Dikutip dari kolom "Koktail" Bonnie Triyana
Mingguan Jurnal Nasional, edisi III Juni 2007.

  Dari Nyi Loro Kidul sampai Soeharto
      Bonnie Triyana
 
    Kedudukan sejarah di dalam masyarakat sama pentingnya dengan Kartu Tanda 
Penduduk (KTP) yang memuat informasi tentang asal-usul seseorang. Begitupula 
sejarah, ia memberikan informasi mengenai dari mana dan bagaimana sebuah 
masyarakat bisa timbul dan menempati sebuah wilayah tertentu. Tak bisa 
dibayangkan bilamana ada sekelompok masyarakat yang tidak bisa menjelaskan dari 
mana mereka berasal, siapa pendahulu mereka di masa yang lalu. Mungkin saja 
bisa ada: mereka yang terdiri dari sekumpulan orang-orang yang mengidap amnesia.
    Di negara kita sejarah selalu saja jadi urusan. Bukan apa-apa, bila 
perdebatan sudah mengarah kepada sejarah, yang muncul hanyalah klaim sepihak 
(legitimasi). Masing-masing pihak berlomba-lomba untuk mengklaim bahwa 
merekalah yang paling berjasa di masa lalu. Ujung-ujungnya bisa ditebak, 
pemuasan libido kekuasaan yang jadi tujuan.
    Sejarah yang terbakukan di negeri ini memang erat kaitannya dengan 
kekuasaan. Tradisi penulisan semacam ini diwarisi sejak zaman para pujangga 
istana menulis babad mengenai para raja. Menurut Sartono Kartodirdjo (2005), 
apologisme atau legitimisme hadir secara menonjol sekali dalam historiografi 
tradisional. Kesemuanya melacak asal mula wangsa yang memerintah ke sumber yang 
mistis atau legendaris. Tentu saja hal itu ditujukan untuk melegitimasi sebuah 
kekuasaan.
    Dalam proses memperkuat legitimasi wangsa Mataram misalnya, diciptakanlah 
mitos Nyi Loro Kidul yang disebut-sebut dalam Babad Tanah Jawi sebagai pasangan 
abadi para raja-raja Mataram. Padahal menurut Pramoedya Ananta Toer, mitos Nyi 
Loro Kidul diciptakan oleh para pujangga istana sebagai jalan mengalihkan 
kekecewaan rakyat karena Sultan Agung gagal total menguasai Laut Jawa. Tak 
mengapa Laut Jawa lepas, karena toh Mataram masih punya Laut Selatan, di mana 
bersemayam Nyi Loro Kidul. Kemudian tercipta pula mitos turunannya: tabu 
mengenakan baju hijau di wilayah pantai selatan. Pemberlakuan tabu itu 
ditujukan untuk memutus asosiasi orang (Mataram) pada seragam hijau pasukan 
kompeni Belanda. 
    Pada masa kolonial para sejarawan Belanda menulis sejarahnya sendiri. 
Mereka mencoba menjelaskan kehadiran bangsa kulit putih dari negeri atas-angin 
sebagai satu tugas suci untuk memakmurkan rakyat Hindia sekaligus membuatnya 
beradab. Salah satu buku yang melegitimasikan kehadiran kaum kolonialis di 
negeri ini adalah “Geschiedenis van Nederlandsch-Indie” karya FW. Stapel. 
    Uniknya, sementara kehadiran Belanda mengancam legitimasi kekuasaan 
Mataram, pujangga istana pun menyusun serat Baron Sakender yang melegitimasi 
kehadiran Murjangkung (Jan Pieterszoon Coen) sebagai kekuasaan alternatif 
setelah Mataram. Dalam serat Baron Sakender itu Murjangkung disebut-sebut 
sebagai anak lelaki yang lahir dari perkawinan Sukmul dengan Putri Sunda. 
Sehingga wajar jika Murjangkung menguasai dan berkedudukan di Batavia. 
    Kekuasaan kolonial kemudian runtuh. Republik Indonesia berdiri. Sejarah 
yang ditulis berdasarkan mitos tidak serta merta berhenti. Bahkan sejarah 
ditulis untuk memproduksi mitos. Muhammad Yamin menulis 6.000 Tahun Sang 
Merah-Putih yang menghasilkan mitos bahwa warna merah-putih telah dikenal sejak 
enam abad lampau. Ia lantas menulis pula bahwa negara Republik Indonesia adalah 
bentuk pemerintah ketiga di nusantara yang mewarisi kekuasaan 
Sriwijaya-Syailendra dan kemudian Singasari-Majapahit. Argumentasi itu 
mengingatkan kita pada mitos The Third Reich milik Adolf Hittler nun pada masa 
Nazi-Jerman dulu. 
    Mitos dan legitimisme yang bercampur-aduk di dalam penulisan sejarah 
tradisional ternyata masih terus saja diadopsi oleh para sejarawan. Di awal 
kekuasaan Orde Baru muncul nama Nugroho Notosusanto. Ia memimpin sejumlah 
proyek penulisan sejarah. Salah satu yang dihasilkannya adalah Sejarah Nasional 
Indonesia (SNI) jilid VI yang melegitimasikan Orde Baru sebagai penguasa pasca 
keruntuhan Orde Lama. Serangkaian penulisan sejarah dilakukan untuk 
melegitimasi kepemimpinan Soeharto: ia dinobatkan sebagai pencetus ide Serangan 
Oemoem 1 Maret 1949, ditampilkan sebagai penyelamat bangsa Indonesia dari 
bahaya komunisme dan perannya ditonjolkan di dalam berbagai film sejarah.  
Walhasil, sejarah pun hadir sebagai doktrin kekuasaan ketimbang ilmu 
pengetahuan. 
    Setelah Soeharto mundur dari kekuasaan, meminjam istilah sejarawan 
Australia Gerry van Klinken, penulisan sejarah di Indonesia memasuki tahap 
“Battle for History”. Pada periode ini setiap kelompok mengajukan versi 
sejarahnya masing-masing.  Korban politik Orde Baru menulis sejarah berdasarkan 
pengalamannya; sebaliknya lawan politik mereka di masa lalu juga melakukan hal 
yang sama. Hersri Setiawan menulis memoarnya selama ditahan di Pulau Buru, 
sementara itu Taufik Ismail menulis Katastrofi Mendunia. 
    Jika membawa perdebatan versi sejarah ini ke dalam ranah akademis yang 
demokratis, tentu saja hal ini sebuah hal yang menguntungkan. Mengingat selama 
hampir 30 tahun di bawah kekuasaan Orde Baru, pelajaran sejarah diajarkan 
secara sepihak, berdasarkan monoversi yang bersandar pada klaim kebenaran 
penguasa. Di sana-sini memang terjadi kebingungan. Guru-guru kerepotan 
menghadapi pertanyaan kritis murid-muridnya menyoal peristiwa G.30.S 1965. Tapi 
tentu itu lebih baik daripada mencekoki mereka (murid sekolah) dengan versi 
tunggal yang kebenarannya – menurut kaidah ilmu sejarah – masih perlu 
dipertanyakan kembali. 
    Pendek kata, pelajaran sejarah di negeri ini, terlebih pasca penarikan buku 
sejarah oleh Kejaksaan Agung RI, tidak pernah beranjak lebih baik. Karena 
lagi-lagi yang diajarkan adalah sejarah yang dipenuhi mitos dan legitimasi 
kekuasaan. Jadi apa bedanya Nyi Loro Kidul dengan Albert Einstein? Nah lho!
  

 Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com 

Kirim email ke