Bismillahirrahmanirrahim.

Maaf Bung Ramli, apa yang dialami oleh Bung di daratan Eropah berkaitan dengan 
masalah lunturnya atau sudah pudarnya aqidah masyaakat Basel. Lalu dapatkah 
kita ambil pelajaran konteksnya dengan masyarakat Indonesia. Insya ALlah 
masyarakat Indonesia yang mayoritas muslim tidak akan sampai sejauh itu 
mengeluarkan statement ekstrim macam itu. Namun kalau kita telusuri lebih jauh, 
kenapa di Basel sampai terjadi pernyataan yang sangat ekstrim semacam itu. 
Pertama Ini tidak terlepas dari substansi ayat-ayat Tuhan yang kurang dipahami 
oleh masyarakat Basel. Kedua, barangkali ini tidak terlepas dari pemuka agama 
yang sudah terbius dan sibuk terjun dalam panggung politik kekuasaan, sehingga 
pemahaman aqidah agama kepada masyarakat terabaikan justru yang ada adalah 
pembodohan masyarakat melalui dogma-dogma yang bertentangan dengan ayat-ayat 
Tuhan yang tujuannya adalah untuk meredam gejolak di tengah masyarakat. 

Bertolak dari cerita Pak Ramli, berikut akan saya akana cerita sedikit.

Manusia dalam hidupnya selalu mencari tiga hal, yaitu 1). Keindahan, 2). 
Kebenaran dan 3). Kebaikan dan Keadilan. Keindahan dicari manusia melalui 
bidang seni, yakni bidang yg menonjolkan unsur rasa. Kebenaran dicari manusia 
melalui ilmu pengetahuan yang untuknya dibutuhkan akal. Sedangkan kebaikan dan 
keadilan hanya dapat ditemukan dalam bidang agama, dan untuknya dibutuhkan iman.
Manusia bisa hidup bahagia seandainya ia telah mampu membentuk perpaduan yang 
harmonis antara ketiga daya jiwa tersebut diatas, dimana tidak ada daya jiwa 
yang mendominasi daya jiwa yang lain. Menyeimbangkan peran ketiga daya jiwa ini 
memang bukanlah pekerjaan yg mudah. Bahkan disinilah satu satu kelemahan 
manusia yang penting.
Seseorang yang terlalu banyak menggunakan potensi rasa tanpa diimbangi dengan 
kemajuan akalnya, pasti mengalami benturan dalam hidup keruhaniannya. Ia akan 
dengan cepat menangkap isyarat-isyarat alam, lalu mengambil kesimpulan tanpa 
mengolahnya lebih dulu. Akibatnya adalah kekagumannya yang luar biasa terhadap 
sesuatu yang ia anggap besar dan mampu mengalahkannya (masuk dalam aliran 
pantheisme). Ia mempetuhankan gunung, matahari yang memberikan energi kepada 
semua makhluq bumi, lukisan yang indah, hasil seni yang memukai dan lain 
sebagainya. 
Orang yang hanya mampu menggunakan akalnya saja dengan mengenyampingkan rasa, 
maka akan sampai kepada pemahaman atau aliran yang tak sanggup membuktikan 
bahwa Tuhan itu ada, juga bahwa Tuhan tidak ada (pemahaman atau aliran 
Agnotcisme). Makin parah lagi dari penggunaan akal yang tidak sehat adalah 
tidak percaya adanya Tuhan (Atheisme).
Dalam ajaran Islam menautkan kedua daya jiwa tersebut dengan menampilkan unsur 
ketiga yaitu IMAN. Seorang muslim wajib menghaluskan rasa (ikhsan, ikhlas, 
akhlaq dan dzikir), menajamkan otak (ilmu, tafakur) dan menebalkan iman 
(tauhid, taqwa, ibadah).

Al Qur'an beserta segenap keleluasan pandangannya menyediankan standar-standar 
tersebut diatas, dan Al Qur'an sebagai inti ajaran Islam adalah perekat rasa 
yang paling halus, pengasah otak yang paling tajam dan penyegar iman yang 
paling efektif. Allah Swt. berfirman : "Sesungguhnya dalam penciptaan langit 
dan bmi, dan silih berganti malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi 
orang-orang yang berakal. (Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil 
berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang 
penciptaan langit dan bumi (seraya berkata) : 'Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau 
menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari 
siksa neraka" (QS. Ali Imran : 190-191).

Terlihat dari ayat tersebut, ada dua realita pengamalan manusia : realita 
tafakur (akal) dan realita dzikir (rasa) keduanya digabungkan dan lahirlah 
keimanan yang tangguh. Jadi  apa yang terjadi di Basel dan masyarakat Eropah 
pada umumnya adalah realita pengamalan manusia seperti tafakur dan dzikir tidak 
ada.


SP Saprudin



----- Pesan Asli ----
Dari: Ferizal Ramli <[EMAIL PROTECTED]>
Kepada: [email protected]
Terkirim: Kamis, 28 Juni, 2007 12:07:52
Topik: [WongBanten] Re: TERMENUNG DI BASEL, DI BASEL !!!

Terima kasih atas masukannya Kang Risyaf...

--- In [EMAIL PROTECTED] ups.com, Risyaf Ristiawan 
<barakatak_jol_ [EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Pak Ferizal yang saya hormati, menyimak tulisan Bapak, kira-kira 
ada gak sosok agamawan yang jadi penindas rakyat di negeri Indonesia. 
Mungkin ada,namun saya belum menemukannya. 
> Yang kentara di negeri kita adalah agamawan yang melindungi hal-hal 
yang berbau syuhbat. (jelas menurut syariat adalah hukumnya tidak 
boleh, namun alasan tokoh agamawan demi kemaslahatan orang banyak, 
maka dibuatlah hal itu dibolehkan).
> Di Basel lebih ekstrim yaitu membunuh Tuhan, tapi di Indoensia 
justru yang ada adalah mengolok-olok Tuhan.
> 
> Lain Basel lain Indonesia. 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> ----- Original Message ----
> From: Ferizal Ramli <[EMAIL PROTECTED] >
> To: [EMAIL PROTECTED] ups.com
> Sent: Wednesday, June 27, 2007 5:38:24 AM
> Subject: [WongBanten] TERMENUNG DI BASEL, DI BASEL !!!
> 
> (Numpang posting yah...:))
> 
> TERMENUNG DI BASEL, DI BASEL !!!
> 
> Minggu, 25 Juni 2007
> 
> Basel Salah satu kota tua di Swiss. Terletak di perbatasan Jerman,
> Swiss dan Perancis.
> 
> Arus deras S. Rhein melintas membelah kota. Naluri alamiah bahwa 
Basel
> terletak di ketinggian, di kaki pegunungan Schwarzwald, dengan
> pegunungan legendaris Alpen agak jauh disisi lainnya.
> 
> Basler Münster, Gereja tua abad pertengahan didirikan hampir 1000
> tahun yang silam. Disini di salah satu sudut gereja, di tepian 
Sungai
> Rhein, aku berdialog dalam diam.
> 
> Khayalan jauh melayang ke masa lampau. Seolah-olah aku sudah hidup
> beberapa ratus tahun yang lalu. Basel sangat terkesan di hatiku.
> Bukan, bukan karena keindahan kotanya. Tidak, aku tidak sedang
> berbicara tentang keindahan kota.
> 
> Khayalanku melayang seolah-olah aku melihat seseorang. Pengarang 
yang
> bukunya membuat keningku berkerut-kerut dan dadaku amat sangat 
sesak.
> Basel begitu berkesan di dadaku karena disitulah pertautan antara
> kemarahan, kegeraman bahkan caci maki, tetapi juga kekaguman dan
> penghormatan menyatu di dadaku.
> 
> Konon khabarnya dari rahim kota Basel, di sebuah pasar, suatu hari 
di
> tahun 1880-an, Nietzsche berteriak seperti orang gila;
> "Gott ist tot!
> "Gott ist tot!"
> "Und wir haben ihn getötet!
> 
> "Tuhan sudah mati!" "Tuhan sudah mati!" "Dan kita lah yang membunuh
> Tuhan!" "Anda tidak perlu lagi menyembah Tuhan, karena Tuhan sudah
> mati!" ---begitu teriak Nietzsche.
> 
> "Die fröhliche Wissenschaft" , adalah tulisan legendaris dari 
Nietzsche
> yang membuat masyarakat Eropa terperangah. Tidak cuma terperangah,
> tapi masyarakat Eropa begitu mempercayai apa yang dikatakan 
Nietzsche
> bahwa "Tuhan sudah mati!" Masyarakat Eropa memutuskan 
untuk "mengubur"
> Tuhan karena Tuhan sudah mati.
> 
> Saat ini di Eropa tidak ada lagi Tuhan, seluruh rumah peribadatan
> kosong melompong. Mereka (masyarakat Eropa) telah bersepakat untuk
> mencari Tuhan yang lain; materi, kekuasaan, karir atau apalah yang
> bisa mendatangkan kesenangan.
> 
> "Die fröhliche Wissenschaft" , yang ditulis rumit dalam bahasa 
Jerman
> klasik, adalah karya agung. Jika dimaknai dalam konteks kegelapan
> Eropa, "Die fröhliche Wissenschaft" tidak dimaksudkan 
untuk "membunuh"
> Tuhan. Dia cuma ingin mengatakan ke masyarakat bahwa simbol-2 magis
> yang dipakai oleh para agamawan dengan mengatasnamakan Tuhan itu 
telah
> membodohi penduduk. Telah membuat Eropa terbenam selama 1000 tahun
> dalam kegelapan.
> 
> Para agamawan Eropa, dengan status privilege-nya, sering kali
> menakut-nakuti masyarakat dan menindas demi kepentingannya. Jika ada
> yang menentang maka digunakanlah ayat-2 Tuhan untuk membungkam para
> penentangnya. Jika para agamawan salah, maka digunakan lah ayat-2
> Tuhan untuk menutupi kesalahannya.
> 
> Nietzsche sadar ini salah. Ini harus dirubah. Maka berteriaklah dia:
> "Gott ist tot!", "Tuhan sudah mati!" Dilihat pada konteks waktu saat
> itu, sangat mungkin Nietzsche tidak bermaksud "membunuh" Tuhan. Tapi
> karena para agamawan penindas itu selalu berlindung mengatasnamakan
> Tuhan, maka Nietzsche kesulitan untuk menghancurkan tirani para
> agamawan tanpa "membunuh" Tuhan.
> 
> Dari Basel, saya teringat Istambul, Turki. Kota indah perpaduan dua
> kultur dunia; Asia dan Eropa, Barat dan Timur. Disinilah tanda-2
> kejayaan peradaban ke-khalifahan Turki Osmani yang berlangsung 
hampir
> seribu tahun masih jelas terlihat.
> 
> Tapi disini pula, masyarakat Turki sudah bersepakat "membunuh" 
Tuhan.
> Jangan bicara agama disini. Kenikmatan apapun bisa didapatkan 
disini.
> Mengapa masyarakat yang punya tradisi agama ribuan tahun bisa begitu
> mudahnya "membunuh" Tuhan?
> 
> Seperti juga Eropa, Turki tampaknya juga muak dengan penindasan para
> agamawan. Tampaknya apapun agamanya jika para agamawan secara
> semena-mena menggunakan ayat-2 Tuhan untuk kepentingannya. Maka: 
Eropa
> dan Turki sudah membuktikan, bahwa reaksi masyarakatnya malah
> memutuskan untuk "membunuh" Tuhan.
> 
> Aku gelisah. Bagaimana dengan Indonesiaku. Adakah sesuatu yang bisa
> kita belajar dari Basel dan Istambul???
> 
> Dalam ketersendirian di tepian Sungai Rhein,
> Salam
> 
> Ferizal Ramli
> 
> 
> 
> 
> 
> 
____________ _________ _________ _________ _________ _________ _
____________ __
> Park yourself in front of a world of choices in alternative 
vehicles. Visit the Yahoo! Auto Green Center.
> http://autos. yahoo.com/ green_center/
>





                
________________________________________________________ 
Lelah menerima spam? Surat Yahoo! mempunyai perlindungan terbaik terhadap spam. 
http://id.mail.yahoo.com/

Kirim email ke