Dari Mingguan Jurnal Nasional edisi III, Juni 2007.
Roh Perlawanan Putra Sang Fajar
Bung Karno adalah lawan yang niscaya bagi kolonialisme dan imperialisme.
Bonnie Triyana
Bandung, 18 Agustus 1930. Gedung pengadilan yang terletak di Jalan Landraad
itu penuh sesak oleh manusia. Mereka menggeremut, berjubel, bak semut
mengerubungi gula. Hari itu, seorang pemuda berperawakan tinggi-tegap nan
tampan, lengkap dengan jas warna putih, pentalon dan kopiah hitamnya melangkah
tegar menghadapi tuan-tuan penegak hukum kolonial Belanda. Sorot matanya tajam,
menyala-nyala, menunjukkan keberaniannya.
Dia Soekarno. Usia baru beranjak 30 tahun ketika hamba hukum kolonial atas
nama Sri Ratu menyeretnya ke dalam ruang pengadilan itu atas tuduhan subversif:
dituduh mengotaki rencana aksi kekerasan melawan penguasa kolonial pada tahun
1930. Tuduhan sumir yang tentu saja ditampiknya.
Di antara keheningan dan bunyi putaran kipas yang terdengar merintih, Bung
Karno berdiri dari bangku pesakitan. Dia mulai berbicara. Menggeledek seperti
biasanya:
Pengadilan menuduh kami telah menjalankan kejahatan. Kenapa? Dengan apa kami
menjalankan kejahatan? Dengan pedang? Dengan bedil? Dengan bom? Senjata kami
adalah rencana, rencana untuk mempersamakan pemungutan pajak, sehingga rakyat
Marhaen yang mempunyai penghasilan maksimum 60 rupiah setahun tidak dibebani
pajak yang sama dengan orang kulit putih yang mempunyai penghasilan 9.000
setahun....Tuan-tuan Hakim yang terhormat, sedangkan seekor cacing kalau ia
disakiti, dia akan menggeliat dan berbalik-balik. Begitupun kami. Tidak berbeda
daripada itu.
Pengadilan tak bergeming. Bung Karno dijatuhi hukuman empat tahun penjara,
dikurung dalam sebuah kamar berukuran satu setengah kali dua seperempat meter
persegi. Tubuhnya dikerangkeng, tapi tidak dengan jiwa dan pikirannya. Di dalam
penjara Sukamiskin, Bandung Bung Karno memperdalam pengetahuannya tentang Agama
Islam dan memelajari manusia dalam wajahnya yang lain: sebagai pesakitan.
Sukarno adalah manusia multidimensi. Ia menamakan dirinya sebagai seorang
pencinta. Ia mencintai negerinya, mencintai rakyatnya, mencintai wanita,
mencintai seni dan lebih dari semua itu ia adalah seorang yang mencintai
dirinya sendiri. Ia seorang yang berperasaan halus: menarik nafas panjang di
saat melihat hamparan pemandangan yang indah, dan menangis di kala
mendendangkan lagu spiritual bangsa kulit hitam. Namun pada saat yang lain, dia
juga bisa hadir sebagai manusia yang bersikap keras. Membatu.
Memimpin rakyat Indonesia yang dibelenggu oleh kolonialisme adalah panggilan
nurani yang tak bisa lagi dibendung oleh ketakutan akan penderitaan. Menjadi
pemimpin adalah sebuah jalan hidup bagi Bung Karno. Dalam biografi yang
dituturkannya pada Cindy Adams ia mengatakan bahwa ia adalah anak dari kelas
yang berkuasa: ibu dari kasta brahmana dan ayah dari kalangan bangsawan Jawa,
keturunan Sultan Kediri. Jadi, lagi-lagi, katanya, merupakan suatu kebetulan
ataupun takdir padanya untuk lahir di dalam lingkungan yang berkuasa. Sehingga
pengabdiannya untuk membawa rakyat Indonesia ke gerbang kemerdekaan bukanlah
satu keputusan yang tiba-tiba. Bung Karno menganggap hal itu sebagai warisan
yang dititiskan kepadanya sejak Belanda pertama kali menginjakkan kaki di Bumi
Pertiwi pada 1956. Keyakinan itulah yang membuatnya tak ragu lagi menceburkan
diri ke dalam samudera perjuangan politik.
Pada suatu pagi di awal tahun 1923, sebagai mahasiswa Technische Hoge School
(THS, kini ITB), Bung Karno dipanggil untuk menghadap Rektor THS Profesor
Klopper. Sang profesor tahu kalau anak didiknya ini tersangkut perkara hukum
karena menyampaikan pidato politik yang mengecam penguasa. Kepada Bung Karno
Klopper mengatakan, "Kamu harus berjanji bahwa sejak sekarang kamu tak akan
lagi ikut-ikutan dengan gerakan politik."
"Tuan," jawab Soekarno, "Saya berjanji untuk tidak akan mengabaikan
kuliah-kuliah yang Tuan berikan di sekolah." "Bukan itu yang saya minta
kepadamu," sanggah si profesor. "Tetapi hanya itu yang bisa saya janjikan,
Profesor," jawab Bung Karno lagi.
Bung Karno sadar sejak awal bahwa kehidupan nyaman bagi dirinya hanyalah
semu, karena realita kehidupan masyarakat di mana dia tinggal sepenuhnya
dikungkung oleh kebuasan sistem kolonialisme dan imperialisme. Untuk perihal
itu ia menulis dalam Nasionalisme, Islam dan Marxisme yang dimuat jurnal
Indonesia Muda tahun 1926. Dari tulisannya itu tampak sekali sikap
antikolonialismenya. Menurut Bung Karno muda, motivasi awal kedatangan
kolonialis Eropa bukanlah karena kewajiban luhur tertentu, melainkan "untuk
mengisi perutnya yang keroncong belaka."
Ia percaya bahwa kolonialisme berelasi erat dengan kapitalisme. Dan kehendak
ekonomi kapitalisme itu ditujukan semata-mata untuk menyerap keuntungan
sebesar-besarnya dari alam dan rakyat di negeri jajahan. Ia tidak bisa berdiam
diri menghadapi kenyataan itu. Bung Karno menempatkan dirinya sebagai sosok
manusia yang bisa menutup matanya atas semua keadaan yang menyengsarakan rakyat
jajahan yang hidup berserak di sekitarnya.
Sendainya saja dia mau, sebetulnya Bung Karno bisa saja memilih untuk hidup
nyaman dan tenteram; tak perlu hidup di dalam kegelapan sel yang pengap dan
hanya bertemankan seekor cicak. Selulusnya kuliah, tawaran sebagai pegawai
pemerintahan datang silih berganti: mulai sebagai asisten dosen di almamaternya
sampai dengan jadi pegawai dinas pekerjaan umum dalam pemerintahan kolonial.
Tapi ia mempersetankan semua itu.
Tahun 1926 ia mendirikan Partai Nasional Indonesia (PNI). Pembentukan PNI
menurut penulis biografi politik Soekarno John D Legge merupakan suatu langkah
maju baru yang penting bagi perjuangan nasional Indonesia. Sedangkan bagi diri
Soekarno hal ini adalah pengakuan baru yang sekaligus memberinya wadah untuk
mengembangkan potensi kepemimpinannya.
Melalui PNI, Bung Karno merumuskan strategi perjuangan nasional menurut
pandangannya sendiri. Sebagai ketua eksekutif PNI yang hampir tak tergantikan,
Soekarno bukan saja orang yang berkepala dingin dan tidak cepat kehilangan
akal, tetapi juga ia memiliki kemahiran yang luar biasa dalam berpidato (Legge:
2001).
Dengan perahu PNI, ia mendayungi samudera pergerakan politik nasional untuk
menebarkan semangat antikolonialisme dan seraya menanamkan rasa nasionalisme
dalam benak rakyat. Rapat-rapat umum diselenggarakan PNI untuk menarik simpati
rakyat. Uniknya, sekalipun ditentang keras oleh Ali Sastroamidjojo, Bung Karno
juga menggunakan tenaga pekerja seks komersial (PSK) untuk menyokong
perjuangannya.
Pelacur adalah mata-mata yang paling baik di dunia. Aku dengan senang hati
menganjurkan ini kepada setiap pemerintah. Dalam gerakan PNI-ku di Bandung
terdapat 670 orang dan mereka adalah anggota yang paling setia dan patuh
daripada anggota lain yang pernah kuketahui, ujar Bung Karno.
Seiring dengan ketenarannya sebagai orator, pemerintah kolonial pun
memperketat pengawasan terhadap Bung Karno. Si Bung Besar ini pun membuat
kuping penguasa kolonial merah. Dan keluar masuk penjara adalah sebuah
keniscayaan baginya. Penjara justru menjadi tempat yang tepat ntuk merenungkan
bagaimana seharusnya bangunan negara-bangsa Indonesia. Di Pulau Ende, Flores,
ia merenungkan konsep falsafah negara Indonesia yang kelak dikenal sebagai
Pancasila.
Maret 1942. Jepang menduduki Hindia Belanda. Seperti telah diprediksikan
sebelumnya oleh Bung Karno pada 1930, Jepang akan mengambilalih kekuasaan di
Hindia Belanda. Kesempatan ini dipergunakan oleh Bung Karno untuk melapangkan
jalan menuju kemerdekaan Indonesia. Sebagian sarjana, seperti Lambert Giebels,
menilai kerjasama Bung Karno dengan Jepang adalah satu kecelakaan sejarah.
Terlebih ketika banyak rakyat yang dikorbankan demi kepentingan fasis Jepang.
Tidak semua tokoh setuju dengan keputusan Bung Karno. Sjahrir misalnya.
Konflik Bung Karno dengan Sjahrir dilatarbelakangi adanya perbedaan cara
pandang terhadap Jepang. Bung Karno menganggap Jepang adalah alat, satu taktik
untuk merebut kemerdekaan. Saya akan bekerjasama dengan siapa saja, sekalipun
dengan setan yang terkutuk dari neraka, jika ia membantu kemerdekaan negeriku
katanya kepada Cindy Adams.
Sedangkan Sjahrir yang dididik di Belanda punya cara pandang yang lain
terhadap Jepang. Ia melihat fasisme Jepang lebih berbahaya ketimbang
kolonialisme Belanda. Jalan yang ditempuh Bung Karno untuk berkolaborasi dengan
Jepang menurut adalah perbuatan nista. Oleh karena itu Sjahrir lebih memilih
untuk bergerak di bawah tanah, menyusun kekuatan sembari terus berpropaganda
memerangi Jepang.
Namun demikian menurut Bung Hatta di dalam buku Bung Hatta Menjawab persoalan
antara Bung Karno dan Sjahrir dilatarbelakangi oleh perselisihan kecil ketika
mereka berdua dibuang ke Prapat, Sumatera Utara. Saat itu, jelas Bung Hatta,
Bung Karno yang tengah mandi sembari bernyanyi dihardik oleh Sjahrir Karno,
Houd je mond! (Karno, tutup mulutmu!). Bung Karno tersinggung. Dan dimulailah
perselisihan itu. Agaknya oleh karena perselisihan itu pula Sjahrir tidak
menghadiri proklamasi kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945 di kediaman
Bung Karno.
17 Agustus 1945 adalah saat-saat puncak dalam karir Bung Karno sebagai
pemimpin politik nasionalis. Selama hari-hari menjelang proklamasi kemerdekaan
itu ia menjadi tokoh sentral yang dibutuhkan. Ia menjadi lambang pemersatu yang
dianggap bisa menjembatani perbedaan berbagai kelompok: muda-tua, Muslim-Non
Muslim, Jawa-luar Jawa, Kiri-Kanan.
Kehidupan Bung Karno pun tak lepas dari berbagai kontroversi. Mulai dari
kisah kasihnya dengan kaum hawa, proyek mercusuar sampai dengan uji coba
Demokrasi Terpimpin yang dikatakan olehnya sebagai bentuk berdemokrasi ala
Indonesia.
Semangat hidup Bung Karno adalah semangat berlawan terhadap kolonialisme dan
imperialisme yang tiada pernah berakhir. Oleh karena semangat itu pula dia
dipenjara berkali-kali, dijauhi bak berpenyakit kusta. Di akhir kisah hidupnya,
ia kembali menjadi pesakitan politik. Dikerangkeng di rumahnya sendiri. Tapi
ironisnya, tak sedikit pun kesempatan diberikan kepadanya untuk membela diri.
Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com