Sebenarnya peraturannya sudah ada bahwa jalan kelas
berapa hanya untuk tonase berapa. Hanya saja ketika
pembuatan atau perbaikan jalan sangat pabeulit pisan.
Tau sendiri lah.

Masyarakat juga aneh. Jalan jelek demo minta
dibetulin. Udah dibetulin malah ramai-ramai membuat
"polisi tidur" di depan areanya masing masing.
hauehuahueh..... abis dah kanvas kopling ma kanvas rem
antum.

Kembali ke Sawarna,...
Menurut buku the great tourism halaman 1965, daerah
tujuan wisata yang baik sedapat mungkin dalam radius
waktu paling lama dua jam perjalanan. Karena lewat
dari dua jam maka sudah tidak menarik lagi wisatanya.
Fisik telah terkuras di kendaraan. 

Buktinya kalau pemain bola internasional atau atlit
internasional tidak mau jauh tempat menginapnya ke
venue.

Nah Sawarna itu terjepit dimana-mana. Dari jalur
Sukabumi, Sawarna merupakan Sub Daerah Tujuan Wisata.
Biasanya mereka stay di Pangandaran dulu baru kemudian
datang di Sawarna.

Demikian juga dari Serang lewat Saketi biasanya turis
akan Stay di Malimping dahulu baru menuju Sawarna.

Sebetulnya bukan akses jalan saja yang jadi masalah di
Selatan ini. Akomodasi juga luar biasa parah. Hotel di
Malimping standarnya adalah hotel salesman. Bukan
hotel untuk turis. Belum lagi makanannya yang luar
biasa sulit menemukan makanan yang standar bisa
dinikmati banyak orang.

Alhasil bakar ikan adalah andalan berkunjung selama di
daerah Malingping, Bayah, Binuangeun dan Sawarna.
Padahal di Binuangeun ada warung sate yang lumayan.
Maksudnya pelayannya lumayan ganjen.

Ahehauhuehuahuer.........



--- SP Saprudin <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

> Baru tahu ya??? Ya kendalanya adalah menurut
> orang-orang kota adalah jauh. Akses untuk mencapai
> Pantai Desa Sawarna bisa melalui jalur
> BOGOR-PELABUHAN RATU-BAYAH-DESA SAWARNA atau melalui
> jalur SERANG-MALINGPING-BAYAH-DESA SAWARNA.
> Maklum yang namanya daerah terpencil selalu banyak
> kendala. Jalan tadinya mulus beraspal HOTMIX, namun
> karena banyaknya truk-truk yang mengangkut hasil 
> tambang seperti pasir dan batu bara, mengakibatkan
> jalan yang termasuk kategori kelas III cepat rusak
> dan hancur. Sebetulnya biaya perawatan jalan itu
> high cost alias mahal. Seharusnya Pemprov. Banten
> membuat aturan atau batasan berat daya angkut truk
> jika melalui jalan kategori kelas III. Tapi
> kelihatannya belum ada tuh, sampai saat ini lalu
> lalang kendaraan truk yang mengangkut pasir dan batu
> bara melebihin daya angkut masih bisa dilihat. Kalau
> jalan sudah rusak, yang repot bukan Pak Bupati atau
> pejabat Banten saja, seluruh masyarakat yang tiap
> hari menggunakan jasa angkutan umum akan terkena
> dampaknya. Yang untung pengusaha tambang, tapi yang
> rugi ribuan masyarakat. Tersitanya waktu dan ongkos
> angkut jadi naik. 
> Atau ketegori kelas jalan bisa ditingkatkan dari
> kelas III ke kelas II, tentu makan biaya mahal pula.
>  
> Selamat mempromosikan POTENSI WISATA BANTEN SELATAN.
> 
> Jika lewat darat terhambat karena kerusakan jalan,
> maka saya sarankan lewat laut melalui pelabuhan
> Merak - Pantai Desa Sawarna dengan menggunakan
> GETEK.
> 
> 
>  
> SP Saprudin
> 
> 
> 
> ----- Pesan Asli ----
> Dari: wong banten <[EMAIL PROTECTED]>
> Kepada: [email protected]
> Terkirim: Jumat, 18 Mei, 2007 12:17:11
> Topik: Re: [WongBanten] KADES SAWARNA (KEC. BAYAH -
> LEBAK) GARAP FILM DOKUMENTER BUDAYA DAN PARIWISATA
> 
> Sawarna sebenarnya sangat terkenal bagi yang
> mengikuti
> perkembangan Provinsi Banten. Pertama kali Gubernur
> Djoko Munandar (ketika itu) mencanangkan Desa Wisata
> yaitu di Sawarna. Ketika itu Djoko mengendarai ojek
> motor untuk sampai ke pantai Sawarna.
> 
> Sawarna memang lebih dekat diakses lewat pelabuhan
> ratu sukabumi. Selain jalan yang mulus,
> pemandangannyapun memang indah. Yang penting lagi
> penginapan dan restoran atau kedai makan sangat
> banyak
> bila lewat jalur sukabumi.
> 
> Jika kita lewat Saketi, malimping, Bayah,.... luar
> biasa perjuangannya. Benar-benar harus punya niat
> wisata adventure jika lewat jalur ini. Dari
> serang,..
> bisa 4 jam perjalanan. Apalagi ketika jalan saketi
> hancur oleh dump truk pasir yang bekerja
> siang-malam.
> Seorang investor sampai-sampai berucap gak lagi-lagi
> ke Sawarna.
> 
> Desa ini dikenal luas karena sejarahnya perkebunan
> kelapa yang dikelola Balanda justru berpusat disini.
> Sampai sampai ada makam saudaranya Vincen Van Goch,
> pelukis yang terkenal itu. 
> 
> Jaman rodi ya kembali Jepang membawa orang-orang
> Jawa
> Timur masuk Sawarna lewat Tanjung Layar. Hingga ada
> rel kereta menuju Cikotok. Sekarang masih ada Tugu
> Romusha disana. Jadi jangan heran jika disana
> dijumpai
> seni reog Ponorogo. Maklum bawaan Jaman Jepang.
> 
> Pada era sekarang Sawarna diperkenalkan oleh seorang
> pemuda Perancis. Ia justru membuat website tentang
> sawarna sebagai surga surfer. Namun sang pemuda
> perancis ini lebih banyak tinggal di Pelabuhan ratu
> ketimbang di Sawarna.
> 
> Di awarna juga terdapat industri biola handmade
> serta
> gitar handmade. Uli sigar, Iwan Fals pernah membeli
> gitar disini. Pelakunya juga mantan Kades Sawarna.
> 
> Sawarna punya keberanian politik untuk menentukan
> dan
> membuat dengan mengambil beberapa seni tradisi dari
> daerah lain yang senada dengan daerah Sawarna.
> Sejatinya disana hanya ada pesta laut kecil-kecilan,
> tradisi sebuah desa nelayan.
> 
> Kini menghadapi turisme yang datang, maka terfikir
> untuk menghadirkan sebuah, duabuah pentas tradisi.
> Jakarta juga pinjam pepetan wewe Kemang Serang tahun
> '60 kemudian didandani, dibuatkan perda,... jadilah
> Ondel-ondel.
> 
> Saat ini Sawarna membutuhkan investor yang mau
> membuatkan jembatan penghubung antara desa Sawarna
> dengan pantai Sawarna. Karenma memang dibatasi
> sungai.
> Jembatan gantung yang ada tidak memadai untuk menuju
> pantai.
> 
> Kabarnya jika ada yang mendanai jembatabn, maka
> tukar
> pakai dengan lahan di pantai selama 5 - 10 tahun.
> Hmmmmm...
> 
> Sawarna juga menang jadi juara satu lomba desa
> tingkat
> nasional lho,....
> 
> Sepertinya dua tahun lalu pemprov Banten bekerjasama
> dengan rekan wartawan mengadakan even juga di
> Sawarna,.... kalau amburadul yah bukan salah bunda
> mengandung Ahuehauheuhauhue, ......
> 
> Sttttt,.... Sawarna juga ramai dikunjungi oleh
> pemburu
> harta karun. Beberapa gua disana diyakini ada
> peninggalan jepang. jadi,..... rame deh.
> 
> --- ucu jauhar <[EMAIL PROTECTED] com> wrote:
> 
> > Kang, entah saya yg kuper atau kurang gaul yah.
> Atau
> > penulisnya yg baru tau sawarna. 
> > Kalo lagi surfing pariwisata d internet, yg
> namanya
> > sawarna itu sudah cukup banget di kenal ma
> > masyarakat
> > internasional, dibandingkan banten sendiri (dlm
> > bidang
> > wisata loh). Lucunya, sawarna sering dsebut masuk
> ke
> > jawa barat (sukabumi). 
> > Temen2 saya yg dluar juga banyak mengenal sawarna
> > sebagai tempat baru, seperti pantai2 di ntt dan
> ntb.
> > Begitu pula dengan kawan2 di betawi, sawarna sudah
> > jadi alternatif pengganti liburan pantai ke
> > pelabuhan
> > ratu. 
> > Yang menyedihkan, warga Banten (palagi yg namanya
> > warga Pemprov Banten), kayaknya banyak yg ga tau
> > tuh.
> > Jadi tulisan ini, lebih ironis lagi ketika
> dibilang
> > gaung sawarna kurang terkenal di luar Banten.
> > (justru
> > di Banten ga da gaungnya).
> > So, da pa dg tulisan ini?
> > biasa, ngendorong trussssss,.. ...
> > 
> > --- SP Saprudin <im_surya_1998@ yahoo.co. id>
> wrote:
> > 
> > > KADES SAWARNA (KEC. BAYAH - LEBAK) GARAP FILM
> > > DOKUMENTER BUDAYA DAN PARIWISATA
> > > 
> > > 
> > > 
> > > (26 Maret 2007)
> > > 
> > > RANGKASBITUNG - Kepala Desa Sawarna, Kecamatan
> > Bayah
> > > Erwin Komara, kini sedang sibuk melakukan
> > pembuatan
> > > film dokumenter tentang budaya dan pariwisata di
> > > desanya. Hal itu dia lakukan untuk mempromosikan
> > ke
> > > masyarakat di luar Banten.
> > > 
> > > “Desa Sawarna terkenal dengan pantainya yang
> > indah.
> > > Begitu pula dengan kebudayaan tradisonal
> > > masyarakatnya cukup unik dan harus dilestarikan.
> > > Oleh karenanya agar kedua sektor di desa kami
> ini
> > > dapat dikunjungi masyarakat di luar Banten, maka
> > > kini saya sedang berupaya mempromosikannya
> melalui
> > > film dokumenternya yang sedang kami garap
> > sekarang,”
> > > ujar Erwin kepada Radar Banten.
> > > 
> > > Ditambahkannya, meski pihaknya siap untuk
> > melakukan
> > > promosi budaya dan wisata di desanya, namun
> tetap
> 
=== message truncated ===



 
____________________________________________________________________________________
Don't get soaked.  Take a quick peak at the forecast
with the Yahoo! Search weather shortcut.
http://tools.search.yahoo.com/shortcuts/#loc_weather

Kirim email ke