Hehehe...itu khan baru buku pertamanya tentang tema poligami, nanti buku berikutnya "Bahagiakan Diri dengan Dua Istri", mungkin kalo laku keras ...akan terbit lagi buku "Bahagiakan Diri dengan Tiga Istri".
Saturday, August 4, 2007, 9:24:31 PM, you wrote: > (Ketika saya men-forward artikel ini, saya tidak dalam posisi pro dan > kontra tentang Poligami. Tapi artikel ini terlalu menarik untuk > dinikmati sendiri :) ) > Ketika Buku Antipoligami Membikin Kader PKS "Terbelah" > JAWA POS > Kamis, 02 Agt 2007, > Bersyukur setelah Baca Suami Batal Kawin Lagi > Ketika Buku Antipoligami Membikin Kader PKS "Terbelah" > Seorang anggota Majelis Syura Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang > disegani > menulis buku Bahagiakan Diri dengan Satu Istri. Karya itu langsung > disambut > gembira jutaan kader wanita PKS. Namun, sebaliknya, para kader pria > yang sudah > atau akan berpoligami mereaksi dengan keras. > RIDLWAN HABIB, Jakarta > RUANGAN Kantor Hilal al Ahmar di kawasan Duren Tiga, Jakarta Selatan, > siang itu > terasa gerah. Bukan karena cuaca Jakarta terik. Juga bukan disebabkan > pendingin > ruangan tidak berfungsi. Tapi, karena buku yang ditulis Cahyadi > Takariawan itu > memicu kontroversi yang panas. > "Buku ini memang harus segera ditarik. Hati saya membara membacanya," > ujar Wakil > Bendahara Umum DPP PKS Didin Amarudin kepada Jawa Pos. Saat itu > lelaki beristri > tiga itu datang pada acara dengan ditemani empat orang pengurus DPP > yang lain. > Menurut Didin, sejak buku itu terbit, istri-istrinya menjadi > gelisah. "Bahkan, > istri kedua saya menghubungi temannya yang juga dipoligami dan bikin > bedah buku > khusus untuk ini," katanya. > Pria kelahiran Kuningan, Jawa Barat, itu mengakui buku Cahyadi > Takariawan itu > mengubah paradigma umum di kalangan wanita PKS yang selama ini > mendukung > poligami. "Kalau yang menulis orang luar atau orang yang sekuler, > saya tidak > heran. Tapi, ini yang menulis adalah ustad yang kredibilitasnya > sangat diakui di > Majelis Syura PKS," kata Didin. > Majelis syura adalah elemen tertinggi di partai yang berdiri sejak > 1998 (awalnya > bernama Partai Keadilan). Anggota majelis hanya 99 orang yang dipilih > dari > jutaan kader PKS di seluruh Indonesia . > Didin mengatakan, para qiyadah (pimpinan) partai gelisah karena buku > itu > dijadikan simbol perlawanan terhadap suami yang akan menikah > lagi. "Rumah saya > satu kompleks dengan Pak Tifatul (Tifatul Sembiring, presiden PKS, > Red). Beliau > juga khawatir, tapi selama ini memang memilih diam," ujar bapak tujuh > putra itu. > Tifatul Sembiring juga beristri dua. Sekretaris Jenderal PKS Anis > Matta juga > berpoligami. Bahkan, istri kedua Anis berkebangsaan asing. > "Buku Pak Cah (Cahyadi Takariawan) itu hanya menonjolkan sisi-sisi > negatif dari > poligami, seakan-akan ribet banget, padahal tidak benar," katanya. > Didin lalu melanjutkan kisah "sukses" poligami dirinya. Istri pertama > Didin > dinikahi pada 1990. Lalu, istri kedua pada 2001. Terakhir, Didin > menikahi akhwat > (kader PKS) menjadi istri ketiga pada 2002. "Memang, biasanya dari > istri pertama > ke yang kedua itu lama pendekatannya, Mas. Baru yang ketiga lancar," > tuturnya. > Manajemen keluarganya, kata Didin, malah terbantu ketika dirinya > berpoligami. > "Kalau kita berhitung secara matematis, anak tujuh dirawat dan > dididik tiga > istri kan lebih baik," ujarnya. > Dia khawatir buku Cahyadi akan menimbulkan pro-kontra di kalangan > rumah tangga > muslim masing-masing kader. " Ada jutaan akhwat di Indonesia . > Beberapa di > antara mereka janda. Lantas, apakah mereka kita biarkan," katanya > dengan nada > bertanya. > Taufik Bahtiar, direktur Hilal al Ahmar, menambahkan bahwa ada > beberapa logika > yang tidak tepat dan dicantumkan dalam buku ber-cover merah jambu itu. > "Misalnya, tentang cinta lelaki yang tidak bisa dibagi, itu salah. > Contohnya, > saya. Kalau dengan istri pertama 100 persen, dengan istri kedua juga > 100 > persen," ujarnya, lalu tersenyum. > Taufik juga berpoligami. Istri pertama meminta cerai ketika Taufik > hendak > menikah kali ketiga. Sekarang janda Taufik itu diperistri sahabatnya > yang juga > anggota Majelis Syura PKS sebagai istri kedua. > Buku terbitan Era Intermedia, Solo, tersebut telah dicetak hingga > 10.000 > eksemplar. Buku setebal 278 halaman itu mengupas sisi-sisi lain dari > keluarga > yang berpoligami. > Si penulis Cahyadi Takariawan kepada Jawa Pos mengatakan bahwa > dirinya kaget > melihat reaksi "jamaahnya" terhadap buku itu. "Padahal, di halaman > awal buku itu > saya sudah jelaskan tidak berbicara tentang hukum poligami, tapi > bicara tentang > mereka yang gagal berpoligami karena persiapannya kurang," katanya. > Alumnus Fakultas Farmasi UGM itu mengibaratkan poligami dengan > salat. "Siapa > yang membantah kalau salat itu wajib. Tapi, pada praktiknya, banyak > yang salat, > tapi tetap korupsi. Banyak yang salat, tapi menipu, mencuri, dan > kejahatan yang > lain. Apakah yang salah salatnya?" katanya. > Demikian juga, poligami. Melalui bukunya, suami Ida Nur Laila itu > ingin > "meluruskan" para pelaku poligami. "Bukan untuk mengampanyekan > antipoligami, " > kata suami yang bertahan dengan satu istri itu. > Cahyadi mengaku mendapat banyak sekali keluhan dari ummahat (ibu-ibu > istri > ikhwan alias kader PKS) yang mengalami masalah gara-gara suaminya > menikah lagi. > "Kebetulan, saya juga konsultan keluarga. Selain datang langsung, > mereka juga > menelepon dan mengirim SMS," kata ketua Wilayah Dakwah (Wilda) III > DPP PKS itu. > Sebagai ketua Wilda, Cahyadi bertanggung jawab pada ekspansi PKS di > Sulawesi dan > Papua. > Karena keluhan-keluhan itu datang bertubi-tubi, Cahyadi berusaha > meramunya dalam > tulisan. Misalnya, keluhan tentang kebohongan-kebohong an suami yang > menikah > lagi. Juga masalah finansial yang membuat pernikahan menjadi tidak > harmonis. > "Yang menyedihkan, ada suami yang buru-buru poligami hanya karena > dikompori > komunitasnya yang semuanya sudah menikah lagi. Padahal, dia belum > siap. > Akhirnya, yang terbengkalai adalah keluarganya, " bebernya. Padahal, > seharusnya > poligami justru membawa keberkahan. > Sebelum menulis buku Bahagiakan Diri dengan Satu Istri, Cahyadi telah > menulis 20 > judul buku yang lain. Mayoritas tentang tema pernikahan. "Saya tidak > bermaksud > melukai hati para lelaki yang berpoligami. Karena itu, saya malah > minta Bu Sri > Rahayu Tifatul Sembiring sebagai istri pertama menulis kata > sambutan," katanya. > Dalam bedah buku yang dilakukan hampir tiap minggu, Cahyadi juga > menolak > dipanelkan dengan aktivis antipoligami. "Saya yakin masalah ini akan > hipersensitif karena kebanyakan yang membaca dipenuhi dengan emosi > pribadi. > Jadi, tidak jernih lagi," ujarnya. > Seorang pembaca bahkan komplain langsung ke penerbit. Pembaca itu > merasa rahasia > rumah tangganya ditulis Cahyadi. "Buku ini harus segera ditarik dari > peredaran," > kata Cahyadi menirukan ikhwan yang emosi itu. Padahal, dirinya belum > pernah > kenal. "Jadi, dia sendiri yang merasa bahwa apa yang saya tulis dalam > buku itu > cocok," jelas pria yang juga berprofesi sebagai apoteker itu. > Getah pahit, kata Cahyadi, juga nyasar ke teman-temannya yang ikut > mempromosikan > buku. "Misalnya, Mbak Neno Warisman. Gara-gara Mbak Neno aktif > mengirimkan SMS > soal buku ini, beliau dikomplain, terutama oleh kader-kader wanita > yang sudah > mempunyai madu," ungkapnya. Neno Warisman adalah salah seorang aktris > sekaligus > penyanyi yang sekarang aktif di PKS. > Apakah akan membuat buku baru lagi sebagai jawaban atas komplain? > Cahyadi > mengaku akan melakukan beberapa revisi. "Saya menghargai nasihat para > asatidz > (ulama) yang meminta redaksionalnya diperbaiki," katanya. > Meski begitu, lelaki kelahiran Karanganyar, Jawa Tengah, 11 Desember > 1965, itu > tetap menganggap bukunya tidak kontroversial. "Kalau saya menulis > Sengsarakan > Istri dengan Satu Istri, itu baru masalah. Kalau bahagia, kan semua > ingin > begitu," tegasnya. > Namun, keyakinan Cahyadi tetap berbenturan dengan realita di > lapangan. Di Jawa > Timur, misalnya, Ketua Dewan Syariah DPW PKS Jatim Ustad Mudhofar > mengaku > mendapat keluhan terkait buku itu. " Ada seorang akhwat yang > skripsinya > mendukung poligami, bertahun-tahun kader wanita ini bicara dalam > diskusi-diskusi > agar poligami didukung, tapi begitu membaca Pak Cah, langsung > berbalik 180 > derajat," paparnya kepada Jawa Pos. > Kuatnya buku itu, kata Mudhofar, karena track record penulisnya. "Pak > Cahyadi > selama ini dikenal sebagai ulama yang ahli dalam keluarga. Wajar > kalau ada yang > jadi ragu karena tulisannya," tuturnya. > Mudhofar menganggap dalil-dalil yang dipakai Cahyadi agak > dipaksakan. "Misalnya, > soal perbandingan umur Rasulullah saat sebelum poligami dan setelah > poligami. > Tidak ada ulama yang menggunakan patokan itu," jelasnya. Cahyadi > menulis, > Muhammad SAW menikah lagi setelah bermonogami selama 25 tahun bersama > Khadijah. > Wakil Ketua Komisi E DPRD Jatim Rofi¢ Munawar menambahkan, dirinya > membatalkan > meneruskan membaca buku itu sampai tuntas. "Saya juga dapat hadiah > dari beliau > (penulis buku) saat rapat majelis syura. Tapi, begitu saya baca, > tidak saya > lanjutkan karena kok ada yang nggak sreg," akunya. > Berbeda dengan kader-kader lelaki PKS, beberapa orang kader wanita > yang > dihubungi Jawa Pos justru sangat bersyukur atas terbitnya tulisan > Cahyadi itu. > "Suami saya menjadi ragu-ragu. Sebenarnya saya sudah akan > mengizinkan, tapi > setelah membaca, saya diskusi lagi, dan alhamdulillah batal (menikah > lagi)," > kata seorang kader yang meminta identitasnya disamarkan. > Alumnus Universitas Airlangga Surabaya itu melanjutkan, di kalangan > internal > kader wanita, buku itu seakan menjadi buku wajib. "Dalam setiap > pertemuan > mingguan, ada diskusi untuk membahas buku itu bab demi bab," katanya. > Kader PKS > biasanya mengadakan taklim rutin sehari dalam setiap pekan. Tempatnya > bergantian > di rumah masing-masing kader atau tempat lain yang disepakati. > Seorang akhwat lain menambahkan, dirinya menjadi lebih siap untuk > menikah > setelah membaca buku Cahyadi. "Tidak ada lagi rasa khawatir calon > suami saya > akan poligami. Nanti kalau dia memaksa, akan saya pertemukan langsung > dengan Pak > Cah," ujarnya. (*)
