Nelson Tansu. Di AS  Prestasimu memang  gemilang. Namun  sayang tidak pandai 
menggaet wanita."Ha..ha..haa. Semoga cepat  mendapatkan Jodoh.

cokro15610 <[EMAIL PROTECTED]> wrote:                                           
       For Moderator Thanks, sudah di Approve, 
  untuk yang lain, thanks dah mengetuk hati moderator untuk meng-
  approve. dan ternyata betul tuh setelah doa dan jampe2 ternyata 
  hantunya kabur juga akhirnya saya di Approve tuch.
  
  Buat Rere, lo RERE yang di HOT BAnget eh sory HOT RADIO kan? gw 
  bukan lupa ma lo, tapi HP lo kok gw gak bisa hub, ganti Nomor ya? 
  DOain gw aja moga jadi KALABA (KAya LAhir BAthin) salam ma temen2.
  
  untuk BANK BANTEN, semoga cepat berdiri dan saya bisa jadi MANAJER 
  PERKREDITAN di sana, jadi saya akan ngasih kredit ke UMKM sebab 
  menurut data tahun 2003 jumlah UMKM di Indonesia (untk di banten 
  tanya aja ke BPS BANTEN) 99,5% dari seluruh total Usaha, Penyumbang 
  PDB terbesar, dan Penyerap TEnaga kerja TErbesar, RUARRR BIASA.... 
  tapi kok nasibnya NELANGSA ya...... KACIAN DEH.... 
  
  berikut ini ada info SDM indonesia yang tak kalah bersaing jika 
  memang mau berusaha dan di asah dengan baik, orang BAnten jangan 
  pintar ngasah golok doank, tapi juga harus pandai ngasah SDM Banten 
  agar bisa kompetitif, ayo donk.. Niatan sih saya liat udah ada, tapi 
  masih setengah2, buktinya SEKOLAH UNGGULAN gimana kabarnya..? 
  HALLLOO.... SEKOLAH UNGGULAN.... gimana kabar anda?
  
  Milis ini gak terima attachment ya.. jadi Email saya kepanjangan 
  neh.. 
  berikut ini infonya: 
  
  NELSON TANSU, PROFESOR TERMUDA ASAL INDONESIA DI LEHIGH UNIVERSITY, 
  AS
  Kontributor: Ramadhan Pohan, Washington DC ( 30.04.2004 00:00)
   
  Jago Seminar di Mancanegara, tapi Dikira Mahasiswa S-1
   
  Banyak orang di berbagai penjuru dunia yang berusaha menggapai mimpi 
  Amerika. Salah seorang yang berhasil merengkuhnya adalah warga 
  negara 
  Indonesia. Dia bernama Nelson Tansu. Di AS, dia termasuk ilmuwan 
  ternama dengan tiga hak paten di tangannya.
   
  NAMA lengkapnya adalah Prof Nelson Tansu PhD. Setahun lalu, ketika 
  baru berusia 25 tahun, dia diangkat menjadi guru besar (profesor) di 
  Lehigh University, Bethlehem, Pennsylvania 18015, USA. Usia yang 
  tergolong sangat belia dengan statusnya tersebut.
   
  Kini, ketika usianya menginjak 26 tahun, Nelson tercatat sebagai 
  profesor termuda di universitas bergengsi wilayah East Coast, Negeri 
  Paman Sam, itu. Sebagai dosen muda, para mahasiswa dan bimbingannya 
  justru rata-rata sudah berumur. Sebab, dia mengajar tingkat master
  (S-2), doktor (S-3), bahkan post doctoral.
   
  Prestasi dan reputasi Nelson cukup berkibar di kalangan akademisi 
  AS. Puluhan hasil risetnya dipublikasikan di jurnal-jurnal 
  internasional. 
  Dia sering diundang menjadi pembicara utama dan penceramah di 
  berbagai seminar. Paling sering terutama menjadi pembicara dalam
  pertemuan-pertemuan intelektual, konferensi, dan seminar di 
  Washington DC. Selain itu, dia sering datang ke berbagai kota lain 
  di AS. Bahkan, 
  dia sering pergi ke mancanegara seperti Kanada, sejumlah negara di 
  Eropa, dan Asia.
   
  Yang mengagumkan, sudah ada tiga penemuan ilmiahnya yang dipatenkan 
  diAS, yakni bidang semiconductor nanostructure optoelectronics 
  devices 
  dan high power semiconductor lasers. Di tengah kesibukannya 
  melakukan riset-riset lainnya, dua buku Nelson sedang dalam proses 
  penerbitan.
  Bukan main. Kedua buku tersebut merupakan buku teks (buku wajib 
  pegangan, Red) bagi mahasiswa S-1 di Negeri Paman Sam. 
   
  Karena itu, Indonesia layak bangga atas prestasi anak bangsa di 
  negeri rantau tersebut. Lajang kelahiran Medan, 20 Oktober 1977, itu
  sampaisekarang masih memegang paspor hijau berlambang garuda. 
  Kendati belumsatu dekade di AS, prestasinya sudah segudang. Ke mana 
  pun 
  dirinya pergi, setiap ditanya orang, Nelson selalu mengenalkan diri 
  sebagaiorang Indonesia. Sikap Nelson itu sangat membanggakan di 
  tengah
  banyak tokoh kita yang malu mengakui Indonesia sebagai tanah 
  kelahirannya. 
   
  "Saya sangat cinta tanah kelahiran saya. Dan, saya selalu ingin 
  melakukan yang terbaik untuk Indonesia," katanya, serius.
   
  Di Negeri Paman Sam, kecintaan Nelson terhadap negerinya yang 
  dicapsebagai terkorup di Asia tersebut dikonkretkan dengan 
  memperlihatkanketekunan serta prestasi kerjanya sebagai anak bangsa. 
  Saat berbicara soal Indonesia, mimik pemuda itu terlihat
  sungguh-sungguh dan jauh dari basa-basi.
   
  "Bangsa Indonesia adalah bangsa yang besar dan merupakan bangsa yang 
  mampu bersaing dengan bangsa-bangsa besar lainnya. Tentu saja jika 
  bangsa kita terus bekerja keras," kata Nelson menjawab koran ini.
   
  
  Dia adalah anak kedua di antara tiga bersaudara buah pasangan 
  Iskandar Tansu dan Lily Auw yang berdomisili di Medan, Sumatera 
  Utara. Kedua 
  orang tua Nelson adalah pebisnis percetakan di Medan. Mereka adalah 
  lulusan universitas di Jerman. Abang Nelson, Tony Tansu, adalah 
  master
  dari Ohio, AS. Begitu juga adiknya, Inge Tansu, adalah lulusan Ohio 
  State University (OSU). Tampak jelas bahwa Nelson memang berasal 
  dari 
  lingkungan keluarga berpendidikan.
   
  Posisi resmi Nelson di Lehigh University adalah assistant professor 
  di bidang electrical and computer engineering. Di AS, itu merupakan 
  gelar
  untuk guru besar baru di perguruan tinggi. "Walaupun saya adalah 
  profesor di jurusan electrical and computer engineering, riset saya 
  sebenarnya lebih condong ke arah fisika terapan dan quantum 
  electronics," jelasnya.
   
  Sebagai cendekiawan muda, dia menjalani kehidupannya dengan tiada 
  hari tanpa membaca, menulis, serta melakukan riset. Tentunya, dia 
  juga 
  menyiapkan materi serta bahan kuliah bagi para mahasiswanya. 
  Kesibukannya tersebut, jika meminjam istilah di Amerika, bertumpu 
  pada
  tiga hal. Yakni, learning, teaching, and researching. Boleh jadi, 
  tak ada waktu sedikit pun yang dilalui Nelson dengan santai. Di 
  sana, 24 
  jam sehari dilaluinya dengan segala aktivitas ilmiah. Waktu yang 
  tersisa tak lebih dari istirahat tidur 4-5 jam per hari.
   
  Anak muda itu memang enak diajak mengobrol. Idealismenya berkobar-
  kobardan penuh semangat. Layaknya profesor Amerika, sosok 
  Nelson sangat bersahaja dan bahkan suka merendah. Busana 
  kesehariannya juga tak aneh-aneh, yakni mengenakan kemeja berkerah 
  dan pantalon.
   
  Sekilas, dia terkesan pendiam. Pengetahuan dan bobotnya sering 
  tersembunyi di balik penampilannya yang seperti tak suka bicara. 
  Tapi, 
  ketika dia mengajar atau berbicara di konferensi para intelektual, 
  jati diri akademisi Nelson tampak. Lingkungan akademisi, riset, dan
  kampus memang menjadi dunianya. Dia selalu peduli pada kepentingan 
  serta dahaga pengetahuan para mahasiswanya di kampus. 
   
  Ada yang menarik di sini. Karena tampangnya yang sangat belia, tak 
  sedikit insan kampus yang menganggapnya sebagai mahasiswa S-1 atau
  program master. Dia dikira sebagai mahasiswa umumnya. Namun, bagi 
  yang mengenalnya, terutama kalangan universitas atau jurusannya 
  mengajar, 
  begitu bertemu dirinya, mereka selalu menyapanya hormat: Prof Tansu. 
   
  
  "Di semester Fall 2003, saya mengajar kelas untuk tingkat PhD 
  tentang physics and applications of photonics crystals. Di semester 
  Spring 
  2004, sekarang, saya mengajar kelas untuk mahasiswa senior dan 
  master tentang semiconductor device physics. Begitulah," ungkap 
  Nelson
  menjawab soal kegiatan mengajarnya.
   
  September hingga Desember atau semester Fall 2004, jadwal mengajar 
  Nelson sudah menanti lagi. Selama semester itu, dia akan mengajar 
  kelas untuk tingkat PhD tentang applied quantum mechanics for 
  semiconductor nanotechnology.
   
  "Selain mengajar kelas-kelas di universitas, saya membimbing 
  beberapa mahasiswa PhD dan post-doctoral research fellow di Lehigh 
  University 
  ini," jelasnya saat ditanya mengenai kesibukan lainnya di kampus. 
   
  
  Nelson termasuk individu yang sukses menggapai mimpi Amerika 
  (American dream). Banyak imigran dan perantau yang mengadu nasib di 
  negeri itu 
  dengan segala persaingannya yang superketat. Di Negeri Paman Sam 
  tersebut, ada cerita sukses seperti aktor yang kini menjadi Gubernur
  California Arnold Schwarzenegger yang sebenarnya adalah imigran asal 
  Austria. Kemudian, dalam Kabinet George Walker Bush sekarang juga 
  ada 
  imigrannya, yakni Menteri Tenaga Kerja Elaine L. Chao. Imigran asal 
  Taipei tersebut merupakan wanita pertama Asian-American yang menjadi
  menteri selama sejarah AS.
   
  Negara Superpower tersebut juga sangat baik menempa bakat serta 
  intelektual Nelson. Lulusan SMA Sutomo 1 Medan itu tiba di AS pada 
  Juli 1995. Di sana, dia menamatkan seluruh pendidikannya mulai S-1 
  hingga S-3 di University of Wisconsin di Madison. Nelson 
  menyelesaikan
  pendidikan S-1 di bidang applied mathematics, electrical 
  engineering, and physics. Sedangkan untuk PhD, dia mengambil bidang 
  electrical 
  engineering.
   
  Dari seluruh perjalanan hidup dan karirnya, Nelson mengaku bahwa 
  semua suksesnya itu tak lepas dari dukungan keluarganya. Saat ditanya
  mengenai siapa yang paling berpengaruh, dia cepat menyebut kedua 
  orang tuanya dan kakeknya. "Mereka menanamkan mengenai pentingnya 
  pendidikan 
  sejak saya masih kecil sekali," ujarnya.
   
  Ada kisah menarik di situ. Ketika masih sekolah dasar, kedua orang 
  tuanya sering membanding-bandingkan Nelson dengan beberapa sepupunya
  yang sudah doktor. Perbandingan tersebut sebenarnya kurang pas. 
  Sebab, para sepupu Nelson itu jauh di atas usianya. Ada yang 20 
  tahun lebih 
  tua. Tapi, Nelson kecil menganggapnya serius dan bertekad keras 
  mengimbangi sekaligus melampauinya. Waktu akhirnya menjawab imipian
  Nelson tersebut.
   
  "Jadi, terima kasih buat kedua orang tua saya. Saya memang orang 
  yangsuka dengan banyak tantangan. Kita jadi terpacu, gitu," 
  ungkapnya. 
   
  Nelson mengaku, mendiang kakeknya dulu juga ikut memicu semangat 
  sertadisiplin belajarnya. "Almarhum kakek saya itu orang yang sangat
  baik,namun agak keras. Tetapi, karena kerasnya, saya malah menjadi 
  lebih tekun dan berusaha sesempurna mungkin mencapai standar 
  tertinggi 
  dalam melakukan sesuatu," jelasnya.
   
  Sisihkan 300 Doktor AS, tapi Tetap Rendah Hati
   
  Nelson Tansu menjadi fisikawan ternama di Amerika. Tapi, hanya 
  sedikit yang tahu bahwa guru besar belia itu berasal dari Indonesia. 
  Di 
  sejumlah kesempatan, banyak yang menganggap Nelson ada hubungan 
  famili dengan mantan PM Turki Tansu Ciller. Benarkah?
   
  NAMA Nelson Tansu memang cukup unik. Sekilas, sama sekali nama itu 
  tidak mengindikasikan identitas etnis, ras, atau asal negeri 
  tertentu. 
  Karena itu, di Negeri Paman Sam, banyak yang keliru membaca, 
  mengetahui, atau berkenalan dengan profesor belia tersebut.
   
  Malah ada yang menduga bahwa dia adalah orang Turki. Dugaan itu 
  muncul jika dikaitkan dengan hubungan famili Tansu Ciller, mantan 
  perdana 
  menteri (PM) Turki. Beberapa netters malah tidak segan-segan 
  mencantumkan nama dan kiprah Nelson ke dalam website Turki.
  Seolah-olah mereka yakin betul bahwa fisikawan belia yang mulai 
  berkibar di lingkaran akademisi AS itu memang berasal dari negerinya 
  Kemal 
  Ataturk.
   
  Ada pula yang mengira bahwa Nelson adalah orang Asia Timur, tepatnya 
  Jepang atau Tiongkok. Yang lebih seru, beberapa universitas di Jepang
  malah terang-terangan melamar Nelson dan meminta dia "kembali" 
  mengajar di Jepang. Seakan-akan Nelson memang orang sana dan pernah 
  mengajar di Negeri Sakura itu. 
   
  
  Dilihat dari nama, wajar jika kekeliruan itu terjadi. Begitu juga 
  wajah Nelson yang seperti orang Jepang. Lebih-lebih di Amerika 
  banyak 
  professor yang keturunan atau berasal dari Asia Timur dan jarang-
  jarang memang asal Indonesia. Nelson pun hanya senyum-senyum
  atas segala kekeliruan terhadap dirinya. 
   
  
  "Biasanya saya langsung mengoreksi. Saya jelaskan ke mereka bahwa 
  saya asli Indonesia. Mereka memang agak terkejut sih karena memang 
  mungkin 
  jarang ada profesor asal aslinya dari Indonesia,"jelas Nelson. 
   
  
  Tansu sendiri sesungguhnya bukan marga kalangan Tionghoa. Memang, 
  nenek moyang Nelson dulu Hokkien, dan marganya adalah Tan. Tapi, 
  ketika lahir, Nelson sudah diberi nama belakang "Tansu", sebagaimana 
  ayahnya, Iskandar Tansu.
   
  "Saya suka dengan nama Tansu, kok,"kata Nelson dengan nada bangga. 
  Nelson adalah pemuda mandiri. Semangatnya tinggi, tekun, visioner, 
  dan 
  selalu mematok standar tertinggi dalam kiprah riset dan dunia 
  akademisinya. Orang tua Nelson hanya membiayai hingga tingkat S-1.
  Selebihnya? Berkat keringat dan prestasi Nelson sendiri. Kuliah 
  tingkat doktor hingga segala keperluan kuliah dan kehidupannya 
  ditanggung lewat beasiswa universitas.
   
  "Beasiswa yang saya peroleh sudah lebih dari cukup untuk membiayai 
  semua kuliah dan kebutuhan di universitas," katanya. Orang seperti
  Nelson dengan prestasi akademik tertinggi memang tak sulit memenangi 
  berbagai beasiswa. Jika dihitung-hitung, lusinan penghargaan dan 
  anugerah beasiswa yang pernah dia raih selama ini di AS.
   
  
  Menjadi profesor di Negeri Paman Sam memang sudah menjadi cita-cita 
  dia sejak lama. Walau demikian, posisi assistant professor (profesor 
  muda, Red) tak pernah terbayangkannya bisa diraih pada usia 25 
  tahun. Coba bandingkan dengan lingkungan keluarga atau masyarakat di
  Indonesia, umumnya apa yang didapat pemuda 25 tahun?
   
  Bahkan, di AS yang negeri supermaju pun reputasi Nelson bukan 
  fenomena umum. Bayangkan, pada usia semuda itu, dia menyandang 
  status guru 
  besar. Sehari-hari dia mengajar program master, doktor, dan bahkan 
  post doctoral. Yang prestisius bagi seorang ilmuwan, ada tiga riset
  Nelson yang dipatenkan di AS. Kemudian, dua buku teksnya untuk 
  mahasiswa S-1 dalam proses penerbitan. 
   
  Tapi, bukan Nelson Tansu namanya jika tidak santun dan merendah. 
  Cita-citanya mulia sekali. Dia akan tetap melakukan riset-riset yang
  hasilnya bermanfaat buat kemanusian dan dunia. Sebagai profesor di 
  AS, dia seperti meniti jalan suci mewujudkan idealisme tersebut. 
   
  Ketika mendengar pengakuan cita-cita sejatinya, siapa pun pasti akan 
  terperanjat. Cukup fenomenal. "Sejak SD kelas 3 atau kelas 4 di 
  Medan,
  saya selalu ingin menjadi profesor di universitas di Amerika 
  Serikat. Ini benar-benar saya cita-citakan sejak kecil," ujarnya 
  dengan mimik 
  serius.
   
  Tapi, orang bakal mahfum jika melihat sejarah hidupnya. Ketika usia 
  SD,Nelson kecil gemar membaca biografi para ilmuwan-fisikawan AS dan
  Eropa. Selain Albert Einstein yang menjadi pujaannya, nama-nama 
  besar seperti Werner Heisenberg, Richard Feynman, dan Murray Gell-
  Mann 
  ternyata sudah diakrabi Nelson cilik.
   
  
  "Mereka hebat. Dari bacaan tersebut, saya benar-benar terkejut, 
  tergugah dengan prestasi para fisikawan luar biasa itu. Ada yang 
  usianya muda sekali ketika meraih PhD, jadi profesor, dan ada pula 
  yang berhasil menemukan teori yang luar biasa. Mereka masih muda
  ketika itu," jelas Nelson penuh kagum.
   
  Nelson jadi profesor muda di Lehigh University sejak awal 2003. 
  Untuk bidang teknik dan fisika, universitas itu termasuk unggulan 
  dan papan 
  atas di kawasan East Coast, Negeri Paman Sam. Untuk menjadi 
  professor di Lehigh, Nelson terlebih dahulu menyisihkan 300 doktor 
  yang resume
  (CV)-nya juga hebat-hebat. "Seleksinya ketat sekali, sedangkan 
  posisi yang diperebutkan hanya satu," ujarnya. 
   
  Lelaki penggemar buah-buahan dan masakan Padang itu mengaku lega dan 
  beruntung karena dirinya yang terpilih. Menurut Nelson, dari segi 
  gaji
  dan materi, menjadi profesor di kampus top seperti yang dia alami 
  sekarang sudah cukup lumayan. Berapa sih lumayannya? 
   
  "Sangat bersainglah. Gaji profesor di universitas private terkemuka 
  di Amerika Serikat adalah sangat kompetitif dibandingkan dengan gaji
  industri. Jadi, cukup baguslah, he...he...he...," katanya, 
  menyelipkan senyum. 
   
  Riwayat hidup dan reputasinya memang wow. Nelson sempat menjadi 
  incaran dan malah "rebutan" kalangan universitas AS dan mancanegara.
  Ada yang menawari jabatan associate professor yang lebih tinggi 
  daripada yang dia sandang sekarang (assistant professor). Ada pula 
  yang menawari gaji dan fasilitas yang lebih heboh daripada Lehigh 
  University. Tawaran-tawaran menggiurkan itu datang dari AS, Kanada,
  Jerman, dan Taiwan serta berasal dari kampus-kampus top.
   
  Semua datang sebelum maupun sesudah Nelson resmi mengajar di Lehigh 
  University. Tapi, segalanya lewat begitu saja. Nelson memilih 
  konsisten, loyal, dan komit dengan universitas di Pennsylvania itu. 
  Tapi, tentu ada pertimbangan khusus yang lain.
   
  "Saya memilih ini karena Lehigh memberikan dana research yang sangat 
  signifikan untuk bidang saya, semiconductor nanostructure 
  optoelectronic devices. Lehigh juga memiliki leaderships yang sangat 
  kuat dan ambisinya tinggi menaikkan reputasinya dengan memiliki para
  profesor paling berpotensi dan ternama untuk melakukan riset 
  berkelas dunia," papar pengagum John Bardeen, fisikawan pemenang 
  Nobel, itu. 
   
  Perusahaan-perusahaan industri Amerika juga menaruh minat dan 
  mengiming-imingi Nelson dengan gaji dan fasilitas menggiurkan. Itu 
  pun
  dia tampik. "Bukan apa-apa. Saya memang tidak tertarik untuk masuk 
  ke industri. Seperti saya bilang tadi, profesor sudah cita-cita 
  saya. 
  Lagi pula, kompensasi finansial yang diberikan Lehigh memang sudah 
  bagus banget dan saya happy," tuturnya.
   
  Nelson tinggal di sebuah apartemen yang tak jauh dari kampusnya 
  mengajar. Dia tinggal sendiri. Karena itu, semua urusan rumah dan 
  segala keperluannya dilakukan sendiri.
   
  Ditanya soal pacar, Nelson tersipu-sipu dan mengaku belum 
  punya.Padahal, secara fisik, dengan tinggi 173 cm, berat 67 kg, dan
  wajah yang cakep khas Asia, Nelson mestinya gampang menggaet (atau 
  malah digaet) cewek Amerika. Banyak kriteria kah? 
   
  "Ha...ha...ha.... Pertama, saya ini nggak ganteng ya. Tapi, begini, 
  mungkin karena memang belum ketemu yang cocok dan jodoh saja. Saya
  sih, kalau bisa, ya dengan orang Indonesia-lah. Saya sih nggak 
  melihat orang berdasarkan kriteria macem-macem. Yang penting 
  orangnya baik, 
  pintar, bermoral, pengertian, dan mendukung," paparnya panjang 
  lebar, geli karena topik pembicaraan menyimpang dari dunia fisikanya 
  ke soal
  wanita.
   
  Nelson hampir tiap tahun pulang ke Medan, bertemu orang tuanya dan 
  teman-teman lamanya. Pemilik email [EMAIL PROTECTED] dan alamat alamat
  website http://www3.lehigh.edu/engineering/ece/tansu.asp itu dengan 
  segudang prestasi dan reputasinya memang membanggakan Indonesia.
  
  
      
                                    

 
---------------------------------
Want to start your own business? Learn how on  Yahoo! Small Business. 

[Non-text portions of this message have been removed]



Tetap Semangat Mencintai Banten! 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/wongbanten/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/wongbanten/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke