sumber: wwww.bantenlink.com, Selasa 16/1-2007

Alasan Tak Punya Gudang, Pesawat Televisi Rp5,9 Miliar
Disimpan Di Pabrik Sanken
 
  
Serang— ”Karena kami tidak punya gudang, terpaksa kami
simpan di pabrik tempat kami membeli barang itu.
Setiap sekolah mendapatkan 2 unit pesawat televisi
berukuran 29 inci layar datar merk Sanken yang
dilengkapi dengan antene biasa,“ kata Ino Ruwita,
Kasubdin Pendidikan Dasar (Dikdas) Dinas Pendidikan
Provinsi Banten, Senin (15/1).
 
Oleh : Ovinal
 
Namun Ino mengakui adanya keterlambatan pengiriman
pesawat televisi ke sekolah-sekolah lanjutan pertama
(SLTP) yang mendapatkan bantuan langsung pesawat
televisi.

”Tidak benar kegiatan ini fiktif. Sebab semua
barang-barang sudah ada, hanya pengirimanya saja yang
terlambat. Dan kami mengangap itu bukan suatu masalah.
Untuk wilayah Kabupaten/Kota Tangerang semuanya sudah
dikirim, sedangkan untuk wilayah lainya akan
diselesaikan dalam minggu ini,” ujarnya.

Menurutnya ketelambatan ini disebabkan oleh tidak
adanya gudang untuk menyimpan sementara pesawat-
pesawat televisi tersebut. Selain itu, lambatnya pihak
sekolah menyerahkan proposal ke Disdik Banten.

Namun hal ini bertolak belakang dengan surat pengantar
dari Dirjen Manajemen Pendidkan Dasar dan Menegah
Departemen Pendidikan Nasional No 1434/05.2/LK/2006
tanggal 25 Juli 2005 yang ditandatangani oleh Joko
Sutrino selaku pejabat pembuat komitmen penagung jawab
kegiatan pengembangan ITC dan TV Edukasi.

Dalam suarat itu tertulis untuk Provinsi Banten
mendapatkan 1.958 unit TV untuk 979 SLTP yang tersebar
di wilayah Banten. Masing-masing sekolah mendapatkan 2
unit TV layar datar berukuran 29 inchi merk Samsung.
Bantuan itu juga harus dilengkapi dengan TVRO
(parabola) untuk solid 6 feet. Sedangkan untuk jenis
mash minimal 10 feet, serta mesin Genset/PLTS dengan
kekuatan minimal 900 watt.   Jumlah total anggaran
tersebut mencapai Rp 5,9 miliar. 

Menurut surat Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah
Depdiknas, seluruh bantuan telelvisi untuk SMP negeri
dan swasta harus dibagikan paling lambat tanggal 23
Desember 2006. Namun hingga Senin (15/1), sekolah di
Kabupaten Serang, Pandeglang, Lebak dan Cilegon belum
menerima pesawat televisi. 

Suhada, Direktur Eksekutif Aliansi Lembaga Independen
Peduli Publik (Alipp) mengatakan, keterlambatan
pendistribusian pesawat televisi ke sekolah-sekolah
sudah merupakan indikasi penyelewengan dalam proyek
tersebut. “Jika semua elemen yang terlibat dalam
proyek itu menjalankan tugas-tugas masing-masing
dengan benar, tidak ada alasan terlambat,” ujarnya.

Indikasi lainnya pernyataan pejabat Dinas Pendidikan
Banten yang dinilai janggal. “Masak, barang yang sudah
dibeli dari pabrik, dititipkan begitu lama di pabrik
itu. Jangan-jangan memang belum dibayar. Ini tugas
kejaksaan dan kepolisian untuk mengungkapkan dugaan
penyelewengan tersebut. 

Suhada menambahkan, bukti lain dugaan penyelewengan
adalah spesifikasi pesawat televisi yang seharusnya
dibeli. Menurut dokumen Dipda disebutkan, televisi
jenis layar datar, ukuran 29 Inchi, merek Samsung dan
antena parabola (TVRO). Sedangkan pengakuan Ino
Ruwita, Subdin Pendidikan Dinas Pendidikan Banten
bahwa yang dibeli adalah merek Sanken dengan antena
biasa, bukan parabola. (nr)
 



 
____________________________________________________________________________________
Need a quick answer? Get one in minutes from people who know.
Ask your question on www.Answers.yahoo.com

Kirim email ke