Si Udin (persis sama dgn nama belakang saya) adalah Wong Ndeso saba kota.
Pasalnya di kampungnya sudah tidak ada lagi pekerjaan yang bisa dia lakukan.
Tanah sepetak yang dia miliki warisan dari leluhurnya sudah dijual kepada
cukong tanah, yang konon katanya lahan pertanian yang ada di kampungnya akan
dibangun PABRIK SEMEN CAP JAHE. Menurut penjelasan pihak pengembang, bahwa jika
PABRIK SEMEN CAP JAHE dibangun, maka akan menyerap tenaga kerja di lingkungan
kampugnya. Namun sampai saat ini, harapan dan impian si Udin tentang rencana
pendirian PABRIK SEMEN CAP JAHE tak kunjung datang, sehingga mengakibatkan si
Udin serba salah. Dalam pikirian si Udin : "kalau tahu begini caranya, tanah
yang sepetak tidak akan saya jual, gimana mau bercocok tanam, tanah sudah jadi
milik orang, akh nasib orang kecil begini sudah susah tambah susah".
Dalam rasa keputusasaannya, si Udin nekad memberanikan diri pergi ke kota besar
untuk mengadu nasib. Sesampainya di kota besar, si Udin bergulat dengan
gemerlapnya kota dan hiruk pikuknya manusia-manusia berwajah tegang dan serius.
Tak ada tegur sapa, tak ada tatapan ramah, yang terlihat oleh si Udin adalah
tatapan manusia-manusia penuh curiga.
Bermodalkan otot kawat tulang besi, si Udin mendatangi sebuah proyek
pembangunan gedung yang maksudnya melamar pekerjaan sebagai tukang angkat
barang. Setelah mendatangi mandor kuli bangungan, si Udin diterima sebagai
buruh harian tukang angkat barang.
Hari demi hari, bulan demi bulan dan bahkan hampir satu tahun si Udin menjalani
hidupnya sebagai tukang kuli bangunan. Disela-sela hari tidak bekerja (libur),
si Udin bersama kawan-kawan satu profesinya menyempatkan diri untuk keliling
kota metropolitan yang sering kerendem banjir untuk menghilangkan lelah dan
rasa penat. Antara Blok M dan Beos (Kota) bis kota yang dia tumpangi. Di dalam
bis wajahnya tidak henti-hentinya melirik kiri kanan, melihat gedung-gedung
tinggi, melihat jembatan layang, pusat pertokoan dan suatu saat wajahnya
seperti mata belalang gak kedip-kedip ketika melihat sosok wanita bahenol
berpakain serba ketat yang banyak berlalu lalang disetiap penjuru kota. "Masya
Allah, itu cewek apa gak masuk angin ya, pake rok setengah paha, pake baju
cuman pakai kaos singlet, sugan hareudangeun meureun, kalo di lembur mah itu
bisa disebut orang gelo alias edan" celoteh hati si Udin.
Sudah kenyang puter-puter kota Metropolitan yang Sering Kerendam Banjir, perut
si Udin dangdutan tanda minta diisi. Dengan gaya yang khas anak kampung baru
tinggal di kota, si Udin mengajak kawan-kawannya untuk mencari wareng nasi.
Tidak jauh dari terminal bis Blok M ada sederetan warung nasi dari berbagai
aneka khas masakan. Masakan betawi, masakan padang, jawa, sunda dan lain
sebagainya. Maklum orang sunda, naluri kesundaannya timbul ketika dia melihat
warung bertuliskan "MASAKAN SUNDA". Akhirnya dia pilih warung masakan sunda.
Sebelum memesan makanan, sejenak si Udin membaca tulisan yang tertera di warung
nasi tsb. yang berbunyi : Nasi Rames, Soto Babat, Sop Buntut Sapi, Sate
Kambing, Telor Dadar, Telor Mata Sapi. Pas pada tulisan Telor Mata Sapi si Udin
jadi penasaran : "Masakan lain sudah pernah saya cicipi, nah yang ini telor
mata sapi saya belum pernah, akh pesan ini aja seperti apa sih telor mata sapi
itu?" celoteh hati si Udin pula.
"Bu saya pesan telor mata sapi ya" ucap si Udin kepada pelayan warung nasi,
sambil mencari tempat duduk. Setelah memesan makanan, tidak lama kemudian
pelayan warung nasi sudah menyediakan masakan yang di pesan si Udin. Dengan
wajah penuh heran dalam hati si Udin "kan saya pesan telor mata sapi, kenapa
dikasih telor ceplok ayam, akh barangkali kurang dengar tuh pelayan". Setengah
berdiri dari meja tempat dia duduk, si Udin mengacungkan tangan
"bu...bu....saya pesan telor mata sapi ya, cepetan bu perut saya sudah lapar
nih?" Si pelayan warung nasi dengan sigap melayani si Udin, dan tidak lama
kemudian pelayan memberikan masakan yang si Udin pesan. Lagi-lagi si Udin
tambah heran yang dikasih ya telor ceplok ayam lagi. "Wah ini pelayan warung
kurang ajar, pesan telor mata sapi koq yang dikasih telor ayam lagi, pura-pura
budek nih" dalam hatinya ngedumel.
Dengan setengah teriak si Udin memanggil pelayanan warung nasi "Bu !!, apa Ibu
tidak dengar ucapan saya, kan saya pesan Telor Mata Sapi, kenapa saya dikasih
telor ceplok ayam!!! Si pelayan warung kaget dan tidak mengerti maksud yang
diucapkan si Udin itu. Sambil menyahut si pelayan warung nasi "Mas, sampeyan
ini wong ndeso ya, yang namanya Telor Mata Sapi itu ya ini. Bukan berarti Telor
Sapi, emangnya Sapi bertelor, ini cuman sebutan untuk telor ceplok mas".
Dengan wajah agak pucat menahan rasa malu dilihatin orang banyak, si Udin
bergegas membayar makanan yang dia pesan tapi tidak sempat dimakan, sambil
berlalu pergi menahan perut lapar karena ingin telor mata sapi gak kesampaian.
SP Saprudin
________________________________________________________
Kunjungi halaman depan Yahoo! Indonesia yang baru!
http://id.yahoo.com/
[Non-text portions of this message have been removed]