Nuansa Islam dalam Budaya Banten
Laporan: Adhes SS

[Budaya] 
Nuansa Islam dalam budaya Banten nampaknya cukup kuat hingga saat ini. Terbukti 
dengan hadirnya para ulama, pesantren dan qari-qariah, yang tersebar di seluruh 
pelosok Banten.

Budaya Banten bisa diidentifikasi dengan menelusuri, baik produk-produk 
kesusasteraan -seperti naskah-naskah, babad, atau buku-buku keagamaan - 
berbagai cerita rakyat (folklore) yang masih hidup dalam ingatan masyarakat, 
yang dituturkan oleh kelom-pok sub-etnik Banten, maupun warisan budaya material 
dalam pengertian yang luas. Kategori yang disebut terakhir ini terlihat pada 
karya-karya arsitektur, tek-nologi, kesenian dan sebagainya.

Banten sebenarnya merupakan to-ponim yang memiliki aspek ruang, dan secara 
geografis masih sering dikaitkan dengan bekas Karisidenan Banten, meliputi 
Kabupaten Serang, Pandeglang, Lebak, Tangerang dan Kotamadya Tangerang. Selain 
itu, toponim Banten juga memiliki kaitan dengan Banten Girang, Banten Lama dan 
Banten Hilir.

Berdasarkan naskah-naskah yang ada, diduga kuat bahwa toponim Banten Baru 
muncul pada akhir abad ke-15 M. Hal ini berdasarkan fakta bahwa toponim Banten 
tidak dicantumkan dalam naskah yang lebih tua, seperti Babad Nagarakartagama 
(1345 M). Bahkan, dalam naskah Pujangga Manik (Pajajaran), yang berasal dari 
awal abad ke-16, nama toponim Banten belum dimuat.

Kajian Suwedi Montana, misalnya, menunjukkan bahwa nama Banten, atau yang dapat 
ditafsirkan sebagai Banten, tampak dari sejumlah historiografi lokal, seperti 
Cina Parahyangan yang menyebut istilah "Wahanten Girang", prasasti Kaban-tenan 
menyebut nama "Bantam", dan Purwaka Caruban Nagari yang memuat istilah 
"Kawungaten". Selain itu, catatan Tome Pires (1512-1515) menyebut "Bantam" 
sebagai salah satu pelabuhan penting Kerajaan Sunda, di samping "Pongdam" 
(Pontang), "Cheguide" (Ci-gading), "Tamgaram" (Tangerang), "Calapa" (Sunda 
Kelapa) dan "Chemano" (Cimanuk). Pada abad 16-18 Banten kemudian berkembang 
menjadi label wilayah politik dan nama Kesultanan yang bercorak Islam.

Dilihat dari segi demografi, Banten menunjukkan adanya dua kelompok etnisitas, 
yaitu: (1) sub-etnik Banten Pesisiran yang membentang sepanjang pesisir utara 
Jawa Barat, mulai dari daerah Tangerang di sebelah utara, yang berbatasan 
dengan sub-etnik Betawi, sampai Anyer-Cilegon di sebelah selatan-barat; (2) 
sub-etnik Banten-Sunda yang wilayah huniannya mulai dari Serang Selatan (Banten 
Girang) sampai ke pedalaman selatan berbatasan dengan Samudera India.

Di luar sub etnik Baduy, kedua sub etnik di atas (Banten Pesisiran dan Banten 
Sunda) sudah mengalami proses islami-sasi yang intensif, yang akhirnya bermuara 
pada kuatnya unsur Islam sehingga melekat pada budaya Banten. Hal yang menarik 
adalah perbedaan bahasa yang dipakai kedua kelompok itu. Kelompok Banten 
Pesisiran berbahasa 'Jawa Banten", sementara Sunda Banten berbahasa Sunda yang 
arkais (khas Banten).

Fase Banten

Masyarakat dan budaya Banten, ter-utama dengan alam dan budaya Islamnya, 
mungkin hanya dapat dikenali dengan merunut kembali peristiwa sejarah 
trans-formasi pusat administrative politik dari Banten Girang di pedalaman - 
yang berada di bawah subordinasi Pakuan-Pajajaran yang Hinduistik - ke daerah 
pantai yang sekarang dikenal dengan Banten Lama. Peristiwa transformasi 
tersebut berlangsung pada tahun 1526 oleh Syarif Hidayatullah dan Maulana 
Hasanuddin. Sejak itu embrio dan fondasi masyarakat dan budaya Banten 
diletakkan dan ditetapkan dalam format yang berciri keislaman. Prof. Dr. Hasan 
Muarif Ambari, Kepala Pusat Arkeologi Nasional (Puslit Arkenas, Depdikbud Rl) 
yang juga staf peneliti pada Pusat Pengkaian Islam dan Masyarakat (PPIM) 
Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Jakarta ini, dalam bukunya 
"Menemukan Peradaban, Jejak Arkeologis dan Historis Islam Indonesia" (penerbit 
Logos) memperlihatkan fase-fase pertumbuhan perkembangan budaya Banten dalam 
panggung
 sejarah, dirunut dalam fase-fase berikut:

(1). Fase Pra-Sunda Islam (1400-1525). Pada masa itu Banten merupakan daerah 
bawahan kerajaan Pakuan Pajajaran yang Hinduistis, yang berpusat di Banten 
Girang (Kota Serang sekarang).

(2). Fase awal Penyebaran Islam (1525-1619), suatu fase di mana Islam disiarkan 
oleh Sunan Gunung Jati dari Cirebon dan Maulana Hasanuddin yang beraliansi 
dengan Demak. Pada masa ini terjadi transformasi keagamaan, perpindahan pusat 
pemerintahan dan mulai berkembangnya Banten sebagai pelabuhan - alternatif 
setelah Malaka.

Pendirian kota Banten Sorasowan, dengan komponen-komponen arsitektur dan 
monumental berciri Islam, telah menyebabkan pertumbuhan dan ramainya 
perdagangan. Para pedagang Inggris, Denmark, Portugis, dan Turki datang 
melakukan transaksi perdagangan di Bandar Banten. Sebelumnya, Banten telah 
berhubungan dengan Cina, sehingga etnis terakhir ini telah membentuk satu 
komunitas tersendiri yang memberi sumbangan besar bagi perkembangan perdagangan 
di Banten.

(3). Fase Keseimbangan Kekuatan, yakni satu fase tanpa adidaya di mana seluruh 
kekuatan politik dan ekonomi yang ada di Banten memiliki kekuatan yang seimbang 
(armada dagang Eropa, Ke-sultanan Banten, Cirebon, Batavia dan Mataram). 
Keseimbangan kekuatan ini di antaranya bisa dilihat dari beberapa peristiwa 
politik yang berlangsung saat itu, yang tidak memperlihatkan adanya do-minasi 
satu kekuatan politik tertentu terhadap kekuatan politik lain: yakni 
penyerangan Banten ke Batavia, blokade Belanda atas Teluk Banten, tumbuh dan 
kuatnya kekuasaan Sultan Ageng Tirta-yasa, dan pilihnya tingkat kemakmuran 
masyarakat Banten. Pada fase inilah, Banten mencapai puncak ketinggian budaya 
(tamaddun Islam).

(4). Fase Penguasaan VOC/Belanda, pendirian Benteng Speelwik yang 
langsung/tidak langsung memperlihatkan wujud hubungan antara Banten dan VOC, 
masih berkembangnya "kota" Surosowan dan lain-lain.

(5). Fase Surut dan Jatuhnya Kesultanan Banten. Hindia Belanda terkena imbas 
perang Napoleonik/Rep. Batavia, interval penguasaan Inggris (1811-1816), 
pemindahan administrasi politik ke Serang Surosowan dihancurkan, didirikannya 
Keraton Kaibon dan dipecahnya bekas wilayah Kesultanan Banten menjadi tiga 
daerah setara Kabupaten (Banten Hulu, Banten Hilir, dan Anyer) di bawah 
pengawasan landraad (setara residen), pada tahun 1809 pembuatan jalan raya 
Daendells.

(6). Fase Mutakhir. Setelah Kesultanan Banten dihapuskan oleh Belanda timbul 
berbagai pergolakan, pemberontakan dan perlawanan rakyat dipimpin oleh para 
ulama/bangsawan, bencana alam (meletusnya Krakatau dan wabah penyakit sampar), 
pendudukan Jepang, perang kemerdekaan, dan sampai sekarang memasuki masa 
pembangunan.

Di balik semua kilas balik sejarah ini, hal yang tetap hidup dan terus mengakar 
pada masyarakat Banten adalah kultur Islam. Pesantren terus menerus 
menghasilkan kader dan para ulama tetap berdakwah. Rakyat mulai mengarahkan 
orientasi kepemimpinan dari raja/sultan kepada para ulama/mubaligh/kiyai. Dalam 
situasi seperti ini, yang bermula sejak pertumbuhan Islam di Banten, budaya 
pesisiran dan budaya pedalaman di daerah selatan Banten (kecuali daerah Baduy) 
terus menerus memantapkan keislamannya. Oleh karena itu, dari segi budaya 
Banten dapat disetarakan dengan masyarakat kota seperti Mataram dan Cirebon.

Nuansa Islam

Pusat-pusat pendidikan dan pengajaran agama Islam terdapat hampir di seluruh 
wilayah Banten, mulai dari Tanara, Tubuy, Muruy, Caringin, Cilegon, Bojonegara, 
Pontang dan sebagainya.

Begitu pula masalah kepemimpinan, baik di daerah pesisir maupun di selatan 
pedalaman mengalami perkembangan yang sejalan dengan tingkat pengaruh Islam 
terhadap masyarakat, kendati memang kurang berimbang. Jika pesisiran melakukan 
asosiasi dengan para Sultan Banten dan para kerabatnya, Banten selatan 
pedalaman memunculkan tokoh Mas Jong, Agung Jong, Pangeran Astapati, Tumenggung 
Muhammad (Menes), Nyai Permata (Cikande Udik) dan sebagainya.

Secarafisikatau budaya material, interaksi arus kuat Islam pada masa-masa 
kesultanan terhadap budaya-budaya lokal sangat bervariasi. Sebagai contoh, 
bentuk Masjid Agung Banten yang beratap tumpang, berbatu tebal, bertiang saka, 
dan sebagainya, benar-benar menunjukkan ciri-ciri arsitektural lokal. Sementara 
esensi Islam terletak pada "ruh" fungsi masjidnya sebagai 'sajadah' raksasa, 
dan mihrabnya. 
http://www.amanah.or.id/detail.php?id=1104


                
________________________________________________________ 
Kunjungi halaman depan Yahoo! Indonesia yang baru! 
http://id.yahoo.com/

Kirim email ke