ITULAH BANTEN...MAUNYA GRATISAN TANPA MAU BERFIKIR DAN BERUSAHA DULU.....BARU MINTA MINTA SAMA ORANG LAIN....USAHA DULU DONG...KALO GAK BISA BARU MINTA MINTA....
WongBanten <[EMAIL PROTECTED]> wrote: Yang saya tanyakan pada anda adalah apakah anda pernah merasakan hidup di Banten? Atau malah sudah pernah "berurusan" dengan Chasan Sochib? Kenyataannya adalah Chasan Sochib ada dan hidup di Banten ini. Hanya orang stress yang menampik ini. Kalau kita teriak di luar, kita dapat teriak sekeras-kerasnya. Seperti yang anda lakukan di milis ini. Bukan saya pro dengan Chasan Sochib. Saya hanya memotretnya dari sudut humanismenya. Ada satu pertanyaan dari saya untuk anda. Saat kemarin anda mengatakan "hanya Pasar Rau". Kenyataannya dari sekedar "hanya Pasar Rau", untuk meresmikannya didatangkan Presiden RI ketika itu Megawati. Proses negosiasi hanya 3 hari, bikin pontang-panting aparat dari Korem, Kopassus, Provinsi hingga Kabupaten. Ini kenyataan. Coba anda dalami dengan baik jangan menggunakan emosi belaka. Banyak tokoh maupun pejabat yang dibelakang menghujat bahkan terkesan menantang Chasan Sochib. Kenyataannya? Setelah bertemu muka mereka tadi "cium tangan" dan bermuka manis. Ketika belum lama ini Chasan Sochib diminta keterangan di Kejati Banten,... Mana ada berita tembusan di media cetak atau elektronik. Mana rekan wartawan kita yang katanya idealis? Ga ada,... nda adaaaa itu. Kemudian anda berharap banyak dengan anggota DPRD untuk punya sikap dan mengkondisikan rakyat. He,.. he,.. he,.. sebelum mengkondisikan rakyat yah mengkondisikan diri dulu lah. Masih terngiang uang Telekomunikasi saja ngotot di tengah rakyat antre beras. Jika sistem pemilihannya masih seperti kemarin, jangan harap adanya perubahan yang banyak di bumi ini. Rubah Softwarenya, baru bisa kita masuk babak baru. kalau sekarang dipaksakan hasilnya babak belur neng. Sekarang mulai muncul wacana calon independen, nah langkah ini sangat baik bila ditambah softwarenya yang tepat. Kalau prakteknya sama saja,.. ya sami saos. Memamng diatas langit masih ada langit. Namun kita tidak memerangi kebatilan dengan emosional kita masih menggunakan fikiran. Bukan berarti jika tidak bicara kita setuju dengan apa yang kita lihat. Namun ada cara-cara yang lebih "safe" yang bisa dilakukan. Kata WongJowo bilang pakailah akal daripada pakai okol. Sekali lagi sama sekali saya tidak bermaksud membela Chasan Sochib, namun saya memberi gambaran bagaimana posisi kekuatan dia sebenarnya di Banten ini. Terutama bagi yang "hanya" mendengar dari kejauhan saja. Jika anda memang berani berbicara seperti itu di depan Chasan Sochib, anda saya acungkan dua jempol. Pikiran saya hanya tiga jika anda berani melakukan hal tersebut. Satu anda memang super berani. Kedua anda stress berat. Ketiga anda anaknya Chasan Sochib. Boleh tanya Gola Gong dalam masalah ini. Gola Gong bagaimana tidak kritisnya dalam memahami Chasan Sochib. Tapi Gola Gong masih punya akal sehat. Gola Gong sudah capai teriak-teriak. bahkan Gola Gong pernah bikin teatre dengan judul "Kampung Maling" yang dihadiri juga oleh keponakan Chasan Sochib. Juga ingat ketika Indra Kusumah "dikejar-kejar Rau" gara-gara Karikatur Gate. Jadi semuanya terserah anda, yang penting bisa bermanfaat buat masyarakat Banten. berbuatlah sekecil apapun untuk masyarakat Banten. Salam BTW, anda di Bali kan. Bisa jembatani pengrajin disana? Bukan produk tapi alih teknologinya. Kursus gitu. Yang gratis kalo ada Ahuehuahuehauee..... __________________________________________________________ Sick sense of humor? Visit Yahoo! TV's Comedy with an Edge to see what's on, when. http://tv.yahoo.com/collections/222 --------------------------------- Get the Yahoo! toolbar and be alerted to new email wherever you're surfing.
