UCU, Mang SAPRUDIN, dll) juga pendukung Atut (mang Ris, dkk) ditambah
pendukung Zul-Icha (GG, Iif, Hilmi, dkk) sekalian para pendukung Irsyad.

Apakah and abersedia menjadi pendukung pemimpin yang pada saat nanti, di
hari padang Mahsyar kita akan ditanya, kenapa dukung kalo sudah tahu
bakal berbuat gak bener?

Coba kalo setiap orang meminta setiap calon apa adanya. Bukankah kita
akan selamet? Saya yakin, banyak pemimpin korup karena rakyatnya juga
mendukung ia untuk korup. So jangan disalahin peminpin sendirian kan
yah?

Maaf neh, jadi nyerocos kemana-mana. 

-----Original Message-----
From: Lili Romli [mailto:[EMAIL PROTECTED] com] 
Sent: Friday, October 13, 2006 5:28 PM
To: [EMAIL PROTECTED] ups.com
Subject: Re: [WongBanten] Artikel Lili Romli di Harian Jurnal Nasional

Saya setuju, bukan hanya Huntingon saja tetapi juga
ada yang lain yang lebih menarik. Dalam tulisan yang
asli sebelum diedit oleh redaksi, saya sebutkan juga
pendapat dari Herbert Kicschelt yang membagi partai
atas partai programatik, karismatik, dan
klientelistik. Selain itu juga pendapat Vicky Randall
& Lars Svasand yang melihat sistem kepartain
berdasarkan derajat kesisteman, identitas nilai,
otonomi keputusan, dan citra pada publik; serta
penpadat Scott Mainwaring.

Nuhun atas respon Pak Sony.

Lili Romli

--- sony harseno <[EMAIL PROTECTED] com> wrote:

> huntington masih laku ya???
> kalo untuk sistem kepartaian, beberapa tipologi yang
> dibuat nicos mouzelis menurut saya lebih menarik
> dari
> pada huntington (sangat kultural sekali). mouzelis
> setidaknya menganalisis secara struktural dan
> kultural
> terbentuknya tipe partai. kalo tidak salah ada tiga
> tipe:
> 1. tipe klientilisme
> 2. tipe populisme
> 3. tipe mesin politik
> 
> terus terang, yang diungkapkan pak lili, itu diamini
> betul oleh dosen2 saya. ya mudah2an itu bukan
> penyakit
> garis besar yang banyak diidap oleh cendikiawan kita
> 
> salam
> sony
> --masih belajar ilmu politik--
> 
> 
> --- Boni Triyana <boni_triyana@ yahoo.com> wrote:
> 
> > Kawan-kawan,
> > Berikut saya sertakan artikel Lili Romli, orang
> > Banten peneliti LIPI dan anggota milis ini, yang
> > dimuat Harian Jurnal Nasional edisi Kamis, 12
> > Oktober 2006. Berhubung website Jurnas belum jadi,
> > maka saya comot saja artikel ini dari meja redaksi
> > ke milis wongbanten. Semoga haluan perdebatan yang
> > akhir-akhir ini selalu condong kepada kampanye
> > sedikit berubah. Soalnya saya sudah lalieur bin
> > lalanjung sirah mengikuti kampanye-kampanye di
> milis
> > ini.
> > tabik,
> > Bonnie Triyana
> > ------------ --------- ----
> > Masa Depan Partai Politik 
> > Oleh: Lili Romli
> > Mengahadapi Pemilu 2009, menurut catatan
> > Departemen Hukum dan HAM, sudah ada 28 partai
> > politik yang mendaftar. Dengan bertambahnya
> > pendirian partai politik baru itu, tampaknya
> > keinginan elit politik dalam mendirikan partai
> > politik terus ada dan ada, tanpa jeda. Nafsu
> > mendirikan partai politik di kalangan elit kita
> > masih tetap "menggebu". Padahal apabila kita
> > perhatikan dari survey-survey yang dilalukan
> > berbagai lembaga penelitian, potret dan citra
> partai
> > politik dimata publik masih tetap buruk. 
> > Mengapa demikian? Hal ini karena keberadaan
> partai
> > politik pada reformasi ini tidak berbanding lurus
> > dengan fungsi yang diembanya. Artinya, keberadaan
> > partai politik sebagai salah satu pilar demokrasi
> > yang akan memperjuangkan aspirasi dan kepentingan
> > rakyat berbanding terbalik. Partai politik yang
> ada
> > begitu mengecewakan rakyat. Pertama, kehadiran
> > partai politik tidak lagi terasakan oleh
> masyarakat.
> > Berbagai peran yang seharusnya diemban partai
> > politik tidak sedikit terbengkalai. Sementara
> > menyangkut artikulasi dan memperjuangkan
> kepentingan
> > rakyat, partai politik dalam kapasitasnya sebagai
> > institusi ataupun melalui individu anggotanya
> belum
> > menunjukan performance yang memuaskan. Aktivitas
> > yang dilakukan partai politik saat ini tampaknya
> > lebih seputar urusan partainya sendiri dan
> > kelompoknya. Kedua, partai politik pada saat ini
> > cenderung lebih mengutamakan kepentingan parsial
> > sesaat ketimbang kepentingan masyarakat dan
> bangsa. 
> > Berdasarkan hal tersebut, alih-alih
> memperjuangkan
> > kepentingan rakyat, malah partai politik cenderung
> > sibuk memperebutkan kekuasaan, jabatan, dan uang.
> > Sementara persoalan yang membelit rakyat dibiarkan
> > begitu saja. Semuanya itu tampak tidak dihiraukan
> > sama sekali. Padahal, ketika pendirian partai atau
> > ketika kampanye Pemilu selalu yang dijanjikan akan
> > membela dan memperjuangkan kepentingan rakyat.
> > Gambaran partai politik seperti itu diperparah
> > dengan pelembagaan partai yang mengidap persoalan.
> > Mengutip Huntington, pelembagaan partai politik
> > adalah proses pemantapan partai politik baik dalam
> > wujud perilaku yang mempola maupun dalam sikap
> atau
> > budaya. Huntington menegaskan bahwa dalam konteks
> > pembangunan politik, yang terpenting bukanlah
> jumlah
> > partai yang ada, melainkan sejauh mana kekokohan
> dan
> > adaptabilitas sistem kepartaian yang berlangsung.
> > Suatu sistem kepartaian disebut kokoh dan
> adaptabel,
> > kalau ia mampu menyerap dan menyatukan semua
> > kekuatan sosial baru yang muncul sebagai akibat
> > modernisasi. Dari sudut pandang ini, jumlah partai
> > hanya akan menjadi penting bila ia memengaruhi
> > kapasitas sistem untuk membentuk saluran-saluran
> > kelembagaan yang diperlukan guna menampung
> > partisipasi politik. 
> > Sistem kepartaian yang kokoh, demikian
> Huntington,
> > sekurang-kurangnya harus memiliki dua kapasitas.
> > Pertama, melancarkan partisipasi politik melalui
> > jalur partai, sehingga dapat mengalihkan segala
> > bentuk aktivitas politik anomik dan kekerasan.
> > Kedua, mencakup dan menyalurkan partisipasi
> sejumlah
> > kelompok yang baru dimobilisasi, yang dimaksudkan
> > untuk mengurangi kadar tekanan kuat yang dihadapi
> > oleh sistem politik. Dengan demikian, sistem
> > kepartaian yang kuat menyediakan
> > organisasi-organisa si yang mengakar dan prosedur
> > yang melembaga guna mengasimilasikan
> > kelompok-kelompok baru kedalam sistem politik.
> > Bila keberadaan partai politik baik dari segi
> > fungsi maupun kelembagaan masih seperti sekarang,
> > lalu bagaimana masa depan partai politik sebagai
> > pilar demokrasi? Padahal di satu sisi adalah
> penting
> > adanya partai politik karena tanpa ada partai
> > politik maka demokrasi tidak akan berjalan. Arti
> > penting partai politik dalam demokrasi adalah agar
> > demokrasi dapat berjalan, hal ini karena partai
> > politik adalah kendaraan utama bagi perwakilan
> > politik; mekanisme utama bagi penyelenggaraan
> > pemerintahan; dan saluran utama untuk memelihara
> > akuntabilitas demokrasi.
> > Karena begitu pentingnya partai politik dalam
> > demokrasi maka seharusnya dalam dirinya partai
> > politik harus mengembangkan nilai-nilai demokrasi.
> > Alih-alih mengembangkan demokrasi dalam dirinya,
> > yang terjadi kecenderungan tidak demokratis. Bukan
> > hanya itu saja, terdapat perkembangan adanya
> > distrust atau ketidakpercayaan publik terhadap
> > partai politik. Bila ini dibiarkan maka akan
> menjadi
> > lebih buruk lagi, bukan hanya pada diri partai
> > politik tetapi juga bagi perkembangan demokrasi di
> > Indonesia. Untuk itu sudah waktunya kiranya bagi
> > elit-elit partai melalukan intropeksi. 
> > Penulis adalah Peneliti pada Lembaga Ilmu
> > Pengetahuan Indonesia (LIPI)
> > 
> > 
> > Send instant messages to your online friends
> > http://uk.messenger .yahoo.com 
> > 
> > [Non-text portions of this message have been
> > removed]
> > 
> > 
> 
> 
> ____________ _________ _________ _________ _________ __
> Do You Yahoo!?
> Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam
> protection around 
> http://mail. yahoo.com 
> 
> 
> Tetap Semangat Mencintai Banten! 
> Yahoo! Groups Links
> 
> 
> 
> 
> 
> 

____________ _________ _________ _________ _________ __
Do You Yahoo!?
Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail. yahoo.com 

Tetap Semangat Mencintai Banten! 
Yahoo! Groups Links






[Non-text portions of this message have been removed]



Tetap Semangat Mencintai Banten! 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/wongbanten/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/wongbanten/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke