Perbedaan Islam dan Tasawwuf  
Oleh : Hasan Mukmin Mabruk
 
Betapa jauhnya kepercayaan shufi itu dari Islam. Allah SWT disamakan dengan jin 
 atau syetan yang masuk ke diri manusia hingga manusianya menjadi kesurupan 
(ke-jin-an/majnun), dan bicaranya ngaco (merancu tak keruan), hanya saja 
dinamakan syathahat yaitu bicara ngaco namun justru dianggap telah sampai pada 
tingkatan (maqom) tertinggi --yang mereka tuduhkan-- yakni  ittihad, menyatu 
dengan Tuhan. Na'udzubillaahi min dzaalik, dari aqidah yang amat sesat itu. 
 
Hanya  saja, aqidah sesat ini ditampilkan dengan  nada  miring berupa pembelaan 
samar di buku yang disebut Ensiklopedi Islam di Indonesia  ini, yang ditangani 
dan ditulis oleh orang-orang  IAIN (Institut Agama Islam) Jakarta dan lainnya, 
yang memang editornya ada  seorang  profesor yang dikenal  sebagai  pengajar 
tasawwuf, sekaligus  pembela  tasawwuf. Pak profesor  itu  pernah  mengajar 
tasawwuf kepada saya dan teman-teman 40-an orang di Jakarta 1997, yang  
rata-rata mempunyai jama'ah dan keluaran  perguruan  tinggi Islam dan insya 
Allah mampu membaca kitab. Saya katakan pada  Pak Profesor tasawwuf itu dalam 
perkuliahan, bahwa tasawwuf itu bukan dari Islam, mengotori Islam. Apa itu 
kasyf (tersingkapnya  hijab, hingga  seorang shufi bisa mengetahui hal ghaib) 
yang dibeberkan Abu Hamid Al-Ghazali (1058-1111M/ 505H)? Itu bukan ajaran  
Islam, karena teori itu Jayabaya yang sama sekali bukan orang Islam  pun 
kemungkinan bisa, dengan istilah yang dikenal
 dengan  "ramalan Joyoboyo".  Di samping itu, Al-Ghazali tidak memperhatikan  
Islam secara  penuh.  Dia masih hidup selama 25 tahunan  ketika  Perang Salib  
berlangsung  (Tentara  Salib  menduduki Yerussalem tahun 1076M,  sedang 
Al-Ghazali hidup 1058-1111M) , yaitu perang  besar dan berkepanjangan antara 
Muslimin dengan Kristen. Namun  sebagai ilmuwan, Al-Ghazali tidak terdengar 
adanya perhatian dia  tentang perang  jihad  yang sangat besar itu, baik  itu  
tulisan  ataupun pidato, padahal dia sangat rajin mengarang. Bahkan di Jawa, 
Sunan Mangkunegoro IV yang diangkat-angkat sebagai orang yang  termasuk tokoh  
shufi (dijadikan tesis untuk doktor di IAIN  Jakarta  oleh Profesor tersebut 
dengan tema keshufian) ternyata dia  (Mangkunegoro  IV) itu sendiri jelas-jelas 
menulis syair  yang  menyatakan bahwa dirinya tidak shalat. Jadi tasawwuf itu 
jelas bukan  ajaran Islam, bahkan mengotori Islam, tutur saya (penulis). 
 
Bagaimana  reaksi Pak Profesor yang bukan sekadar  mengenalkan apa  itu shufi, 
namun memang pembawa ajaran tasawwuf itu.  Dengan muka yang cukup tegang 
(padahal beliau orang Solo Jawa Tengah dan sudah  agak  tua,  yang tampaknya 
lembut tapi  saat  itu  memerah wajahnya),  beliau  menunjuk-nunjuk saya  
sambil berkata:  "Anda belajar  di  mana?! Keluaran mana?! Lalu  belajar  
apa?!"  dengan suara  keras  dan mengagetkan teman-teman  yang  berjumlah  
40-an orang dalam ruang kuliah itu. 
Setelah  saya jawab, beliau hanya berseru: "Anda harus  banyak belajar lagi!" 
Ucapan-ucapan beliau itu, di luar perkuliahan dihafalkan oleh seorang teman,  
yang kalau bertemu saya lalu dia praktekkan, dengan  menunjuk-nunjuk muka saya, 
teman itu mempraktekkan kata-kata  Pak Professor, kemudian ditutup dengan: "Ini 
marahnya  seorang shufi, kamu harus tahu!" ucapnya sambil tertawa-tawa.  
Sayapun tertawa saja ketika dicandai begitu. 
 
Pada  kesempatan berikutnya, rupanya pertanyaan  saya  kepada Bapak Profesor 
itu diambil hati (diperhatikan betul). Kemungkinan beliau  lantas membuka-buka 
referensi atau  rujukan  kitab-kitab, untuk  membantah  ucapan  muridnya ini.  
Lalu dalam  perkuliahan selanjutnya, beliau menjawab tentang kasus Al-Ghazali 
tokoh shufi kasyf, dan Mangkunegara IV raja kerajaan (kasunanan)  Mangkunegaran 
Surakarta  (Solo) Jawa Tengah, yang  dipersoalkan  tersebut. Kata  Pak Profesor 
yang jadi salah satu editor Ensiklopedi Islam yang sedang dikritik ini, 
Al-Ghazali bukannya tak ada perhatian terhadap kegiatan Islam. Buktinya, 
Al-Ghazali juga pernah berkunjung  ke  Andalus,  guna memberikan gelar  kepada  
salah  seorang anggota  kekhalifahan di Andalus. Adapun Mangkunegara IV, toh  
di dalam Kitab Nailul Authar disebutkan bahwa shalat itu bisa dijama'. Nah, 
Mangkunagara IV itu sebelumnya dia "nyantri" di  pesantren,  lalu  dipanggil 
untuk menjadi pegawai  di kerajaan, 
 jadi sibuk. Memang dalam dua baris syairnya, Mangkunegara IV menyebutkan 
dirinya tidak shalat. 
 
Tak  tahulah.  Saya dan teman-teman  tidak  bisa  "menjangkau" jawaban  Pak 
Profesor itu. Apa hubungannya antara  shalat  boleh dijama'  dengan tidak 
shalatnya Mangkunagara IV, dan  apa  hubungannnya antara perhatian yang 
dituntut oleh Islam dengan  bertandangnya Al-Ghazali untuk memberi gelar 
seorang anggota kekhalifahan  di  Andalus? Yang bisa dijangkau hanyalah  gumam  
yang kewetu (terlanjur  keluar) dari lisan Pak Profesor, bahwa beliau  ketika 
diuji  tesisnya untuk doktor (tentang Mangkunagara  IV  kaitannya dengan 
tasawwuf) di IAIN Jakarta tidak sampai seperti  pertanyaan yang dicecarkan si 
murid ini. 
 
Pada  lain  kesempatan,  saya ceritakan  hal  tersebut  kepada seorang  teman. 
Lalu teman saya itu bercerita pula tentang  model jawaban  "marah"  dari 
"syeikh" shufi yang  pernah  dia  saksikan ketika mendapatkan kesempatan untuk 
penataran da'i internasional di  Al-Azhar Mesir selama 3 bulan. Dalam suatu  
perkuliahan,  ada peserta  (da'i) dari Bangladesh yang mengkritik tasawwuf.  
Lantas guru  yang "syeikh"  shufi tidak menjawab  kritikan  itu  dengan jawaban 
 yang  berkaitan dengan kritikan, namun  hanyalah  marah-marah disertai 
kata-kata, "Di negerimu banyak masalah. Urusi itu. Tidak  usah kamu 
mengkritik-kritik tasawwuf. Urusan di  negerimu saja banyak sekali. Itu yang 
harus kamu urusi."   
 
Entah kenapa, kok ada kemiripan antara sesama guru besar tasawwuf  baik yang 
ada di Jakarta maupun Kairo, kalau dikritik tasawwufnya lalu marah-marah, dan 
jawabannya ngaco (tidak relevan).  Di samping itu ada kemiripan kenyataan pula, 
yang  sekolah jauh-jauh  ke Al-Azhar Mesir atau ke Pasca Sarjana  IAIN  Jakarta 
tahu-tahu  di  masyarakat menyebarkan tasawwuf.  Tidak  semuanya, tetapi bisa 
dibilang jarang sekali yang kritis terhadap  sufisme. Sebagai  bukti, profesor 
di IAIN Jakarta tersebut bukannya  mengkritik Mangkunegara IV yang tidak 
shalat, tetapi malahan mencari-carikan jawaban dengan mengemukakan bolehnya 
shalat jama'  (digabung  antara dhuhur dengan ashar, maghrib dengan isya').  
Padahal antara keduanya (tentang tidak shalat dan tentang bolehnya shalat 
jama') itu tidak ada kaitannya. 
 
Perlu ditambahkan, saya menuturkan ini karena sering mendapatkan  kesempatan 
untuk menyaksikan ujian doktor di  IAIN  Jakarta, termasuk  ujian beliau (yang 
jadi editor Ensiklopedi Islam  itu), beberapa tahun sebelum saya ajukan 
pertanyaan tersebut. Ujian itu seperti  biasanya, selalu dihadiri oleh Prof Dr  
Harun  Nasution, dekan  Pasca  Sarjana IAIN Jakarta, sebagai salah  satu  
penguji. Berkali-kali  saya bertugas meliput ujian  doktor  semacam  itu, 
karena ditugaskan oleh kantor redaksi atas undangan IAIN  Jakarta untuk 
meliputnya. 
Apa yang kewetu dari lisan Pak Profesor bahwa  ketika  ujian justru  tidak ada 
pertanyaan yang mencecar seperti  itu,  memang betul.  Karena Harun Nasution 
sebagai dekan memang sudah  dikenal arah pemikirannya secara umum adalah 
mengarah kepada  Mu'tazilah, filsafat, dan sufisme. (Untuk mengarahkan agar 
kenal dengan faham Mu'tazilah,  misalnya Harun Nasution menanya kepada calon 
doktor yang  diuji:  "Apa makna Yahdillaahu man yasya'?" Lalu  si  calon doktor 
menjawab: "Allah memberi petunjuk kepada orang yang  Allah kehendaki." Kemudian 
 disahut oleh Harun  Nasution:  "Itu  makna menurut  Ahlus  Sunnah. Kalau 
menurut  Mu'tazilah?"  Bila  calon doktor  tak  bisa menjawab, maka dituntun  
oleh  Harun  Nasution: "Allah memberi petunjuk kepada orang yang orang itu 
sendiri menghendaki. Jadi yasya' itu dhomirnya/ kata gantinya kembali  kepada 
"man"  yaitu orang itu sendiri". Lantas calon doktor  itu  (maaf) tampaknya 
seperti kerbau yang dicocok hidungnya). 
 
Meskipun  sebenarnya  dalam ujian yang saya saksikan  itu  ada penguji  yang  
jeli dan mempertanyakan pula tentang  shalat  atau tidaknya Mangkunegara IV, 
namun wibawa dekan yakni Harun Nasution yang  sudah  bisa dimengerti bahwa 
sufisme ini  jelas-jelas  dia dukung, ataupun kondisi waktu bisa diatur oleh 
sang ketua ujian, maka  pertanyaan  pun tidak sampai menukik  benar.  Bahkan,  
saya saksikan, pembangkitan kembali peninggalan Mangkunagara IV  yang 
pembahasannya dikaitkan dengan sufisme (kedua-duanya ini sebenarnya  sudah 
terkubur, tapi digali kembali oleh tangan-tangan  yang 'kemungkinan  mengotori 
Islam') itu, mendapat sambutan yang  baik dalam  ujian tersebut. Dari sini bisa 
difahami, misi Harun Nasution dan murid-muridnya yang kurang lebihnya adalah  
sekulerisme, liberalisme berfikir, dan pluralisme (tidak boleh mengakui  bahwa 
Islam  sajalah yang  benar) dicampur  sufisme  memang  mendorong dimunculkannya 
ajaran-ajaran yang tidak jelas seperti
 tesis  yang diujikan  dan  mendapat sambutan baik tersebut.  Dan  salah  satu 
sarana yang disisipi misinya untuk disebarkan adalah Ensiklopedi Islam, yang 
teman saya mengaku termasuk orang yang diberi  proyek 
untuk menulis itu oleh Harun Nasution, hingga cukup untuk membiayai kuliahnya 
hingga mencapai doktor. 
Pantaslah  kalau  penggalian kembali tulisan  Mangkunegara  IV tersebut  
dihargai, karena misinya sama dengan  misi  orientalis seperti  Louis Massignon 
dan lain-lainnya yang  menggali  kembali peninggalan-peninggalan tasawwuf yang 
telah terkubur lalu  ditampilkan lagi dan dicetak. Untuk apa? Untuk kepentingan 
orientalis yang kaitannya erat dengan penjajahan terhadap ummat Islam  sedunia 
dan mengotori Islam, melemahkan serta merancukan. Dan  missi itupun dilanjutkan 
oleh Harun Nasution dan pemerintahan Orde Baru dengan menteri-menteri agama 
Mukti Ali, Munawir Sjadzali, Tarmidzi  Taher, dan di zaman reformasi setelah 
jatuhnya Presiden  Soeharto adalah Menteri Agama Malik Fajar, yang mereka itu 
menggencarkan  pengiriman dosen-dosen IAIN ke negeri-negeri Barat  untuk 
belajar "Islam" warisan orientalis. Adapun menteri Agama Alamsjah 
Ratuperwiranegara  tak begitu terdengar apakah  ia  menggencarkan atau  tidak, 
walau  masanya setelah Mukti  Ali.  Sedang 
 Quraish Shihab  yang jadi menteri agama selama 70 hari saja, karena  Soeharto  
keburu  jatuh akibat didemo mahasiswa 21 Mei  1998,  walau alumni Al-Azhar 
Mesir namun tidak tampak mencoba untuk membendung arus  Harun  Nasution  yang 
pro  orientalis.  Bahkan sebelumnya, ketika  Quraish  jadi rektor IAIN pun 
tidak  ada  gaungnya  alias tidak terdengar membendung Harunisme. Ketika buku  
ini  ditulis, yang  duduk sebagai dekan Pasca Sarjana IAIN Jakarta adalah  Prof 
Dr Said Aqil Al-Munawar, seorang yang hafal Al-Quran dan  berguru Hadits ke 
Syeikh Yasin Al-Padangi di Makkah. 
 
Ustadz Aqil ini dari kalangan  NU, beliau hafalannya kuat. Ketika saya sempat 
diajari ilmu Hadits dalam perkuliahan, beliau sering sekali menyebut nama Abdul 
Fattah Abu Ghuddah (tokoh Ikhwanul Muslimin  Syuriah,  ada yang 
menggolongkannya  shufi juga). Apakah  Pak  Aqil  mendukung orientalis juga dan 
mendukung shufi, belum bisa saya berkomentar. 
 
Yang jelas, terhadap shufi tentu tidak seperti tulisan saya  ini. Sedang  
menteri agama  angkatan Presiden  Gus  Dur  (Abdurrahman Wahid) September 1999 
adalah Thalhah Hasan konon orang NU.  Belum terdengar adanya penyetopan 
terhadap pengiriman dosen-dosen  IAIN ke  Barat  untuk belajar Islam alias 
sufisme  yang  diprogramkan orientalis  dan Yahudi. Apalagi Presiden Gus Dur 
justru  dikenal sebagai  orang yang dari awalnya pro Yahudi Israel  dan  
bersuara miring terhadap gerakan Islam murni. Jadi, paling kurang, program yang 
 berbau orientalis dan Yahudi kemungkinan  akan  dilindungi oleh  Gus  Dur. Di 
samping itu, sekalipun  Harun  Nasution  sudah meninggal dunia, namun 
kader-kadernya telah banyak, dan  programnya  masih  berjalan. Meskipun 
demikian,  kebatilan yang  mereka usung  secara  sistematis dan dibiayai oleh 
duit  Muslimin  lewat negara,  insya  Allah  akan hancur juga,  karena  
gelombang  anti kolonialis,  anti filsafat,  anti tasawwuf,  anti 
 bid'ah,  anti orientalis yang menyesatkan, dan anti aneka tipuan Yahudi;  
semakin  merebak.  Di antara bukti  nyata,  gagasan reaktualisasinya. 
Munawir Sjadzali,  menteri agama yang lama, yang  ingin  merubah hukum  waris 
Islam, dari 2:1 antara bagian laki-laki dan  perempuan  menjadi 1:1; karena 
Munawir menganggap hukum Islam  tentang waris  (yang  menegaskan 2 bagian untuk 
laki-laki  dan  1  bagian untuk perempuan) itu tidak adil, ternyata gagasannya 
itu   luntur dengan habisnya masa jabatan kementrian Munawir 1993.   
Mengenai pembelaan samar terhadap tasawwuf dalam buku  Ensi itu bisa kita simak 
kutipan darinya sebagai berikut: 
 
"Paham-paham ittihad, hulul ataupun wahdah al-wujud ini dipandang sesat dan 
menyesatkan oleh ulama-ulama syari'at. Oleh  sebab itu, para penulis tentang 
shufi atau tasawwuf pada abad ke-3  dan ke-4  Hijriah  (masa  subur dan  
berkembangnya paham  tasawwuf), seperti Abu Bakar Al-Kalabadi (w 380H) dan Abu 
Qasim Abdul  Karim al-Qusyairi  (w 465H), enggan menulis  masalah-masalah  
tersebut. 
Uraian mengenai hal ini dapat dijumpai dalam tulisan-tulisan kaum Orientalis. 
Kemudian penulis Islam pun tergerak kembali hasratnya untuk  mengungkapkan 
khazanah lama miliknya  itu."  (Ensiklopedi Islam, huruf I, halaman 287). 
 
Bagaimana  buku  itu menggambarkan seakan tasawwuf  itu  suatu yang berharga 
sekali dan sayang kalau hilang, ditulis dalam baris-baris  kutipan terakhir 
tersebut. Istilah yang dikemukakan pun tampak dibuat sedemikian rupa, hingga 
para ulama pun  disebut "ulama-ulama  syari'at",  seakan Islam itu  tidak  
komplit  kalau tidak pakai tasawwuf. Sedang para ulama yang ahli hadits,  fiqh, 
tafsir dsb yang tentu saja faham benar tentang sesatnya tasawwuf, disebutnya 
ulama-ulama syari'at. 
Telah  disebutkan  di atas, bagaimana Imam  Ahmad  bin  Hanbal menasihati 
murid-muridnya agar tidak mendekati orang sufi.  Imam Ahmad  bin Hanbal adalah 
salah seorang yang termasuk imam empat yang sangat terkenal, yaitu  Imam Hanafi 
(lahir di Kufah 80H-  w. di  Baghdad 150H/ 700-772M), Imam Maliki (Madinah 93- 
179H/  712-798M),  Imam  Syafi'i (Ghazza 150H/ 767M - w.  di  Fusthat Mesir 
204H/820M),  dan Imam Hanbali (Baghdad 164H/780M, w.  di  Baghdad 241H/855M). 
Dalam pembicaraan ilmu, hampir tak pernah mereka  itu disebut ulama syari'at 
(untuk maksud bahwa ada  ulama  tasawwuf) seperti  penyebutan dalam Ensiklopedi 
itu,  tetapi adalah Imam (madzhab) yang empat, artinya mereka itu ulama, yang 
tingkatannya mujtahid mutlak, orang yang mampu berijtihad (mencurahkan pikiran 
untuk  menentukan  hukum syara' yang tidak ada dalam nash/teks ayat  ataupun 
hadits) tanpa bersandar pada orang lain.  Sehingga, ulama-ulama belakangan yang 
meneruskan ilmu para  mujtahid atau imam  madzhab tersebut, sebenarnya tidak  
perlu  disebut  ulama syari'at.  Cukup  disebut ulama. Namun  orang  shufi  
menyebutnya ulama  syari'at karena dianggap tidak mengetahui yang batin  atau 
yang  ghaib. Padahal Nabi Muhammad SAW sendiri tidak  mengetahui yang  ghaib, 
bahkan jelas-jelas menegaskan bahwa Nabi tidak tahu apa yang diperbuat Allah 
untuk Nabi sendiri esok (lihat
 dalam bab aqidah). Allah berfirman: 
"Katakanlah! Tidak ada yang dapat mengetahui perkara ghaib di langit dan di 
bumi kecuali Allah." (An-Naml: 65). 
 
Ada sebagian delegasi yang datang ke Nabi SAW, mereka menganggap bahwa Nabi 
termasuk orang yang mengaku  bisa  melihat  yang ghaib,  maka mereka 
menyembunyikan sesuatu di dalam (genggaman) tangan  mereka  untuk  beliau. Dan 
mereka  berkata  pada  beliau: "Khabarkan  pada  kami, apa dia (yang ada dalam 
genggaman kami ini)? Lalu beliau menjawab kepada mereka dalam keadaan 
berteriak: 
"Innii lastu bikaahinin, wa innal kaahina wal kahaanatu  walkuhhaana fin naar." 
(Aku bukan seorang dukun. Sesungguhnya dukun dan perdukunan serta dukun-dukun 
itu di dalam neraka.") (HR Abu Dawud, 286). 
 
Sumber Dari Buku “Tasawuf Belitan Iblis” 
Penulis: H. Hartono Ahmad Jaiz 
Penerbit: Darul Falah, Jakarta


      ________________________________________________________ 
Bergabunglah dengan orang-orang yang berwawasan, di di bidang Anda! Kunjungi 
Yahoo! Answers saat ini juga di http://id.answers.yahoo.com/

Kirim email ke