Teknologi Bahan

Sepanjang yang saya serap berapa waktu ini, trend
dunia adalah menguasai teknologi bahan. Siapa yang
menguasai teknologi ini dalam kurun 10 tahun kedepan
akan merajai industri.

Teknologi bahan yang ditunjang penguasaan bahan baku
adalah yang sedang dijalankan oleh beberapa negara di
asia. China adalah yang paling dulu mempersiapkan
perangkat lunaknya sehingga dalam kurun waktu dibawah
15 tahun, mereka sudah mencengangkan dunia dalam laju
pertumbuhan ekonominya.

Saya juga bukan ahli bahan, bukan ahli ekonomi, namun
saya punya jaringan "orang jawa" yang karatan di
China. Dari mereka ini sebenarnya kami dapat
"bocoran".

China menguasai tambang biji besi dan batu bara selama
25 tahun ke depan. mereka sudah kontrak cash untuk 25
tahun. Kegoncangan keuangan mereka hanya terjadi 1
tahun saja untuk menutup kebutuhan kontrak tersebut.
Namun sekarang mereka merajai baja dunia. Sedangkan
stok biji besi dan batu bara di negaranya sementara
ini tidak dipakai.

Sekarang China sedang giat membangun sehingga
memerlukan baja cukup besar. apa jadinya nanti setelah
5 tahun kedepan? China sudah mapan dan produksinya
akan dilempar kemana-mana. 

Kabar terakhir, china sudah dapat membuat minyak bakar
dari batu bara dengan kwalitas diatas minyak tanah.
Informasi lagi, China sedang mengembangkan tanaman
singkong. 10.000 hektar di jawa barat siap dijadikan
uji coba.

Bahan bakar alternatif dari singkong lebih dipercaya
daripada minyak jarak. Sementara Jepang dan Korea juga
siap mengekor dibelakang. Kita cuma punya kebon doang.

Jika mau ada satu teknologi bahan yang akan jadi
rebutan dunia yaitu limbah singkong dapat dijadikan
pengganti plastik dan plastik kemasan yang ramah
lingkungan. Jerman sudah melirik ini dan kita masih
ribut soal jawara dan virus si dprd.net

Kita bisa mempunyai teknologi bahan unggulan untuk
dapat bergaining di pentas dunia. jangan salah langkah
lagi dulu Habibie buat Nurtanio sebuah kesalahan
besar. Padahal lebih baik buat pabrik Handphone yang
gak rumit namun jagoan. Top rangking dunia industri
semuanya dikuasai oleh IT (saat ini). malah sekarang
deketin SBY mau bikin Sista lagi, (Sistim senjata)ini
dulu sub bagian di Nurtanio sebelum jadi IPTN.
Prediksinya gak bakal jalan karena Indonesia belum
menguasai teknologi bahan yang terbaiknya. tau memang
tau tapi gak dapet bahannya. Ahuehauheuha...

Sekali lagi jika software negara ini masih begini saja
yah bisa survive saja sudah bagus. Makanya ketika
Krakatau Steel mau buka pabrik di Kalimantan patut
dipertanyakan. Kok maksa yah. beli bahan biji besi
saja sudah hampir sama dengan harga baja jadi
China,...

Sama dengan beras. Impor kok lebih murah padahal
pupuknya pakai Indonesia punya.

Gak salah negeri ini jadi Republik acakadut.

Lieur ah




--- Mohammad Seda <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

> kebetulan sy bekerja pada indutry steel structure di
> bagian purchasing sy berkunjung ke china dan negara2
> asia lain nya kira 2 bulan sekali dan yang sangat
> prihatin mengenai perkembangan industri produsen
> baja di indonesia yang selalu kekurangan bahan baku
> sehingga kami dkk. selalu membelanjakan devisa
> keluar bermilyar2 $ setiap bulan padahal secara
> teknologi krakatau steel tidak kurang dan yang
> mmembedakan mengenai etos kerja mereka lebih tinggi
> itu saja dan mereka bisa menekan cost production
> serta meraka proteksi dari pajak sehingga harga jual
> mereka lebih murah dari seluruh dunia.jadi mau beli
> kemana lagi kalau bukan ke chino..........?
> 
> Ahmad Mukhlis Yusuf <[EMAIL PROTECTED]> wrote: 
>            
>           Dear Colleagues,
>    
>   Prof. Williamson dari INSEAD (France) tgl 7 Juni
> 2007 lalu datang ke Jakarta, menyebarkan virus soal
> Inovasi Biaya dari China. Pada saat yg sama Wapres
> sdg belajar ke negeri China. Berikut artikel saya di
> Business Week (Edisi Indonesia) tgl 4 Juni, semoga
> bermanfaat.
>    
>   With best regards,
> Ahmad Mukhlis Yusuf (Emye)
> http://ahmademye.blogspot.com/
>    
>    
>   BELAJAR INOVASI BIAYA DARI CHINA[1]
>   Oleh: Ahmad Mukhlis Yusuf[2]
>     
>   Masih ingatkah anda saat mengenang fenomena
> produk-produk Jepang, made in Japan, pada tahun
> 70an? Saat itu kualitas produk-produk Jepang sering
> dipersepsikan rendah dan cuma layak dihargai murah.
> Namun persepsi tersebut lantas berubah pada era
> tahun 90an saat produk-produk Jepang merajai pasaran
> dunia dengan berbagai produk premium dan berkelas.
> Para pelaku industri mobil di Amerika (Ford, GM,
> Chrysler) tercengang saat mobil-mobil Jepang
> tiba-tiba berseliweran di jalan-jalan raya mereka,
> dan masih tidak percaya sampai akhirnya mobil-mobil
> Jepang terparkir di rumah-rumah para pelanggan
> mereka. Semuanya terlambat.
>   
>   Mungkin seperti itulah persepsi sebagian kita saat
> ini memandang kualitas produk-produk China yang kini
> telah membanjiri pasaran dunia; USA, Eropa, Timur
> Tengah, Asia, termasuk negara kita.  Tahukah anda,
> Dragon Mart, sebuah kawasan niaga terbesar di Dubai,
> Uni Emirat Arab (UEA) merupakan salah satu pusat
> perdagangan terbesar di kawasan tersebut? Belum lagi
> berbagai produk-produk China telah membanjiri
> pasaran dunia dari berbagai produk elektronik,
> kendaraan bermotor, komputer, mesin-mesin industri
> dan industri barang-barang modal lainnya.  Tanyakan
> pada para distributor mesin-mesin cetak di tanah
> air, mesin-mesin cetak negara manakah yang kini
> mulai dicari oleh para pelanggan-pelanggan mereka?
> Yang berani memberi garansi sampai tiga tahun dengan
> after sales service yang memuaskan? Dan memberikan
> jaminan uang kembali bila mengalami kerusakan selama
> masa garansi tersebut? 
>   
>   Mari terus kita telusuri, merek-merek
> air-conditioned (AC) dari negara manakah yang kini
> mulai menggeser merek-merek ternama seperti
> National, Toshiba, Sharp dan Sanyo? dari negara
> manakah merek-merek AC seperti TCL, Haier, Denpoo
> dan Changhong yang belakangan disukai para pelanggan
> menengah karena memberikan fitur yang canggih dengan
> jaminan pasca pembelian compressor sampai tiga tahun
> sehingga mendongkrak pertumbuhan AC di negeri kita
> sampai 30% pada tahun 2006? Jawabannya adalah China.
> Jangan lupa lho, para pelanggan menengah tersebut
> terus meningkat kesejahteraanya. Belum lagi bila
> kita amati perkembangan terakhir pada pelbagai
> industri elektronik dan barang-barang modal yang
> telah membanjiri hampir semua pusat-pusat
> perdagangan di tanah air. Tiga tahun lalu, para
> pengamat industri komputer dunia tercengang saat
> Lenovo membeli 18.9 % saham IBM senilai US 1.25
> milyar, dan kini Lenovo membuat dan menjual personal
> computer (PC) merk IBM, salah satu icon merk PC
> dunia
>   
>   Pembaca yang budiman, fenomena ini telah diamati
> dengan cermat oleh dua orang professor bidang
> strategi bisnis – Peter J. Williamson dari sekolah
> bisnis terkemuka di Eropa, INSEAD, Fontainebleau,
> France dan Ming Zeng, pakar bisnis dari Cheung Kong
> Graduate School of Business, China. Prof. Williamson
> adalahpengarang buku best seller, Winning in Asia.
> Prof. Williamson dan Prof. Zeng kemudian
> berkolaborasi menulis buku terbaru, Dragons At Your
> Door (2007) yang menyatakan bahwa rahasia dari
> kemampuan perusahaan-perusahaan China melakukan
> penetrasi pasar pada berbagai negara di dunia adalah
> kemampuan mereka melakukan inovasi biaya (cost
> innovation). 
>   
>   Inovasi biaya yang dijalankan perusahan-perusahaan
> China mampu menggoyang berbagai pelaku industri 
> mapan pada berbagai industri dari negara-negara USA,
> Eropa dan Jepang, terutama pada industri-industri
> mass-market dan merambah pada berbagai industri
> high-tech dan berbagai industri specialty, seperti
> refrigerator, container, berbagai mesin-mesin cetak
> dan lain-lain.  
>   
>   Strategi berbiaya rendah (cost-leadership)
> sebenarnya bukanlah strategi baru, karena telah
> dipopulerkan oleh Prof. Michael E. Porter dari
> Harvard Business School (Competitive Strategy,
> 1980), namun yang menarik dari para pendatang baru
> dari China adalah kemampuan mereka menawarkan
> fitur-fitur canggih dari berbagai produk yang
> dihasilkannya dengan strategi harga yang tidak masuk
> dalam hitungan bisnis para pesaingnya dari berbagai
> negara maju. Sebagai contoh, sebagaimana biasa para
> pesaingnya dari USA, Eropa dan Jepang menawarkan
> berbagai fitur yang tinggi untuk menikmati berbagai
> keuntungan diferensiasi produk dan merek (brand)
> yang kemudian mengantarkan mereka untuk menikmati
> margin yang tinggi, dengan produk-produk premium,
> terutama pada consmuer goods,  high-tech dan
> specialty industry. Namun, Williamson dan Zeng
> membuktikan era tersebut telah berakhir.
>   
>   Williamson dan Zeng menyatakan, strategi inovasi
> biaya ini telah mengganggu kompetisi global
> (disrupting global competition) yang selama ini
> mapan.   Sebagai contoh, dalam Dragons at Your Door
> diuraikan bagaimana salah satu produsen produk
> specialty seperti China International Marine
> Container (CIMC) yang telah menjadi pemimpin pasar
> dunia sejak tahun 1996 pada industri barang-barang
> modal pelayaran (shipping industry). Volume
> penjualan CIMC lebih besar enam kali dari pesaing
> terdekatnya dengan pangsa pasar 55% dan mengusai
> pasar pada industri pelayaran dunia. Bayangkan,
> produk yang dihasilkan CIMC telah memberikan fitur
> paling canggih pada setiap kategori produk kontainer
> yang dimasukinya seperti fasilitas pendingin yang
> canggih, penelusuran elektronik yang state-of-the
> art, tanki di dalam, dan fitur yang disesuaikan
> (customized) dengan keputuhan pelanggan, dengan
> harga dibawah para pesaingnya dari negara-negara
> Eropa. CIMC bahkan mengakusisi Graaf, salah satu
> pesaingnya
>  dari Germany pada tahun 2005, setelah sebelumnya
> mengakusisi Clive-Smith Cowley, UK.  Ironisnya Graaf
> dan Clive-Smith Cowley adalah para pemimpin pasar
> pada masa lalu, dan memiliki berbagai paten yang
> belakangan dimiliki oleh CIMC saat ini. Kunci
> kesuksesan CIMC adalah dua strateginya yang cerdas,
> yakni: teknologi tinggi dengan biaya rendah
> (high-technology at low cost) dan variasi dengan
> biaya rendah (variety at low cost).
>   
>   Keunggulan para pelaku industri China telah
> “mengganggu” berbagai industri yang selama ini
> dikuasai berbagai negara industri maju. Pengamatan
> Williamson dan Zeng pada tahun 2005 menyatakan
> produk-produk China telah membanjiri volume pasar
> dunia sebanyak 40% produk televisi, 50% produk AC,
> 30% produk refigrator, 51% produk microwave ovens,
> lebih dari 50% kamera digital, 37% produk telepon
> selular, 70% produk kontainer, 60% produk mainan,
> 70% produk lampu, 50% produk Crane, 70% produk mesin
> jahit dan 35% produk komputer pribadi. Saya yakin
> angka-angka tersebut tidak berlebihan, karena bila
> para pembaca jalan-jalan ke negara-negara Timur
> Tengah, berbagai negara ASEAN, dan Eropa Timur,
> produk-produk China telah merajai pasaran mereka.
> Pasar-pasar di negara-negara USA, Eropa Barat, dan
> Jepang sudah mulai “diganggu” oleh produk-produk
> China yang sexy dari dari segi fitur dan harga yang
> terjangkau. Bukan tidak mungkin kisah produk-produk
> China yang masuk pada produk dan pasar
>  premium akan mulai menjadi fenomena nyata pada
> beberapa tahun kedepan.
>   
>   Uniknya, kedua profesor diatas juga menguraikan
> beberapa kelemahan produk-produk China saat ini yang
> bermuara pada kelemahan pada fleksibilitas disain
> produk, terutama pada high-end market dan
> berkembangnya fenomana outsourcing yang memungkinkan
> modularisasi produk-produk industri manufacturing,
> sehingga para pelaku industri China dituntut lebih
> antisipastif terhadap proses peningkatan rantai
> nilai (value chain) yang berskala global, tidak
> selalu harus menyatu dari hulu sampai hilir di
> China. Yang menarik adalah beberapa tips dari
> Williamson dan Zeng kepada kita semua bagaimana
> strategi bersaing dengan “ancaman” produk-produk
> China tersebut ((hal. 149). Keduanya mengajukan tiga
> tips yakni; (i) menggunakan strategi yang sama
> melalui inovasi biaya dengan basis R & D yang kuat
> dan 
=== message truncated ===



       
____________________________________________________________________________________
Pinpoint customers who are looking for what you sell. 
http://searchmarketing.yahoo.com/

Kirim email ke