Malaysia itu ibarat pribahasa "OKB" = Orang Kaya Baru. Sikapnya angkuh, 
sombong, gede hulu, gumede, adigung dan semena-mena. Dulu sebelum Malay maju, 
banyak anak bangsanya yang belajar di Indonesia. Setelah maju satu tingkat, eh 
malah ngelunjak dan songong. Malay sudah berani menggelitik Ibu Pertiwi yang 
lagi tidur. Kasus Sipadan dan Ligitan, kasus Ambalat, Kasus Natuna dan banyak 
lagi yang akan digigit oleh Malaysia. 
Kesombongan dan keangkuhan Malaysia tercermin  dari terbentuknya bangunan 
tinggi yang menjulang "TWIN TOWER". Begitulah arogansi sebuah negara yang 
mencapai taraf maju, selalu menganggap rendah negara lain yang kemajuannya 
dibawahnya.

Kalaupun terjadi perang antara Indonesia versus Malay, TNI gak perlu 
repot-repot menyerbu Malay, suruh aja bakar hutan di kawasan Riau dan 
Kalimantan Barat, pasti itu Kuala Lumpur Gelap Gulita dan masyarakatnya 
terserang bengek. Atau suruh aja orang Sumatra Utara untuk kencing 
bareng-bareng, pasti Kuala Lumpur tenggelam oleh air kencing. 

Yah lagian buat apa datang ke Malaysia, ribet dengan bahasanya. Kalaupun orang 
Malaysia make bahasa Inggris, kedengarannya lucu dengan aksennya. Lalu apakah 
di Indonesia tidak ada tempat yang bagus. Coba tengok wilayah timur Indonesia, 
disana banyak sekali fanorama alam dan pantai yang tidak kalah indahnya. 
Atau sekali-kali berkunjung ke wilayah Banten dengan pantai Carita, Pantai 
Anyer, Pantai Tanjung Lesung, Pantai Bagedur, Pantai Sawarna. 
Ya kita do'akan saja, semoga Banten kedepan seperti Malaysia punya TWIN TOWER, 
bukan hanya Twin Tower malahan 100 TOWER.
Jika kedatangan turis asal Malaysia, maka perlakukanlah dengan baik, tunjukan 
jati diri Banten sambil sekali-kali gampar pipinya. Kalau bertanya kenapa 
menggampar, katakan saja kami harus "waspada" kalau kedatangan orang asing. 
Cukup kan seperti orang Malaysia katakan kepada pihak Indonesia "Waspada".



----- Original Message ----
From: KIDYOTI <[EMAIL PROTECTED]>
To: [email protected]
Sent: Thursday, August 30, 2007 9:15:54 AM
Subject: [WongBanten] Fw: #sastra-pembebasan# Hati-hati wisata ke Malaysia

 
----- Original Message ----- 
From: Sumbawanews. com 
To: propinsi_sumbawa@ yahoogroups. com ; nasionalist ; sastra-pembebasan ; 
[EMAIL PROTECTED] s.com ; pemimpin teladan ; pembebasan-papua@ egroups.com 
Sent: Wednesday, August 29, 2007 7:22 PM
Subject: #sastra-pembebasan# Hati-hati wisata ke Malaysia


dari milis Pantau):
============ ========= =====

Nama saya Budiman Bachtiar Harsa, 37 tahun,
WNI asal Banten, karyawan di BUMN berkantor di
Jakarta.

Kasus pemukulan wasit Donald Peter di Malaysia, BUKAN
kejadian pertama. Behubung sdr Donald adalah seorang
"Tamu Negara" hingga kasusnya terexpose besar-besaran.
Padahal kasus serupa sering menimpa WNI di Malaysia.
BUKAN HANYA TKI Atau Pendatang Haram, tapi juga
WISATAWAN.

Tahun 2006, bulan Juni, saya dan keluarga (istri, 2
anak, adik ipar), pertama kalinya kami "melancong" ke
Kuala Lumpur Malaysia. (Kami sudah pernah berwisata ke
negara2 lain, sudah biasa dengan berbagai aturan
imigrasi).
Hari pertama dan kedua tour bersama Travel agent ke
Genting Highland, berjalan lancar, kaluarga bahagia
anak-anak gembira.

Hari ketiga city tour di KL, juga berjalan normal.
Malam harinya, kami mengunjungi KLCC yang ternyata
sangat dekat dari Hotel Nikko, tempat kami menginap.
Usai makan malam, berbelanja sedikit, adik ipar dan
anak-anak saya pulang ke hotel karena kelelahan,
menumpang shuttle service yang disediakan Nikko Hotel.
Saya dan istri berniat berjalan-jalan, menikmati udara
malam seperti yg biasa kami lakukan di Orchrad
Singapore, toh kabarnya KL cukup aman.
Mengambil jalan memutar, pukul 22.30, di dekat HSC
medical, lapangan dengan view cukup bagus ke arah Twin
Tower.

Saat berjalan santai, tiba2 sebuah mobil Proton
berhenti, 2 pria turun mendekati saya dan istri.
Mereka tiba-tiba meminta identitas saya dan istri,
saya balas bertanya apa mau mereka. Mereka bilang
"Polis", memperlihatkan kartu sekilas, lalu saya
jelaskan saya Turis, menginap di Nikko hotel. Mereka
memaksa minta passport, yang TIDAK saya bawa. (Masak
sih di negeri tetangga, sesama melayu, speak the same
language, saya dan istri bisa berbahasa inggris,
negara yg tak butuh visa, kita masih harus bawa
passport?). Salah satu "polis" ini bicara dengan HT,
entah apa yg mereka katakan dengan logat melayunya,
sementara seorang rekannya tetap memaksa saya
mengeluarkan identitas. Perliaku mereka mulai tak
sopan dan Istri saya mulai ketakutan. Saya buka
dompet, keluarkan KTP. Sambil melotot, dia tanya
:"kerja ape kau disini?" saya melongo... kan turis,
wisata. Ya jalan-jalan aja lah, gitu saya jawab. Pak
polis membentak dan mendekatkan mukanya ke wajah saya:
KAU KERJA APE? Punya Licence buat kerja?

Wah kali dia pikir saya TKI ilegal. Saya coba tetap
tenang, saya bilang saya bekerja di Jakarta, ke KL
untuk wisata. Tiba-tiba salah satu dari mereka mencoba
memegang tas istri, dan bilang: "mana kunci Hotel?
"... wah celakanya kunci 2 kamar kami dibawa anak dan
ipar saya yg pulang duluan ke hotel.

Saya ajak mereka ke hotel yang tak jauh dari lokasi
kami. Namun pak Polis malah makin marah, memegangi
tangan saya, sambil bilang: Indon... dont lie to us.
Saya kurung kalian...

Jelas saya menolak dan mulai marah. Saya ajak mereka
ke hotel Nikko, dan saya bilang akan tuntut mereka
habis2an. sambil memegangi tangan saya, tuan polis
meludah kesamping, dan bilang: kalian semua sama
saja...

Saat itu sebuah mobil polisi lainnya datang, pake logo
polisi, seorang polisi berseragam mendekat. Di dadanya
tertulis nama: Rasheed.

Saya merapat ke pagar taman sambil memegang istri yang
mulai menangis. Melawan 3 polis, tak mungkin. Mereka
berbicara beritga, mirip berunding. Wah, apa polis
malaysia juga sama aja, perlu mau nyari kesalahan
orang ujung2nya merampok?

Petugas berseragam lalu mendekati saya, meminta kami
untuk tetap tenang. Saya bertanya, apa 2 orang preman
melayu itu polisi, lalu polisi berseragam itu
mengiyakan. Rupanya karena saya mempertanyakan
dirinya, sang preman marah dan mendekati saya,
mencengkram leher jaket saya, dan siap memukul, namun
dicegah polisi berseragam.

Polisi berseragam mengajak saya kembali ke Hotel untuk
membuktikan identitas diri. saya langsung setuju,
namun keberatan bila harus menumpang mobil polisi.
Saya minta untuk tetap berjalan kaki menuju Nikko
Hotel, dan mereka boleh mengiringi tapi tak boleh
menyentuh kami. Akhirnya kami bersepakat, namun polisi
preman yang sempat hampir memukul saya sempat berkata:
if those indon run, just shoot them... katanya sambil
menunjuk istri saya. Saya cuma bisa istigfar saat itu,
ini rupanya nasib orang Indonesia di negeri tetangga
yang sering kita banggakan sebagai "sesama melayu".
Diantar polisi berseragam saya tiba di Nikko Hotel.

Saya minta resepsionis mencocokan identitas kami, dan
saya menelpon adik ipar untuk membawakan kunci. Pihak
Nikko melarang adik saya, dan mengatakan kepada sang
Polis, bahwa saya adalah tamu hotel mereka, WNI yang
menyewa suites family, datang ke Malaysia dengan
Business class pada Flight Malayasia Airlines.
Pak Polis preman mendadak ramah, mencoba menjelaskan
bahwa di Malaysia mereka harus selalu waspada.
Saya tak mau bicara apapun dan mengatakan bahwa saya
sangat tersinggung, dan akan mengadukan kasus ini, dan
"membatalkan rencana bisnis dengan sejumlah rekan di
malaysia" (padahal saya tak punya rekan bisnis di
negeri sial ini).

Polisi berseragam berusaha tersenyum semanis mungkin,
berusaha keras untuk akrab dan ramah, petugas Nikko
Hotel kelimpungan dan berusaha membuat kami tersenyum.
Setelah istri saya mulai tenang, saya mengambil HP
P9901 saya dan merekam wajah kedua polisi ini.
Keduanya berusaha menutupi wajah, meminta saya untuk
tidak merekam wajah mereka.
Istri saya minta kita mengakhiri konflik ini, dan
sayapun lelah. Kami tinggalkan melayu-melayu keparat
ini, tanpa berjabat tangan.

Sepanjang malam saya sangat gusar, dan esoknya kami
membatalkan tur ke Johor baru, mengontak travel agent
agar mencari seat ke Singapore. Siang usai makan
siang, saya tinggalkan Malaysia dengan perasaan
dongkol, dan melanjutkan liburan di Singapore.

Mungkin saya sial? ya. Mungkin saya hanya 1 dari 1000
WNI yang apes di Malaysia? bisa. Tapi saya catat bahwa
bila saya pernah dihina, diancam, bahkan hampir
dipukuli, bukan tak mungkin masih ada orang lain
mengalami hal yg sama.

Jadi, kalau hendak berlibur di Malaysia, sebaiknya
pikir masak2. Jangankan turis, Rombongan atlet saja
bisa dihajar polisi Malaysia.
Bayangkan bila perlakuan seperti ini dilakukan
dihadapan anak kita. Tentu anak akan trauma, sekaligus
sedih.

Hati-hati pada PROMOSI WISATA MALAYSIA. Di Malaysia,
WNI diperlakukan seperti Kriminal.

------------ --------- --------- --------- --------- --------- -

www.sumbawanews. com
the first online news from sumbawa

komp.dosen ikip blok 4/20 jatibening 
pondok gede 17421
phone/fax: 021-8486647, 70960307
[EMAIL PROTECTED] .com
------------ --------- --------- --------- --------- --------- -
Online Network
www.nusatenggaranew s.com -- Nusatenggara News Updated !
www.tambangnews. com -- Mines & Energy News Updated !
www.sumbawabarat. com
http://a-smarthing. com -- IT Solutions, System Integrations, Multimedia, Media 
& Event Organizer
------------ --------- --------- --------- --------- --------- -

Manfaatkan HP mu untuk menjadi KAYA, passive income mencapai 97 juta/bulan, 
klik http://www.sumbawan ews.com/? view=hal& id=13

[Non-text portions of this message have been removed]





       
____________________________________________________________________________________
Building a website is a piece of cake. Yahoo! Small Business gives you all the 
tools to get online.
http://smallbusiness.yahoo.com/webhosting 

Kirim email ke