Catatan Ringan Diskusi Menuju Masyrakat Pembelajar:
CERDAS DENGAN CARA BARU
Oleh Eko Nurcahyo
Alkisah seorang penebang kayu yang tinggal di sebuah pinggiran hutan.
Sehari-hari aktivitasnya adalah menebang hutan untuk mencukupi kebutuhan hidup
dirinya dan keluarga. Sudah lima tahun pekerjaannya itu ia geluti. Tiap pagi ia
keluar rumah dengan membawa gergaji besar untuk memotong batang-batang kayu.
Ketika matahari hendak beranjak ke peraduan ia kembali dengan batang-batang
kayu yang berhasil ia tebang. Batang-batang kayu itu kelak akan dijemur
beberapa hari, kemudian dijual oleh sang istri ke pasar.
Di rumah sang istri telah siap menyambut dengan makan malam. Ia selalu
menyiapkannya di sebuah dipan panjang dimana semua anggota berkumpul untuk
makan bersama dengan kedua anaknya. Sederhana, namun menu makanan itu tak
pernah menjemukan bagi mereka. Rasa syukur senantiasa menyelimuti dalam
keluarga ini. Selain itu rasa terbuka dan kasih sayang terbangun dengan kuat di
meja makan ala penebang kayu ini.
Ditengah santap malam. Anak pertama penebang kayu yang sedang duduk di kelas
enam menyampaikan bahwa sebentar lagi ujian akhir. Ia diwajibkkan untuk
membayar sejumlah uang untuk dibayarkan ke pihak sekolah. Sang penebang kayu
menyimak apa yang disampaikan sang anak dengan seksama. Telinganya menangkap
kata demi kata ucapan yang disampaikan sang anak, sambil pikirannya menerawang.
Bagaimana aku dapat memperoleh tambahan dana? begitu gumamnya
Pagi hari penebang kayu duduk di depan gubuk tempat tinggalnya. Semua yang
ada di rumahnya bahan-bahannya terbuat dari kayu. Ia tengah merenung, sambil
menunggu anak-anaknya berangkat kesekolah. Matanya menerawang. Nyata benar ada
yang menggantung di kepalanya. Ia masih memikirkan bagaimana memperoleh
tambahan uang untuk biaya ujian si sulung. Pandangannya kemudian beralih ke
bongkahan-bongkahan kayu dari hutan itu. Lekat-lekat ia pandang. Bongkahan itu
nampak begitu indah. Yang pipih mirip muka meja, yang bulat nampak elok jika
dibuat kakinya. Sepertinya sang penebang kayu telah menemukan ide.
Setengah tahun kemudian sang penebang kayu telah beralih profesi menjadi
pengrajin. Sepuluh jenis kerajinan dapat ia selesaikan. Mulai dari bangku
hingga meja. Lima orang karyawan yang tak lain adalah warga sekitar rumahnya
menjadi patner kerjanya. Kini tak ada masalah lagi dengan biaya sekolah si
sulung, setidaknya tiga juta rupiah dapat ia kantongi.
Manusia pembelajar adalah manusia yang mampu menyelesaikan masalah baru
dengan cara yang baru, bukan dengan cara lama yang sudah-sudah. Setidaknya
itulah pengantar talk show Menjadi Masyarakat Pembelajar yang disampaikan
oleh DR. Ahmad Mukhlis dalam kesempatannya mengunjungi Rumah Dunia.
Kecenderungan masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang stagnan karena terus
menyelesaikan masalah dengan cara yang kuno. Padahal masalah terus berkembang,
maka seharusnya cara-cara penyelesaian masalah juga dengan cara yang baru dan
lebih kreatif.
Bagaimana membentuk masyarakat pembelajar yang mampu menyelesaikan masalah
dengan kreatif. Sepertinya cara yang paling efektif memang memulainya dari diri
sendiri. Selamat memulai.(*)
*) Penulis adalah peserta Kelas Menulis Rumah Dunia Angkatan kesembilan dan
guru di Sekolah Dasar Peradaban Cilegon.
---------------------------------
Get the Yahoo! toolbar and be alerted to new email wherever you're surfing.