(Tulisan Lawas, yang ditulis dan di-edit kembali. Mohon maaf jika ada yang 
pernah membaca versi lawasnya yang disana terdapat berbagai kekeliruan)

Hari ini secara tidak sengaja saya membaca salah satu media bahwa sahabat saya 
Dr. Pribadi menjadi bakal calon Rektor di Universitas Ndeso. Berita tersebut 
memaksa seluruh syaraf memori saya kembali pada saat 15 tahun yang lalu.

Pribadi (bukan nama aseli), tapi kisahnya 100% tidak palsu, adalah sahabat yang 
sangat saya hormati. Santun, tepo selero, tulus, lugu, ikhlas, tabah, cuek, 
khas pribadi wong Yogya yang sangat njawani. Lahir dari keluarga sangat miskin, 
dalam arti miskin secara absolut, tapi kaya dalam citra dan harga diri.

Ciri khasnya pasti: aktivitasnya hanya sekitar kampus, kemana-mana pake sepeda 
ontel butut, sendal Lily, tas kresek berat penuh buku, baju batik lusuh, kaca 
mata besar tidak modis sama sekali dengan tangkai bengkok karatan. Plus 
kebisaannya yang selalu nembang lagu-lagu jawa merdu dan mendalang.

Rasanya saya kenal dekat dengannya. Tapi kelak baru saya sadari bahwa saya 
tidak cukup dekat untuk memahami maknanya. Di agak akhir dekade 1990-an 
wajahnya terpampang dalam headline Tabloid Adil (dulu tabloid tersebut punya 
reputasi nasional, tapi entah sekarang). Tidak kalah gaya dengan Adji Massaid 
dengan Moge-nya, Dr. Pribadi pun berpose di atas sepeda ontel-nya.

Judul besarnya: "Dengan Sepeda Ontel meraih gelar Doktor". Keterkejutan saya 
justru menyadarkan saya bahwa saya selama ini tidak cukup mengenalnya secara 
dekat. Tidak disangka diantara rekan sesama aktivis kampus ternyata dia yang 
paling cepat menyelesaikan S-3 sementara yang lain baru sibuk persiapan 
pendadaran skripsi. Biasalah, aktivis selalu telat lulus harap maklum. Tapi 
Pribadi memang berbeda; minim fasilitas justru minim juga waktu studinya. 
Sahabat saya lainnya yang baru saja kemarin lulus doktor di Universitas Ndeso 
spesialis SDM bilang; Pribadi adalah salah satu dari sedikit orang yang dengan 
modal sangat minim tapi berhasil "memelentingkan" prestasinya.

Saya teringat kembali sebuah snapshot ketika mahasiswa 15 tahun yang lampau. 
Suatu ketika saya bertemu di kampus dengannya. 
Dari sepeda motor, tegur saya: "Di, sampeyan mau kemana?" sambil menyamakan 
kecepatan sepeda motor dengan kecepatan kayuhan sepeda ontelnya.
"Toko buku Gramedia", katanya kalem dengan senyum khas njowonya.
"Yo wes, tak bonjengin (= yah sudah, saya boncengin). Kita ke Gramedia bareng", 
sambil saya rem itu sepeda motor. 
"Okay katanya", lalu digeletakin begitu saja sepeda ontelnya di pinggir jalan 
kampus, cuek langsung mboceng ke motor saya.
"Lho sepeda ontelmu ndak dikunci?" tanya saya dalam kaget.
"Ora opo-opo (ndak apa-2). Ndak mungkin dicuri. Lagian seluruh Satpam kampus 
juga tahu kok bahwa kereta kencana itu hanya milikku seorang", katanya enteng 
dan penuh percaya diri.

Selain cerita bersahaja tentang dirinya, saya tetap tidak bisa menutupi rasa 
hormat saya atas idialismenya. Saya ingat betul akan keinginannya untuk 
membimbing kandidat doktor baru agar meneliti sejarah Islam di seluruh 
Indonesia. Dia ingin setiap seorang kandidat doktor bertanggung jawab meriset 1 
propinsi tentang sejarah dan perkembangan Islam. Harapannya, akan muncul 
ensiklopedia Islam nusantara yang terdokumentasi secara ilmiah dari Sabang 
sampai Merauke. Suatu cita-cita kaya nilai, ditengah miskinnya masyarakat akan 
catatan-2 penting tentang sejarah Islam dan pemaknaan akan sejarah tersebut.

Sudah 5 tahun lebih saya tidak bertemu Dr. Pribadi. Hari ini secara tidak 
sengaja saya membaca berita bahwa sahabat saya itu adalah bakal calon Rektor di 
Universitas Ndeso. "Sempurna", "sempurna", saya hanya bisa takjub karena dada 
saya bergelora. Seluruh cita rasa bertaut di hati; bahagia, terkejut sekaligus 
hormat kepadanya. Saya membayangkan jika ini memang terjadi; Dr. Kaya Pribadi 
(atau siapapun yang punya idialisme sama) terpilih menjadi Rektor Universitas 
Ndeso. Ini perpaduan sempurna antara; kesahajaan dalam bersikap,  rakyat ndeso 
orientasinya, World Class University manifestasi kualitasnya, dan jangan lupa 
tercatat sebagai satu-satunya di republik ini dalam ranking TIMES sebagai 100 
universitas papan atas dunia dalam prestasi, satu cluster dengan Harvard, MIT, 
Cambridge, Oxford, Tokyo, München dan Sorbonne. 

Tulisan ini adalah bentuk doa saya ke "Gusti Pangeran" agar selalu melindungi 
mereka-2 ber-idialis tinggi dalam kesahajaan siapapun dia orangnya. 

Salam,

Ferizal Ramli
Wong Banten yang banyak belajar dari Wong Yogya
 



       
____________________________________________________________________________________
Don't pick lemons.
See all the new 2007 cars at Yahoo! Autos.
http://autos.yahoo.com/new_cars.html 

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke