RUMAH DUNIA, FORUM KESENIAN ANTEN, 
  KOMUNITAS PERUPA BANTEN
   
  Mempersembahkan
  “KERANDA MERAH PUTIH”
   
  Pameran Lukisan, Demo Melukis, Bimbingan Melukis, Diskusi Seni Rupa,
  Pembacaan Puisi, Pementasan Teater, dan Pernyataan Seniman Tentang Pentingnya 
Perpustakaan dan Taman Budaya Banten
   
  Oleh Renhard Renn
   
   
  Hari berganti minggu. Minggupun berganti bulan. Tak terasa Juli telah lewat 
dan Agustus pun datang menjelma. Bulan yang sarat makna bagi rakyat Indonesia 
tiba. Ya, pada tanggal tujuhbelas Agustus 1945 sejarah telah mencatat 
proklamasi kemerdekaan NKRI dari tangan para penjajah. Pada hari itu rakyat 
Indonesia menyaksikan dengan gegap gempita para wakil-wakilnya, Bung Hatta dan 
Soekarno mengukuhkan kemerdekaan bangsa. Melepaskan diri dari cengkeraman 
penjajah yang mengangkangi negeri pertiwi tiga setengah abad lamanya.  
  Karena itulah memasuki bulan Agustus ini rakyat Indonesia mulai ramai 
mempersiapkan diri memperingati hari ulang tahun kemerdekaan Indonesia. Di 
sudut-sudut kampung bendera-bendera merah putih mini mulai dipasang menghiasi 
jalan. Warna merah-putih sang Saka mulai menghiasi hampir setiap sudut negeri. 
Rakyat bersuka-cita, bersiap merayakan hari ulang tahun negeri pertiwi. Namun 
di sudut lain, di tengah hiruk-pikuk keramaian rakyat yang mulai terserang 
demam euforia, sekelompok kecil orang malah sibuk mengadakan upacara 
perkabungan. Meneteskan air mata keprihatinan sembari mengusung keranda tua 
berwarna merah-putih.  
   
  “KERANDA MERAH PUTIH”  
  Bagi mereka tujuhbelas Agustus bukanlah hari kemerdekaan. Sebaliknya, 
Tujuhbelas Agustus adalah hari kesedihan. Hari perkabungan. Karena Sang Saka 
Merah Putih tak lagi berkibar gagah mengangkasa. Tali-talinya yang mengikatnya 
telah putus digerogoti tikus-tikus. Dan kini ia melayang jatuh. Terhempas. Dan 
koyak. Cengkeraman neoliberalisme, kapitalisme global, dan keserakahan 
segelintir penguasa-pengusaha  telah mencabik-cabiknya menjadi serpih-serpih 
tak utuh. Tajam golok telah memaksa pena dan kebijaksanaan lokal menghilang. 
Akibatnya, merah putih pun kembali terluka. Belum lagi serbuan food, fashion, 
film serta beragam budaya buas dari barat yang tak selaras dengan jiwa 
ketimuran bangsa menggerogoti sedikit demi sedikit budaya luhur bangsa.  
  Namun semua itu bukanlah tidak bisa dicegah dan dihindari. Dengan menyatukan 
visi dan tekad, serta memadukan kekuatan, sekecil apapun itu pasti akan 
berguna. Seperti yang digagas Rumah Dunia bersama-sama para perupa seni Banten. 
Sore itu, tanggal 2 Agustus, jam hampir menunjukkan pukul tiga ketika rombongan 
pelukis dari komunitas senirupa Banten datang ke Rumah Dunia. Dipandu oleh Gola 
Gong sebagai pengasuh Rumah Dunia dan Indra Kesuma, mentor menggambar Rumah 
Dunia, mereka memperbincangkan rencana mengadakan pameran lukisan bersama di 
Rumah Dunia yang rencananya akan dilaksanakan tanggal 15-26 Agustus 2007 nanti. 
Hadir saat itu para pelukis Banten; mulai dari Gebar Sasmita (Pandeglang), Agus 
(Serang), Mhaex Maranoes (Serang), Sanggar Embun, Pak Haji, Ali, Si Uzi, 
Widodo, dan masih banyak lagi 
  Gebar Sasmita, pelukis dari Pandeglang menyebutkan bahwa diadakannya pameran 
seni lukis di Rumah Dunia ini salah satu sebabnya adalah dikarenakan Pemerintah 
Provinsi Banten tak menyediakan ruang publik (gedung kesenian) bagi para 
seniman untuk berekspresi. Dengan nada getir Gebar Sasmita membandingkan 
daerah-daerah lain yang bahkan hanya tingkat kabupaten mempunyai gedung 
keseniannya sendiri. Sementara Banten yang merupakan propinsi belum mendirikan 
satu gedung kesenianpun. Sambil tersenyum pahit, Gola Gong menambahkan bahwa 
dulu, saat pameran seni rupa di Ode Kampung pertama, galerinya malah di rumah 
penduduk kampung. Saking tidak adanya tempat publik sebagai wadah untuk 
menampungnya. Bahkan, perpustakaan daerahpun sampai saat ini masih berdiri di 
atas tanah sewaan setelah sebelumnya dana 4 milyar yang dialokasikan untuk 
membangun perpustakaan di lahan baru raib entah kemana.  
  Dengan akan diadakannya Pameran Senirupa “Keranda Merah Putih” di Rumah Dunia 
ini, diharapkan pemerintah propinsi bersedia sejenak berhenti adu pendapat di 
dewan dan mau memperhatikan kesenian. Sudah saatnya Banten, sebagai propinsi 
mempunyai gedung kesenian sendiri. Mengapresiasi kerinduan rakyatnya yang telah 
lama mendambakan ruang-ruang publik untuk berkespresi. Tidak seperti sekarang 
ini, hanya berlomba mendirikan pabrik, mall, dan mengubur peninggalan 
bersejarah dan sawah-sawah tanpa perhitungan.  
  Si Uzi, pemimpin Redaksi koran Banten Raya Post yang juga seorang karikaturis 
bersmangat sekali, “Saya juga Mau ikut pameran. Dan sekarang saya punya koran. 
Kegiaan ini akan saya blow up. Mulai besok (Senin, 6 Agustus 2007) iklannya 
sudah ada di Banten Raya Post. Dan sampai acara pembukaan 5 Agustus nanti, 
profil pelukis Banten setiap hari munul bergantian!” Si Uzi menambahkan, 
“Tujuan puncaknya, Pemprov harus menyediakan gedung yang representatif bagi 
para pelukis!”
   
  JADWAL ACARA  KERANDA MERAH PUTIH
              Berikut ini adalah jadwal acara Pameran Seni Rupa ‘Keranda Merah 
Putih’ Komunitas Senirupa Banten yang akan dilaksanakan tanggal 15-26 Agustus 
nanti:  
   
  MENU JUMAT, 15 AGUSTUS 2007:  
  Pukul 14.00 WIB – 
  . Pendataan Undangan – 14.00 – 14.15 WIB
  . Sambutan Ketuplak Keranda Merah Putih
  . Sambutan dari Hj. Rt. Atut Chosiyah, SE (Gubernur Banten) – 14.15 – 14.30 
WIB
  . Orasi budaya oleh Prof. Dr. Yoyo Mulyana,  tentang pentingnya perpustakaan 
dan gedung kesenian untuk masyarakat – 14.30. – 14.40. WIB
  . Parade Pembacaan Puisi oleh Neneng Nurcahyati (Kabiro Humas Pemprov 
Banten), Djauhari Ardiwinata, (Banten TV), Dadi RsN (Kasubdin Program Disbudpar 
Banten), Firman Venyaksa (Rumah Dunia), Toto ST Radik (Sagngar Sastra Serang), 
Mahdi Duri (FKB) – 15.00 – 15.30
  . Pembukaan Acara “Keranda Merah Putih” oleh  Hj. Rt. Atut Chosiyah bersama 
dua anak kecil, menggoreskan kwas ke kanvas, disambung dengan demo melukis oleh 
para pelukis dari Komunitas perupa Bnten – 15.45 – 16.00
  . Dialog, ramah tamah, melihat-lihat lukisan. . Lelang lukisan; sebgaian 
hasil penjualan disumbangkan pelukis ke Rumah Dunia. – 16.00 – 16.30
   
  MENU SABTU, 18 AGUSTUS 2007:
  . Bimbingan melukis untuk SD Peradban – 10.00 – 16.00 WIB
  . Pementasan teater – 19.30 – 22.00 WIB dari komunitas se-Banten
   
  MENU MINGGU, 19 AGUSTUS 2007: 
  . Lomba Melukis SD se-Banten . Tiap sekolah diwakili oleh 2 orang pelajar. 
Rencananya panitia akan mengundang sebanyak 50 sekolah.
   
  MENU BIMBINGAN MELUKIS, SENIN – SABTU, 20-25 AGUSTUS 2007 
  . Senin, 20/8/07: Klub Bermain dan TK Jendral Kecil Serang
  . Selasa, 21/8/07: SD Al-Izzah Serang
  . Rabu, 22/8/07: SD Al-Azhar Serang
  . Kamis, 23/8/07: SDN 3 Serang
  . Jum’at, 24/8/07: SDN Cipocok Jaya 4 Serang
  . Sabtu, 25/8/07: SD Mutiara Bunda Cilegon
   
  MENU SABTU, 25 AGUSTUS 2007:
  . Diskusi Seni Rupa; Tubagus Andre (Galeri Nasional), Si Uzi (Karikaturis 
Banten Raya Pos/Radar Banten), Gebar Sasmita (Pelukis), Indra Kesuma 
(moderator) – pukul 14.00 – 17.00 WIB
  . Pementasan seni; puisi dan teater – pukul 20.00 – 22.00 WIB
   
  MENU MINGGU, 26 AGUSTUS 2007  
  . Workshop Seni Lukis untuk Guru SD/TK  
  . Penutupan acara ; pembagian hadiah dan epilog dari panitia
   
              Acara ini didukung dan diikuti: Sanggar Embun, Sanggar Surosowan, 
Sanggar Wakingan Leestar, Wadah Kreativitas Seni (WKS), Forpeta, Lima Pendhawa, 
Sanggar Badak, PERISKA, sanggar Macan, Rudi Art, Galeri Hidayat Hl, Sanggar 
Gebar Sasmita, Sanggar E Lima, Sanggar Toing, Sanggar IWO, Mhaex Maranoes, 
Komunitas Bunderan, Sanggar Purbaya, dan komunitas-komunitas senirupa Banten 
lainnya.

       
---------------------------------
Looking for a deal? Find great prices on flights and hotels with Yahoo! 
FareChase.

Kirim email ke