Ralat: ada kesalahan pemaknaan yang agak mengganggu. Tertulis: Aragon melawan Turki Osmani Yang benar: Aragon melawan Emirat Cordoba
Terima kasih --- In [email protected], "Ferizal Ramli" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > (Tulisan ini terinspirasi setelah "membaca" hasil riset adik saya > tentang Tourism Destination di Universitat de València, Espana/ Spanyol) > > The Lord of The Ring dan Al-Gazw Al-Fikri? > > Sampeyan penggemar the Lord of The Ring? Jika iya, maka itu wajar > sekali. > > Trilogi The Lord of Ring adalah film penting. Film itu sebenarnya > gabungan dari kisah-kisah kepahlawanan dan nilai-2 kebenaran dalam > sejarah nyata kebudayaan barat. Cerita kepahlawanan Aragon, Putra > Mahkota kerjaan Gondor, sebenarnya terinspirasi dari kisah sejarah > nyata "William Walace" pahlawan pembebasan Scotland atas penjajahan > Inggris. > > Seperti yang dikisahkan dalam the Lord of Ring, Aragon yang saat itu > tidak mendapatkan mandat penuh untuk menjadi Raja tapi berusaha > memimpin rakyatnya untuk bangkit melawan kegelapan, William Wallace > juga melakukan hal yang sama. > > William Wallace, tidak punya mandat apapun, tidak punya kekuasaan > politik, tidak punya kekayaan, tapi kharisma dan kejujurannya membuat > seluruh rakyat Scotland bersatu dibawah perintahnya. Kekuatan William > Wallace terletak pada mengutamakan service and duty diatas keinginan > meraih kekuasaan dan interest pribadi. William Wallace memimpin dan > berkorban tanpa pamrih. Yang diinginkan hanya satu: rakyatnya > merdeka dan terbebas dari penjajahan meskipun nyawanya lah harga atas > cita-2 nya. > > Ketulusan William Wallace inilah yang membuat rakyat Scotland juga > berani memutuskan untuk menyerahkan nyawanya dalam perang melawan > Inggris. Rakyat Scotland memilih mati dalam kehormatan dari pada > hidup dalam tekanan penjajahan. Cerita Aragon dalam the Lord of The > Ring adalah cerita kepalawanan William Wallace dalam versi lain. > > Kita, Indonesia, membutuhkan William Wallace untuk membebaskan kita > dalam penjajahan korupsi. Budaya kita sebenarnya mengenal pahlawan > itu. Namanya; Satrio Piningit yang menjadi Ratu Adil buat rakyatnya. > Sayang, Satrio Piningit tampaknya belum mau lahir kembali dari rahim > bangsa kita. > > Lihat juga cerita the wise chancellor Gandalf. Ahli strategi yang > brilyant yang meletakkan seluruh loyalitasnya pada pemimpin yang > jujur. Wise Chancellor lah yang sebenarnya memberi petunjuk dan saran > kepada pemimpin agar arah kebijakannya benar. Cerita Gandalf > sebenarnya terinspirasi oleh kisah orang bijak William Cecil, > Chancellor Inggris pada saat Queen Elizabeth I jadi Ratu. Dibawah > Elizabeth lah Pax Britania mulai terbentuk. Cecil lah yang membimbing > Elizabeth untuk menentukan kebijakan apa yang harus diambil. Cecil > lah sebenarnya roh dari seluruh kebijakan yang diambil oleh Elizabeth. > > Menariknya, dalam budaya Jawa, kita juga mengenal tokoh the Wise of > Chancellor. Masih ingatkan bagaimana Prabu Kresna menjadi penasehat > utama Yudhistira dalam perang Bratayudha? Atau Gadjah Mada menjadi > penasehat utamanya Hayam Wuruk? > > The Lord of Ring adalah trilogi Masterpiece. Banyak sekali cerita > tentang kepahlawan sejati yang disajikan dalam film tersebut. Tapi > buat saya pribadi, The Lord of Ring memiliki kelemahan yang > mengganggu. Seperti sejatinya setiap film Hollywood, the Lord of Ring > tidak terlepas dari "kegenitan intelektual". > > Vallencia, Spanyol, cerita tentang kepahlawan Arogan pada masa abad > pertengahan masih dirayakan sebagai tradisi rakyat Vallencia. Sejarah > mencatat, Aragon lah yang berhasil menahan laju gerakan pasukan > Kesultanan Turki Osmani di Vallencia. Jadi, Aragon (kerajaan Spanyol) > adalah sebuah nama nyata yang eksis diabad pertengahan yang berperang > melawan pasukan Turki. Dan kita tahu dalam the Lord of the Ring, > Aragon dikisahkan melawan iblis kegelapan. Adakah persamaan antara > Aragon dalam the Lord of the Ring dengan Aragon dalam abad > pertengahan adalah sebuah kesengajaan (kegenitan intelektual) atau > ketidaksengajaan belaka? > > The Lord of the Ring jelas karya Masterpiece. Tapi apakah dalam film > tersebut tersisipkan "kegenitan intelektual" atau malah bagian dari > class civilization-nya Samuel Huntington, atau malah yang lebih > dramatik lagi inilah sebenarnya bagian dari Al Gazw al fikri > (pertempuran kebudayaan antara Islam dan Barat), yah silahkan kita > sendiri yang memaknainya. > > Atau jangan-2 the Lord of the Ring tidak perlu dimaknai secara > berlebihan. Toh, bagi yang pernah nonton the Lord of Ring apalagi > berdua dengan "belahan hati" kita akan menumbuhkan sensasi yang indah > dalam kebersamaan. Jadi, kenapa harus repot-2 memaknai the Lord of > the Ring secara berlebihan… :)) > > Salam, > > Ferizal Ramli >
