"Ngadongkapkeun", Wujud Syukur Ala Warga Desa Cisungsang 
(Desa Sisungsang, Kec. Cibeber - Kab. Lebak - Banten)

"...nyanggakeun sari pangabaktina, hayang kasari, kabukti, kateda, katarima, 
agungna ka nu kawasa.... 
KALIMAT di atas adalah penggalan doa yang diucapkan warga di Kesatuan Adat 
Banten Kidul, Kaolotan Cisungsang, Kec. Cibeber, Kab. Lebak, Banten, saat 
menggelar tradisi ngadongkapkeun (mendatangkan). Doa itu isinya antara lain 
tentang penyerahan diri kepada Yang Kuasa, agar penghambaan mereka diterima. 

KEBERADAAN leuit (lumbung padi) yang menjadi bagian utama dari kehidupan 
masyarakat tani Kesatuan Adat Banten Kidul, Kaolotan Cisungsang, Kec. Cibeber, 
Kab. Lebak, Banten.*HANDIMAN/"PR"
Tradisi ngadongkapkeun merupakan perpaduan antara adat lokal dengan ajaran 
Islam. Intinya, bentuk rasa syukur warga kepada Allah SWT dan penghormatan 
kepada leluhur yang telah berjasa sehingga anak cucunya bisa hidup bahagia. 
"Tradisi ngadongkapkeun dilakukan di saat ada rezeki berlebih, berlangsung pada 
hari pertama bulan puasa, setelah salat Idulfitri, hari terakhir puasa, sehabis 
ziarah kubur, bulan purnama, dan magrib. Ngadongkapkeun bisa dipimpin langsung 
para pemimipin adat seperti olot atau kokolot lembur (tetua kampung)," kata 
Agus Suhendra (31), Kokolot Lembur Gede, Kaolotan Cisungsang. 
Pada perayaan Idulfitri 1425 H lalu, tradisi ngadongkapkeun tak dilewatkan oleh 
masyarakat di kaki Gunung Halimun ini. Selepas ziarah kubur selepas salat 
Idulfitri, masyarakat berkumpul di rumah kokolot lembur sambil membawa makanan. 
Kokolot lembur lalu memimpin upacara ritual kepada leluhur yang diakhiri pujian 
kepada Allah SWT. 
Di Cisungsang, ada empat kokolot lembur yaitu Lembur Gede, Babakan, Tonggoh, 
dan Lebak. Peran kokolot lembur merupakan perwakilan langsung olot di setiap 
kampung. 
Kegiatan serupa juga dilakukan di rumah Olot Cisungsang, Abah Usep Suyatna 
(34). Ritual ngadongkapkeun dilangsungkan di kokolot lembur dimaksudkan agar 
semua masyarakat tak tumpah ruah semua ke rumah olot. Hal itu sesuai peran 
kokolot lembur sebagai perwakilan abah. 
Dengan pakaian khas Banten Kidul, yakni berwarna hitam serta penutup kepala, 
kokolot lembur langsung memanjaatkan doa kepada Allah SWT dan leluhur. Kemenyan 
yang digunakan pun berasal langsung dari olot. Sehabis berdoa, masyarakat pun 
sungkem kepada olot atau kokolot lembur, tergandung di mana mengikuti acara 
ritualnya.
Serangkaian doa dalam tradisi ngadongkapkeun dimulai dengan bacaaan basmallah, 
doa bakar kemenyan, doa selamat, dan diakhiri dengan kalimat laa haula walaa 
quwwata illaa billaah (tidak ada daya dan upaya selain kepada Allah SWT).
Selain dilakukan secara massal, dalam kriteria lebih kecil, tradisi 
ngadongkapkeun bisa juga dilakukan secara pribadi di rumah masing-masing. 
Ritual yang lebih personal ini biasa terlihat pada saat sehari sebelum 
Idulfitri, setelah buka puasa terakhir, di mana tradisi ngadongkapkeun juga 
dilaksanakan di setiap rumah warga secara masing-masing. Ritual dipimpin oleh 
setiap kepala keluarga. 
"Di kala kita memiliki rezeki berlebih, sudah sewajarnya mengingat dan 
mengucapkan terima kasih kepada para leluhur yang telah mendahului. Jadi, wajar 
setelah satu bulan berpuasa dan merayakan hari kemenangan, kita mengingat 
leluhur dengan mengadakan tradisi ngadongkapkeun," kata Agus. 
Dalam ritual tersebut, sejumlah sesajian disediakan. Biasanya terdiri dari 
makanan kecil, air putih, kopi, dan sebagainya. Jumlahnya harus ganjil, seperti 
tiga, lima, atau tujuh rupa. Ritual ini dipimpin oleh tetua adat yang 
berpakaian khas Banten Kidul, berawarna hitam-hitam langsung memimpin doa untuk 
para leluhur itu. 
Agus mengatakan, antara ritual agama Islam dan tradisi lokal bisa hidup 
berdampingan di Cisungsang. "Walau bagaimanapun, kami menyadari tradisi itu 
bukan agama," katanya. 
Sepanjang tidak bertentangan dengan ajaran Islam, kata Agus, tradisi tidak 
mesti ditinggalkan. "Sebagai contoh, tradisi ngadongkapkeun tidak bertentangan 
dengan Islam karena merupakan wujud rasa syukur kepada Allah SWT dan para 
leluhur," kata pria yang biasa dipanggil Mang Agus. 
Bukti berjalan sejajarnya tradisi dan agama itu bisa dilihat ketika masyarakat 
sangat antusias dalam melaksanakan takbiran dan salat Idulfitri. Dua masjid di 
Cisungsang, Baiturrahman dan Cisungsang, ramai dijadikan ajang takbiran dan 
salat id. 
Pemuda pun ramai-ramai keliling kampung sambil menabuh beduk. Keberadaan beduk 
bisa dikatakan suatu "kewajiban" bagi masjid atau musala di Cisungsang. Tabuhan 
beduk juga menandakan berapa banyak rakaat yang dilakukan. Misalnya, salat 
asar, maka beduk ditabuh sebanyak empat kali. 
Biasanya, setiap menjelang akhir ceramah Idulfitri, khatib mengingatkan warga 
untuk menjalankan tradisi ngadongkapkeun di rumah kokolot lembur. Selepas salat 
id, kaum laki-laki dan perempuan saling berbanjar untuk bersalaman dan 
bermaaf-maafan. Setelah itu, mereka pun berziarah ke kubur keluarga dan ketiga 
olot sebelum Abah Usep yaitu Abah Ruman, Abah Sakrim, dan Abah Sardani. 
**
KETUA Dewan Keluarga Masjid (DKM) Baiturrahman--masjid terbesar di 
Cisungsang--Sudin mengatakan, pengaruh Islam dalam kehidupan masyarakat 
Cisungsang semakin hari semakin besar. Hingga 1960-an, nuansa tradisi pada 
masyarakat Cisungsang jauh lebih kental dibandingkan nuansa Islam. 
Namun, seiring berdirinya sekolah madrasah diniyah di akhir 1970-an dan 
kemudian pesantren Bahrul Ulum pada 1990-an, pengaruh Islam pada masyarakat 
Cisungsang berkembang pesat. "Masyarakat saat ini menjalankan ajaran agama dan 
tradisi secara berimbang. Kondisi itu sangat jauh berbeda dibandingkan 
1960-an," katanya yang juga mantan Kepala SD Cisungsang I ini. 
Hal senada diungkapkan Mang Agus. Menurutnya, generasi di atasnya umumnya belum 
mengamalkan syariat Islam seperti salat. "Walaupun sudah mengaku Islam, mereka 
umumnya belum menjalankan ajaran Islam, melainkan hanya menjalankan tradisi 
saja. Namun, pengaruh Islam dalam kehidupan sehari-hari terus meningkat 
akhir-akhir ini," katanya yang juga pernah mengecap pendidikan di salah satu 
SMP Muhammadiyah di Jakarta ini.
Dikatakan Mang Agus, tradisi di masyarakat Cisungsang telah hidup sebelum Islam 
datang. "Walau bagaimana, tak ada satu manusia pun yang benar-benar kosong dari 
tradisi lama. Begitu pula, sangat sulit bagi orang untuk menghanguskan tradisi 
lama. Oleh karena itu, biarlah tradisi lama tetap diamini selagi tidak 
mengganggu hal-hal yang pokok yaitu keimanan," katanya. 
Pengaruh tradisi yang sudah hidup di Banten Kidul setidaknya dalam 500 tahun 
terakhir memang telah berurat-akar di tengah masyarakatnya. Buktinya, tradisi 
seren taun sebagai puncak acara adat Banten Kidul yang bertujuan untuk 
mengevaluasi dan merencanakan pelaksanaan tetanen (tata cara bertani) 
berikutnya, jauh lebih meriah dibandingkan perayaan Idulfitri. 
Mantan Ketua Ikatan Keluarga Mahasiswa Banten (IKM Banten), Apriyandi, 
mengatakan bahwa masyarakat Kaolotan Banten Kidul adalah petani yang dipimpin 
olot. "Karena tradisi petani sudah ratusan tahun hidup, maka sudah wajar acara 
seren taun dianggap sebagai puncak acara adat bagi masyarakat Banten Kidul," 
katanya.
Setelah Islam datang, konsep yang "Maha Kuasa" itu ditujukan kepada Allah SWT. 
"Jadi, sebenarnya tidak ada yang perlu dipertentangkan antara tradisi dan 
ajaran Islam di Banten Kidul. Selain pemimpin adat, masyarakat di sini pun 
memiliki tokoh-tokoh informal dalam bidang keagamaan," kata Apriyandi, alumnus 
Universitas Winayamukti di Jatinangor ini.
Olot Cisungsang, Abang Usep Suyatna Srd, menegaskan, tradisi pada masyarakat 
Cisungsang tidak bertentangan dengan ajaran Islam. Salah satu kunci bertahannya 
sistem kasepuhan di Cisungsang adalah karena kemampuannya beradaptasi dengan 
perkembangan yang ada. 
Berdasarkan itu, tradisi lama tetap digunakan bukan dalam kerangka ideologis, 
namun dalam kerangka pragmatis. Pada masyarakat adat yang beragama Islam 
terjadi proses pengawinan dua unsur, agama dan tradisi, yang dikenal dengan 
istilah "mendayung di antara dua perahu". Satu sisi mereka mengimani akidah 
Islam, pada sisi lain mereka juga menggunakan tata cara bertahan hidup dengan 
bersumber pada tradisi. 
Tilu sapamilu, dua sakarupa, nu hiji eta keneh (tiga berbarengan, dua serupa, 
yang satu itu juga). Demikianlah prinsip masyarakat Kaolotan Cisungsang di kaki 
Gunung Halimun ini. Tilu sapamilu berarti agama, tradisi, dan pemerintahan 
harus berjalan beriringan. Dua sakarupa berarti tradisi dan agama harus 
berjalan sejajar sedangkan nu hiji eta keneh berarti semuanya harus mengacu 
dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia.(Handiman/"PR")***
http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/1104/20/0107.htm


      
________________________________________________________ 
Kunjungi halaman depan Yahoo! Indonesia yang baru! 
http://id.yahoo.com/

Kirim email ke