Musharraf dan Dilema Republik Islam
<http://www.republika.co.id/kolom_detail.asp?id=301873&kat_id=19>
 <http://www.republika.co.id/kolom_detail.asp?id=301873&kat_id=19>
Oleh : Ahmad Syafii Maarif

 Pada saat partai-partai Islam di Indonesia demam dengan gagasan Negara
Islam di era 1950-an --saya turut larut di dalamnya-- Pakistan adalah model
yang sering dirujuk. Apalagi pembentukan Pakistan sebagai negara dan bangsa
baru terkait dengan gagasan Iqbal, penyair dan pemikir terkenal, yang
dilontarkannya tahun 1930, delapan tahun sebelum ruh besar ini dipanggil
Allah untuk selama-lamanya. Berkat terjemahan Bachrum Rangkuti dan Osman
Raliby, karya dan sosok Iqbal semakin dikenal kalangan cendekiawan
Indonesia. Rasa-rasanya pada waktu itu, dengan sebuah Negara Islam segalanya
akan beres, karena Islam dipercaya sebagai obat mujarab bagi penyembuhan
berbagai penyakit modern. Secara ideal ajaran, pendapat ini sebenarnya
tidaklah salah.

Tetapi, ada satu hal fundamental yang dilupakan: kondisi
sosio-kultural-intelektual umat Islam yang terkebelakang sama sekali tidak
siap untuk mendukung gagasan mewah berupa sebuah negara modern yang
dikaitkan dengan agama dengan segala masalahnya yang ruwet. Islam yang
selama berabad-abad terkurung dalam pasungan budaya politik
dinastik-otoritarian-kekhilafahan yang tidak menghormati kemerdekaan warga
menjumpai kesulitan yang luar biasa untuk menciptakan sebuah negara
egalitarian di era pascakolonial. Pakistan yang diidolakan itu ternyata
kemudian juga gagal memenuhi harapan yang semula demikian menggebu itu.

Era Perves Musharraf (1999) adalah bukti terkini tentang betapa rumitnya
mengurus sebuah negara modern yang diberi nama Republik Islam Pakistan itu.
Dalam konstitusinya tercantum dasar filosofi mewah tentang kedaulatan Allah
atas alam semesta dan syariah sebagai sumber hukum tertinggi. Dalam
realitas, baik gagasan kedaulatan Allah maupun syariah ternyata tidak mampu
menolong nasib Pakistan berhadapan dengan konflik suku yang beragam dan
sengketa politik yang sering berkuah darah itu.

Kudeta militer telah terjadi berkali-kali. Berbagai suku dengan jumlah
pendukungnya berikut ini: Punjabi 58 persen, Sindhi 13 persen, Phastun 12,5
persen, Baluchi empat persen, semakin menyulitkan Pakistan untuk tegak
sebagai sebuah negara yang stabil.

Kemudian, ada pula Muhajir delapan persen (migran dari India tahun 1947)
yang tak terikat dengan suku termasuk kelompok yang dominan dalam politik
dan ekonomi. Sekarang Musharraf dengan dukungan penuh Amerika sedang
kewalalahan berhadapan dengan pihak oposisi dan kekuatan militan Muslim yang
berbasis di kawasan pergunungan di perbatasan Pakistan dan Afghanistan,
sebuah kawasan yang tidak dapat dijangkau oleh kekuatan senjata modern.

Tragedi serangan berdarah tentara Pakistan terhadap Masjid Merah baru-baru
ini di ibu kota Islamabad, di mana kekuatan militan mencoba bertahan, adalah
puncak sebuah gunung es dari konflik politik kekuasaan dalam tubuh Republik
Islam itu. Islam seolah tidak berdaya menjadi kekuatan mediasi dalam meredam
konflik sesama Muslim, tetapi dengan orientasi dan kepentingan politik yang
berlawanan secara tajam.

Masjid Merah yang letaknya hanya beberapa ratus meter dari kediaman
Musharraf punya kaitan erat dengan kekuatan militan di kawasan pergunungan
di atas. Sekiranya Amerika menyerang kelompok militan ini dengan dalih
melawan terorisme, maka risikonya akan sangat eskalatif.

Pasukan Taliban dan Alqaidah di Afghanistan tidak bisa dihancurkan Amerika
dan sekutunya, mau ditambah lagi dengan Pakistan? Gedung Putih di tangan
orang gila tidak mustahil akan semakin gelap mata untuk bermain dengan api
peperangan, sebuah obsesi petualangan kaum fundamentalis, tidak peduli apa
pun agama yang dipeluknya. Doktrin politiknya sama: ikut kami atau lawan
kami!

Begitu ruwetkah sengketa politik di Pakistan? Mengapa Islam yang dipeluk
oleh 97 persen rakyat Pakistan (Suni 77 persen, Syiah 20 persen) tidak dapat
menjadi perekat utama untuk sebuah perdamaian? Anda tidak perlu
berandai-andai lagi. Islam bila sudah dipakai sebagai instrumen politik
kekuasaan, agama ini akan berubah fungsinya dari kekuatan damai menjadi
doktrin pembenar konflik atau bahkan perang saudara, dan untuk Pakistan bisa
juga menjadi perang suku dengan perbedaan paham agama yang dibawanya
masing-masing.

Jangankan sajak-sajak Iqbal tentang persaudaraan umat yang banyak dihafal
oleh berbagai suku di sana, Alquran yang menjadi Kitab Suci rakyat Pakistan
tidak dapat berbuat apa-apa sekali ia dipakai untuk tujuan politik
kekuasaan. Ini fakta keras sejarah yang juga kita saksikan sepanjang abad,
sebuah fakta yang menelikung tujuan Kitab Suci ini, semata-mata karena orang
yang mengaku beriman itu terlalu terpaku pada godaan duniawi atas nama
Tuhan.

Musharraf, seorang migran dari India, kaum militan dari berbagai suku, dan
politisi yang ingin menjatuhkannya, semuanya beragama Islam, tetapi mengapa
mereka memilih untuk saling menghancurkan? Inilah di antara dilema pelik
yang sebenarnya sedang dihadapkan kepada seluruh umat Islam di muka bumi,
tidak hanya di Pakistan. Pertanyaan sederhananya adalah: sudah benarkah
keislaman kita? Apa pun yang tertulis dalam konstiusi sebuah negara,
semuanya akan menjadi deklarasi mati, selama kualitas keislaman kita lebih
terpaku dan terpukau oleh bentuk dengan mangabaikan substansi untuk tujuan
apa Islam itu datang ke muka bumi.

Presiden Jenderal Musharraf yang naik ke panggung kekuasaan lewat kudeta
militer tahun 1999, sedang dihadapkan pada pilihan yang serba sulit di
sebuah Republik Islam. Negara ini yang semula juga mencakup Pakistan Timur,
kemudian terjadi pemberontakan untuk melepaskan diri di sana.

Setelah pasukan Pakistan menyerah kepada gabungan pasukan Bangladesh dan
India yang Hindu pada 16 Desember 1971, maka berdirilah negara baru dengan
nama Bangladesh (88 persen Muslim). Oleh sebab itu, orang harus ekstra
hati-hati untuk membawa agama ke dalam pusaran politik kekuasaan.

Musharraf sedang berhadapan dengan bermacam faksi politik kepentingan yang
semuanya beragama Islam. Salah-salah melangkah, nyawanya sudah di ujung
tanduk. Sejarah modern Pakistan sarat dengan drama pembunuhan politik kelas
puncak dan kelas akar rumput.


-- 
http://arif101.blogs.friendster.com/
021-98941797

Kirim email ke