SAKSIKAN PEMENTASAN ULANG SURAT UNTUK GUBERNUR OLEH STUDY TEATER 24 DI TEATER KECIL TAMAN ISMAIL MARZUKI, 20 DAN 21 APRIL 2007, PUKUL 20.00
Panggung teater pun kembali pada tradisi berdekadenya belakangan ini: sepi, sendiri, asyik dengan kebesaran-kebesaran yang ia ciptakan sendiri. Orang lain, publik, tidak ambil bagian. Wajar bila sepuluh hari festival, rata-rata setengah penontonnya adalah anggota komunitas teater yang itu-itu juga setiap harinya. FTJ menjadi pesta internal, untuk diri sendiri. Satu prosesus alienasi yang menetap. Bukan pesta bagi siapa saja. Karena simbol-simbol, tema, bahkan hingga cara busana dan bicara, ia sudah menjadi eksklusif. FTJ sebagai peristiwa seperti sudah semacam karantina di tengah hidup masyarakat yang memilikinya. Sangat berbeda, misalnya, dengan seni film yang berpesta melalui JIFFEST di waktu yang hampir sama. Namun, catatan di atas, tetap harus memperhitungkan kehadiran satu-dua pertunjukan yang berusaha keras "membumikan" diri, menemukan realitas dirinya yang hidup bersama realitas publiknya. Salah satu dari itu adalah Study Teater 24 dari Jakarta Barat. Mengambil naskah realis karya Theodore Apstein terjemahan Muhammad Diponegoro, Surat untuk Gubernur, sutradara Irwin M. Limbong meletakkan seluruh bangun cerita dan bangun teatrikalnya pada latar sosial lokal. Pada bentuk, simbol, perilaku, pola pemeranan hingga diksi-diksi yang begitu kita akrabi. Panggung berhasil melelehkan jarak antara peristiwa teater dan penontonnya. Satu akhir yang indah bagi sebuah festival yang sejak mula mengarantina diri dan dunia luarnya. Faktor penting dan menentukan inilah yang seharusnya menempatkan Study Teater 24 menjadi peserta terunggul dalam FTJ 2006. Di samping, tentu, model penggarapan sutradaranya yang cermat dan cerdas, membuat drama tersebut juga unggul dalam hampir semua elemen teatrikalnya. Terbukti grup ini menyabet mayoritas penghargaan, di elemen-elemen terpentingnya: sutradara, artistik, aktris, tapi tidak (yang sangat mengherankan) grup terbaik. Walau demikian, Study Teater 24 bisa menjadi anti-tesis dari kecenderungan utama pertunjukan teater FTJ yang tidak berusaha "hadir" secara sesungguhnya di tengah publik . (Radhar Panca Dahana, Teater dengan Kerendahan Hati, Kompas edisi 8 Januari 2007) Tentang Study Teater 24 ----------------------- Awalnya, Study Teater 24 adalah kelompok teater sekolah di lingkungan SMEA Negeri 24 Cengkareng, Jakarta Barat. Tak mengherankan jika mayoritasnya anggota sekarang adalah alumni sekolah kejuruan tersebut dan sisanya dari lingkungan sekolah yang lain. Sejak didirikan tahun 1980, kelompok teater ini telah banyak meraih penghargaan dalam Festival Teater Jakarta (FTJ), baik dalam tingkat wilayah maupun tingkat provinsi. Prestasi yang pernah diraih antara lain Grup Terbaik II FTJ Wilayah Jakarta Barat pada tahun 2004, Grup Terbaik III FTJ Wilayah Jakarta Barat pada tahun 2005, Grup Terbaik I FTJ Wilayah Jakarta Barat pada tahun 2006, Grup Terbaik II FTJ Tingkat Provinsi DKI Jakarta pada tahun 2007 (sekaligus meraih penghargaan untuk kategori sutradara terbaik, pemeran utama perempuan terbaik, dan penata artistik terbaik). Tentang Theodore Apstein ------------------------ Penulis yang menjadi warga negara Amerika Serikat ini lahir di Kiev (sekarang Ukraina) pada 3 Juli 1918. Di Hollywood, terutama setelah usai Perang Dunia II, ia dikenal sebagai penulis skenario dan TV play yang produktif, selain banyak juga menulis untuk naskah panggung. Apstein antara lain menulis skenario untuk film seri TV Kung Fu, Another World, dan The Time Tunnel. Ia mengembuskan napas terakhir di Los Angeles pada 26 Juli 1998 lalu karena terserang stroke. Tentang Mohammad Diponegoro (Penerjemah/Penyadur) ------------------------------------------------- Mohammad Diponegoro dilahirkan pada tanggal 28 Juni 1928, di Yogyakarta. Ia menyelesaikan pendidikannya di HIS Muhammadiyah Yogyakarta pada tahun 1942; SMP Muhammadiyah Yogyakarta tahun 1954; dan SMA B Negeri Yogyakarta tahun 1950. Setelah itu, ia melanjutkan ke Fakultas Tehnik Universitas Indonesia di Bandung, tetapi hanya setahun. Kemudian atas anjuran dokter, ia pindah ke Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, Fakultas H.E.S.P. jurusan Ekonomi. Pada tahun 1964, ia belajar ke Nippon Bunka Gakuin tingkat Skokyu ranking I dan dikirim ke Jepang selama 6 bulan; dan pada tahun 1969, kembali ke Universitas Gadjah Mada, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, jurusan Hubungan Internasional sampai tingkat III. Selain itu, ia juga mengikuti beberapa kursus, menguasai beberapa bahasa asing, seperti Inggris, Arab, Jepang, dan Belanda, serta pernah menjadi santri di Pondok Modern Gontor, Ponorogo. Pada masa revolusi kemerdekaan, ia turut aktif dalam bidang kemiliteran. Sekitar April sampai Juni 1945 mengikuti latihan kemiliteran di Cibarusa, Jawa Barat. Selain itu, pernah menjadi opsir TRI (Tentara Rakyat Indonesia) dengan pangkat Letnan Dua, menjabat dalam Staf Resimen Ontowiryo (TNI Masyarakat), dan memegang pimpinan Komandan Seksi sampai tahun 1947. Pada tahun 1951, ia menjadi guru tidak tetap dalam mata pelajaran bahasa Indonesia di SMP Dinas Penyempurnaan Pengetahuan dan keahlian Staf A Angkatan Darat di Bandung. Pada tahun 1955. ia melawat ke Amerika Serikat dalam rangka penelitian tentang Youth Activities dan Youth Leaders` Grabnt dari USIS. Sepulangnya dari Amerika, ia mengunjungi Inggris, Belanda, Prancis, Mesir, Pakistan, dan Singapura. Pada tahun 1959, ia bekerja di USIS sebagai wakil direktur Jefferson Library Yogyakarta. Kemudian pada tahun 1964, ia mengunjungi Jepang dan Philipina. Di bidang jurnalistik, ia pernah duduk dalam redaksi majalah Tunas, yang diterbitkan oleh PII (Pelajar Islam Indonesia) pada tahun 1947-1950; kemudian dalam redaksi majalah Media, yang diterbitkan oleh HMI (Himpunan Mahasiswa Islam) pada tahun 1955; dan redaksi majalah Misykah, yang diterbitkan oleh H.P.S.I. (Himpunan Peminat Sastra Islam) pada tahun 1960. Pada bulan Juni 1965, ia duduk dalam redaksi majalah Suara Muhammadiyah, yang diterbitkan oleh Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Kemudian pada tahun 1975, ia diangkat menjadi wakil pimpinan redaksi/wakil pimpinan umum majalah itu sebagai pengasuh ruang cerita pendek, sajak, rubrik opini, karikatur, dan pembaca menulis. Sebagai pengasuh rubrik English Colum, ia menggunakan nama samaran Ben Hashem. Di samping sebagai sastrawan dan wartawan, ia juga pelukis baik, fotografer, dan sering menjadi juri deklamasi sajak, serta juri sayembara drama televisi dan radio. Selain itu, ia pun gemar musik, bahkan menguasai beberapa alat musik, seperti piano, gitar, dan biola, serta pernah mencipta syair lagu. Syair-syair lagu ciptaannya, antara lain Mars `Aisyiyah (lagu oleh M. Irsyad) dan Bidan Prajurit Islam, sebuah gubahannya untuk sekolah Bidan P.K.U. (Pusat Kesejahteraan Umum) Muhammadiyah. Namanya juga tercatat sebagai anggota B.K.K.I.I. (Badan Kongres Kebudayaan Islam Indonesi). Mohammad Diponegoro sudah aktif menulis sejak tahun lima puluhan. Ia banyak menulis dan menyadur cerita pendek, drama, sajak, esai, dan terkenal karena usahanya mempuitisasikan terjemahan al-Qur`an. Karya-karya tersebar di berbagai majalah dan harian, seperti Budaya, Budaya Jaya, Gadjah Mada, Gema Islam, Horison, Indonesia, Kartini, Kisah, Kompas, Media, Minggu Pagi, Misykah, Moderna, Panji Masyarakat, Siasat, Suara Muhammadiyah, Suara Ummat, dan Tunas. Sumbangannya terhadap dunia kesusasteraan Indonesia, terutama adalah cerpen-cerpen yang dihasilkannya. Selama hidupnya tidak kurang dari lima ratus buah cerita pendek telah ditulisnya, baik asli terjemahan, maupun saduran. Cerpen-cerpen yang di hasilkannya itu tidak hanya disebarkan melalui majalah dan harian, tetapi juga disiarkan melalui radio. Sejak tahun 1969, ia membuat rekaman cerita pendek untuk disiarkan pada radio ABC Siaran Bahasa Indonesia, Melbourne, Australia, pada setiap rabu malam. Hal itu berlangsung tidak kurang dari sepuluh tahun lamanya. Karena itu, tidak mustahil jika cerpen-cerpen yang dihasilkannya mencapai jumlah seperti yang disebutkan di atas. Selain itu, ia juga membacakan cerpen-cerpennya dalam ruang cerita pendek di RRI Studio Nusantara II Yogyakarta, pada setiap Minggu pagi. Akan tetapi, dari lima ratus buah cerita pendek yang dihasilkannya, hanya beberapa judul saja yang berhasil diperoleh. Cerpen-cerpen itu terdapat dalam majalah Gema Islam, Horison, Indonesia, Kartini, Kisah, Media, Suara Muhammadiyah, dan harian Kompas. Cerpen Potret Seorang Prajurit dimuat kembali bersama karya-karya pengarang lainnya dalam Laut Biru Langit Biru (Pustaka jaya, 1977), sebuah bunga rampai yang disusun oleh Ajip Rosidi. Dua cerpennya Kadis dan Cubit Sejimpit memenangkan hadiah pertama Lomba Penulisan Cerpen dan Cerpen Humor yang dislenggarakan oleh majalah Kartini pada tahun 1980. Cerpen Kadis dimuat kembali dalam majalah Sastra Horison edisi bulan Ramadhan, tahun XIX, nomor 6, Juni 1984 dan edisi bulan . Mohammad Diponegoro juga dikenal sebagai dramawan, baik sebagai penulis cerita, sutradara, dan kadang-kadang sebagai pemain. Sebagai penulis cerita, ia menghasilkan sebuah karya asli berjudul Iblis, sebuah lakon drama yang ditulisnya pada tahun 1961. Naskah itu kini telah diterbitkan dalam bentuk buku oleh Pustaka Panjimas pada tahun 1983. Drama Iblis dipentaskan pertama kalinya pada 25 September 1961 di Gedung Chung Hwa Chung Hui Yogyakarta. Hari pementasan itu kemudian ditetapkan sebagai hari lahirnya Teater Muslim, yang semula bernama B.K.K.I.I.Y. (Badan Koordinasi Kebudayaan Islam Indonesia Yogyakarta). Ia menjadi ketuanya selama empat tahun (1961-1965), dan seterusnya menjadi penasehat. Di samping karya aslinya, ia pun menyadur dan menterjemahkan naskah-naskah drama asing, seperti Desire under the Elms (O`Neill), The Death of Odysseus (Lionel Abel), The Death Trap atau Jebakan Maut (Saki / H.H. Moenro), Fortune Writes a Letter (Theodor Apstein), The Miracle of the Danube (Maxwell Anderson), serta dua buah saduran dari karya Tennessee William, yaitu Labbaika, Ya Rabbi, Labbaika dan Surat Kepada Gubernur. Surat Kepada Gubernur disiarkan oleh TVRI pada tanggal 11 Mei 1982 dengan judul Surat dari Fatimah, dimainkan oleh Teater Angka. Dalam bidang penulisan sajak, sebenarnya ia tidak begitu menonjol, sebab hanya beberapa sajak saja yang dihasilkannya, baik asli maupun terjemahan. Karya-karyanya dalam bentuk sajak dimuat dalam majalah Gadjah Mada, Media, Panji Masyarakat, dan Siasat. Sebuah sajaknya yang berjudul Balada Nyawa Saringan, sebelumnya dimuat dalam majalah Suara Muhammadiyah sebagai cerita pendek, diterbitkan secara khusus dalam rangka memperingati ulang tahun Teater Muslim ke delapan belas. Mohammad Diponegoro terkenal karena usahanya mempuitisasikan terjemahan al-Qur`an. Karya-karta puitisai terjemahan al-Qur`an yang dibuat oleh Mohammad Diponegoro dimuat dalam majalah Gema Islam, Horison, Indonesia, Media, dan Suara Muhammadiyah. Selain itu, karya-karyanya dibukukan bersama ciptaan tujuh penyair lainnya, yakni Armaya, Djamil Suherman, Goenawan Mohammad, Hartojo Andangdjaja, M. Saribi Afn, Taufiq A.G. Ismail, dan M. Yoesmanam dalam Manifestasi (Tintamas, 1964), serta bersama Djamil Suherman dan Kaswanda Saleh dalam Kabar dari Langit. Di samping itu juga diterbitkan secara khusus oleh majalah Budaya Jaya dalam Pekabaran (1977), dan oleh majalah Suara Muhammadiyah dalam Puitisasi Terjemahan al-Qur`an juz 29 (1978). Kemudian keduanya diterbitkan oleh 2D dalam Kabar Wigati (juz 29 dan 30). Salah satu karya puitisasi terjemahan al-Qur`an jus 29 yang berjudul Kalam, dimuat kembali sebagai penutup dari serangkaian ceramah terpilih Ramadhan in Campus 1420 H/1980 M Jamaah Shalahuddin, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, dalam Mencari Generasi Qur`ani (Shalahuddin Press, 1982). Di samping karya-karyanya dalam cerita pendek, drama, sajak, dan puitisasi terjemahan al-Qur`an, ia juga banyak menulis esai, baik asli maupun saduran. Esai-esainya dimuat dalam majalah Budaya, Budaya Jaya, Media, dan Suara Muhammadiyah. Salah satu esainya yang berjudul Sebuah Konsep Individualtas: Percobaan Memahami Cita Iqbal tentang Manusia dibacakan dalam acara Peringatan Iqbal di Taman Ismail Marzuki pada 24 April 1972. Esai itu kemudian dimuat dalam majalah Budaya Jaya, dan diterbitkan dalam Percik-percik Pemikiran Iqbal (Shalahuddin Press, Desember 1983) bersama karya Ahmad Syafi`i Ma`arif. Esai lainnya yang berjudul Muhammad Asad Duta Islam Masa Kini, yang pernah dimuat dalam majalah Suara Muhammadiyah, diterbitkan kembali dalam Duta Islam untuk Dunia Modern (Shalahuddin Press, September 1983), juga bersama tulisan Ahmad Syafi`i Ma`arif. Selain itu, Mohammad Diponegoro juga telah menyusun serangkaian karangan tentang teknik penulisan cerita pendek dan artikel. Tulisan itu dimuat secara berturut-turut dalam majalah Suara Muhammadiyah pada setiap nomor ganjil. Akan tetapi, karangannya tentang teknik penulisan artikel hanya mencapai tiga bagian. Pada 9 Mei 1982, sastrawan itu telah menutup mata untuk selama-lamanya, dalam usia hampir mencapai lima puluh empat tahun, di Rumah Sakit Pusat Kesejahteraan Umum Muhammadiyah , Yogyakarta. Siklus (Pustaka Jaya, 1975) adalah novel satu-satunya yang ditulis oleh Mohammad Diponegoro. Dengan satu novel itu saja, ia telah membuktikan kemampuannya sebagai penulis cerita yang berpengalaman. (Diambil dari http://sangsurya.com/) ---------------------------- UNTUK INFORMASI PEMENTASAN, HUBUNGI IRMAN: 0813 8700 5173 ----------------------------------------------------- __________________________________________________ Do You Yahoo!? Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around http://mail.yahoo.com
